Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 124 Cerai


__ADS_3

Pengadilan Agama?


Mengajak Febi pergi mengurus prosedur perceraian?


Febi merasa pusing, tapi dia mendengar semua kata-kata


Nando. Setelah bulu matanya bergetar beberapa kali, akhirnya Febi membuka


matanya dengan susah payah.


Febi menatap mata marah Nando, kemarahan itu seakan


membubung ke langit hingga membuat orang gemetar takut. Febi mengerutkan


bibirnya, setelah beberapa saat dia bertanya, "... Cerai?"


Suaranya terdengar lemah dan tak berdaya.


Seolah helaan napas dari jurang yang akan hilang di


saat berikutnya....


Nando merasakan sakit di dadanya. Dulu, dia berharap


mereka akan menyiksa satu sama lain seperti ini dan mengikat Febi di sisinya.


Namun, melihat penampilan Febi yang kesakitan sekarang, dia juga merasa sakit


hati yang sama seperti Febi.


"Julian tidak akan menikahimu. Dia ingin menikahi


wanita lain, kamu juga ingin bercerai denganku?" tanya Nando yang tidak


ingin menyerah.


Bulu mata Febi berkedip sejenak, lalu dia mengangguk,


"... Kita bercerai, sudah tidak ada hubungannya dengan dia."


Jadi, Febi sudah bertekad untuk bercerai.


Nando berdiri di samping ranjang dan menatapnya dari


atas ke bawah. Setelah waktu yang lama, dia akhirnya mengangguk dan berkata


kata demi kata, "Oke, aku akan memberimu 5 menit untuk mengganti pakaian.


Kita ... segera pergi!"


Nando sudah sangat tenang. Akan tetapi, ketika dia


mengucapkan kata terakhir, suaranya jelas sedikit bergetar.


Seolah-olah Nando takut akan menyesalinya. Setelah


selesai berkata, dia tidak menatap Febi lagi dan berjalan keluar dari kamar


dengan cepat.


"Bang...." Pintu ditutup, Febi bangun dan


segera turun dari ranjang. Dia berjalan ke lemari, lalu menarik pakaian bersih


dan mengganti dengan cepat.


...


Kali ini, tampaknya semuanya tidak memiliki ruang


untuk mundur.


Mobil melaju di dalam kota langsung menuju Pengadilan


Agama. Febi bersandar di jendela mobil, kekuatannya perlahan telah kembali.


Hanya saja, dia berendam di dalam bak mandi, jadi sekarang dia kembali merasa


pusing. Suhu tubuhnya kembali meningkat.


Orang saat menjadi rapuh, ternyata tubuh pun akan


menjadi sangat lemah dan rentan.


Nando memegang kemudi dengan kedua tangannya. Dia


mengepal erat kemudi hingga tulang dan persendian terlihat jelas. Beberapa


kali, dia menoleh pada wanita di sampingnya, dia bahkan berharap Febi akan


mengatakan "tunggu sebentar". Akan tetapi, sangat jelas, Febi tidak


menyesali perceraian ini.


Orang yang tidak ingin melepaskan dan tidak rela hanya


Nando....


Mobil sudah dikendarai dengan lambat. Namun, dengan


cepat, Pengadilan Agama berada tepat di depan mereka.


Febi segera turun dari mobil dan membawa semua


dokumen, "Parkir saja mobilnya di sembarang tempat, toh prosedurnya akan


sangat cepat."


Sangat jelas Febi berharap untuk mengurus prosedur


dengan cepat, menghindari terjadi hal yang tidak diinginkan!


Nando duduk di kursi pengemudi dan menatap Febi


beberapa kali. Mata Nando gelap dan penuh emosi. Namun, pandangan itu malah


membuat Febi gemetar, tanpa sadar dia mengepalkan dokumen di tangannya.


"Apakah kamu menyesal lagi?"


Nando tertawa.


Dia memarkirkan mobil secara acak ke tempat parkir dan


mendorong pintu keluar dari mobil.


"Aku memang menyesal...."


Ekspresi Febi tampak dingin dan matanya jelas kesal.


"Masuklah." Tanpa diduga, Nando melangkah ke


Pengadilan Agama. Melihat bayangan itu, Febi mengangkat alisnya dan segera


mengikuti.


...


Sebelum menandatangani perceraian, staf bertanya pada


mereka, "Hubungan kalian benar-benar hancur, bukan?"


"Ya," jawab Febi.


Nando menoleh ke samping.


Petugas bertanya lagi, "Apa kalian yakin tidak


ada cara untuk menyelesaikannya dan kalian tidak memiliki keinginan untuk


menyelesaikannya?"


"Ya." Kali ini, masih Febi yang menjawab.


Jawabannya begitu lugas dan kuat, bahkan tanpa ragu sedikit pun. Nando


merasakan sakit seakan jantungnya telah dicambuk.


