Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 81 Waspada


__ADS_3

Tubuhnya, napasnya dan bahkan erangan centilnya yang lembut sudah tidak


asing lagi bagi Julian. Dua kesempatan mereka yang hampir melakukan hubungan


dan setiap kali membuat Julian merasa seperti tidak bisa berhenti dan tidak


bisa mengendalikan diri.


Febi benar-benar berbeda untuknya.


Oleh karena itu, adegan ciuman penuh gairah barusan membuatnya merasa


sangat menusuk, bahkan jika orang itu adalah suaminya, juga tidak bisa.


Memikirkan adegan tadi, kekuatannya menjadi lebih kencang, seperti


hukuman dam kemarahan.


Perasaan ini sangat tidak asing. Meskipun sangat bahagia dan berbeda


dari dua kali sebelumnya, tapi akal sehatnya memberitahunya untuk tidak boleh


seperti ini.


Febi berusaha untuk mempertahankan akal sehatnya, dia memegang tangan


Julian dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... kita tidak bisa melakukan


ini ...."


Baru berapa lama mereka saling mengenal? Mereka hanya kenal selama beberapa


bulan! Pertemuan mereka bahkan dapat dihitung hanya dengan satu tangan.


Tidak membahas masalah ini, hanya dengan identitasnya saat ini ....


"Beri aku alasan," pinta Julian dengan masam. Julian tidak


menekan dengan keras, dia hanya menggenggam tangan Febi dengan kuat di telapak


tangannya. Kehangatan tubuh satu sama lain membuat kedua orang itu linglung dan


dapat dengan jelas merasakan getaran halus. Tangan Julian yang bebas memegang


pinggang Febi dengan erat.


Ekspresinya sudah ditutupi oleh lapisan tipis keringat dingin. Rupanya,


Julian merasa sangat tertekan.


Febi merasa tidak tega, tapi dia tidak bisa membiarkan dirinya


tenggelam.


"Aku sudah menikah ...." Febi mengingatkan Julian dan dirinya


sendiri.


Julian berkata, "Alasan ini tidak cukup!"


Febi terengah-engah dan menatapnya. Masih ada aura liar yang gelap di


mata Julian yang membuat hati Febi berdegup kencang.


"Suamiku ada di luar sekarang. Apa yang kita lakukan sama saja


dengan berselingkuh! Hal ini dilarang secara moral!" Febi menekankan nada


suaranya dan berusaha keras untuk meyakinkan Julian dan dirinya sendiri. Ya!


Febi, meskipun Nando memperlakukan dirinya seperti itu, dia tidak bisa


melepaskan semuanya! Prinsip dan intinya, dia harus menaatinya!


Julian tampaknya kehabisan kesabaran, dia mengangkat tinggi tangan Febi,


lalu menatapnya dalam-dalam. Sekali lagi dia menundukkan kepalanya dan mencium


bibirnya dalam waktu lama. Dia tidak mundur dan juga tidak memasuki mulut Febi,


dia hanya terus-menerus menggodanya, "Tidak satu pun dari dua alasan ini


yang bisa meyakinkanku."


Febi terengah-engah, kulitnya yang seputih salju menjadi mengeluarkan


warna merah muda. Setelah menutup matanya, satu kata patah akhirnya keluar dari


bibir Febi, "Aku tidak ingin menyesalinya sendiri ...."


"..." Gerakan Julian terhenti.


Febi terengah-engah, "Apakah alasan ini ... cukup?"


Julian mengambil napas dalam-dalam, dia menurunkan matanya sedikit dan


menatapnya diam-diam. Gelombang gelap di matanya bergejolak dengan hebat. Untuk


waktu yang lama, dia perlahan-lahan menekannya. Telapak tangannya yang besar


menggenggam tangan Febi juga mengendur. Hanya saja tangan satunya masih


memegang pinggang dan kelima jarinya menggosok kulitnya dengan ringan dan kuat,


seperti gerakan kecil yang ceroboh.


"Oke, kali ini aku tidak akan menidurimu." Julian akhirnya


berbicara, suaranya rendah dan seksi, setiap kata seolah menarik hati Febi,


"Dan … kelak ingin menolakku lagi, jangan gunakan pernikahanmu sebagai


alasan!"


Kelak? Lagi?


