
Julian tersentak. Dia bangkit dari sofa, lalu
menjatuhkan kemejanya dan berjalan ke kamar Febi.
Julian berjalan ke depan pintu kamar Febi dan
membunyikan bel pintu beberapa kali, tapi tidak ada yang membuka pintu. Julian
mengeluarkan ponselnya dan menelepon Febi.
Di sana, setelah ponsel berdering beberapa kali,
panggilan itu baru diangkat.
"Buka pintunya." Sebelum Febi berbicara,
Julian sudah membuka suara terlebih dulu, suaranya terdengar rendah dengan nada
memerintah.
"Aku tidak ada di kamar lagi." Suara Febi
datang dari ujung sana, terdengar sedikit lemah dan pelan, "Apakah kamu
ada urusan?"
Febi bertanya dengan sengaja.
"Di mana obatnya?" tanya Julian.
Saat ini, Febi sedang duduk di taksi, dia bergegas ke
lokasi konstruksi. Ketika dia mendengar pertanyaan Julian, dia mengalihkan
pandangannya ke luar jendela dan melihat daun-daun yang jatuh dari batang
pohon, kemudian dia berkata, "Jangan khawatir, aku sudah meminumnya."
Julian mengepalkan ponselnya dengan erat, napasnya
menjadi sedikit terengah-engah, "Obat itu memiliki efek samping, kamu
tidak tahu?"
Jelas-jelas Julian yang membelinya dan menyiapkan
untuk Febi. Namun sekarang, mendengar Febi terus terang mengatakan bahwa dia
telah meminum obatnya, dia merasa sangat tidak nyaman.
Efek samping?
"Efek samping tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan kehamilan. Selain itu ...." Febi menghela napas. Melalui cermin di
sisi kanan taksi, dia melihat senyum getir dan jelek di sudut bibirnya,
"Kamu sudah menyiapkan obatnya. Aku hanya mengikuti kehendakmu.
Sebenarnya, bahkan kamu tidak membelikanku obat pun, aku akan menyiapkannya
sendiri .... "
Julian tidak berbicara.
Julian mendengar Febi terus berbicara dengan suara
yang semakin pelan, "Bukan kamu saja yang tidak menginginkan anak, aku
juga sama denganmu. Aku tidak akan sembarangan melahirkan anak. Jadi, jangan
khawatir. Kamu tidak akan memiliki masalah dalam hal ini."
Setelah jeda, Febi menambahkan, "Tidak akan
pernah ...."
Tidak akan pernah?
Julian berdiri di dekat jendela sambil memandangi
kolam renang biru hotel di lantai bawah.
Setelah beberapa saat, dia berkata, "Oke, aku
akan mengingat kata-kata hari ini."
...
Di lokasi konstruksi, Febi mengenakan helm pengaman
dan sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Terkadang dia ngobrol dengan mandor
tentang masalah sketsa. Terkadang dia pergi ke tim konstruksi dalam ruangan
untuk berbicara tentang pencocokan warna. Dia terlihat sangat sibuk.
Julian pergi ke area hiburan untuk memeriksa situasi.
Setelah lewat lokasi itu, dia melihat sosok mungil di kejauhan.
Saat Julian mendekat, dia sengaja berhenti dan berdiri
tidak jauh untuk menatapnya.
Febi sangat sibuk sehingga ada keringat tipis yang
muncul di dahinya. Febi menoleh dan melihat Julian, tapi dia hanya tertegun
sejenak, lalu segera tersenyum dan menyapa dengan sopan, "Pak
Julian."
Febi terlihat sangat bersemangat dan tampak sama
sekali tidak terpengaruh oleh hubungan mereka. Terutama senyum itu yang lebih
cerah dari sinar matahari hari ini. Cerah hingga menusuk mata Julian.
Julian bahkan tidak menanggapinya. Dia hanya melirik
Febi dengan dingin dan berjalan pergi.
"Febi, apakah kamu lelah? Mari kita lanjutkan
berbicara setelah minum." Pak Kenedy melemparkan sebotol air kepada Febi.
Febi mengangkat tangannya untuk mengambilnya,
"Terima kasih."
