Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 123 Febi, Aku Sarankan Kamu Menyerah


__ADS_3

"Dari membukakan pintu untuk Julian, semuanya


nyata? Julian benar-benar ada di sini tadi malam, merawatnya, membujuknya,


memeluknya....


"


Febi tiba-tiba menyesal, tadi malam seharusnya dia


tidak boleh begitu linglung.


Selain itu....


Pada saat ini, di mana Julian?


Febi duduk kembali di ranjang dengan pakaian di


lengannya. Setelah termenung beberapa saat, matanya tertuju pada sebuah


catatan.


Febi mengenali kata-kata sederhana pada catatan itu


sekilas. Tulisan itu dari dia.


'Jika masih sakit kepala, minum pil kuning. Jika demam


tidak sepenuhnya mereda, minum pil putih. Tunggu aku di kamar, aku akan datang


menjemputmu.'


Febi melihat catatan itu dengan linglung. Lalu, dia


menatap pil itu lagi. Dalam sesaat, hatinya merasa kacau dan rumit.


Pada akhirnya, Febi tidak menunggunya. Setelah


mengemasi barang-barang dan mengenakan pakaiannya, dia menghentikan mobil dan


kembali ke kota.


Semua yang terjadi tadi malam seperti sebuah mimpi,


mimpi yang indah.


Namun, sekarang Febi sudah terbangun dari mimpinya,


dia tidak bisa lagi menikmatinya....


...


Setelah Febi kembali ke Kediaman Keluarga Dinata, dia


menelepon Tasya.


"Tasya, aku sedikit tidak enak badan. Aku tidak


akan pergi ke hotel pagi ini. Kalau terjadi sesuatu, beri tahu aku."


"kamu sakit?" Tasya tampak khawatir,


"Apakah tubuhmu sakit atau hatimu yang merasa tidak nyaman?"


"Apa maksudmu hati tidak nyaman?" Febi


bingung dengan pertanyaan itu. Setelah berpikir sejenak, kemudian dia berkata,


"Apakah kamu berbicara tentang kepulanganku ke Kediaman Keluarga


Dinata?"


Tanpa menunggu Tasya menjawab, dia tersenyum kecut


pada dirinya sendiri, "Aku sudah terbiasa, bagaimana mungkin aku tidak


merasa nyaman lagi?"


Di Kediaman Keluarga Dinata, sepertinya mustahil


baginya untuk merasa nyaman.


Tasya terdiam sejenak, kemudian berkata, "Aku


tidak berbicara tentang masalah Keluarga Dinata."


"Hmm? Selain ini, ada masalah apa lagi?


"Febi bahkan lebih bingung.


Tasya menghela napas, nadanya terdengar agak berat,


"Apa kamu sudah membaca koran pagi ini?"


"Koran apa?" Febi tidak mengerti mengapa dia


tiba-tiba menyebutkan hal ini.


"... Lupakan saja, tidak apa-apa." Tasya


ragu-ragu, kemudian menghentikan kata-katanya, "Tidak apa-apa, bukankah


kamu sakit? Istirahatlah dulu. Kita akan membicarakannya setelah kamu tiba di


perusahaan."


"Tasya, ngomong jangan setengah-setengah!"


Febi memutar bola matanya.


"Sudahlah, aku masih punya sesuatu untuk


dilakukan di sini, aku tutup dulu."


Tasya buru-buru memutuskan sambungan telepon,


sementara Febi benar-benar merasa bingung. Dia menatap layar ponsel sambil


memikirkannya, kemudian memegang erat ponsel dan berencana untuk pergi keluar.


Namun....


Sebelum Febi membuka Pintu, bayangan seseorang telah


muncul di pintu.


Selain Nando, siapa lagi?


Melihat Nando, Febi hendak berjalan melewatinya dengan


ekspresi datar. Nando melirik Febi dengan wajahnya yang terlihat lelah.


"Kapan kamu kembali?" tanya Nando. Sangat


jelas Nando tidak tidur sepanjang malam, suaranya terdengar lelah dan sedikit


serak.


