Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 129 Jangan Takut, Aku di Sini


__ADS_3

Julian tersentak. Dia bangkit dari sofa, lalu


menjatuhkan kemejanya dan berjalan ke kamar Febi.


Julian berjalan ke depan pintu kamar Febi dan


membunyikan bel pintu beberapa kali, tapi tidak ada yang membuka pintu. Julian


mengeluarkan ponselnya dan menelepon Febi.


Di sana, setelah ponsel berdering beberapa kali,


panggilan itu baru diangkat.


"Buka pintunya." Sebelum Febi berbicara,


Julian sudah membuka suara terlebih dulu, suaranya terdengar rendah dengan nada


memerintah.


"Aku tidak ada di kamar lagi." Suara Febi


datang dari ujung sana, terdengar sedikit lemah dan pelan, "Apakah kamu


ada urusan?"


Febi bertanya dengan sengaja.


"Di mana obatnya?" tanya Julian.


Saat ini, Febi sedang duduk di taksi, dia bergegas ke


lokasi konstruksi. Ketika dia mendengar pertanyaan Julian, dia mengalihkan


pandangannya ke luar jendela dan melihat daun-daun yang jatuh dari batang


pohon, kemudian dia berkata, "Jangan khawatir, aku sudah meminumnya."


Julian mengepalkan ponselnya dengan erat, napasnya


menjadi sedikit terengah-engah, "Obat itu memiliki efek samping, kamu


tidak tahu?"


Jelas-jelas Julian yang membelinya dan menyiapkan


untuk Febi. Namun sekarang, mendengar Febi terus terang mengatakan bahwa dia


telah meminum obatnya, dia merasa sangat tidak nyaman.


Efek samping?


"Efek samping tidak ada apa-apanya dibandingkan


dengan kehamilan. Selain itu ...." Febi menghela napas. Melalui cermin di


sisi kanan taksi, dia melihat senyum getir dan jelek di sudut bibirnya,


"Kamu sudah menyiapkan obatnya. Aku hanya mengikuti kehendakmu.


Sebenarnya, bahkan kamu tidak membelikanku obat pun, aku akan menyiapkannya


sendiri .... "


Julian tidak berbicara.


Julian mendengar Febi terus berbicara dengan suara


yang semakin pelan, "Bukan kamu saja yang tidak menginginkan anak, aku


juga sama denganmu. Aku tidak akan sembarangan melahirkan anak. Jadi, jangan


khawatir. Kamu tidak akan memiliki masalah dalam hal ini."


Setelah jeda, Febi menambahkan, "Tidak akan


pernah ...."


Tidak akan pernah?


Julian berdiri di dekat jendela sambil memandangi


kolam renang biru hotel di lantai bawah.


Setelah beberapa saat, dia berkata, "Oke, aku


akan mengingat kata-kata hari ini."


...


Di lokasi konstruksi, Febi mengenakan helm pengaman


dan sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Terkadang dia ngobrol dengan mandor


tentang masalah sketsa. Terkadang dia pergi ke tim konstruksi dalam ruangan


untuk berbicara tentang pencocokan warna. Dia terlihat sangat sibuk.


Julian pergi ke area hiburan untuk memeriksa situasi.


Setelah lewat lokasi itu, dia melihat sosok mungil di kejauhan.


Saat Julian mendekat, dia sengaja berhenti dan berdiri


tidak jauh untuk menatapnya.


Febi sangat sibuk sehingga ada keringat tipis yang


muncul di dahinya. Febi menoleh dan melihat Julian, tapi dia hanya tertegun


sejenak, lalu segera tersenyum dan menyapa dengan sopan, "Pak


Julian."


Febi terlihat sangat bersemangat dan tampak sama


sekali tidak terpengaruh oleh hubungan mereka. Terutama senyum itu yang lebih


cerah dari sinar matahari hari ini. Cerah hingga menusuk mata Julian.


Julian bahkan tidak menanggapinya. Dia hanya melirik


Febi dengan dingin dan berjalan pergi.


"Febi, apakah kamu lelah? Mari kita lanjutkan


berbicara setelah minum." Pak Kenedy melemparkan sebotol air kepada Febi.