Bahkan suaranya terdengar ceria.
Julian menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.
Febi? Baru dua hari sejak mereka mengenal satu sama
lain, tapi hubungan mereka sudah begitu akrab.
Jadi, hanya Julian satu-satunya yang tertekan dan
memedulikannya. Sementara Febi masih menjalani hidup dengan damai.
"Ayo, seka keringatmu, jangan terlalu lelah.
Hanya kamu gadis di lokasi konstruksi. Tidak mudah bagimu untuk berlari
bolak-balik." Pak Kenedy menyerahkan handuk padanya, "Sudah aku cuci
dan belum aku pakai. Kamu pakailah dulu."
Febi tersenyum, lalu mengambilnya dengan murah hati
dan menyeka keringat di dahinya, "Aku yang seharusnya tidak enak
hati."
Julian tidak berhenti. Dia melangkah pergi dengan
Ryan. Ryan melihat ke belakang dan menghela napas, "Aku tidak menyangka
Nona Febi berada di dalam sekelompok pria, tapi dia sangat murah hati dan rukun
dengan semua orang."
"Hmm," jawab Julian dengan singkat,
mengabaikan topik dan memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya, "Aku
telah membaca laporan sistem yang dikirim tadi malam. Beri tahu semua orang
sore ini datang ke ruang konferensi untuk rapat."
"Baik."
...
Bayangan itu telah menghilang, senyum terpaksa Febi
akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Senyum di matanya itu berangsur-angsur
memudar dan bahunya perlahan membungkuk.
Pak Kenedy menatapnya, lalu melihat ke arah di mana
Julian pergi. Dia tersenyum, memperlihatkan ekspresi seakan dia sangat
berpengalaman, "Apakah kamu tertarik dengan Pak Julian? Kalian para gadis
kecil benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari pria tampan. Anak muda
memanglah sembrono."
Febi menoleh ke belakang dan menggelengkan kepalanya.
Dia seakan menjawab kata-kata Pak Kenedy, tapi sebenarnya dia berkata pada
dirinya sendiri, "Aku tidak muda lagi, jadi aku harus lebih rasional
sekarang. Benar, 'kan?"
Ada beberapa orang yang keberadaannya bagaikan bulan.
Ketika kamu berpikir jarak kalian sangat dekat sehingga kamu dapat menjangkau
dan menyentuhnya, sebenarnya itu hanyalah pantulan di dalam air. Jika kamu
menyentuhnya, bayangan itu akan memudar.
Ketika kamu tersadar, kamu akan mengerti bahwa bulan
tetaplah bulan. Bulan selalu berada tinggi di atas puncak pohon. Satu-satunya
yang bisa mengitarinya adalah matahari.
Sementara Febi ....
Dia bukanlah matahari. Dia juga tidak akan pernah
__ADS_1
menjadi matahari ....
"Baguslah kamu bisa berpikir begitu. Begitu orang
ingin mengejar sesuatu yang bukan miliknya, dia secara alami akan lelah."
Pak Kenedy menasehati Febi seakan dia adalah seorang senior,
"Dengar-dengar dari awal Pak Julian sudah memiliki tunangan, lebih baik
kamu tidak mendekatinya."
Tangan Febi yang memegang sketsa sedikit menegang. Dia
menundukkan kepalanya, lalu mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan
emosinya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya, "Oke, mari kita
bicara tentang pekerjaan. Kalau bisa lebih cepat menyelesaikan masalah di sini,
aku bisa kembali lebih cepat."
Awalnya, Febi berpikir untuk bersantai di sini, tapi dia tidak menyangka akan
melakukan perjalanan bisnis dengan Julian. Akibatnya, dia gagal bersantai dan
kesedihan di hatinya malah semakin menjadi-jadi.
...
Saat sore hari.
Febi sedang beristirahat di ruang tunggu.
"Febi, Pak Kenedy memintamu keluar sebentar. Dia
bilang ada sesuatu yang ingin ditanyakan padamu." Seseorang mendorong
pintu dan masuk. Febi meletakkan gelas air di tangannya, lalu bangkit dengan
cepat dan berjalan keluar.
