Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 134 Pagi yang Manis


__ADS_3

Seolah-olah Febi akan menghilang jika Julian mengendurkan


pelukannya.


Febi merasa curiga, tapi hanya berlangsung sesaat.


Detik berikutnya, dia kehilangan akal sehatnya dan tidak bisa berpikir terlalu


banyak lagi.


Febi hanya bisa memeluk Julian dengan erat.


Mengetahui bahwa Febi sudah bangun, Julian membungkuk


dan menciumnya dalam-dalam.


Ciuman yang lembab dan berlama-lama itu seakan


menjalar masuk ke dalam hatinya. Febi merasa hangat dan manis.


...


Keesokan harinya.


Sebelum fajar, Febi telah mendengar dering telepon.


Dia sedikit lelah dan tidak ingin membuka matanya.


Semalam, Julian terus mengganggunya hingga larut


malam, jadi Febi hanya tidur selama beberapa jam. Setelah beberapa saat, suara


telepon berhenti dan pipinya ditepuk, "Febi?"


"Hmm?" Dia membuka kelopak matanya dengan


linglung


Julian menatap Febi dengan kepala tertunduk, wajahnya


terlihat tak berdaya. "Sudah jam lima."


"?" Febi masih tidak bisa bangun, matanya


sangat mengantuk. Julian mengingatkan, "Kamu meminta Caroline untuk


memesankanmu penerbangan pada pukul 6.30 pagi. Kalau kamu tidak bangun


sekarang, kamu akan terlambat."


"Ah!" Ketika mendengar kata penerbangan,


Febi tiba-tiba terbangun. Dia langsung bangun dari ranjang dengan tergesa-gesa.


Jika Julian tidak menghindar dengan cepat, dahi Febi akan mengenai pangkal


hidung Julian yang tinggi dan tampan.


Melihat bagaimana Julian menghindar, Febi meregangkan


pinggangnya sambil terbahak-bahak. Julian tidak berdaya, dia melingkarkan


lengannya di pinggang Febi dan menepuk dahinya dengan tangan yang lain,


"Dasar ceroboh."


Febi menggosok dahinya, lalu meletakkan pipinya di


leher Julian selama satu menit dan berkata dengan lembut, "Kamu tidurlah


sebentar lagi. Aku akan mandi dan pergi. Nanti, aku tidak akan memanggilmu


lagi."


"Aku akan mengantarmu ke bandara."


"Jangan, ini masih terlalu pagi. Kamu tidur lagi


saja. Aku akan naik taksi sendiri." Hari ini, Julian masih memiliki banyak


pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang hari. Febi secara alami tidak tega


melihatnya bangun sepagi ini.


"Ikuti kemauanku." Julian tidak memberikan


Febi kesempatan untuk berdiskusi.


Mengetahui temperamennya, Febi tidak lagi bersikeras.


Dia juga tidak berani bertele-tele lagi, dia dengan cepat mengangkat selimut


dan turun dari ranjang.


...


Setelah dua jam penerbangan, Febi kembali ke kota yang


familier.


Febi ingat betapa kesepian dan depresi yang dia


rasakan ketika dia pergi beberapa hari yang lalu. Namun sekarang, dia berdiri


di tempat yang sama dengan bahagia.


Pukul 9,30, Febi kembali ke rumah Tasya. Awalnya Febi


berpikir Tasya sudah pergi bekerja. Namun, saat pintu didorong hingga terbuka


sedikit, dia langsung mendengar suara pria yang marah, "Tasya, Kamu berani


pergi kencan buta?"


Febi tahu masalah Tasya pergi kencan buta.


Mereka semua sama, sudah menginjak usia untuk menikah.


Selain itu, Tasya memiliki seorang anak, jadi ibu dan ayahnya cemas tentang


pernikahan putrinya. Setiap hari, mereka menawarkan kencan buta pada Tasya.


Sebelumnya, Tasya juga sering pergi kencan buta.


Bagaimanapun juga, Delvin juga membutuhkan seorang ayah.