Febi mengangkat tangannya untuk mengambilnya,


"Terima kasih."


Bahkan suaranya terdengar ceria.


Julian menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.


Febi? Baru dua hari sejak mereka mengenal satu sama


lain, tapi hubungan mereka sudah begitu akrab.


Jadi, hanya Julian satu-satunya yang tertekan dan


memedulikannya. Sementara Febi masih menjalani hidup dengan damai.


"Ayo, seka keringatmu, jangan terlalu lelah.


Hanya kamu gadis di lokasi konstruksi. Tidak mudah bagimu untuk berlari


bolak-balik." Pak Kenedy menyerahkan handuk padanya, "Sudah aku cuci


dan belum aku pakai. Kamu pakailah dulu."


Febi tersenyum, lalu mengambilnya dengan murah hati


dan menyeka keringat di dahinya, "Aku yang seharusnya tidak enak


hati."


Julian tidak berhenti. Dia melangkah pergi dengan


Ryan. Ryan melihat ke belakang dan menghela napas, "Aku tidak menyangka


Nona Febi berada di dalam sekelompok pria, tapi dia sangat murah hati dan rukun


dengan semua orang."


"Hmm," jawab Julian dengan singkat,


mengabaikan topik dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya, "Aku


telah membaca laporan sistem yang dikirim tadi malam. Beri tahu semua orang


sore ini datang ke ruang konferensi untuk rapat."


"Baik."


...


Bayangan itu telah menghilang, senyum terpaksa Febi


akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Senyum di matanya itu berangsur-angsur


memudar dan bahunya perlahan membungkuk.


Pak Kenedy menatapnya, lalu melihat ke arah di mana


Julian pergi. Dia tersenyum, memperlihatkan ekspresi seakan dia sangat


berpengalaman, "Apakah kamu tertarik dengan Pak Julian? Kalian para gadis


kecil benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria tampan. Anak muda


memanglah sembrono."


Febi menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya.


Dia seakan menjawab kata-kata Pak Kenedy, tapi sebenarnya dia berkata pada


dirinya sendiri, "Aku tidak muda lagi, jadi aku harus lebih rasional


sekarang. Benar, 'kan?"


Ada beberapa orang yang keberadaannya bagaikan bulan.


Ketika kamu berpikir jarak kalian sangat dekat sehingga kamu dapat menjangkau


dan menyentuhnya, sebenarnya itu hanyalah pantulan di dalam air. Jika kamu


menyentuhnya, bayangan itu akan memudar.


Ketika kamu tersadar, kamu akan mengerti bahwa bulan


tetaplah bulan. Bulan selalu berada tinggi di atas puncak pohon. Satu-satunya


yang bisa mengitarinya adalah matahari.


Sementara Febi ....


Dia bukanlah matahari. Dia juga tidak akan pernah

__ADS_1


menjadi matahari ....


"Baguslah kamu bisa berpikir begitu. Begitu orang


ingin mengejar sesuatu yang bukan miliknya, dia secara alami akan lelah."


Pak Kenedy menasehati Febi seakan dia adalah seorang senior,


"Dengar-dengar dari awal Pak Julian sudah memiliki tunangan, lebih baik


kamu tidak mendekatinya."


Tangan Febi yang memegang sketsa sedikit menegang. Dia


menundukkan kepalanya, lalu mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan


emosinya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya, "Oke, mari kita


bicara tentang pekerjaan. Kalau bisa lebih cepat menyelesaikan masalah di sini,


aku bisa kembali lebih cepat."


Awalnya, Febi  berpikir untuk bersantai di sini, tapi dia tidak menyangka akan


melakukan perjalanan bisnis dengan Julian. Akibatnya, dia gagal bersantai dan


kesedihan di hatinya malah semakin menjadi-jadi.


...


Saat sore hari.


Febi sedang beristirahat di ruang tunggu.


"Febi, Pak Kenedy memintamu keluar sebentar. Dia


bilang ada sesuatu yang ingin ditanyakan padamu." Seseorang mendorong


pintu dan masuk. Febi meletakkan gelas air di tangannya, lalu bangkit dengan


cepat dan berjalan keluar.


