Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 114 Seseorang Telah Tertanam Di Hati Dan Tidak Pernah Terlupakan


__ADS_3

Begitu seseorang tertanam di hati, makan akan terus-menerus


merindukannya.


Malam hari.


Setelah Febi menyelesaikan pekerjaannya dan mandi, dia berbaring di


ranjang dan menatap langit-langit. Bayangan seseorang terus-menerus menghantui


pikirannya. Memikirkan orang itu, Febi tidak bisa menahan untuk tersenyum.


Seketika, hatinya diselimuti perasaan bahagia.


Sekarang sudah lewat jam 10, tidak tahu apakah Julian masih sibuk. Febi


memeluk selimut, berbalik, lalu mengeluarkan ponsel dari bawah bantal dan


menggerakkan jari-jarinya di nomor yang sudah dikenalnya. Pada akhirnya, dia


tidak menekan angka-angka itu.


Menelepon selarut ini mungkin akan membuat Febi tampak terlalu lengket


padanya. Selain itu, jika Nyonya Besar ada di sana, maka pasti akan sulit untuk


menjelaskannya.


Memikirkan hal ini, Febi melemparkan ponsel ke samping dengan kesal dan


menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Apakah ini rasanya jatuh cinta?


Kapan Febi menjadi begitu bertele-tele, takut akan kehilangan?


Jika Tasya mengetahui penampilan Febi ini, dia pasti akan


menertawakannya.


Saat Febi sedang memikirkannya, telepon tiba-tiba berdering. Di ruang


gelap, nada dering itu tampak begitu tiba-tiba. Akan tetapi, suara itu seperti


drum yang langsung memukul jantung Febi hingga berdetak tidak karuan.


Febi segera mengeluarkan ponsel dari bawah bantal dan tanpa melihatnya


terlebih dulu, dia meletakkan ponselnya di telinganya dengan tidak sabar,


"Halo!"


Febi jelas mendengar nada suaranya sendiri terdengar begitu tinggi di


malam hari, seperti burung yang terbang di udara.


Akan tetapi....


Suara di sana membuat hatinya yang bahagia tiba-tiba menjadi sedih.


"Aku."


Suara itu adalah suara yang dia harapkan dulu. Namun sekarang, suara ini


tidak ada arti lagi untuknya.


"Sudah larut begini, apakah kamu ada urusan?" Itu bukan


Julian, tapi Nando.


"Mengetahui ini aku, apakah kamu merasa sangat sedih?" tanya


Nando sambil mencibir dengan nada suaranya yang terdengar getir. Perubahan


emosi dalam nada suara Febi yang terlalu cepat membuat Nando tidak dapat


mengabaikannya.


"Kalau kamu memiliki sesuatu untuk dibicarakan cepat bicarakan, aku


sedikit mengantuk." Febi tidak ingin berbicara terlalu lama dengan Nando.


Khawatir Nando tidak mempercayainya, jadi dia menguap dengan sengaja.


Nando terdiam beberapa saat, lalu dia berkata, "Apa kamu tahu? Tadi


malam, Vonny yang menjagaku sepanjang malam. Aku bermimpi dan mengira itu


adalah kamu hingga aku bahkan tertawa di dalam mimpiku. Aku bahkan berpikir,


karena kamu merawatku dengan sepenuh hati. Mungkin kamu masih mencintaiku. Kalau


begitu, aku tidak akan pernah menceraikanmu dalam hidup ini."


Mendengar kalimat terakhir, Febi tidak bisa menahan cemberut, "Tapi


kamu tahu itu bukan aku. Karena Vonny menjagamu sepanjang malam, jangan


mengkhianatinya, jangan mengkhianati anak itu."


Nando menertawakan dirinya sendiri.


Ketika Nando terbangun dari mimpi, semua fantasinya hancur....


"Febi, aku akan menanyakan satu pertanyaan terakhir padamu,"


ucap Nando dengan suaranya muram. Pada malam seperti itu, suara itu terdengar


sedikit lebih menyedihkan.


"Penyebab kamu menceraikanku apakah lebih banyak karena Vonny atau


lebih banyak karena Julian?" Nando menambahkan, "Jangan bilang itu


tidak ada hubungannya dengan Julian, kamu tidak bisa berbohong padaku!"