Namun, sejak Agustino muncul, Febi tidak pernah


melihat Tasya kencan buta lagi. Febi berpikir cepat atau lambat mereka berdua


akan menjadi pasangan dan mewujudkan impian Delvin.


Namun, sekarang sepertinya temannya itu jelas tidak


punya rencana itu.


"Ya, aku memang pergi kencan buta. Tapi Pak


Agustino, ini masalah pribadiku dan tidak ada hubungannya denganmu." Nada


suara Tasya dingin dan asing. Namun ... Febi bisa dengan mudah mendengar


kemarahan dalam nada suaranya.


"Aku tidak peduli apakah itu masalah pribadi atau


bisnis, aku sudah bilang tidak boleh! Tasya, kalau kamu kekurangan pria, aku


dapat memuaskan kamu. Kamu tidak perlu menjadi penjilat untuk menyenangkan


orang-orang tua yang bercerai itu!"


Kata-kata Agustino jelas menghina.


Apa arti penjilat?


Apa arti menyenangkan?


Kesehatan ibunya Tasya tidak sehat. Dia tidak ingin


menikah sekali pun, dia masih selalu harus memberi penjelasan kepada orang tua.


Kehidupan sosial saat ini dan identitas Tasya yang


merupakan ibu yang belum menikah, apakah ada pria lajang yang bersedia menerima


Tasya dan anaknya?


Tasya sangat marah sehingga seluruh tubuhnya gemetar,


bahkan suaranya pun bergetar, "Pergi! Agustino. Keluar sekarang!"


"Tidak mungkin! Tasya, aku tidak akan membiarkan


putraku memanggil lelaki tua lainnya sebagai ayah! Selain itu, kamu sangat


kekurangan pria, apakah aku tidak cukup untuk memuaskanmu?"


Kata-kata Agustino jelas menusuk Tasya.


Bagaimana bisa seorang tuan muda yang kaya dari lahir


tahu betapa sulitnya seorang wanita lajang yang merawat anak hidup di dunia


sosial ini?


Mungkin semua orang berpikir mata yang menghina itu


adalah yang paling menusuk, tapi sebenarnya jauh dari itu!


Hal yang paling menusuk adalah ketika anak


menginginkan mainan, dia tidak punya cukup uang. Ketika tangan dan kaki anak


itu bengkak dan bernanah karena kedinginan, dia tidak bisa memberikan pemanas.


Rasa frustrasi itu bisa menghancurkan Tasya dalam


hitungan menit, dia membenci ketidakmampuannya sendiri.


Untungnya, sekarang semua hari-hari sulit telah


diatasi dengan kemampuannya sendiri. Satu-satunya hal yang dia belum dia


wujudkan adalah penjelasan kepada orang tuanya.

__ADS_1


Jadi, dari awal hingga akhir, Tasya tidak pernah


berpikir ada yang salah dengan kencan buta.


Semakin Tasya memikirkannya, dia semakin merasa sedih


hingga matanya memerah, tapi mulutnya masih tidak mau kalah, "Ya, aku


kekurangan seorang pria dan kamu tidak dapat memuaskanku! Jadi, tolong


menghilang dari rumahku sekarang. Agustino, aku tidak ingin melihatmu


lagi!"


"Aku tidak bisa memuaskanmu?" Agustino


benar-benar kesal. Dia mencibir, lalu tubuhnya yang tinggi dan lurus mendekati


Tasya.


Mata Agustino menatap Tasya dengan dingin, memancarkan


aura bahaya yang kuat.


Tasya tahu dia benar-benar membuat Agustino marah,


tanpa sadar dia berjalan mundur selangkah, tapi Agustino tiba-tiba mengulurkan


tangan dan meraih lengannya, lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Lepaskan!" teriak Tasya sambil memberontak.


Agustino begitu kuat sehingga seakan bisa


menghancurkan Tasya kapan saja. 'Wanita sialan! Beraninya dia mengajak putraku


pergi kencan buta dengan pria lain? Benar-benar tidak tahu diri!' pikir


Agustino.


