Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Menjemput Restu Yang Lain


__ADS_3

Setelah mendapat lampu hijau dari orangnya, gue memutuskan untuk mendekati anggota keluarganya. Gue dapet info kalau Zea sangat dengan sang kakak, yang baru gue tahu juga kalau ternyata profesi sang kakak adalah seorang dokter. Memang masih dokter umum sih denger-denger, tapi tetap saja mendengar profesi sang kakak membuat nyali gue agak menciut sedikit.


Kalau sang kakak saja profesinya dokter, gue rasa profesi kedua orang tuanya pasti juga bukan dari kalangan sembarangan. Pasti itu, gue yakin.


Namun, meski demikian gue tidak boleh menyerang sebelum perang. Orangnya saja kasih lampu hijau kok, cuma karena background pendidikan sang kakak masa iya gue nyerah gitu aja. Cemen banget.


Maka dari itu gue putuskan untuk menemui kakak Zea di sela kesibukan gue promosi film. Sebenernya jadwal gue lagi padet-padetnya promo film, tapi nggak papa demi meluluhkan anggota keluarga sang pujaan hati. Demi melayarkan kapal andalan fans gue, demi menyenangkan nyokap gue dan demi masa depan gue sendiri, gue harus bisa.


"Lo yakin mau nemui kakaknya Zea?" ulang Mas Tito entah yang berapa kalinya. Tadi begitu gue pulang dari acara siaran gue minta dianter ke rumah sakit dulu untuk menemui Zidan, kakak Zea.


Ternyata pria yang menolong gue waktu itu adalah kakak Zea. Tapi setelah gue pikir-pikir gue merasa ada yang aneh, maksud gue kan Zidan-nya sendiri dokter terus kenapa pas gue luka lecet kala itu malah dipanggilin Zea dan bukannya langsung dia obatin sendiri? Kan dia yang dokter?


Oh, apa karena dia dokter dan luka gue lecet ringan doang makanya nggak mau ngurusin? Makanya dilimpahkan ke sang adik? Atau sebenarnya Zidan menangkap trik modus gue makanya dia mau bantuin gue gitu?


Ah, bodo amat, tidak penting. Sekarang yang penting adalah gue mengumpulkan keberanian buat nemuin Zidan.


"Za," panggil Mas Tito dengan nada sedikit jengkel, "jawab kek kalau ditanya. Jangan diem aja!"


"Ya, lo berharap gue jawab apa lagi sih, Mas? Kan gue tadi udah jawab, gue harus jawab berapa kali lagi sih? Capek nih gue ngomong mulu dari tadi pagi, lo jangan bikin gue mengulang kalimat terus," balas gue tak kalah kesal.


"Apaan? Lo tadi cuma bilang iya, iya, doang, tapi lo nggak kasih gue alasannya. Menurut gue, lo berlebihan nggak sih? Lo juga baru mau deketin adeknya masa minta izin langsung ke kakaknya? Kenapa nggak langsung ke orangnya?"


"Orangnya udah."


"Terus dia nggak setuju sebelum lo minta izin ke kakaknya gitu?"


Gue menggeleng. "Bukan gitu."


"Terus?"


Gue menghela napas panjang. "Ya, karena gue pengen nunjukin keseriusan gue, Mas. Bagi Zea keluarga adalah yang terpenting, asal keluarganya setuju sama gue, dia bilang semua urusan akan gampang dan lancar. Bukannya itu kode biar gue deketin keluarganya aja ketimbang orangnya?"


"Lo seserius ini sama Zea? Kenapa?" Mas Tito berdecak sambil geleng-geleng kepala, "enggak, maksud gue kalian baru kenal loh, Za, tahu juga cuma karena dijodohin netizen tapi masa usaha lo sampai seserius ini?"


Gue menatap Mas Tito heran. "Emang ada masalah?"


Mas Tito menatap gue tidak percaya. Manager gue ini terlihat seperti orang yang sedang kehilangan kata-kata untuk membalas kalimat gue.