Dari kejauhan, Pak Kenedy terlihat memeriksa lift yang
digunakan di lokasi konstruksi. "Kak Kenedy, ada apa?"
"Apakah kamu bisa menggunakan ini?" Pak
Kenedy menepuk lift.
"Ah?" Febi tertegun sejenak. Pak Kenedy
mendongakkan kepalanya dan berkata, "Mungkin ada masalah dengan tembok di
atas, perlu diperbaiki. Kamu mungkin harus pergi untuk mengawasi pekerjaan itu
sendiri."
Febi mendongak. Tempat itu puluhan meter dari atas
tanah.
Sebenarnya Febi takut ketinggian, tapi ini adalah
pekerjaannya. Bahkan jika itu beberapa ribu kilometer, dia tidak bisa
menolaknya.
"Apakah kamu takut? Kalau kamu takut, aku akan
meminta seseorang menemanimu."
"Tidak perlu, aku yang pergi saja." Febi
memakai helmnya dan mengambil sketsanya, "Jangan khawatir, aku baik-baik
saja."
"Apakah benar-benar tidak masalah?" Pak
Kenedy mengonfirmasi lagi.
"Ya." Febi mengangguk, dia benar-benar
pasrah. Sudah sewajarnya dia melakukan pekerjaan ini karena dia telah
mendapatkan gaji yang besar dari Hotel Hydra. Akan tetapi, uang ini benar-benar
tidak mudah didapat.
"Baiklah. Bawa ini. Kalau kamu takut, jangan panik.
Katakan saja padaku, aku akan meminta orang menurunkanmu," pesan Pak
Kenedy sambil memberikan walkie-talkie kepada Febi.
Febi memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam
untuk mempersiapkan diri dan berpura-pura santai. Pak Kenedy dengan hati-hati
memeriksa peralatan itu lagi. Setelah memastikannya, dia memberi isyarat untuk
menyalakan lift.
Febi berdiri sendirian di lift yang terbuka. Awalnya,
Febi berpikir dia tidak akan takut, tapi segera setelah mesin dinyalakan dan
lift terus naik, punggung Febi mulai berkeringat dingin.
Secara tidak sengaja, Febi menundukkan kepala dan
melihat bahwa orang-orang di bawah semakin menjauh, rasa amannya benar-benar
lift.
Saat melihat hanya berjarak beberapa meter lift akan
mencapai puncak, hingga Febi hendak menarik napas lega, tapi ....
Sebelum dia bisa bernapas dengan lancar, lift berhenti
tiba-tiba dan terjebak di udara.
Lalu ....
Seluruh daerah konstruksi menjadi hening, semua mesin
berhenti. Namun setelah hening beberapa detik, dia mendengar teriakan,
"Listrik padam! Listrik padam!"
Listrik padam?
Jadi ....
Apakah sekarang Febi terjebak di udara?
Febi benar-benar tercengang. Ketika Febi berpikir saat
ini dia terjebak di ketinggian puluhan meter, hingga tidak bisa naik atau
turun, kakinya menjadi lemah.
Walkie-talkie berdering dan terdengar suara Pak
Kenedy, "Febi, listrik padam. Tapi, kamu jangan panik. Tenang saja, benda
ini tidak membahayakan keselamatan."
"Be ... benarkah?" Bibir Febi memuct.
Hatinya seakan menggantung di langit setinggi puluhan meter.
"Kira-kira kapan … bisa diselesaikan?" Febi
berusaha keras untuk menenangkan diri, tapi dia masih mendengar suaranya yang
gemetar.
Di dalam benaknya, Febi mulai membayangkan kecelakaan
dalam situasi seperti ini tanpa terkendali. Jika jatuh dari ketinggian ini,
tubuhnya pasti akan hancur berkeping-keping!
Semakin Febi memikirkannya, dia semakin takut. Namun,
dua tidak bisa tidak memikirkan adegan menyeramkan itu. Dia sangat takut
sehingga bulu kuduknya berdiri.
"Tunggu saja, orang-orang kita sudah menelepon
PLN. Kalau pemadaman listrik jangka panjang, kami akan segera menyalakan
generator," jawab Pak Kenedy.