Dari kejauhan, Pak Kenedy terlihat memeriksa lift yang


digunakan di lokasi konstruksi. "Kak Kenedy, ada apa?"


"Apakah kamu bisa menggunakan ini?" Pak


Kenedy menepuk lift.


"Ah?" Febi tertegun sejenak. Pak Kenedy


mendongakkan kepalanya dan berkata, "Mungkin ada masalah dengan tembok di


atas, perlu diperbaiki. Kamu mungkin harus pergi untuk mengawasi pekerjaan itu


sendiri."


Febi mendongak. Tempat itu puluhan meter dari atas


tanah.


Sebenarnya Febi takut ketinggian, tapi ini adalah


pekerjaannya. Bahkan jika itu beberapa ribu kilometer, dia tidak bisa


menolaknya.


"Apakah kamu takut? Kalau kamu takut, aku akan


meminta seseorang menemanimu."


"Tidak perlu, aku yang pergi saja." Febi


memakai helmnya dan mengambil sketsanya, "Jangan khawatir, aku baik-baik


saja."


"Apakah benar-benar tidak masalah?" Pak


Kenedy mengonfirmasi lagi.


"Ya." Febi mengangguk, dia benar-benar


pasrah. Sudah sewajarnya dia melakukan pekerjaan ini karena dia telah


mendapatkan gaji yang besar dari Hotel Hydra. Akan tetapi, uang ini benar-benar


tidak mudah didapat.


"Baiklah. Bawa ini. Kalau kamu takut, jangan panik.


Katakan saja padaku, aku akan meminta orang menurunkanmu," pesan Pak


Kenedy sambil memberikan walkie-talkie kepada Febi.


Febi memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam


untuk mempersiapkan diri dan berpura-pura santai. Pak Kenedy dengan hati-hati


memeriksa peralatan itu lagi. Setelah memastikannya, dia memberi isyarat untuk


menyalakan lift.


Febi berdiri sendirian di lift yang terbuka. Awalnya,


Febi berpikir dia tidak akan takut, tapi segera setelah mesin dinyalakan dan


lift terus naik, punggung Febi mulai berkeringat dingin.


Secara tidak sengaja, Febi menundukkan kepala dan


melihat bahwa orang-orang di bawah semakin menjauh, rasa amannya benar-benar


lift.


Saat melihat hanya berjarak beberapa meter lift akan


mencapai puncak, hingga Febi hendak menarik napas lega, tapi ....


Sebelum dia bisa bernapas dengan lancar, lift berhenti


tiba-tiba dan terjebak di udara.


Lalu ....


Seluruh daerah konstruksi menjadi hening, semua mesin


berhenti. Namun setelah hening beberapa detik, dia mendengar teriakan,


"Listrik padam! Listrik padam!"


Listrik padam?


Jadi ....


Apakah sekarang Febi terjebak di udara?


Febi benar-benar tercengang. Ketika Febi berpikir saat


ini dia terjebak di ketinggian puluhan meter, hingga tidak bisa naik atau


turun, kakinya menjadi lemah.


Walkie-talkie berdering dan terdengar suara Pak


Kenedy, "Febi, listrik padam. Tapi, kamu jangan panik. Tenang saja, benda


ini tidak membahayakan keselamatan."


"Be ... benarkah?" Bibir Febi memuct.


Hatinya seakan menggantung di langit setinggi puluhan meter.


"Kira-kira kapan … bisa diselesaikan?" Febi


berusaha keras untuk menenangkan diri, tapi dia masih mendengar suaranya yang


gemetar.


Di dalam benaknya, Febi mulai membayangkan kecelakaan


dalam situasi seperti ini tanpa terkendali. Jika jatuh dari ketinggian ini,


tubuhnya pasti akan hancur berkeping-keping!


Semakin Febi memikirkannya, dia semakin takut. Namun,


dua tidak bisa tidak memikirkan adegan menyeramkan itu. Dia sangat takut


sehingga bulu kuduknya berdiri.


"Tunggu saja, orang-orang kita sudah menelepon


PLN. Kalau pemadaman listrik jangka panjang, kami akan segera menyalakan


generator," jawab Pak Kenedy.