"Baru saja tiba," jawab Febi. Suara Febi


juga serak, dengan nada sengau yang kuat.


Seketika, Nando sudah menyadarinya. Dia menghentikan


Febi yang akan melewatinya dan mengulurkan tangan untuk menutup pintu.


Dia mengerutkan kening padanya, "Kamu


demam?"


Tampaknya ada kekhawatiran dalam nada suara Nando.


Febi hanya menyunggingkan bibirnya sambil tersenyum mengejek, "Kamu lebih


baik mengurus urusan Vonny dulu, kamu tidak perlu khawatir tentang


urusanku."


Sekarang, menanyakan hal ini benar-benar sudah tidak


berguna lagi.


Ketika mengungkit nama Vonny, wajah Nando penuh dengan


rasa bersalah. "Situasi tadi malam sedikit mendesak...."


Nando ingin menjelaskan.


"Kamu tidak perlu menjelaskannya kepadaku, aku


tidak ingin mendengarnya dan aku tidak peduli," sela Febi begitu saja.


"..." Nando tersedak di sana, sedikit


canggung. Dia menatap Febi dengan masam dan tidak mengatakan apa-apa. Awalnya,


dia ingin bertanya pada Febi apakah dia pergi untuk mencari Julian tadi malam.


Akan tetapi, melihat wajah kecil yang keras kepala dan acuh tak acuh itu,


seketika Nando tidak berani mendengar jawabannya.


Febi tidak mengatakan apa-apa lagi pada Nando. Dia


masih memikirkan surat kabar yang dikatakan Tasya.


Tepat ketika Febi akan keluar untuk meminta Bibi Della


mengambilkan koran pagi ini padanya, sebelum membuka pintu, dia mendengar


pertanyaan dingin dan suram dari belakang, "Baju siapa ini?"


Beberapa kata sederhana, tapi setiap kata itu


terdengar seolah-olah berasal dari neraka.


Febi tercengang.


Febi menoleh, dia melihat Nando sedang menatapnya


dengan tajam sambil memegang pakaian Julian yang dicuci kering. Mata itu


seperti ingin menelan Febi hidup-hidup.


Tangan Febi berada di kenop pintu, dia merasakan hawa


dingin di sekujur tubuhnya.


Nando mendekat dalam beberapa langkah, lalu


menggoyangkan jas di depannya sambil menggertakkan giginya dan berkata lagi,


"Aku tanya satu kali lagi, ini...."


"Kamu tidak perlu bertanya!" sela Febi.


Tatapan Nando membuat Febi tidak bisa bernapas. Febi mengambil napas


dalam-dalam, lalu menatap matanya dan berkata, "Kamu tahu jawabannya lebih


dari siapa pun. Kita tidak perlu menipu diri sendiri!"


Febi menjawab dengan sangat percaya diri!

__ADS_1


Nando mengepalkan pakaiannya erat-erat, hingga


buku-buku jarinya memucat, "Tadi malam ... aku baru pergi, kamu sudah


langsung naik gunung, 'kan?"


"Benar. Tapi Nando, kamu yang paling tidak


memenuhi syarat untuk menanyaiku! Kalau kamu merasa kesal, kita bisa


bercerai!"


Kata "cerai" membuat urat biru di antara


alis Nando melompat samar.


Dia sebenarnya takut....


Secara tidak sadar Nando ingin menghindari dua kata


ini.


Namun, sebenarnya....


Entah itu dari sudut pandang Vonny, dari sudut pandang


anak atau dari sudut pandang Febi, sepertinya tidak ada cara lain untuk


menyelamatkan mereka selain bercerai....


"Febi, apakah kamu sangat mencintai Julian? Dalam


cuaca tadi malam, kalau ada banjir bandang, kamu mungkin mati dan kamu masih


naik gunung?" Nando terpikir akan satu hal dan merasa terhina hingga


ekspresinya perlahan berubah, "Jadi, kamar yang aku siapkan untuk kita


ternyata menjadi tempat bagi kalian untuk berselingkuh? Kalian bercinta di


ranjang yang aku siapkan?"