"Aku tidak bermaksud mengatakan itu tidak ada hubungannya dengan


dia." Febi berbaring, lalu menatap langit-langit sambil merenung dan


berkata terus terang, "Dulu karena Vonny. Aku percaya tidak ada wanita


yang bisa menerima suaminya mengabaikan dirinya seperti ini dan masih


mengetahui wanita lain mengandung anak suaminya. Tapi sekarang ... bagiku Vonny


tidak ada arti apa pun lagi."


Nando terkejut, dia jelas terpana dengan kata-kata Febi.


"Ketika aku masih peduli tentangmu dan keluarga itu, Vonny adalah


orang yang aku waspadai dan duri dalam dagingku. Sepanjang waktu membuatku


merasa tidak nyaman dan tersiksa. Tapi sekarang, tidak peduli itu adalah kamu


atau keluarga itu, bagiku semua itu sudah tidak penting lagi. Oleh karena itu,


setiap provokasi Vonny berubah menjadi lelucon bagiku."


"..." Nando terdiam untuk waktu yang lama, hingga bahkan


napasnya menjadi sangat berat.


"Adapun apa yang kamu katakan tentang Julian...." Ketika Febi


menyebut Julian, nada suaranya menjadi jauh lebih tenang dari sebelumnya dan


suasana hatinya jauh lebih nyaman, "Aku tidak ingin menyangkal perasaanku


padanya. dia mungkin ... lebih dalam dari aku dan kamu bayangkan."


"... Baik, besok bawa surat ceraimu. Aku akan membawa surat


nikah."


Febi menatap langit-langit. Dia bahkan berpikir dirinya telah salah


dengar. "Apakah kamu tidak bercanda?"


"Kenapa? Apakah kamu ingin aku bercanda? Kalau kamu berharap


begitu, maka aku bisa menarik kembali...."


"Jam berapa kita akan bertemu di Pengadilan Agama besok?"


tanya Febi dengan terburu-buru, dia bahkan langsung memotong kata-kata Nando.


Kecewa, frustrasi....


Akhirnya, Nando berkata dengan nada murung, "Aku hanya punya waktu


setelah jam 3 sore."


"Oke, kalau begitu jam tiga sore!" Febi membuat keputusan


dengan cepat dan suaranya penuh kegembiraan.


Apakah ada orang ketika bercerai bisa bahagia seperti dia?


Terlebih lagi, di depan Nando, Febi bahkan tidak menutupinya sedikit


pun! Tidak hanya tidak terlihat seperti bercerai, bahkan Febi seperti tidak


sabar untuk menikah.


Nando yang berada di sisi lain berdiri di dekat jendela sambil menatap


malam di luar jendela. Mendengarkan suara Febi yang bahagia, dia merasa hatinya


seakan tersayat oleh pisau.


Nando memegang telepon dengan erat. Dia mengerutkan bibirnya dan


mengajukan pertanyaan, "Apakah setelah kita bercerai, kamu akan menikah


dengan Julian?"


"..." Kali ini, sebaliknya malah Febi yang tercengang.


Menikah dengan Julian?


Sepertinya bukan giliran Febi untuk memikirkan pertanyaan ini. Hubungan


di antara mereka baru saja dimulai dan akan terlalu dini untuk mengatakan


pernikahan. Selain itu....


Sekarang Febi bahkan tidak bisa menaklukkan Nyonya Besar.


Masih ada ayah dan ibu Julian yang bahkan belum pernah ditemui oleh

__ADS_1


Febi.


"Aku tidak berpikir untuk menikah secepat ini."


Tampaknya jawaban ini memuaskan Nando. Ketika dia berbicara lagi,


nadanya terdengar sedikit lebih santai, "Oke, Febi, sampai jumpa di


Pengadilan Agama besok."


Setelah menutup telepon, Febi merasa dalam suasana hati yang sangat


baik. Kali ini dia benar-benar tidak menyangka Nando akan bersedia


menceraikannya begitu cepat.


"Bagus sekali!" Febi bangkit dari ranjang dan dengan cepat


mencetak surat cerai. Dia tidak lupa menyiapkan semua kartu identitas dan data


keluarga lainnya.