Setelah dirasa tidak tahu harus membalas apa, Mas Tito pada akhirnya menggeleng pasrah. "Enggak, nggak ada. Udah sekarang lo turun dari mobil, buruan lo temui calon kakak ipar lo, biar gue cari parkir, kita masih ada jadwal ya, Za. Lo jangan macem-macem!"


Gue terkekeh malu-malu. "Duh, jangan disebut calon ipar dulu lah, Mas, kan gue jadi salting dikit."


Mas Tito langsung menatap gue sinis. "Buruan turun atau gue ajak lo lanjut ke lokasi berikutnya!"


Ekspresi gue langsung berubah kecut. "Iya, iya, gue turun. Galak banget sih lo, Mas, kayak nggak dapet jatah dari istri aja."


"Emang enggak," jawab Mas Tito sinis.

__ADS_1


Gue meringis canggung lalu segera turun dari mobil. Setelahnya gue celingukan mencari keberadaan Zidan, yang katanya bakalan stand by depan IGD tapi kok nggak keliatan batang idungnya.


Tak kunjung menemukan keberadaan Zidan, gue memutuskan untuk langsung menelfonnya.


"Nunggu lama?"


Spontan gue langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Zidan di sana, masih dengan jas putih kebanggaannya. Gue kemudian tersenyum sambil menjabat tangannya.


"Enggak. Baru nyampe juga kok. Apa kabar?"


Zidan mengangguk sambil melepas jas putihnya. "Lo sendiri?" ia sedikit memiringkan kepalanya, "sibuk banget ya akhir-akhir ini? Mata panda lo keliatan banget."


Gue meringis malu-malu. "Lumayan. Tapi kayaknya nggak sesibuk lo deh."


Zidan tersenyum tipis lalu meminta gue mengikutinya. Gue pun menurut, langsung mengekor di belakangnya kayak anak ayam yang takut kehilangan ibunya.


Ternyata Zidan mengajak gue pergi ke warung kopi gitu. Tempatnya biasa saja sebenernya, tapi untuk ukuran seorang dokter gue pikir gue bakalan diajak ke kantin rumah sakit, Cafe atau semacemnya. Jujur, gue nggak berekspektasi kalau bakalan diajak ke sini.


"Lo bisa nggak ke tempat ginian?"


"Hah?"


Bukannya harusnya gue, ya, yang nanya begitu?


"Mau pindah tempat aja?" tawar Zidan sambil terkekeh, "kayaknya lo nggak biasa ke tempat ginian."


Iya, juga sih. Tapi ya nggak mungkin juga gue iyain kan? Zidan saja yang dokter keliatan terbiasa dengan tempat begini, masa gue songong banget.


Zidan mengangguk paham lalu memanggil si penjual dan memesan minuman. Karena gue nyaris nggak pernah ke tempat beginian, jadi gue pasrahkan pesanan gue ke Zidan.


"Panggil nama aja, kita seumuran kok. Dan kayaknya duluan lo nggak sih lahirnya? Lo bulan apa? Gue Januari sih, lo?"


"Juni sih."


"Oh, tuaan gue dong berarti? Gue kira tuaan lo."


"Emang agak boros aja muka gue."


"Bukan sih, karena pembawaan lo udah dewasa aja, jadi gue pikir ya, tuaan lo. Jadi gimana? Soal yang kita bahas di chat? Lo serius?"


Gue mengangguk cepat. "Iya, Dan, gue serius mau deketin adek lo, itu pun kalau lo kasih restu, soalnya kata Zea semua tergantung di lo dan keluarga, maka dari itu gue putuskan buat nemui lo langsung buat minta izin."


"Kenapa?"


"Hah?" gue memasang wajah bingung, "maksudnya?" tanya gue kurang paham.


"Kenapa lo mau deketin adek gue yang biasa-biasa aja, padahal dibandingkan Zea, kenalan lo sesama artis cantik-cantik semua, belum kalau dari kalangan keluarga macem lo, udah pasti Zea nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan mereka. Terus kenapa lo mau deketin adek gue?"

__ADS_1


Duh, begini ya rasanya diintrogasi keluarga gebetan. Tangan gue rasanya mendadak gemeter.