Serangkaian pertanyaan itu membuat Febi merasakan


sakit kepala. Dia melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa dia tidak ingin


berbicara dengan Nando lagi dan membuka pintu. Namun, pintu baru ditarik hingga


terlihat celah kecil, pintu yang berat itu sudah ditutup dengan kuat.


Lengan Nando melewati bahunya dan bersandar di pintu.


Saat ini, dada Nando menekan di punggung Febi, hingga dia bisa dengan jelas


mendengar detak jantung Nando.


Namun....


Semua ini sudah tidak bisa lagi menyentuh hati Febi


seperti sebelumnya.


"Apa yang kamu inginkan?" Nada suara Febi


terdengar sangat tidak sabar.


"Kamu sangat mencintainya?" Nada suara Nando


terdengar tidak berdaya dan perasaan sedih yang tidak bisa sembunyikan.


Febi tidak ingin menyembunyikan perasaannya,


"Kita semua tahu jawabannya."


Nando mencibir dengan ekspresi mengejek dan menatap


bagian belakang kepala Febi, "Apakah kamu sudah membaca koran pagi


ini?"


Koran lagi?


Keraguan Febi semakin dalam, dia menoleh dan menatap


Nando, "Koran apa?"


Selain itu, apa hubungan isi koran dengan kekagumannya


pada Julian?


"Sepertinya kamu tidak tahu sama sekali."


Nando mendengus dan menatap wajah Febi yang bingung, "Febi, mungkin Julian


bukan lagi orang yang bisa kamu cintai sesuka hatimu lagi."


Sebelum Febi bisa memahaminya, Nando mendorongnya dari


pintu, lalu membuka pintu dan menjulurkan kepalanya, "Bibi Della, bawa


koran bisnis hari ini ke atas!"


"Ya, Tuan Muda, segera," jawab Bibi Della.


Nando menoleh untuk menatap Febi dengan ekspresi


menonton pertunjukan yang bagus. Hati Febi menegang, dia memiliki firasat buruk


yang tidak dapat dijelaskan.


Namun, Febi benar-benar tidak bisa menebak apa isi


surat kabar itu.


lemari, lalu mengeluarkan satu set piyama bersih dan berencana untuk mandi.


Setelah minum obat tadi malam, sekujur tubuh Febi


berkeringat dan sampai sekarang dia masih belum sempat mandi.


Setelah mengambil pakaian, Febi hendak pergi ke kamar


mandi. Di sana, Bibi Della sudah tiba di pintu kamar, "Tuan Muda, ini


semua koran yang diantar pagi ini, lihatlah."


"Oke, yang ini saja." Nando mengambil salah


satu koran itu, "Bibi turun dulu saja."


Nando menutup pintu, lalu melirik Febi yang berjalan


ke kamar mandi, "Apa kamu tidak berencana membaca koran yang begitu


menarik dulu, baru mandi?"


"... Letakkan saja, aku akan melihat sendiri


setelah mandi," kata Febi.


Namun, Nando tidak bersedia memberinya waktu untuk


mempersiapkan diri. Dia membuka koran dengan suara "srek", "Nih,


judul berita ini adalah satu-satunya pewaris Grup Alliant terbongkar akan


menikahi putri Keluarga Yulianto. Kenapa? Kamu tertarik dengan berita


ini?"


Faktanya, ketika Nando mengucapkan kalimat pertama,


langkah kaki Febi sudah berhenti.


Kalimat terakhir membuat tangan Febi yang memegang


pakaian terkepal dan ujung jarinya hampir menusuk masuk ke telapak tangannya.


Menikah....


Jadi, akankah Julian menikahinya?


Ya, seharusnya....


Tidak perlu membicarakan Nyonya Besar sangat menyukai


gadis itu, hanya identitas, latar belakang dan penampilan mereka, mereka sudah


merupakan pasangan yang sangat serasi. Sedangkan Febi....


Seorang wanita yang belum bercerai, bahkan kalau dia


bercerai, dia adalah seorang janda. Bagaimana dia bisa bersanding dengan


Julian?