Agustino bukan saja tidak melepaskannya, tapi dia


malah memegang Tasya semakin erat, memaksanya dengan napas yang berat.


Bulu mata Tasya bergetar, hingga hatinya pun bergetar


hebat. Semakin dekat dia dengan pria seperti itu, dia semakin takut.


Tasya bukan anak berusia tiga tahun. Dia sudah


memiliki Delvin, dia tahu bahwa hidup bukanlah dongeng.


Jika dia ingin menghilangkan jarak antara dia dan


Agustino, mungkin mereka harus mengambil risiko yang sangat tinggi.


Sementara Tasya ....


Tidak begitu berani!


Saat Tasya masih berpikir, dia merasa telinganya


tiba-tiba dikulum. Sebelum Tasya bisa kembali ke akal sehatnya, Agustino sudah


menyesap telinganya dengan kuat, hingga membuat suara yang jelas dan ambigu.


Wajah Tasya dengan cepat memerah. Tubuhnya bergetar


sesaat, lalu dia berkata dengan marah, "Agustino, apa yang kamu


lakukan?"


"Memakanmu!"


"Kamu ... kamu bajingan!" Tasya tidak punya


pilihan selain memarahi dan mendorong lelaki mesum seperti itu.


"Bukankah kamu mengatakan aku tidak bisa


memuaskanmu? Hari ini aku ingin melihat seberapa lapar dan hausmu. Seberapa


sulitnya memuaskanmu!" Agustino terengah-engah. Dia mengulurkan tangannya


untuk menarik baju tidur tipis di tubuh Tasya.


"Ada apa denganmu!" Tasya mengulurkan


tangannya untuk memegang tangan Agustino. Namun, Agustino dengan mudah


menepisnya, "Untuk apa kamu berpura-pura polos sekarang? Tasya, bagian


tubuhmu yang mana belum pernah aku lihat dan aku sentuh?"


Tasya tidak bisa membantah. Kejadian Tasya yang tidak


bisa menahan diri sebelumnya, sekarang digunakan sebagai senjata oleh Agustino,


yang menusuk langsung ke dada Tasya.


Tasya merasa terhina dan sakit.


...


Febi benar-benar tercengang.


seperti itu ketika dia kembali di pagi hari. Ketika dia kembali ke akal


sehatnya, dia mengangkat koper di tangannya dan ingin segera melarikan diri.


Bagaimanapun juga, adegan seperti itu benar-benar


tidak cocok untuk orang luar.


Selain itu, Febi masih membuka pintu. Dia tidak tahu


apakah suara ledakan dari mereka berdua terdengar oleh tetangga sebelah?


Astaga! Jika ini masalahnya, Tasya mungkin akan


langsung membunuhnya.


"Febi! Jangan pergi!" Saat Febi baru


berbalik dan belum sempat melangkah, terdengar teriakan minta tolong di


belakangnya.


"Agustino, lepaskan. Febi sudah kembali!"


ucap Tasya segera seolah-olah dia telah melihat penyelamatnya.


Jika Febi memiliki ilmu tembus pandang, dia


benar-benar ingin tidak terlihat dan segera melarikan diri. Namun, tentu saja


dia tidak bisa melakukan itu!


Febi merasa canggung, malu dan sedikit kewalahan.


Febi menyisir rambutnya sambil berdeham ringan dan


berbalik. Tiba-tiba dia melihat tatapan sangat tidak puas Agustino, dia


merasakan kulit kepalanya mati rasa.


Febi berusaha keras untuk tersenyum dan berkata,


"Itu ... aku baru saja turun dari pesawat. Maaf, tidak mengganggu kalian,


kan?"


"Tidak!"


"Iya!"


Dua suara yang berkata dalam waktu bersamaan.


Febi bahkan lebih tidak berdaya. Dia dengan hati-hati


mendorong barang bawaannya ke sudut. Merasakan pandangan Agustino, telapak


tangan Febi berkeringat dingin.


Namun, dia secara alami tidak bisa menolak permintaan


bantuan Tasya yang sangat jelas.


