Dijodohin Netizen

Dijodohin Netizen
Pov 3 (again)


__ADS_3

Zea benar-benar merasa sungkan dengan Eza sekarang. Ia tidak enak karena sang kakak tiba-tiba menemui Eza tanpa sepengetahuannya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Zidan akan senekat itu. Bahkan sampai meminta Eza untuk segera menikahinya. Menurut Zea, Zidan sudah kehilangan akal sehatnya.


Sekarang ia bingung bagaimana harus menghadapi Eza. Mana tadi ia sempat meminta tolong pada pria itu agar membantu acara amalnya. Masa iya, ia batalkan? Kan tidak mungkin.


"Dek, nggak masak?"


Zea menoleh ke arah pintu, di sana sang kakak sedang menyempulkan kepala. Keningnya mengkerut heran.


"Emang opor semalam abis?" tanyanya heran. Seingatnya belum habis deh, soalnya dia memang sengaja masak lumayan banyak biar bisa buat sarapan sekalian.


Zidan berdecak kesal lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sang adik. "Masa iya sarapan pake opor ayam," dengusnya kemudian.


"Emang ada masalah? Ada larangan gitu sarapan pake opor ayam?"


"Ada," jawab Zidan lugas, "makan opor ayam pagi-pagi itu berat, Dek, Mas nggak akan kuat. Biar Dilan saja."


Mendengar jawaban lebay sang kakak, Zea langsung mendengus tidak habis pikir. "Udah nggak zaman pake joke itu, Mas, keliatan banget kalau kudetnya. Ya, aku tahu sih Mas Zidan itu terlalu sibuk ngurusin pasien-pasien Mas, cuma nggak gini-gini amat lah. Update dikit kenapa?"


"Kok kamu malah ngeledek Mas?" sahut Zidan tidak terima.


"Ya abis, Mas Zidan pagi-pagi banyak banget maunya. Enggak tahu apa aku tuh masih kesel sama kamu, Mas."


Zidan menyahut tidak terima. "Lah, emang Mas ngapain? Mas nggak ngapa-ngapain ya, astagfirullah." Dengan wajah sok dramatis ia memegang dada lalu mengelusnya pelan, seolah dirinya lah yang paling tersakiti.


Seketika Zea langsung mendengus. Ia melirik tajam sang kakak. Ia benar-benar sedang kesal sekarang terhadap sang kakak.


"Nggak ngapa-ngapain gimana? Mas Zidan lupa soal nemuin Kak Eza."


Zea berdecak kesal dan menatap sang kakak gemas. Kalau tidak ingat dengan tata krama dan sopan santun sudah pasti ia akan menjambak rambut kakaknya saat ini juga. Serius, ia tidak bercanda. Ia ingin melakukannya saat ini juga, tapi masalahnya ia masih ingat sopan santun dan cara menghormati orang yang lebih tua darinya. Jadi, tidak mungkin bukan kalau ia melakukannya. Maka dari itu yang dapat ia lakukan hanya menatap sang kakak dengan tatapan galaknya. Hanya itu.


"Terus? Masalah?"


Zea berdecak kesal lalu berdiri dan mendekat ke arah Zidan. Kedua tangan gadis itu menyilang di depan dada dengan tatapan mata tak bersahabatnya.


"Mas!" serunya kemudian, "ini nama aku loh yang jadi taruhan. Jadi kesannya kayak aku yang ngebet banget buat nikah. Ngerti nggak sih?" sambungnya kesal.


Zidan masih menampilkan wajah santainya. "Bukannya emang iya?" ledeknya kemudian.


Ia tahu betul kalau Zea, sang adik memang berencana menikah di usia muda. Tapi sampai sekarang umur gadis itu mencapai hampir dua puluh empat tahun, eh, masih begitu-begitu saja.


"Mas Zidan nggak usah mulai!" sinis gadis itu.


Zidan sangat suka menggoda sang adik. Karena bisa jadi momen jarang kalau sang adik akan mudah terpancing emosinya. Meski kata orang saudara kalau tinggal bersama setiap hari, maka hobinya akan terus bertengkar, giliran ditinggal langsung dirindukan. Tapi hal ini tidak terlalu berlaku pada mereka. Keduanya termasuk lumayan akur dan jarang bertengkar, bahkan saking akurnya mereka bahkan mampu membagi tugas masing-masing dengan baik.


Respon Zidan hanya tertawa terbahak-bahak. Alhasil, tentu saja itu membuat Zea makin kesal dibuatnya.