Tangan Febi yang memegang walkie-talkie gemetar.
Namun, dia tidak ingin terlalu membuat mereka khawatir, jadi dia hanya
mengangguk, "Oke, kalau begitu aku akan menunggu ...."
Sebenarnya, Febi sangat takut, sangat takut ....
...
Di sisi lain.
Rombongan itu sedang mengadakan rapat di ruang
konferensi, proyektor tiba-tiba menjadi gelap. Julian mengangkat alisnya dan
melirik Ryan.
Ryan segera bangkit dan keluar untuk mencari masalahnya.
Dengan cepat, Ryan telah kembali, "Pak Julian, ada pemadaman listrik.
Semua pekerjaan di luar telah berhenti."
"Hmm, rapat akan dihentikan untuk saat ini."
Julian mengemasi materi secara acak dan pergi ke lokasi konstruksi. Dia berniat
untuk memeriksa situasinya.
Julian berjalan keluar dari ruang konferensi. Saat dia
mendongakkan kepala, dia melihat lift menggantung tinggi di langit. Dia tidak
berpikir panjang, dia mengira lift itu sedang mengangkut bahan.
"Bagaimana situasinya sekarang? Apakah sudah menelepon
untuk menanyakan alasan pemadaman listrik?" tanya Julian sambil berjalan
menuju Pak Kenedy.
__ADS_1
"Baru saja berkomunikasi dengan mereka. Mereka
berkata di luar sedang ada perbaikan jalan dan kabelnya terputus. Sekarang ada
keributan di sana dan sangat berantakan. Walikota sudah pergi untuk
menanganinya."
"Apakah bisa menggunakan generator?"
"... Aku baru tahu kalau solar di gudang tidak
cukup. Kalau mau menyalakan generator, harus beli solar dulu. Tapi solar
terbatas dan tidak ada penjualan solar di tiga SPBU sepanjang jalan." Pak
Kenedy sudah menyelidiki situasinya.
Julian merenung. Tepat ketika dia berencana untuk
bermurah hati membiarkan semua orang libur setengah hari, tapi ....
Sebelum dia bisa berbicara, dia mendengar suara yang
dikenalnya datang dari walkie-talkie di tangan Pak Kenedy, "Kak Kenedy,
apakah listrik masih bisa menyala?"
Febi?
Suara Febi terdengar sangat kacau.
Julian mengerutkan kening dengan sedikit curiga.
Pak Kenedy menekan tombol dan berkata dengan tenang,
"Jangan takut, kita semua mencoba mencari cara sekarang."
Jangan takut?
"Apa yang terjadi?" tanya Julian.
"Nona Febi sedang ada di lift sekarang dan
listrik padam di tengah jalan. Jadi, dia terjebak di sana," jelas Pak
Kenedy.
Mata Julian menjadi gelap. Dia mengangkat kepalanya
untuk melirik lift yang tergantung di udara, lalu mengulurkan tangannya untuk
menunjuk, "Dia di atas? Apakah kamu yakin itu Febi?"
Julian menekan setiap kata dengan kuat, dia terus memastikan
hal itu.
"Ya, benar dia."
Julian merasakan alisnya berkedut. Ketika dia berpikir
saat ini Febi sedang menggantung di udara, emosinya langsung tidak bisa
dikendalikan dan dia menggeram, "Lalu kenapa kalian semua berdiri di sini?
Bukankah kamu kekurangan solar? Cepat beli! Mencari ke seluruh kota sekalipun,
kalian harus berhasil mendapatkannya!"
Pak Kenedy tidak menyangka reaksi Julian akan seperti
ini. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan Febi. Setelah Pak Kenedy tertegun
sejenak, dia tersadar dari lamunannya dan buru-buru meminta seseorang untuk
membelinya.
Julian tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil
walkie-talkie dari tangan Pak Kenedy.
"Febi!"
...
Febi berdiri di atas sendirian, seolah-olah sedang
menginjak awan. Dia tidak merasa aman seolah-olah dia akan terjatuh kapan saja.
Wajah Febi memucat. Jangankan bergerak, Febi bahkan
tidak berani bernapas terlalu keras.