Tangan Febi yang memegang walkie-talkie gemetar.


Namun, dia tidak ingin terlalu membuat mereka khawatir, jadi dia hanya


mengangguk, "Oke, kalau begitu aku akan menunggu ...."


Sebenarnya, Febi sangat takut, sangat takut ....


...


Di sisi lain.


Rombongan itu sedang mengadakan rapat di ruang


konferensi, proyektor tiba-tiba menjadi gelap. Julian mengangkat alisnya dan


melirik Ryan.


Ryan segera bangkit dan keluar untuk mencari masalahnya.


Dengan cepat, Ryan telah kembali, "Pak Julian, ada pemadaman listrik.


Semua pekerjaan di luar telah berhenti."


"Hmm, rapat akan dihentikan untuk saat ini."


Julian mengemasi materi secara acak dan pergi ke lokasi konstruksi. Dia berniat


untuk memeriksa situasinya.


Julian berjalan keluar dari ruang konferensi. Saat dia


mendongakkan kepala, dia melihat lift menggantung tinggi di langit. Dia tidak


berpikir panjang, dia mengira lift itu sedang mengangkut bahan.


"Bagaimana situasinya sekarang? Apakah sudah menelepon


untuk menanyakan alasan pemadaman listrik?" tanya Julian sambil berjalan


menuju Pak Kenedy.

__ADS_1


"Baru saja berkomunikasi dengan mereka. Mereka


berkata di luar sedang ada perbaikan jalan dan kabelnya terputus. Sekarang ada


keributan di sana dan sangat berantakan. Walikota sudah pergi untuk


menanganinya."


"Apakah bisa menggunakan generator?"


"... Aku baru tahu kalau solar di gudang tidak


cukup. Kalau mau menyalakan generator, harus beli solar dulu. Tapi solar


terbatas dan tidak ada penjualan solar di tiga SPBU sepanjang jalan." Pak


Kenedy sudah menyelidiki situasinya.


Julian merenung. Tepat ketika dia berencana untuk


bermurah hati membiarkan semua orang libur setengah hari, tapi ....


Sebelum dia bisa berbicara, dia mendengar suara yang


dikenalnya datang dari walkie-talkie di tangan Pak Kenedy, "Kak Kenedy,


apakah listrik masih bisa menyala?"


Febi?


Suara Febi terdengar sangat kacau.


Julian mengerutkan kening dengan sedikit curiga.


Pak Kenedy menekan tombol dan berkata dengan tenang,


"Jangan takut, kita semua mencoba mencari cara sekarang."


Jangan takut?


"Apa yang terjadi?" tanya Julian.


"Nona Febi sedang ada di lift sekarang dan


listrik padam di tengah jalan. Jadi, dia terjebak di sana," jelas Pak


Kenedy.


Mata Julian menjadi gelap. Dia mengangkat kepalanya


untuk melirik lift yang tergantung di udara, lalu mengulurkan tangannya untuk


menunjuk, "Dia di atas? Apakah kamu yakin itu Febi?"


Julian menekan setiap kata dengan kuat, dia terus memastikan


hal itu.


"Ya, benar dia."


Julian merasakan alisnya berkedut. Ketika dia berpikir


saat ini Febi sedang menggantung di udara, emosinya langsung tidak bisa


dikendalikan dan dia menggeram, "Lalu kenapa kalian semua berdiri di sini?


Bukankah kamu kekurangan solar? Cepat beli! Mencari ke seluruh kota sekalipun,


kalian harus berhasil mendapatkannya!"


Pak Kenedy tidak menyangka reaksi Julian akan seperti


ini. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan Febi. Setelah Pak Kenedy tertegun


sejenak, dia tersadar dari lamunannya dan buru-buru meminta seseorang untuk


membelinya.


Julian tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil


walkie-talkie dari tangan Pak Kenedy.


"Febi!"


...


Febi berdiri di atas sendirian, seolah-olah sedang


menginjak awan. Dia tidak merasa aman seolah-olah dia akan terjatuh kapan saja.


Wajah Febi memucat. Jangankan bergerak, Febi bahkan


tidak berani bernapas terlalu keras.