"Mas Zidan jangan ketawa! Aku nanti makin kesel," rajuk Zea, "sekarang nasib aku gimana?"

__ADS_1


"Ya, enggak gimana-gimana, emang mau gimana?" Zidan balik bertanya dengan wajah herannya.


"Gimana nanti aku nemuin dia?"


Zidan agak shock. Ia loading sebentar sebelum akhirnya bertanya. "Kalian mau ketemuan?"


Zea langsung mengangguk cepat. "Tapi gegara kelakuan Mas Zidan, aku jadi bingung harus ngapain." bibirnya manyun beberapa senti.


"Kalian mau ngapain ketemu?" tanya Zidan dengan kedua mata menyipit tak suka, "kamu jangan macem-macem ya, Dek! Aku aduin Pakde sama Bude loh ntar, Mas nggak main-main!"


Zea menatap sang kakak datar. "Yang macem-macem siapa sih, Kak?"


"Kamu." Zidan menunjuk wajah Zea secara terang-terangan, "pake segala mau ketemuan lagi," dengusnya kemudian memasang wajah kesal.


Zea tak mau kalah, wajah gadis itu tak beda jauh. Terlihat sama-sama seperti orang yang sedang menahan kesal. "Apaan sih? Orang aku mau ketemu buat acara amal Panti nanti, Mas. Su'udzon aja otaknya."


Kali ini ekspresi wajah Zidan berubah kaget. "Hah? Acara amal? Emang kapan itu? Duh, kok Mas lupa, Dek." tanyanya terlihat sedikit panik.


"Minggu ini."


"Kok kamu nggak bilang?"


"Lah, ini barusan bilang? Lagian aku udah kasih tahu Mas Zidan sekitar minggu lalu, ya, kenapa sekarang malah nyalahin?" protes Zea tidak terima, "kan kemarin itu aku udah ngingetin. Mas bilang gampang ntar tinggal diatur. Ya udah, berarti itu salah Mas Zidan sendiri karena terlalu menyepelekan sesuatu. Kenapa jadi nyalahin aku?"


Zidan berdecak frustasi lalu bergegas keluar dari kamar sang adik. Sementara Zea hanya mampu melihat sang kakak dengan ekspresi datarnya, diiringi decakan tak percaya dan gelengan kepala. Baru beberapa saat kemudian ia mulai tersadar kembali. Kira-kira apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi Eza.


"Ah, aku harus gimana!" serunya frustasi, ia berdecak tak lama setelahnya, "pokoknya ini semua gara-gara Mas Zidan."


Zea kemudian meraih ponselnya cepat, membuka room chat. Namun, tiba-tiba ia merasa ragu tak lama setelahnya. Ia kebingungan.


Akhirnya setelah berseteru dengan isi kepalanya selama beberapa saat, Zea memutuskan untuk mengirim pesan untuk Eza. Ia mencoba meyakinkan diri sekali lagi kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.


"Oke, nggak papa, nggak papa. Aku pasti bisa. Semangat!" ucapnya berusaha menyemangati diri sendiri.


Zea : pagi Kak Eza


Belum selesai mengetik tombol kirim. Tiba-tiba Zea menghapus isi chatnya. Ia kemudian mencoba mengetik lagi, tapi lagi-lagi ia menghapusnya begitu saja, ia melakukannya selama beberapa saat hingga pintu kamarnya terbuka dan Zidan masuk kembali ke dalam kamarnya dengan wajah frustasi.


"Dek, Mas nggak bisa beneran ikut nih, gimana dong? Nggak bisa kamu atur ulang tanggalnya?"


Zea melotot tidak percaya. "Ya, mana bisa lah, Mas, kamu ini ada-ada aja. Ya udah, kalau nggak bisa ya biar aku aja. Toh, nanti bakalan dibantu staf panti yang lain atau relawan. Santai aja."


Zidan berdecak kesal. "Tapi Mas pengen ikut, Dek."


"Emang Mas Zidan ini nggak bisa karena apa? Ada shift? Ya, kalau gitu coba aja dulu tuker shift sama temen Mas Zidan."


"Bukan. Mas ada shift malam, paginya ada seminar. Mas barusan telfon sama pihak penyelenggara katanya nggak bisa kalau Mas minta dibatalin."