Febi benar-benar tidak tahu apakah ini karena restu Nyonya Besar. Jika


bukan karena perjalanan pemandian air panas yang dia atur, Vonny tidak akan


bisa menjaga Nando sepanjang malam.


Semakin Febi memikirkannya, dia semakin bahagia.


Febi sedang melihat-lihat dokumen di tangannya, lalu telepon berdering


lagi. Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan meletakkannya langsung di


telinganya, "Kamu tidak menyesalinya, 'kan?"


"Apa?"


Kali ini, bukan Nando.


Suara itu adalah suara serak lelaki lain yang masuk ke telinganya.


Febi memindahkan ponselnya ke depan wajahnya. Ketika dia melihat nama


yang ditampilkan di layar, dia langsung tersenyum.


Febi terlalu bahagia hingga menjadi linglung.


"Tidak ada, aku pikir itu telepon orang lain."


"Oh? Siapa itu?" tanya Julian dengan santai, seolah hanya


pertanyaan basa-basi.


Febi membereskan berkasnya dan berkata, "Aku baru saja menelepon


Nando."


"Oh...." Nada suara Julian sedikit naik, tapi dia tidak


bertanya lebih jauh.


Febi mematikan komputer dan layar komputer berangsur-angsur menjadi


gelap, hingga mencerminkan ekspresi tersenyum. Mata Febi berbinar-binar dengan


senyuman berseri dan lembut. Tidak heran semua orang mengatakan dia terlihat


bahagia.


"Apakah kamu tidak ingin tahu apa yang kita bicarakan?" Febi


memegang telepon dan bersandar di samping ranjang. Ketika dia berbicara,


suaranya pelan dan lembut.


"Penasaran. Tapi alih-alih berbicara di telepon, apakah kamu pernah


berpikir untuk bertemu?"


"Bertemu?"


"Aku di bawah gedungmu."


"Benarkah?" Mata Febi berbinar-binar. Dia berusaha sangat


keras untuk menahan suasana hati yang bahagia. Namun pada saat berikutnya, dia


sudah berjalan ke jendela dengan kaki telanjang dan tidak sabar untuk membuka


jendela.


Lantai bawah gelap dan dia tidak bisa dilihat dengan jelas. Namun, ini


sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya.


"Bagaimana kamu bisa tahu alamat di sini?" tanya Febi sambil


membuka pintu dan berbalik untuk berjalan keluar. Febi mengenakan piyama, dia


bahkan tidak berganti pakaiannya.


"Aku bertanya pada Agustino, dia seharusnya sering pergi ke


sini."


turun."


"Oke," jawab Julian, tapi dia tidak segera menutup telepon.


Meskipun pada saat ini mereka berdua tidak berbicara, hanya mendengarkan napas


satu sama lain, Julian merasa jarak mereka sangat dekat, seolah-olah Febi


berada di sisinya.


Perasaan ini sangat menakjubkan....


Menakjubkan dan menghangatkan hati.


Setelah dia masuk ke lift, Febi berkata, "Kalau begitu aku akan


menutup telepon, aku sudah sampai di lift."


Suara itu lembut, juga terdengar sedikit nostalgia dan keengganan.


Perasaan seperti ini sangat aneh, bukankah Julian akan segera bertemu dengan


Febi?


Mungkin....


Inilah perasaan rindu yang sesungguhnya.


Seperti sebuah bayangan....


Diam-diam masuk ke lubuk hatinya.... Pada saat Julian tidak


menyadarinya, Febi sudah mengisi seluruh hatinya....


...


Febi berlari ke bawah dan tepat sebelum dia akan meninggalkan gedung


unit, dia sengaja berhenti, mengambil napas dalam-dalam, lalu menenangkan


napasnya dan membuat dirinya terlihat normal. Kemudian, Febi baru berjalan


keluar.


Di bawah lampu remang-remang di dalam kompleks, dia melihat Maybach yang


akrab dalam sekilas.


Sementara Julian....


Bersandar pada tubuh mobil. Malam ini, Julian telah mengganti setelan


formal dan mengenakan setelah kasual. Pakaian berwarna biru tua dengan totem di


dadanya.


Julian yang seperti ini terlihat jauh lebih muda, dengan penampilan luar


biasa dan semangat tinggi.