Nando berjalan ke hadapan Febi. Meskipun Febi berusaha


keras untuk menenangkan dirinya, berharap dirinya bisa terlihat sedikit lebih


santai, rasa sakit yang menyebar di antara alisnya tetap tidak bisa


disembunyikan.


Nando berpikir dia akan senang, tapi penampilan Febi


malah membuat hatinya tiba-tiba menegang.


Setelah merenung sebentar, Nando mendorong koran ke


tangan Febi, "Lihat baik-baik! Febi, kalau kamu ingin menikahi Julian, aku


sarankan kamu menyerah lebih awal!"


...


Pintu tertutup rapat.


Nando membiarkan Febi berdiam diri di ruangan itu.


Febi memegang koran di tangannya, tapi dia tidak ingin


membaca berita utama itu. Bagaimanapun juga, hubungannya dan Julian sudah


berlalu. Kelak, mereka tidak akan berinteraksi lagi.


Adapun tadi malam....


Benar-benar hanya kecelakaan.


Namun....


Terkadang gerakannya itu tidak bisa dia kendalikan.


Ketika Febi kembali ke akal sehatnya, dia sudah membalik koran ke halaman itu.


Judul halaman depan!


Berita itu panjang dengan gambar yang sangat besar.


Pada saat ini, dia tidak punya niat untuk melihatnya.


Seketika, pandangannya tertuju pada gambar yang dilampirkan pada berita itu.

__ADS_1


Gambar itu adalah foto yang sangat besar dan


sepertinya diambil pada malam hari, jadi wajah kedua orang tidak begitu jelas.


Namun, hanya sekilas Febi mengenali dua orang yang saling berpelukan di


koran....


Kedua orang itu adalah Julian dan Valentia.


Julian mengenakan jubah mandi dan memeluk Valentia


dengan erat. Sementara, Valentia bersandar dengan manis di pelukannya....


Jubah mandi dan pelukan itu telah menguraikan perasaan


ambigu dari gambar itu.


Sangat jelas dan menusuk mata.


Hati Febi terasa sakit....


Febi melihatnya dengan linglung. Dia mengatakan pada


dirinya sendiri berulang kali ini bukan sesuatu yang harus dia pedulikan dan


dia seharusnya tidak peduli. Akan tetapi....


Matanya memerah dalam sekejap.


Febi jelas tidak ingin membaca laporan itu, tapi pandangannya


tak dapat dia kendalikan. Setiap kata tergambar jelas di matanya.


Setelah membacanya, Febi tertawa....


Ada air mata di sudut matanya.


Ternyata Julian meninggalkan hotel tempat Febi


menginap tadi malam untuk pergi menemui Valentia....


Bahkan Julian sudah akan bertunangan, mengapa dia


masih bersikap baik pada Febi?


Tiba-tiba, Febi tidak ingin berpikir lebih jauh. Dia


membuang koran itu ke samping, mengambil pakaiannya, lalu berbalik dan bergegas


ke kamar mandi.


Melihat wajahnya yang pucat di cermin, air mata Febi


tiba-tiba jatuh seperti keran yang tidak bisa ditutup.


Seberapa jauh perkembangan hubungan ... mereka?


Julian memeluk Valentia seperti dia memeluk diri Febi.


Jadi, Julian juga akan mencintai wanita lain di ranjang seperti dia mencintai


Febi?


Apakah mereka bersama tadi malam?


Julian memakai jubah mandi....


Jadi, seharusnya ... benar?


Memikirkan hal ini, Febi merasa rasa sakit yang tumpul


di dadanya, seolah-olah dia tidak bisa bernapas....


Air mata pun jatuh lebih deras.


Febi tidak membiarkan dirinya menjadi begitu lemah,


dia dengan cepat membuka shower di bak mandi. Bahkan sebelum dia melepas


pakaiannya, dia sudah berdiri di bawah shower.


Air panas membasuh dan air mata di wajahnya terhanyut


dalam sekejap. Namun ... air panas tidak bisa menghangatkan tubuh Febi yang


sedingin es, apalagi hatinya yang sedingin es....


