Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 1 Ibu Mertua dan Adik Ipar


__ADS_3

Bab


1 Ibu Mertua dan Kakak Ipar


Larut


malam, di Hotel Hydra milik Grup Alliant.


"Bu,


apa Ibu yakin ini ruangannya?" tanya wanita muda itu kepada wanita di


sebelahnya sambil menopang seorang wanita yang sedang pingsan. Mata indah wanita


itu sedang melirik ke nomor kamar 2401.


Wanita


paruh baya itu mengangguk, "Benar, di sini. Bawa dia masuk dan lempar ke


tempat tidur."


Detik


berikutnya, Febi Pranata dilempar ke tempat tidur empuk oleh Usha Dinata


seperti sebuah kain lap.


Dia


yang tidak pandai minum itu dibuat mabuk di pesta ulang tahun adik iparnya. Dia


sama sekali tidak tahu dirinya telah dijebak oleh ibu mertua dan adik iparnya.


Bella


Minor melirik menantu perempuannya yang berada di tempat tidur dengan dingin,


lalu menginstruksikan wanita muda itu, "Usha, ganti piyama kakak


iparmu!"


"Ibu


sangat teliti. Begitu reporter datang besok, pemandangan ini akan terlihat


bagus!" Setelah itu, wanita muda itu mengganti pakaian Febi. Febi memiliki


wajah cantik dengan kulit seputih salju dan sosok yang anggun, bahkan Usha yang


juga seorang wanita ikut berdecak melihatnya.


Padahal,


dari segi penampilan, dia pantas bersanding dengan kakaknya. Hanya saja latar


belakangnya ....


Keluarganya


sangat miskin, sama sekali tidak sederajat dengan Keluarga Dinata. Terlebih,


dia sudah dua tahun menikah, tapi masih tidak memiliki momongan.


"Oke,


oke, cepat keluar!" desak Bella pada putrinya. Setelah mereka keluar, dia


baru menyerahkan kartu hotel dan bertanya lagi, "Apakah pria itu sudah ada


di sini?"


"Sudah,


dia sudah di jalan."


"Hmm,


katakan padanya, apa pun yang terjadi, harus menahan Febi sampai besok pagi


reporter datang!"


"Apa


Ibu masih tidak yakin dengan rencana putrimu? Tenanglah, aku sudah mengatur


semuanya. Kali ini, kita akan mendapatkan bukti dia selingkuh. Mari kita lihat


apa yang Ayah katakan. Dia dan Kakak pasti akan bercerai!" ujar Usha


dengan sombong. Dia merasa rencana dia dan ibunya sangat luar biasa.

__ADS_1


"Baik,


baik. Putriku adalah anak yang paling cerdik. Kamu sangat hebat!"


Kedua


wanita itu berbicara sambil tertawa, lalu pergi dengan bangga, tidak ada lagi


orang yang memperhatikan wanita di tempat tidur yang pingsan karena mabuk.


...


Febi


tertidur lelap. Kasur di hotel bintang lima sangat empuk dan nyaman seakan


berbaring di atas awan. Dia meregangkan tubuhnya dengan malas dan kembali


tidur.


Beberapa


waktu kemudian, bel pintu tiba-tiba berdering. Di tengah malam seperti ini


suara itu terdengar menusuk telinga. Febi sedikit kesal dengan suara itu, dia


tidak berniat untuk memedulikan orang itu. Namun, orang di luar tidak menyerah,


dia terus memencet bel itu.


'Apakah


suamiku lupa membawa kunci?'


Setelah


terpikir orang yang mengetuk pintu adalah suaminya, tidak peduli seberapa lemah


dia saat ini, dia tetap berusaha untuk berdiri lalu terhuyung-huyung ke pintu


dan membukanya.


Orang


yang berdiri di luar bukanlah suaminya, melainkan seorang pelayan hotel.