"Hmm … kalian sudah sarapan? Bagaimana kalau aku


membuatkan sarapan untuk kalian?" tanya Febi sambil tersenyum dan mencoba


menenangkan situasi.


Apanya sarapan? Mungkin saat ini Agustino sudah hampir


murka. Karena mata Agustino begitu tajam sehingga seolah-olah ingin melempar


Febi langsung ke planet lain.


"Oke, aku akan menemanimu," jawab Tasya


segera dan melepaskan diri dari tangan Agustino.


Ketika Tasya melewati Agustino, dia berhenti sebentar.


Terlihat sedikit perasaan rumit di wajahnya.


Tangan Tasya yang tergantung di sisinya juga mengepal,


"Pak Agustino, kelak jika tidak urusan, tolong jangan muncul di sini lagi.


Aku percaya kamu tidak ingin pacarmu salah paham lagi. Untuk anak ... bahkan


aku bangkrut sekalipun, aku tidak akan pernah memberikannya padamu!"


Agustino tertegun sejenak.


Tasya melewati Agustino. Dengan cepat berjalan menuju


Febi, lalu mengulurkan tangannya. Mereka berdua saling berpegangan tangan.


Febi menatapnya dengan bingung dan khawatir. Pandangan


itu membuat Tasya hampir menangis.

__ADS_1


Keduanya langsung pergi ke dapur, Tasya menutup pintu


dapur, dia sengaja membuat suara keras dan tidak lupa untuk mengunci pintu.


Tindakan ini sama saja dengan mengusir tamu.


Segera setelah itu, hanya suara berat lain yang


terdengar di luar pintu. Suara langkah kaki Agustino benar-benar menghilang


dari ruangan itu.


Tasya ragu-ragu, tapi masih membuka pintu dapur. Dia


menjulurkan kepalanya untuk melihat. Benar saja, ruangan itu kosong dan


sosoknya telah menghilang.


Jelas-jelas Tasya yang mengusir Agustino. Namun pada


saat ini, hatinya merasa sedikit tidak nyaman.


Dia ....


Bagaimanapun, dia masih ayah kandung dari Delvin.


"Tenanglah, kalian terlalu banyak berdebat."


Febi menepuk pundaknya untuk menenangkannya dan menyerahkan segelas air,


"Minum seteguk, redakan emosimu."


Tasya mengambil cangkir dan menyesapnya.


Febi mencari kursi dan duduk, lalu menatap Tasya


dengan prihatin, "Apa yang terjadi padamu? Bukankah kamu sudah lama tidak


pergi kencan buta?"


"... Aku masih harus menikah," ucap Tasya


dengan lelah.


"Kalau begitu ... ada apa dengannya?" Febi


memandang Tasya dengan bertanya, "Sebelumnya, Julian memberitahuku dia


tidak memiliki pacar tetap."


Tasya menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan


santai, "Aku tidak banyak bertanya. Lagi pula, itu tidak ada hubungannya


denganku .... Ngomong-ngomong, jangan bicarakan aku, kenapa kamu kembali


tiba-tiba? Bukankah kamu bilang akan memakan waktu beberapa hari?"


Tasya sengaja mengubah topik pembicaraan. Bagaimana


mungkin Febi tidak mengerti?


Febi juga mengikuti maksud Tasya, memutar topik pada


dirinya sendiri dan memberitahunya tentang masalah pindah rumah.


Setelah itu, Tasya membantu Febi berkemas, lalu menuju


ke hotel. Febi pergi menemui pemilik rumah dan segera membereskan rumahnya.


Febi membersihkan sepanjang pagi sampai pukul 2 siang.


Melihat sudah waktunya untuk menjeput, Febi buru-buru


berkemas, mengambil tasnya dan keluar dengan cepat.


Ketika Febi sampai di pintu keluar bandara, dia


melihat sosok yang dia kenal di kejauhan. Dia tertegun sejenak, dia merenung


dan berjalan mendekat.


"Ayah," panggil Febi. Dia masih belum


mengubah panggilannya.