"Kenapa hanya dia yang menjawab, bagaimana


denganmu? Bagaimana menurutmu?" Staf memusatkan perhatian pada Nando. Febi


juga menatapnya, Nando bisa dengan jelas merasakan kegugupan Febi.


"Cerai saja, berhenti menanyakan pertanyaan yang


tidak perlu."


Jawabannya membuat Febi tampak lega. Staf menghela


napas, "Aku pikir kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Sayang sekali


bercerai seperti ini. Baiklah, periksa terlebih dulu dan tanda tangani di

__ADS_1


sini."


"Apakah di sini?" Nando bahkan tidak


melihatnya, dia mengambil pena dan dengan cepat menulis namanya di kotak tanda


tangan.


Nando menulis sangat cepat, seolah-olah dia takut jika


gerakannya melambat, dia akan menyesalinya.


Goresan terakhir begitu kuat sehingga ujung pena


menembus kertas. Saat Nando menjatuhkan pena, jari-jarinya sedikit gemetar.


"Masih ada hal lain tidak? Kalau tidak ada, aku


akan keluar dulu," tanya Nando dengan setenang mungkin sambil melirik


staf. Namun, Nando bisa dengan jelas mendengar suaranya sendiri bergetar.


Akhirnya, tanpa menunggu staf berbicara, Nando sudah


berbalik dan berjalan keluar dari Pengadilan Agama.


Melihat bayangan itu, mata Febi sedikit menyipit. Staf


berkata, "Dia jelas masih memiliki perasaan padamu. Kenapa kamu tidak


membicarakannya dengan baik? Sampai harus bercerai?"


"Aku sudah memiliki seseorang yang kusukai,"


jawab Febi dengan tenang.


Staf tercengang sejenak, seolah-olah dia tidak


menyangka seorang wanita yang sudah menikah akan mengatakan isi hatinya dengan


terus terang. Staf tidak mengatakan apa lagi, dia meminta Febi untuk tanda


tangan dan membubuhi stempel.


"Nih, ini punya kalian."


Staf memberikan dua buku kecil. Ketika dia melihat dua


kata "surat cerai", Febi menghela napas lega.


Pada saat ini, semuanya telah diselesaikan.


Tadi malam, Febi bahkan berpikir mereka mungkin


benar-benar akan terjerat seumur hidup. Sekarang, Febi telah mendapatkan


kembali kebebasannya.


Semuanya seperti mimpi.


Dia teringat dengan Julian, teringat dengan mata gelap


yang berbinar itu.


Febi pernah berpikir setelah bercerai, orang pertama


yang dia beri tahu adalah Julian.


Namun sekarang....


Febi bercerai atau sudah menikah, tampaknya tidak ada


hubungannya dengan Julian.


...


Setelah keluar sambil membawa surat cerai, Nando


sedang merokok. Asap menyelimuti tubuhnya, jelas-jelas masih siang hari, tapi


wajah Nando terlihat lebih gelap daripada malam.


"Ini milikmu." Febi menyerahkan salah satu


surat cerai.


Nando melirik sejenak, lalu memadamkan api puntung


rokok di tempat sampah di sampingnya dan berkata, "Simpan saja."


memasukkan surat cerai ke dalam tasnya, kemudian berkata, "Apakah kamu


akan kembali? Kalau kamu tidak kembali, aku akan naik taksi dan berkemas."


"... Tidak akan kembali." Nando tidak ingin


melihat Febi berkemas, apalagi melihatnya meninggalkan rumah dengan matanya


sendiri. Kali ini ... hubungan mereka benar-benar sudah kandas....


"Baiklah kalau begitu, aku akan naik taksi


sendiri." Dibandingkan dengan pikiran Nando yang berkeliaran sepanjang


waktu, Febi terlihat tenang dan santai. Febi bahkan dengan cepat telah membuat


rencana untuk dirinya sendiri.


Untuk saat ini, dia pindah ke rumah Tasya selama dua


hari.


Nando masuk ke mobil sendirian, setelah menyalakan


mobil, Febi tiba-tiba memikirkan sesuatu dan melambai padanya, memberi isyarat


padanya untuk menurunkan jendela mobil.


Nando membuka jendela mobil, lalu Febi mendekat.


"Ada satu hal lagi, aku lupa bertanya


padamu."


"Katakan."


"Tentang data Julian yang kamu miliki...."


Nando menyeringai. Dia seharusnya tahu apa yang akan


Febi bicarakan, tapi dia masih memiliki harapan lain.


"Febi, kamu ditipu olehku dan Nyonya Besar,"


jawab Nando terus terang.


Febi mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"


"Data itu palsu. Seperti yang kamu katakan, data


Hotel Hydra disembunyikan dengan baik, terutama data tidak bersih. Oleh karena


itu, data yang aku dapatkan adalah palsu."