Tampaknya asalkan dia bernapas sedikit lebih keras,


dia akan jatuh kapan saja.


Saat dia merasa sangat takut, dia tiba-tiba mendengar


panggilan "Febi", air mata Febi yang telah dia tahan, tiba-tiba


mengalir tidak terkendali.


"Julian, apakah itu kamu?" Suara Febi


tiba-tiba tercekat.


"Aku. Aku di bawahmu. Tapi kamu jangan melihat ke


bawah!"


Sangat jelas Febi ketakutan, tapi Julian yang berdiri


di tanah juga tidak lebih baik darinya. Dia lebih takut dan khawatir daripada


Febi.


"Yah, aku tidak melihat, tidak melihat ... tapi


aku takut ketinggian. Aku takut ...." Sekarang, suara Febi terisak, dia


benar-benar telah menangis.


Pada saat ini, semua ketenangan Julian lenyap


seketika. Di hatinya penuh dengan kata-kata umpatan, 'Sialan! Siapa yang


memintanya naik ke atas?'


"Sayang, jangan takut. Aku di sini, aku di sini


...." Julian mengepalkan walkie-talkie dan terus melihat ke atas,


"Hati-hati. Berjongkoklah, kamu tidak akan takut kalau berjongkok."


"Oke, aku akan mendengarkanmu ...." Febi


terisak. Di hadapan Julian, Febi selalu sangat rentan dan tidak bisa menahan


air matanya.


Febi berpegangan pada jeruji besi, lalu duduk dengan


sangat hati-hati.


Lift bergetar sebentar, hingga membuat Febi terkesiap


ketakutan. Suara itu membuat Julian merasa jantungnya akan melompat keluar.


Namun, dia tidak berani bertanya lebih banyak, karena dia takut membuat Febi


ketakutan.


Julian menoleh, lalu berkata dengan dingin kepada


Ryan, "Sepuluh menit, tidak, lima menit! Angkut minyak kembali dengan


lancar! Kalau tidak, kamu akan menanggung risikonya!"


Suara Julian seakan berasal dari neraka. Suara itu


terdengar dingin dan menakutkan.


Semua orang yang berada di samping menyeka keringat


dingin. Di dalam hati, mereka menerka-nerka, apa hubungan di antara Pak Julian


dan Febi? Hubungan mereka sama sekali tidak biasa! Febi tidak memanggilnya


"Pak Julian", tapi memanggil namanya.


Ketergantungan Febi dan kegugupan Pak Julian sudah


terlihat jelas.


Saat ini, Ryan tidak memiliki pemikiran seperti itu


lagi. Dia berbalik dan segera pergi. Dia menelepon sambil berjalan untuk


menindaklanjuti masalah membeli solar.


"Apakah kamu masih di sana?" Setelah lama


tidak mendengar suara Julian, Febi merasa sedikit putus asa. Beberapa menit


yang berlalu ini seakan bertahun-tahun lamanya.


Febi tidak bisa menahan isakannya, "Julian, aku


tidak bisa mendengar suaramu."


Febi menjulurkan kepalanya dan melihat ke bawah dengan


hati-hati. Hanya dengan satu pandangan, sekujur tubuhnya menjadi lemah dan air


matanya mengalir semakin banyak, Febi mundur ke dalam lift seperti anak kecil


yang tak berdaya.


"Aku di sini, aku tetap di sini. Patuh, jangan


melihat ke bawah. Aku akan menemanimu mengobrol ...."


Julian mencoba yang terbaik untuk membuat suaranya


terdengar lebih lembut. Namun, hatinya sudah menjadi gila.


Julian kesal karena dalam situasi ini, dia tidak bisa


memberi Febi sedikit pun dukungan! Pada saat ini, jika dia bisa menemani Febi


di lift, Febi tidak akan merasa begitu kacau!


Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain


meyakinkan Febi dengan kata-kata. Selain berdiri di sini dan tidak pergi ke


mana pun, Julian tidak bisa melakukan apa pun

__ADS_1


"Julian, aku merasa tidak nyaman." Febi


meringkuk menjadi bola, "Hatiku tidak nyaman ...."


__ADS_2