
Mas Tito langsung mengerutkan dahinya heran, saat gue masuk ke dalam mobil dengan wajah lesu.
"Kenapa sama muka lo sampe ditekuk gitu? Kayak abis diputusin aja," ledeknya kemudian.
Gue tidak merespon dan hanya diam saja sambil memakai seat belt. Mas Tito sebenernya terlihat masih sedikit heran, namun, manager gue ini tidak banyak bertanya dan langsung menyalakan mobil lalu mengemudikannya.
Gue menghela napas berat.
Mas Tito langsung menoleh hati-hati. "Ada berita buruk?"
Gue menggeleng tidak tahu. Gue pusing. Gue bingung, enggak tahu harus bagaimana.
"Gue nggak tahu, Mas."
"Emang tadi lo abis nemuin siapa?"
Gue menoleh ke arah Mas Tito. Ekspresi gue terlihat ragu-ragu. Namun, pada akhirnya gue tetap mengatakan siapa yang gue temui barusan.
"Zidan."
Mas Tito garuk-garuk kepala. "Siapa itu Zidan?"
"Kakaknya Zea."
Mas Tito langsung ber'oh'ria sambil manggut-manggut paham. "Oh, jadi namanya Zidan." ia kemudian berseru heboh beberapa detik setelahnya, "lah, anjir, jadi lo majuin jadwal penerbangan jadi pagi demi ketemu calon kakak ipar lo? Wah, bener-bener ya lo, Za. Fix, bakalan gue aduin ke Barra. Biarin lo diomelin."
Gue kembali menghela napas. "Gue bahkan nggak yakin apa beneran bisa jadi calon adik iparnya, Mas," gumam gue setelahnya.
Ekspresi putus asa terlihat jelas pada wajah gue. Frustasi sekaligus tertekan gue rasakan. Gue bahkan nggak tahu harus bersikap bagaimana setelah ini.
"Lah, kalau cuma calon mah masih bisa nggak sih, Za?"
Gue menggeleng lemah. Gue nggak tahu, gue nggak yakin. Menurut gue Zidan lagi berusaha nge-warning gue agar berhenti mendekati Zea. Kurang lebih begitu lah yang gue tangkep.
"Dia nyuruh lo berhenti buat deketin adeknya?"
Gue menggeleng tidak yakin.
"Terus?" tanya Mas Tito heran.
"Gue disuruh nikahin dia."
Ciiitttt!
__ADS_1
Secara tiba-tiba Mas Tito langsung menginjak rem dan melotot tajam ke arah gue.
"Siapa yang disuruh nikahin siapa?"
Gue menaikkan alis bingung. Emang ada yang salah dengan kalimat gue tadi.
"Jangan ambigu, anjir, Za, otak gue traveling nih. Dia itu siapa yang lo maksud? Zidan atau Zea?"
Kali ini giliran gue yang melotot tajam ke arahnya. "Ya, menurut lo aja lah, Mas, udah jelas pasti Zea lah. Ya, kali Zidan-nya."
Mas Tito langsung mendesah lega sambil manggut-manggut paham. Ia kemudian kembali mengemudikan mobilnya lagi.
"Ya, kali aja dia masuk salah satu sekte rainbow cake."
Gue langsung menatap Mas Tito datar. "Mas Tito!" panggil gue dengan nada agak jengkel.
"Ya kan gue nggak tahu, salah lo sendiri, anjir, kenapa ngomongnya ambigu gitu. Kan gue jadi berpikir yang iya-iya." Mas Tito membalas dengan nada tidak kalah jengkel.
Gue mendengus.
"Ya maaf, tapi seriusan lo disuruh langsung nikahin Zea?" Mas Tito bergumam tidak percaya lalu mengimbuhi kalimatnya, "iya sih, di islam pacaran itu dilarang, tapi masa udah langsung suruh nikahin? Serem banget, ini pernikahan loh, bukan hal main-main, serius. Sekali seumur hidup, Za."
"Zidan nggak secara gamblang minta gue buat nikahin Zea secepatnya sih, Mas, cuma Zidan bilang kalau dia nggak mau Zea pacaran. Dia maunya gue serius, ya gue serius lah, nggak main-main juga kan. Umur gue berapa sih, Mas, ya kali masih mau main-main. Tapi tiba-tiba dia bilang serius yang dia maksud itu ke jenjang pernikahan. Ya, kan gue sama Zea baru kenal, yang belum kenal-kenal banget juga, bukan gue nggak mau mikirin arah sana. Cuma posisinya gue shock gitu loh, Mas, disinggung soal pernikahan. Dan lo tahu Zidan langsung bilang apa?"