Tampaknya asalkan dia bernapas sedikit lebih keras,
dia akan jatuh kapan saja.
Saat dia merasa sangat takut, dia tiba-tiba mendengar
panggilan "Febi", air mata Febi yang telah dia tahan, tiba-tiba
mengalir tidak terkendali.
"Julian, apakah itu kamu?" Suara Febi
tiba-tiba tercekat.
"Aku. Aku di bawahmu. Tapi kamu jangan melihat ke
bawah!"
Sangat jelas Febi ketakutan, tapi Julian yang berdiri
di tanah juga tidak lebih baik darinya. Dia lebih takut dan khawatir daripada
Febi.
"Yah, aku tidak melihat, tidak melihat ... tapi
aku takut ketinggian. Aku takut ...." Sekarang, suara Febi terisak, dia
benar-benar telah menangis.
Pada saat ini, semua ketenangan Julian lenyap
seketika. Di hatinya penuh dengan kata-kata umpatan, 'Sialan! Siapa yang
memintanya naik ke atas?'
"Sayang, jangan takut. Aku di sini, aku di sini
...." Julian mengepalkan walkie-talkie dan terus melihat ke atas,
"Hati-hati. Berjongkoklah, kamu tidak akan takut kalau berjongkok."
"Oke, aku akan mendengarkanmu ...." Febi
terisak. Di hadapan Julian, Febi selalu sangat rentan dan tidak bisa menahan
air matanya.
Febi berpegangan pada jeruji besi, lalu duduk dengan
sangat hati-hati.
Lift bergetar sebentar, hingga membuat Febi terkesiap
ketakutan. Suara itu membuat Julian merasa jantungnya akan melompat keluar.
Namun, dia tidak berani bertanya lebih banyak, karena dia takut membuat Febi
ketakutan.
Julian menoleh, lalu berkata dengan dingin kepada
Ryan, "Sepuluh menit, tidak, lima menit! Angkut minyak kembali dengan
lancar! Kalau tidak, kamu akan menanggung risikonya!"
Suara Julian seakan berasal dari neraka. Suara itu
terdengar dingin dan menakutkan.
Semua orang yang berada di samping menyeka keringat
dingin. Di dalam hati, mereka menerka-nerka, apa hubungan di antara Pak Julian
dan Febi? Hubungan mereka sama sekali tidak biasa! Febi tidak memanggilnya
"Pak Julian", tapi memanggil namanya.
Ketergantungan Febi dan kegugupan Pak Julian sudah
terlihat jelas.
Saat ini, Ryan tidak memiliki pemikiran seperti itu
lagi. Dia berbalik dan segera pergi. Dia menelepon sambil berjalan untuk
menindaklanjuti masalah membeli solar.
"Apakah kamu masih di sana?" Setelah lama
tidak mendengar suara Julian, Febi merasa sedikit putus asa. Beberapa menit
yang berlalu ini seakan bertahun-tahun lamanya.
Febi tidak bisa menahan isakannya, "Julian, aku
tidak bisa mendengar suaramu."
Febi menjulurkan kepalanya dan melihat ke bawah dengan
hati-hati. Hanya dengan satu pandangan, sekujur tubuhnya menjadi lemah dan air
matanya mengalir semakin banyak, Febi mundur ke dalam lift seperti anak kecil
yang tak berdaya.
"Aku di sini, aku tetap di sini. Patuh, jangan
melihat ke bawah. Aku akan menemanimu mengobrol ...."
Julian mencoba yang terbaik untuk membuat suaranya
terdengar lebih lembut. Namun, hatinya sudah menjadi gila.
Julian kesal karena dalam situasi ini, dia tidak bisa
memberi Febi sedikit pun dukungan! Pada saat ini, jika dia bisa menemani Febi
di lift, Febi tidak akan merasa begitu kacau!
Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain
meyakinkan Febi dengan kata-kata. Selain berdiri di sini dan tidak pergi ke
mana pun, Julian tidak bisa melakukan apa pun
__ADS_1
"Julian, aku merasa tidak nyaman." Febi
meringkuk menjadi bola, "Hatiku tidak nyaman ...."