Febi berjongkok, memeluk dirinya sendiri dengan erat


dan duduk di bak mandi.


Air perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya....


Febi perlahan menutup matanya, wajahnya terlihat


sangat lelah....


Dia merasakan lelah yang menjalar dari lubuk hatinya,


membuatnya bahkan sulit untuk menggerakkan satu jarinya.


Ternyata mencintai seseorang itu sangat sulit, sangat


melelahkan....


...


Nando berganti pakaian bersih, mandi dan duduk di sofa


yang berada di aula di lantai bawah. Semua masalah tentang Vonny tadi malam


berkeliaran di benaknya.


Jika dia menikahinya, apakah anak itu bisa


terselamatkan?


Akan tetapi....


Dia tidak bisa menceraikan Febi!


Setelah beberapa saat, Bibi Della berkata, "Tuan


Muda, sudah waktunya makan siang."


"Hmm." Nando kembali ke akal sehatnya dan


mengangguk, "Pergi dan panggil nyonya muda turun."


Sekarang, Febi mungkin masih merasa tidak nyaman.


"Baik. Segera."


Bibi Della berjalan ke atas dengan tergesa-gesa. Nando


sedang bersandar di sofa dan membolak-balik koran. Sebelum Nando memahami apa


yang dia pikirkan, dia mendengar seruan dari atas, "Tuan Muda! Tuan Muda!


Cepat naik! Nyonya Muda celaka!"


"Apa?" Nando terkejut, lalu segera melompat


dari sofa dan bergegas ke atas.


Dia bergegas ke kamar tidur, kemudian ke kamar mandi.


Nando terpana oleh adegan di dalamnya.


Febi bahkan terbenam di dalam bak mandi, hanya bagian


atas rambutnya yang tersisa.


Bibi Della berusaha sangat keras untuk menyeretnya


keluar, tapi Febi sudah tenggelam dan tidak sadarkan diri.


Nando menarik Febi keluar dari bak mandi. Febi


bersandar di tepi bak mandi, seluruh wajahnya pucat seperti orang mati.


Nando ketakutan dan gemetar.


Nando meraung marah, bahkan alisnya pun berkedut,


"Sialan! Dia membuatmu begitu peduli, sehingga kamu bahkan tidak


menginginkan nyawamu lagi! Febi, kamu berani bunuh diri. Percaya atau tidak,


sekarang aku akan mencekikmu sampai mati!"


"Tuan Muda, sekarang jangan marah dulu ..."


bujuk Bibi Della.


Namun, akal sehat Nando benar-benar telah hilang. Dia


mengulurkan tangan, meraih kerah pakaian Febi dan mengangkat Febi yang sekarat


seperti sebuah kain karung. Nando menggertakkan giginya dengan marah,


"Febi, kalau kamu ingin mati demi dia, jangan mati di sini!"


Alis mata Febi yang basah bergerak sejenak, dia


berusaha sangat keras untuk membuka matanya, tapi dia tidak memiliki tenaga


untuk membuka mata.


Nando menggendong Febi dengan kasar dan membantingnya


ke ranjang. Bibi Della yang berada di samping tampak ketakutan, tapi Nando


tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Dia menundukkan kepalanya, lalu


mencubit wajah Febi dengan terengah-engah, "Aku akan memberimu sepuluh


menit! Bangunlah dari ranjang dan aku akan segera membawamu ke Pengadilan


Agama!"


Setelah jeda, dia menambahkan empat kata lagi,


"Aku tidak akan melanggar janjiku!"


Cukup sudah! Nando benar-benar berpikir sudah cukup!


Dia kalah dari Febi!


Tadi malam Nando sudah melihatnya dengan jelas, demi


pria itu, Febi bahkan rela mati, jadi....


Apa gunanya mengikat Febi di sisinya? Hal itu hanya


membiarkan Febi menjadi sebuah belati yang menusuk ke jantung Febi inci demi


inci....


Jadi....


Bercerai saja. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi

__ADS_1


keterikatan!


__ADS_2