Mencoba menenangkan diri, gue kemudian menjawab, "Karena Zea adalah Zea, bukan orang lain. She is smart, humble and kind. Dia juga cantik dan menarik, gue rasa semua orang tahu ini. Makanya gue suka."


"Kalau boleh tahu kalian kenal lewat apa?"


Seketika bibir gue tertutup rapat. Bingung juga mau cari jawaban apa, masa iya gue mau bilang gue kenal Zea karena dijodohin fans gue? Ngerusak image nggak sih?


"Sosial media."


Zidan terkekeh. Ia tidak langsung berkomentar karena pesanan minuman kami sudah datang. Dalam hati gue langsung meneguk ludah panik. Mampus, kopi hitam pekat dua gelas, satu untuk Zidan dan satunya buat gue?


Buat gue?


Mampus, gue bisa dimaki-maki Barra sama Mas Tito kalau ketahuan minum beginian. Masalahnya lambung gue lebih sensitif daripada pantat bayi, dan jadwal gue lagi padet-padetnya, kalau gue sampai minum beginian, bisa tumbang nggak sih gue? Kalau masuk IGD doang sih mending, tapi, oke, gue tidak boleh negatif thinking.


"Diminum, Za, gue yang traktir."


Gue meringis canggung lalu mengangkat gelas berisi cairan hitam pekat itu. Dalam hati gue merapalkan banyak doa, semoga abis ini gue masih kuat lokasi berikutnya buat promosi, gue nggak masalah kalau begitu kelar acara harus dilarikan ke IGD setelahnya, tapi ya Tuhan jangan biarkan gue tumbang. Aamiin.


Gue tidak dapat menahan ringisan gue setelah menyesap kopi pahit ini. Buset, lambung gue seketika langsung perih padahal baru juga sedikit yang masuk, cepat-cepat gue meletakkan gelas gue kembali di atas meja.


Oke, gue nggak bisa lanjut. Batin gue pada akhirnya.


"Kenapa? Enggak seenak kopi starbuck ya?"


Gue menggeleng cepat. "Enggak juga, enak kok, ini enak," ucap gue jelas-jelas berbohong.


Untuk sekarang gue nggak tahu, apakah gue bisa menggunakan kemampuan akting gue atau tidak. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya gue agak ragu.


"Abisin kalau enak!"


Mampus!


Gue langsung menatap Zidan panik. Pria itu langsung terbahak.


"Gue bercanda. Enggak usah diabisin. Kayaknya lo nggak bisa minum kopi beginian."


Gue meringis malu. Zidan menepuk pundak gue.


"Enggak papa, wajar kok. Malah rasanya aneh kalau lo bisa minum beginian."


"Kenapa begitu?" tanya gue agak tersinggung. Meski yang dikatakan pria itu kebenaran, tapi tetap saja gue agak tersinggung.


Zidan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Gue nggak bakalan halangin niat baik lo kalau emang serius mau deketin adek gue, kalau emang lo seserius itu, silahkan! Gue nggak akan larang, tapi kalau lo minta restu dari gue, sorry, bro, gue sangat selektif soal adek kesayangan gue. Lo harus berjuang mati-matian dulu sebelum ngerebut princess gue," ucapnya tidak main-main, "gue berharap lo nggak sakiti dia. Dan gue berharap kalau lo beneran serius. Gue nggak akan tinggal diam kalau niat lo cuma main-main atau cuma buat naikin popularitas."


Gue tersenyum seraya mengangguk. "Thanks ya, gue bakalan buktiin kalau lo bisa percaya sama gue."

__ADS_1


Di luar dugaan Zidan tiba-tiba tertawa sambil meledek gue. "Jangan terlalu kepedean dulu lo, Za, meski lo aktor papan atas gue belum kasih kepercayaan sama lo. Gue cuma buka peluang kalau lo emang mau deketin, ya silahkan! Tapi gue bakalan bersikap adil, kalau ada pria lain yang pengen deketin adek gue, gue juga bakalan kasih peluang ke dia."


Seketika gue hanya mampu meringis saat merespon kalimat Zidan. Ternyata gue kegeeran.


__ADS_2