Febi tidak berani berpikir mendalam tentang arti kata-kata ini, dia


hanya berusaha sangat keras untuk mengumpulkan kembali kekuatannya dan


menyenggol bahunya, "Kamu ... lepaskan aku dulu ...."


Julian tidak mundur, dia hanya menatapnya dari atas ke bawah,


"Apakah kamu sedang terburu-buru?"


Febi menggigit bibirnya dengan pelan, "Tidak ada artinya aku tetap


di sini ...."


Febi ada di sini, dia benar-benar tidak punya alasan untuk tinggal. Dia


benar-benar tidak dalam suasana hati untuk melihat mereka berdua menunjukkan


kasih sayang.


"Bagaimana kalau aku ingin kamu tinggal?"


Hah?


Febi melirik Julian dan bertemu dengan tatapannya yang jauh, bulu


matanya bergetar dan dia mengerutkan bibirnya tanpa mengucapkan sepatah kata


pun. Julian berpikir dia telah menyetujuinya, "Nanti setelah perjamuan


berakhir, temaki aku makan. Sibuk sepanjang hari, perutku masih kosong."


"Kamu belum makan apa pun sepanjang hari?" Tidak tahu mengapa


Febi khawatir tanpa alasan, "Bisakah perutmu menanggungnya?"


"Tidak apa-apa," ucap Julian pelan.


Febi sedikit mengernyit, "Bagaimana kalau kamu menunggu di sini,


aku akan keluar dan mengambilkan sesuatu untuk dimakan?"


Julian tertawa, sementara Febi kebingungan dengan tawanya. Febi


melihatnya sejenak lalu mendorongnya menjauh dan berjalan pergi. Julian


mengulurkan tangannya dan menyeretnya kembali, "Jangan sibuk lagi, aku


harus keluar sekarang."


"Tapi, ketika kamu keluar kamu tidak bisa makan lagi." Selain


itu, kamu masih harus minum. Tidak peduli seberapa kuat perutmu, juga tidak


bisa menanggungnya, bukan?


"Tidak masalah, sama saja dengan makan nanti." Julian


meliriknya, lalu melihat waktu dan menjelaskan, "Aku harus keluar


sekarang. Kalau kamu merasa bosan di sini dan tidak ingin kembali ke ruang


perjamuan, buka saja pintu itu dan minta pelayan membawamu ke taman belakang


ruang perjamuan untuk menghirup udara segar."


"... oke." Jadi, apakah Febi sudah setuju untuk tinggal?


Sepertinya sudah terlambat untuk menyesalinya.


...


Julian berjalan keluar. Hanya menyisakan Febi di aula samping yang


sangat besar. Namun, napasnya sepertinya masih bertahan di udara, kehangatan


yang baru saja mereka ....

__ADS_1


Febi menemukan sofa dan duduk, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak


mengingat adegan hangat tadi, dia merasa wajahnya memerah dan jantungnya


berdegup kencang. Baru saat itulah dia ingat bahwa pakaiannya berantakan saat


ini, bahkan rambutnya pun tergerai. Astaga! Febi merasa dirinya benar-benar


sudah gila. Dia harus segera pergi, dia tidak bisa membiarkan semua ini terus


berlanjut, tapi...


Di sini seakan ada sesuatu yang menariknya, mencegahnya untuk pergi.


Setelah merapikan gaunnya, merapikan rambutnya dan memastikan lagi tidak


ada yang mencurigakan di tubuhnya. Dia membuka pintu lain dan meminta pelayan


membawanya ke taman.


...


Taman ini adalah bagian dari ruang perjamuan ini. Semua jenis bunga cantik


ditanam dan ada kolam spa yang sangat besar. Ada deretan kursi berjemur di tepi


kolam renang. Berdiri di sini, sepertinya bisa mendengar suara laut menerpa


pantai yang tidak jauh.


Dibandingkan dengan perjamuan dengan banyak orang-orang, di sini tampak


lebih tenang dan damai.


Hanya ada pintu kaca yang memisahkan taman dengan ruang perjamuan. Febi


duduk di kursi, setelah dia berbalik dia bisa melihat seluruh ruang perjamuan


segera. Pada saat ini, musik dansa telah berhenti, para pria mulai berkumpul untuk


minum dan berbincang. Wanita juga mulai berbicara tentang perhiasan. Beberapa


selebriti papan atas dikelilingi oleh media atau diundang untuk berfoto


bersama.