__ADS_1


"Sembarangan banget, Mas, jangan gitu lah! Harus bertanggung jawab, enak aja minta dibatalin. Mas harus siap dengan segala resiko dan konsekuensi dari kecerobohan Mas sendiri lah, jangan melibatkan orang lain," omelnya kemudian.


Zidan berdecak kesal. "Nyebelin! Nanti pasti kamu pasti bakalan berduaan mulu sama Eza."


"Berduaan apa sih, Mas? Rame-rame, Mas, astagfirullah."


"Ya, pasti nanti si Eza bakalan modusin kamu terus. Bakalan mepet-mepet terus cari kesempatan biar bisa berduaan sama kamu. Mas yakin itu, Dek."


Zea langsung menatap sang kakak dengan ekspresi datar lalu mendengus tidak percaya. "Kayak Mas Zidan nggak pernah modusin cewek aja."


"Ya, beda lah, Mas tahu aturan," balas Zidan tiba-tiba menaikkan nada bicaranya.


Zea melongo. Lumayan terkejut dengan perubahan nada bicara sang kakak. Sangat bukan Zidan sekali.


"Mas, kayaknya Mas Zidan keterlaluan deh. Atas dasar apa Mas Zidan ngomong begitu? Mas Zidan belum kenal Kak Eza betul, sama aku juga, tapi bukan berarti kita bisa nilai seseorang hanya karena prespektif sendiri kan? Mas Zidan juga nggak boleh ngerasa yang paling benar sendiri gitu lah," balas Zea tidak terima.


"Maaf, maksud Mas bukan begitu. Mas ngaku salah, Mas salah milih kosakata. Enggak seharunya Mas bilang begitu. Bukan karena Mas ngerasa yang paling benar sendiri, Dek, Mas cuma khawatir. Mas peduli sama kamu."


Zea menatap sang kakak dengan ekspresi wajah yang masih agak kesal. "Aku tahu Mas peduli sama aku, nggak perlu Mas bilang pun, aku tahu, Mas. Cuma aku nggak suka kalau kepedulian Mas ke aku sampai bikin Mas bersikap begini."


"Iya, iya, Mas minta maaf. Mas ngaku salah, Dek. Kamu jangan marah begitu lah. Mas takut jadinya."


Zea hanya menatap sang kakak dengan tatapan galaknya. Ia benar-benar merasa kecewa saat ini. Marah dan juga kesal.


"Jangan begitu lagi, Mas! Aku nggak suka."


"Iya, iya, Mas nggak akan begitu lagi. Udahan jangan marah-marah terus."


Zea berkacak pinggang. "Kapan aku marah-marah terus?" protesnya tidak terima.


"Iya, nggak marah-marah kok. Zea mana pernah sih marah-marah? Adek Mas kan yang paling baik dan paling sabar."


"Nggak usah ngerayu!" sembur Zea galak.


Zidan langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Takut kalau salah ngomong lagi.


"Ya udah, Mas keluar aja kalau gitu. Pokoknya intinya Mas udah minta maaf loh, nggak boleh ngambek-ngambekan abis ini. Enggak boleh diemin Mas juga. Awas aja kalau begitu!"


"Kenapa? Emang kenapa kalau begitu? Mas Zidan mau ngapain?" tantang Zea dengan ekspresi yang tidak bersahabat.


Sambil meringis takut-takut Zidan langsung menggeleng cepat. "Enggak, enggak ngapa-ngapain kok. Enggak mau ngapa-ngapain. Emang mau ngapain?" ia bergerak salah tingkah sambil garuk-garuk kepala lalu keluar dari kamar Zea dengan langkah terburu-buru.


Sementara Zea langsung tertawa melihat wajah tegang Zidan. Jarang-jarang kan dia punya kuasa untuk mengerjai sang kakak. Jadi ia harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


Masih dengan sedikit terkekeh kala mengingat wajah tegang Zidan, Zea kemudian meraih ponselnya dan menyalakannya. Kedua bola matanya spontan membulat sempurna saat menyadari kesalahan apa yang baru saja ia lakukan.


Astagfirullah, ternyata ia secara tidak sengaja sudah menekan tombol kirim dan parahnya isi chatnya emoticon love. Emosi Zea naik sampai ubun-ubun.

__ADS_1


"MAS ZIDAN!!" teriaknya frustasi.


Zea tidak pernah merasa seputus asa ini. Baru kali ini rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini dan berharap tidak kembali lagi. Kalau begini, lantas bagaimana ia menghadapi Zidan. Seketika tubuhnya lemas. Ia ingin pingsan.


__ADS_2