Dia hanya berdiri di sana dan menatap Febi tidak berada tidak jauh


darinya. Mata Julian berbinar-binar dan ada senyum tipis. Meski begitu, dia


tetaplah putra kaya raya dan terhormat.


Dia terlihat elegan, menawan seperti lelaki luar biasa....


Bahkan jika dia tidak melakukan apa-apa, dia tidak mengatakan apa-apa,


tetapi dia sudah membuat jantung Febi berdetak lebih cepat dan tidak bisa


mengalihkan pandangannya....


Gadis kecil di kompleks yang baru saja kembali dari shift malam juga


tidak tahan untuk meliriknya, lalu menundukkan kepalanya dengan malu-malu dan


berbisik satu sama lain.


Tidak perlu mendengarnya pun, Febi bisa menebak apa yang mereka


bicarakan.


Febi mendekati Julian sambil tersenyum.


"Sudah selarut ini, kenapa kamu datang kemari?" tanya Febi.


Ketika dia berbicara, suaranya menjadi lebih lembut.


Julian menatapnya dengan tatapan yang dalam. Julian tidak menjawab, dia


hanya tiba-tiba mengulurkan tangan dan memeluk Febi ke dalam pelukannya. Napas


pria itu mengenai lubang hidung Febi dan tiba-tiba dia menahan napas.


"Aku sibuk sampai sekarang. Aku baru saja makan dengan Nyonya


Besar."


Karena begitu dekat, setelah diperiksa lebih dekat, Febi bisa melihat


kelelahan di wajahnya. Febi merasa kasihan dan tiba-tiba jari-jarinya yang

__ADS_1


halus membelai alis Julian, "Kamu sudah sangat lelah, jadi jangan datang


ke sini lagi. Bukankah kamu masih harus melakukan perjalanan bisnis dengan


Direktur Utama besok?"


Ujung jari Febi yang hangat dan lembut itu dengan perlahan mendarat di


dahi Julian, hingga membuatnya merasakan kenyamanan yang tak terlukiskan.


"Karena aku akan pergi, makanya aku datang ke sini sekarang."


Julian memeluk Febi dan mengendus aroma harum di tubuhnya dengan enggan. Pada


saat itu, kelelahan sepanjang hari seakan menghilang dalam sekejap.


"Besok penerbangan jam berapa?"


"10 pagi."


"Kalau begitu kamu harus istirahat lebih awal malam ini. Selain


itu, aku memeriksa di Internet tentang migrain. Semua orang berkata migrain


tidak boleh banyak berpikir, jadi kamu tidak boleh terlalu lelah. Pastikan kamu


membawa obatmu, jangan seperti terakhir kali penyakitmu kambuh."


Ketika teringat dengan situasi migrain Julian yang kambuh, Febi masih


memiliki ketakutan yang tersisa.


Mendengar Febi memesankan begitu banyak padanya, Julian tidak hanya


tidak berpikir dia cerewet. Sebaliknya, dia berpikir bahwa Febi terlihat sangat


cantik.


Bersinar terang....


Bibir merah mudanya berkedut. Terlihat indah dan hidup....


Julian tiba-tiba tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya....


Benar-benar menginginkannya....


"Aku dengar cuaca di sana akan berubah baru-baru ini, jadi kamu


harus ingat untuk membawa pakaian lebih. Untuk Direktur Utama, kamu juga ingat


untuk mengingatkannya."


Tatapan Julian mengarah padanya, hingga membuat mulut Febi terasa


kering.


Hal tersebut juga membuat Febi tiba-tiba menyadari dia berbicara terlalu


banyak. Dia menggigit bibir bawahnya dan memaksa dirinya untuk diam karena


malu.


Untuk pertama kalinya, Febi menyadari dia sebenarnya memiliki potensi


seorang ibu yang cerewet.


Julian mengulurkan tangan dan membelai bibirnya, menggantikan bibirnya


untuk mencium bibir Febi, "Bukankah seharusnya kamu berbicara denganku


tentang percakapanmu dengan Nando?"


Nada suara itu sedikit lebih rendah. Di malam yang gelap, suara itu


terdengar sangat seksi hingga membuat orang terkejut. Terutama kapalan tipis di


ujung jari Julian yang menggosok di bibir Febi, jari itu seakan membawa arus


listrik yang membuatnya mati rasa.