Febi tidak melihat Nando dan Vonny.


Namun ....


Di antara ratusan orang, Febi melihat Julian dalam sekilas. Dari awal


hingga akhir, Julian memegang gelas anggur, sesekali menyapa orang dengan


anggukan dangkal dan sesekali menundukkan kepalanya untuk berbicara dengan


orang lain. Di bawah cahaya yang menyilaukan, dia memiliki pembawaan yang luar


biasa dan gerak tubuhnya memiliki semangat pemimpin, membuat orang mudah


terpana.


Febi bisa melihat hingga termenung sampai pintu kaca didorong terbuka


dan seseorang berjalan ke arahnya, dia juga masih tidak menyadarinya.


"Apa yang Nona Febi lihat hingga termenung seperti ini?" Baru


setelah suara itu terdengar, dia tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Febi


melihat ke samping, dia melihat bahwa Vonny sudah duduk di kursi di sampingnya.


Mengikuti garis pandangnya barusan, dia melihat ke arag itu.


Febi sedikit tersenyum, "Nona Vonny tidak menemani pacarmu, kenapa


malah datang ke sini?"


"Laki-laki, selalu ada banyak acara sosial. Aku merasa sangat


bosan, jadi Nando membiarkanku pergi." Saat dia berbicara, suaranya lembut


dan wajah bahagia menyebutkan nama pria itu tidak bisa disembunyikan.


Apakah Febi sudah mati rasa? Pada saat ini, Febi mendengarnya, dia


bahkan tidak memiliki perasaan sama sekali.


Hanya saja ....


Dengan senyum dingin, Febi berhenti bicara. Dia tidak punya apa-apa


untuk dibicarakan dengan wanita ini.


"Nona Febi, apakah kamu ingin memperbaiki dandananmu?" Vonny


malah tidak berpikir begitu, tiba-tiba dia menyerahkan lipstiknya. Febi membeku


sejenak, menggelengkan kepalanya tanpa sadar dan menolak tanpa sungkan,


Vonny tidak merasakan apa pun. Dia mengambil lipstik dan memasukkannya


kembali ke dalam tas tangannya, wajahya masih tersenyum, "Nona Febi


mungkin tidak tahu riasan di bibirmu benar-benar luntur."


Dia terkejut, tanpa sadar Febi menyentuh bibirnya.


Vonny masih menundukkan kepalanya untuk menutup kembali lipstiknya, dia


berkata dengan santai, "Apakah karena ciumannya terlalu bergairah?"


Febi kembali membeku. Vonny mengangkat kepalanya dan menatapnya sambil


tersenyum, matanya tampak menembus semua yang baru saja dia miliki dengan Julian,


yang membuatnya merasa bersalah.


Setelah beberapa saat, Vonny mengalihkan pandangannya dan melihat ke


aula, tatapannya mendarat langsung ke Julian.


Pada saat ini, pintu didorong terbuka lagi, seorang selebriti keluar.


Dia telah diganggu oleh skandal baru-baru ini, jadi dia secara alami membawa


banyak media. Selebriti itu menghindari wartawan dan langsung menghampiri


mereka berdua.


Vonny melirik ke sana, seolah-olah dia tidak suka diganggu, dia bangkit


dan berkata, "Nona Febi, kalau kamu percaya padaku, sebaiknya kamy menjaga


jarak dengan Julian!"


Febi juga berdiri dan menatapnya dengan tidak mengerti.


"Orang lain tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa melihatnya dengan


jelas. Hubungan antara kamu dan Julian tidak dangkal. Tapi, aku harus


mengingatkanmu Julian tidak pernah tulus, dia juga tidak akan tulus padamu.


Tentu saja, kata-kata yang lebih dalam, selamanya kalian tidak bisa bersama!


Selain itu, berkata semakin dekat kamu dengannya, kamu akan semakin


menyesalinya dan kamu akan semakin terluka!"


Febi tidak tahu mengapa Vonny mengatakan ini. Selain itu, dia


mengatakannya dengan sangat tegas dan yakin. Namun, kata-katanya seperti


peringatan yang memukul kepalanya dengan keras. Apa yang dia katakan memang


benar, dia adalah orang yang sudah menikah. Siapa Julian? Tuan muda yang kaya!