Bab


"Kamu


bukan suamiku?" Febi menatap pelayan di depannya dengan linglung. Suara


mabuknya itu terdengar sangat lembut di malam hari, "Kenapa ... kamu


mencariku?"


Pelayan


itu memperlihatkan senyum profesional dan menjelaskan dengan penuh permintaan


maaf, "Maaf Nona, mengganggu Anda selarut ini. Karena toilet di kamar ini


tersumbat dan belum selesai diperbaiki. Resepsionis kami membuat kesalahan dan


memberimu kamar ini!"


Febi


hanya melambaikan tangannya dan berencana untuk mengatakan tidak apa-apa,


tetapi pelayan itu kembali berbicara dengan lembut, "Untuk menebus


permintaan maaf kami, manajer kami telah meningkatkan kamar Anda menjadi kamar


suite dengan pemandangan laut. kalau Anda tidak keberatan, silakan kemasi


barang-barang Anda. Saya akan mengantarmu ke sana."


"Oh,


baik .... Tidak masalah ...." Sebenarnya dia tidak mendengar jelas apa


yang dikatakan pelayan itu, dia hanya mengangguk dengan bingung.


Karena


dia sedang mabuk, dia tidak punya pilihan selain melakukan apa yang


diperintahkan pelayan itu.


Pelayan

__ADS_1


memberinya kunci kamar baru dan membawanya ke sana. Masih di lantai 24, tapi


kamarnya berubah menjadi 2415.


Dalam


perjalanan, walkie-talkie pelayan berdering, ada keadaan darurat yang harus dia


tangani.


"Maaf,


saya benar-benar minta maaf, untuk saat ini saya tidak bisa membawa Anda ke


sana." Pelayan itu meminta maaf dengan tulus.


Febi


adalah orang yang sangat baik. Jelas-jelas dia mabuk hingga sulit berjalan,


tapi dia masih berdiri tegak, lalu tersenyum dan melambai padanya, "Jangan


khawatir, aku bisa berjalan sendiri. Nomor kamar 2415, ya? Aku tidak akan


tersesat."


...


Pelayan


tidak ada pilihan lain selain pergi sambil meminta maaf. Febi terhuyung-huyung


sambil bersandar ke dinding. Dia berusaha sangat keras mencari kamar nomor


2415.


"Kamarnya


yang ini!" Dia menunjuk ke empat angka yang berlapis emas di pintu sambil


menyipitkan matanya untuk membaca lagi, tapi saat membaca tulisan di baris


satu, dua, tiga ... dia merasa sedikit pusing.


Dia


mengambil kartu kamar dan bersiap untuk menggeseknya, tapi sebelum dia bisa


menggesek kartu itu, pintu itu terbuka oleh tubuhnya yang tidak bisa berdiri


tegak! Ternyata pintu itu tidak dikunci, hanya ditutup saja.


Febi


tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kemudian, dia menutup pintu, bahkan tidak


menyalakan lampu, lalu dia melemparkan tubuhnya ke kasur tanpa memedulikan apa


pun.


"Wah


... nyaman sekali ...." ucapnya sambil merangkak naik ke tempat tidur,


lalu memejamkan mata dan kembali tertidur.


Apa


itu kamar dengan pemandangan laut? Baginya saat ini, tidak ada pesona sama


sekali. Dia hanya ingin tidur nyenyak sampai subuh!


...


Di


luar kamar, koridor hotel yang disinari cahaya keemasan itu terlihat sangat


mewah. Suara langkah kaki yang sangat kuat terdengar dari koridor. Pada saat


ini sekelompok orang keluar dari lift.


Lelaki


yang paling mencolok pastinya adalah lelaki yang dikelilingi oleh kerumunan.


Dia mengenakan setelan buatan tangan berwarna gelap yang terlihat sederhana


tapi elegan dengan sosok tingginya yang terlihat menawan. Di bawah bayangan


lampu, fitur wajah tampannya itu bagaikan sebuah ukiran yang sangat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2