"Kalau emang nggak yakin, lo bisa mundur sekarang." Gue berdecak kesal saat mengingat ekspresi meremehkannya tadi, "kek, anjir, Mas, gue belum ngapa-ngapain masa iya udah disuruh mundur aja. Katanya dia juga nggak terlalu berharap banyak ke gue gegara profesi gue."
"Lah, emang kenapa sama profesi lo?" sahut Mas Tito tidak terima, "dia lupa adeknya itu siapa? Selebgram juga kali, mukanya terpampang di banyak sosial media. Kok sok-sokan meremehkan profesi lo. Anjir, udah mundur aja lo, orang nggak bisa menghargai profesi orang lain gitu nggak usah ditemenin, apalagi dijadiin ipar. Dih, amit-amit lo kalau punya kakak ipar begituan. Gue sih ogah."
Spontan gue tertawa. Menurut gue reaksi Mas Tito agak sedikit berlebihan.
"Justru karena adeknya itu selebgram, Mas, dia pengennya adeknya dapet yang nggak berurusan sama dunia entertainment. Gitu, males sama media masa sih keknya."
"Belum juga apa-apa udah begitu. Terus lo gimana? Mau lanjut atau udah cari yang lain?"
Sambil menatap Mas Tito, gue kemudian menggeleng sebagai tanda jawaban. Bingung juga sih gue harus gimana.
"Enggak tahu, Mas."
"Lah, kok nggak tahu, perasaan lo buat Zea-nya gimana? Lo seriusan udah naksir belum sih?"
"Kepo lo, Mas."
"Lah, ditanyain juga."
__ADS_1
Gue memilih menggeleng.
"Belum?" tebak Mas Tito ragu-ragu.
"Bukan. Udah lah, nggak usah kepo, fokus nyetir aja, Mas. Gue mau tidur! Anterin gue ke tempat Kak Luna, ya."
Mas Tito menaikkan sebelah alisnya heran. "Mau ngapain?"
Gue berdecak sambil menatapnya sinis. "Dibilang nggak usah kepo juga. Ada lah, urusan keluarga. Mas Tito nggak usah kepo. Gue mau tidur."
Setelah mengatakan itu gue langsung menyandarkan tubuh gue mencari posisi ternyaman gue untuk tidur.
Sedang asik berkelana di dalam mimpi, Mas Tito tiba-tiba membangunkan gue. Gue merasa terusik langsung berdecak kesal.
"Apaan sih, Mas? Gue ngantuk nih," amuk gue kesal.
"Buset kaget gue, anjir. Galak banget sih?"
Gimana gue nggak galak, posisi lagi kurang tidur, bad mood, pusing, ditambah lagi enak-enak tidur malah dibangunin. Bukankah sudah sewajarnya kalau gue ngamuk?
"Astagfirullah, Mas, serius lo nanya begitu?" gue kemudian menunjuk wajah, "lo nggak liat separah apa kantung mata gue sekarang? Gue ngantuk banget, Mas, sumpah."
"Salah sendiri sok-sokan minta majuin jadwal penerbangan. Sekarang rasain akibatnya sendiri."
Gue hanya mampu mendengus sambil menatap Mas Tito sinis.
"Lo masih nggak notice sama suara hape lo?"
Mas Tito melirik gue sinis. Gue langsung meraih ponsel gue yang ternyata memang menyala. Ada panggilan masuk. Tanpa nama. Siapa nih?
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Mas Tito heran.
Gue langsung memperlihatkan layar ponsel gue ke Mas Tito. "Nomor, Mas. Enggak kenal gue. Menurut lo angkat atau jangan?"
"Coba gue lihat!"
Gue lebih mendekatkan layar ponsel gue ke arah Mas Tito. "Kenal lo, Mas?"
Mas Tito menggeleng. "Coba lo angkat dulu, siapa tahu penting. Kalau dari orang nggak jelas langsung blokir aja," sarannya kemudian.
Gue mengangguk paham, lalu menggeser tombol hijau. Ragu-ragu gue menempelkan ponsel gue pada telinga.
"Ya, halo?"
__ADS_1