Di antara mereka, terdapat sebuah pemisah yang lebih dari satu galaksi?


"Lihat ke sana ...." Vonny menggunakan dagunya untuk menunjuk


ke aula yang mempesona. Pada saat ini, Usha berdiri di samping Julian . Tidak


tahu apa yang mereka berdua bicarakan, tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya.


Vonny berkata, "Dengan identitasnya, bahkan Usha pun masih kurang cukup


bersanding dengannya."


Tatapannya tertuju pada Febi, "Apakah kamu pikir kamu lebih baik


dari Usha?"


Febi benar-benar terperangkap oleh pertanyaannya. Belum lagi apakah Febi


hebat atau tidak maupun latar belakangnya, dengan status pernikahannya, dia


sudah kalah dari Usha.


Tangan Febi tanpa sadar memegang kencang tas di tangannya. Dia menarik


napas dalam-dalam, "Nona Vonny, meskipun aku tidak tahu apa yang kamu


maksud dengan kata-kata ini, aku juga menyarankan kamu ...."


Dia berhenti dan menatap Vonny, "Lebih baik urus urusanmu sendiri


dulu."


Wajah Vonny memucat. Febi tersenyum sedikit dan melanjutkan,


"Meskipun urusanku tidak ada hubungannya dengan Nona Vonny dan aku tidak

__ADS_1


berpikir Nona Vonny bisa mengurus urusanku. Tapi, aku masih harus membela diri.


Aku tidak pernah berpikir untuk bersamanya."


Ucapan ini adalah jujur.


Malam ini bersamanya ... benar-benar hanya sebuah kecelakaan,


benar-benar di luar dugaan Febi. Semua ini seakan Febi sedang kerasukan.


Sekarang kata-kata Vonny telah menyadarkannya sadar, meskipun dia tidak


tahu apa tujuannya. Selain itu ... apa hubungan Vonny dengan Julian? Dari nada


suaranya, sepertinya dia memiliki hubungan dekat dengan Julian, tapi saat


pertemuan pertama di F10 dan di restoran, Febi tidak melihat mereka berdua


saling menyapa.


Febi tidak ingin memikirkannya lebih jauh, tidak peduli apa hubungan


mereka, dia tidak memenuhi syarat untuk bertanya pada Julian. Sejujurnya, semua


ini tidak ada hubungannya dengan Febi.


Febi berbalik hendak meninggalkan tempat itu, saat ini tempat ini sudah


sangat ramai karena selebriti dan wartawan sedang berkumpul. Namun, saat Febi


berniat untuk menjauh dari kerumunan itu, dia malah ditabrak oleh kerumunan


yang memegang kamera. Orang itu adalah seorang pria yang sangat kekar, Febi


mengenakan sepatu hak tinggi, dia terhuyung selangkah dan tiba-tiba menabrak


Vonny di belakangnya yang hendak pergi.


Vonny memang bertubuh mungil dan tidak ada peringatan, bagaimana dia


bisa menahan tabrakan ini? Dia ditabrak hingga berjalan beberapa langkah.


Secara naluriah, dia melambaikan tangannya dan meraih Febi. Pada saat


berikutnya, terdengar suara 'byur', keduanya jatuh ke kolam bersama.


Ini adalah kolam renang spa. Ada pancaran air yang kuat terus-menerus


mengalir di sekitar kolam renang. Saat kedua orang itu muncul dari air dengan


menyedihkan, mereka hanyut oleh pancaran air beberapa meter jauhnya.


Febi tidak pernah menyangka ini akan terjadi, dia tidak bisa berenang,


jadi dia hanya bisa mendayung dengan tangannya. Namun, dia tidak hanya tidak


dapat kembali ke daratan, malah sebaliknya, dia semakin jauh dan seluruh


tubuhnya terus tenggelam.


"Nando ... selamatkan aku ...."


Tidak jauh dari situ, terdengar teriakan panik Vonny yang meminta


tolong. Jelas, dia juga tidak bisa berenang.


Di daratan, terjadi kekacauan.


Tepat ketika seseorang hendak melompat turun untuk menyelamatkan


seseorang, Febi mendengar panggilan gugup, "Vonny!"