Samuel berbalik, melihat itu adalah Febi, dia menghela


napas. Samuel ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia tidak mengatakan


apa-apa. Febi tersenyum sedikit, "Aku mendengar Nando berkata hari


pernikahan dia dan Vonny telah ditetapkan."


Samuel sepertinya merasa bersalah, "Aku tidak


menjagamu dengan baik hingga membuatmu menderita."


"Ayah, kamu sangat baik padaku. Sungguh, dalam


dua tahun terakhir, kamu baik padaku dan keluargaku. Aku akan selalu


mengingatnya," kata Febi.


"Sayang sekali kamu bukan lagi anggota Keluarga


Dinata." Samuel menatapnya dengan mata yang terlihat menua dan menghela


napas, "Pada saat itu, aku yang tidak mendengarkan nasihat sehingga


menundamu di Keluarga Dinata selama dua tahun. Kalau tidak, sekarang kamu sudah


menikah dan memiliki anak dengan orang lain, kamu sudah menjalani hidup dengan


bahagia."


Febi menggelengkan kepalanya, "Setiap orang


memiliki hal-hal yang harus lalui. Aku tidak merasa sia-sia menjalani dua tahun


terakhir ini, aku sudah menjadi dewasa. Setidaknya aku tahu pernikahan tidak


sesederhana yang aku pikirkan."


"Kamu bisa berpikir terbuka, Ayah juga merasa


jauh lebih baik. Dalam dua tahun terakhir, Ayah tidak memberimu apa-apa. 10%


dari saham yang aku katakan sebelumnya masih milikmu. Anggap saja itu sebagai


hadiah dari Ayah." Samuel tampaknya tahu Febi ingin menolak, jadi dia menambahkan,


"Jangan buru-buru menolak. Aku hanya tidak ingin ibumu kembali dan


menjalani kehidupan yang sulit. Kamu memiliki saham ini, kamu, ibumu dan adikmu


akan hidup dengan baik."


Hal ini adalah impian Febi untuk membuat mereka


menjalani kehidupan yang baik. Namun, Febi sudah menerima cukup banyak hadiah


dari Samuel, jadi dia tidak bisa lagi menerimanya. Dia merasa dirinya sudah


tidak bisa membalas kebaikan itu.


Tepat ketika Febi berpikir seperti ini, dia mendengar


Samuel berkata, "Keluar! Sudah keluar!"


Samuel adalah orang yang tegas, terutama setelah


pengalaman yang lama, dia memiliki rasa introvert sebagai seorang senior. Namun


....


Pada saat ini, kegembiraan di mata itu terlihat sangat


jelas.


Febi sekilas tahu bahwa ibunya sudah keluar.


Dia mengalihkan pandangannya dan mengikuti garis


pandang Samuel.


Di tengah keramaian, dua sosok yang perlahan muncul


sudah cukup menarik perhatian.


Pertama, secara alami karena pemuda yang lembut dan


bersih. Dia mengenakan t-shirt putih, celana abu-abu muda dan sepatu kets putih.


Wajahnya terlihat tampan dan lembut. Ada semacam perasaan tidak ternodai oleh


kerumunan.


Satu-satunya yang disayangkan adalah ....


Dia duduk di kursi roda.


Sementara wanita yang mendorongnya. Meskipun dia


berusia lebih dari lima puluh tahun, tubuhnya tidak terlihat berubah. Bahkan di


usia ini, fitur wajah masih terihat cantik yang memesona seperti ketika dia


masih muda.


Ya, ini adalah keluarga Febi.


Febi berjalan cepat, "Bu, Ferdi."


Febi memeluk ibunya, Meisa. Meisa masih tidak memiliki


banyak ekspresi di wajahnya, tapi dia tidak mendorong putrinya menjauh.


Febi bersandar di bahu kurus itu, hidungnya terasa


sedikit perih, "Bu, aku sangat merindukan kalian ...."


Ekspresi Meisa melunak. Dia berbicara dengan nada


lembut, "Sudahlah, ada begitu banyak orang yang bolak-balik. Jangan hanya

__ADS_1


berdiri di sini dan menghalangi jalan orang lain."


...


__ADS_2