Febi terengah-engah , dia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri,


lalu meraih tangan Julian yang bergerak sembarangan dan berusaha untuk


berbicara, "Dia membuat janji denganku untuk bertemu di depan Pengadilan


Agama besok."


Berbicara sampai di sini, Febi melihat mata Julian yang berkedip cerah,


begitu cerah sehingga Febi tidak bisa mengabaikannya.


Febi juga ikut tertawa, "Kami akan bercerai besok."


Setelah jeda, dia berkata dengan sungguh-sungguh, "Mulai besok ...


aku akan bebas."


Bebas tanpa ikatan....


Untuk pertama kalinya, Febi merasa perceraian bisa menjadi hal yang


menenangkan.


"Ini adalah berita terbaik yang aku dengar baru-baru ini."


Kelelahan di wajah Julian telah hilang, "Sebenarnya aku berpikir pada hari


perceraianmu, aku akan menemanimu ke sana. Tapi, sekarang sepertinya aku hanya


bisa membiarkanmu pergi sendiri."


"Lebih baik kamu tidak muncul. Kalau merangsang harga diri Nando


yang tinggi dan dia menyesalinya lagi, maka aku akan mendapat masalah


lagi."


Julian mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa.


Untuk waktu yang lama, Julian hanya menatapnya diam-diam. Pada saat ini,


Febi mengenakan piyama sederhana, dengan aroma sabun mandi di tubuhnya, juga


rambutnya yang sedikit terkulai dan wajahnya yang tanpa riasan. Di bawah sinar


bulan, Febi terlihat bersih dan menawan, hingga membuat jantung Julian


berdebar.


Julian membungkukkan kepalanya. Bibir Julian perlahan mendekat pada


bibir Febi. Dia dari awal sudah ingin menciumnya.


Akan tetapi....


Sebelum menyentuhnya, telepon sudah berdering. Julian mengerutkan kening


dan menatap Febi. Febi tertawa dan melangkah mundur sedikit, "Cepat jawab


teleponnya, telepon saat selarut ini mungkin ada masalah."


Julian mengeluarkan ponsel dan meliriknya, "Nenek. Mungkin menebak


aku keluar untuk mencarimu."


"Oh." Mata Febi menjadi gelap, tapi dia masih mengangguk,


"Ayo."


Setelah melirik Febi, Julian menempelkan ponsel ke telinganya. Febi


tanpa sadar ingin mundur selangkah agar tidak mendengarkan isi pembahasan itu,


tapi Julian enggan melepaskannya. Dia melingkarkan lengannya dan memeluk Febi


kembali ke pelukannya.


Julian dan Nyonya Besar hanya berbicara beberapa patah kata, lalu


menutup telepon.


"Sebaiknya kamu pergi lebih awal. Semakin lama kamu tinggal di


sini, Direktur Utama akan semakin marah padaku." Febi mendorongnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Julian menatapnya


dalam-dalam. Setelah berlama-lama, dia baru melepaskannya.


Febi sudah terlepas dari pelukannya, hingga membuat Julian merasa kosong


dan sedikit dingin.


Jika memungkinkan, Julian ingin memeluknya seperti ini....


"Oke ... kalau begitu, selamat tinggal." Febi tersenyum, dia


bahkan mengangkat tangannya dan melambai padanya.


Dalam hati Febi, ada perasaan keengganan yang terus bermunculan.


Begitu Julian pergi, Febi tidak akan bertemu dengannya selama beberapa


hari.


Ada beberapa orang yang bahkan sebelum pergi, sudah mulai


merindukannya....


Mungkin seperti itulah rasanya.


Agak buruk.


Julian membuka pintu mobil dan duduk. Kemudian, lampu dinyalakan.


Febi hanya berdiri di sana dan menonton dengan linglung sambil


mendengarkan suara mesin. Rasa kehilangan yang tumbuh di hatinya membuat Febi


merasa geli. Dia sudah berusia 20 lebih dan bahkan pernah menikah, kenapa dia


masih khawatir kehilangan dan terjerat di dalamnya?


Tepat ketika Febi memutuskan untuk pergi lebih dulu, pintu mobil


tiba-tiba didorong terbuka. Julian membungkuk untuk keluar dari mobil dan


berdiri di depannya.

__ADS_1


__ADS_2