Orang itu adalah Nando.


Hati Febi menegang dan dia membuka matanya dengan susah payah. Melalui


lapisan gelombang air, dia melihat Nando sekilas. Pada saat ini, dia telah


berada di daratan dan jasnya ditarik dan dibuang ke samping.


"Nando, cepat selamatkan aku ...."


"Jangan takut, Vonny, aku segera ke sana!" Nando tidak lupa


menghiburnya. Detik berikutnya, dia melompat ke dalam kolam.


Di depan mata semua orang, suaminya memilih Vonny. Meninggalkannya


sendiri dan tidak memedulikannya ....


Febi mengira hatinya sudah mati rasa, seharusnya tidak sakit lagi.


Namun, pada saat ini, Febi masih merasa sangat tertekan sehingga dia tidak bisa


bernapas. Tubuh tenggelam perlahan dan air dingin mengalir ke rongga hidung,


mulut, telinga ....


Febi sepertinya akan segera mati ....


Bahkan di seberang ombak air, semua orang di pantai bisa terlihat


memandang mereka dengan mata penuh minat. Para wartawan bahkan mengangkat


kamera mereka.


Mereka sangat bersemangat, jelas mereka hanya menunggu Nando dan yang


lain mendarat untuk mulai menggali gosip.


Tuan Muda Nando mengabaikan hidup dan mati istrinya dan pergi untuk


menyelamatkan wanita lain. Bukankah ini gosip terbesar?


...


Nando menarik Vonny ke darat, dia melihat kembali ke kolam renang dan


menemukan seluruh tubuh Febi telah tenggelam. Dia terkejut dan segera berbalik


untuk melompat ke kolam renang lagi. Tangan gemetar Vonnny meraih tangannya,


"Nando, aku sangat tidak nyaman ... aku sangat takut ...."


Vonny sangat menyedihkan, seperti anak ayam yang tenggelam membuat Nando


merasa kasihan.


"Patuhlah, jangan takut, kita sudah di darat ...." Nando


menepuk bahu Vonny untuk menenangkannya, tapi matanya masih tertuju ke kolam,


dia tidak bisa menahan lagi, "Vonny, kamu di sini sebentar, aku selamatkan


dia. Patuhlah, sangat cepat ...."


"Nando ... jangan pergi, tolong ...." Vonny menolak untuk


melepaskannya, dia malah memeluknya dengan erat. Sorotan terus-menerus


berkedip. Mereka memotret Nando dan Vonny, lalu memotret Febi yang menyedihkan


dan ditinggalkan di kolam ....


Ya, dia sudah ditinggalkan ... benar-benar telah ditinggalkan ....


Hati, lebih dingin dari air kolam. Seratus kali lebih hingga seribu kali


lebih dingin.


Di hati Nando, Vonny sangat berharga, sementara dia ... tidak masalah


dia hidup atau mati ....


Saat semua orang memusatkan perhatian pada mereka bertiga, mereka


mendengar suara lain dari kolam. Dengan tubuh tegap seperti seorang penyelam


profesional, dia melompat ke dalam kolam hingga air memercik keluar.


Sosok ramping itu berenang ke arah Febi dengan kecepatan yang sangat


cepat, posturnya yang sangat anggun dan elegan itu segera menarik perhatian


semua orang.


"Orang itu adalah ... Pak Julian?"


"Dia! Betul dia!"


"Klik" "klik" terus-menerus terdengar. Nando


langsung berdiri dan menatap ke tengah kolam dengan waspada.


Vonny tampaknya tidak mengira akan sepert ini, dia terkejut dan cahaya


gelap melintas di matanya. Saat berikutnya, dia juga berdiri dan bersandar pada


Nando, "Nando ... bolehkah kamu memelukku? Barusan aku benar-benar


ketakutan ...."


Wajah Nando sangat masam, tapi dia masih mendengarkan ucapan Vonny untuk


memeluknya.


"Jangan takut, bukankah masih ada aku? Ada aku, kamu akan baik-baik


saja, patuhlah ...."


"Aku khawatir kamu akan meninggalkanku demi wanita lain ...."


Ucapan Vonny bermaksud lain.

__ADS_1


Nando tanpa sadar memikirkan Febi, kemudian memikirkan Julian dan dia


merasakan api di hatinya.


__ADS_2