Palsu?


Jadi....


Data itu hanya dibuat-buat karena Nando tidak ingin


menceraikannya?


Julian sama sekali tidak dalam bahaya?


Febi marah dan kesal karena dibohongi oleh Julian.


Namun, setelah mengetahui fakta ini, dia menghela napas lega. Setidaknya,


Julian aman.


Nando melanjutkan, "Tentu saja, ide-ide ini semua


dibuat oleh Nyonya Besar. Hotel Hydra mungkin kehilangan data pada masa itu,


tapi bukan data ini. Adapun insiden polisi yang muncul di hotel, mungkin untuk


menyelidiki data itu."


"..." Jadi, Febi salah paham.


"Febi, jangan salahkan aku karena tidak


mengingatkanmu. Mungkin menjadi anggota Keluarga Ricardo tidak semudah yang

__ADS_1


kamu pikirkan," pesan Nando dengan sungguh-sungguh, "Setidaknya, kamu


tidak akan bisa mendapatkan restu Nyonya Besar."


Febi tersenyum tipis, "Aku tidak pernah berpikir


untuk menjadi Keluarga Ricardo."


Meninggalkan Keluarga Dinata sudah sangat sulit. Dia


tidak memiliki keberanian dan tidak ada alasan untuk melangkah ke dunia yang


lebih rumit. Apalagi....


Dia tidak bisa tidak masuk ke dalam dunia itu.


Sekarang, Julian sudah bertunangan dengan Valentia,


bukan?


...


Pada siang hari, Febi memindahkan semua barangnya ke


apartemen Tasya dan keduanya pergi bekerja bersama.


Setelah turun dari taksi dan berjalan ke hotel, Tasya


melihat Febi dalam suasana hati yang buruk, jadi dia menggoyang lengan Febi,


"Bukankah hari ini kamu sudah bercerai? Jangan tidak bahagia seperti


ini."


"... Aku baik-baik saja." Febi menggelengkan


kepalanya sambil memaksa untuk senyum.


Tasya meliriknya dengan penasaran dan bertanya dengan


suara pelan, "Jujurlah, apakah kamu pernah melihat koran itu?"


Febi tidak menjawab. Akan tetapi, langkah kakinya


tiba-tiba berhenti, lalu matanya tertuju pada satu tempat dan dia tidak


bergerak untuk waktu yang lama. Tasya mengikuti garis pandangnya dan tertegun


sejenak.


Dia melihat tidak jauh, Nyonya Besar berjalan di hotel


bergandengan tangan dengan seseorang.


Sebelah kiri secara alami adalah Julian yang mereka


kenal. Sementara di sisi lain ... adalah Valentia yang bertemu satu kali dengan


mereka.


Tasya diam-diam melirik wajah Febi, lalu dia menunjuk


ke arah lain, "Ayo pergi ke sisi lain."


"Ya." Febi mengangguk. Kemudian, dia


berbalik ke sisi lain dan tidak menonton adegan itu lagi.


Namun....


Gambar tadi terus-menerus berputar di dalam benaknya


dan terus-menerus menyakiti hatinya.


Mereka benar-benar cocok....


Namun, semakin indah gambar itu, semakin sakit pula


hati Febi....


Tepat setelah dia mengambil langkah, ponsel tiba-tiba


berdering. Suara pendek itu jelas merupakan pesan teks.


Febi mengeluarkan ponsel dan melihatnya. Ketika Febi


melihat nama yang mengirim pesan, dia berbalik tanpa sadar. Dia melihat Julian


mengutak-atik ponselnya dan tidak memandangnya.


Jadi....


Apakah Julian melihat Febi?


"Pak Julian yang mengirimnya?" Begitu Tasya


melihat tatapan Febi, dia langsung mengerti.


Febi membuka dan melihat beberapa kata sederhana.


"Kenapa tidak menungguku?"


"Apa maksudnya? Kapan kamu tidak


menunggunya?" Tasya tidak mengerti isi pesan itu.


Febi tidak menjawab, dia hanya mengetik sambil


berjalan.


"Tadi malam hanya kecelakaan, aku sudah


lupa."


Jari Febi mendarat di tombol kirim. Setelah ragu


beberapa saat, akhirnya dia mengirim pesan itu. Hati Febi terasa sakit, tapi


dia tidak berani menoleh untuk melihat ekspresi Julian.


Apakah Julian masih peduli?


Dia dan Valentia sudah bersama, kenapa dia masih


mengingat apa yang terjadi tadi malam?


Selain itu, setelah Julian meninggalkan hotel tadi


malam, dia segera pergi ke tempat Valentia. Apakah sangat mudah bagi seorang


pria untuk menangani hubungan antara dua wanita?


Apa bedanya Julian yang seperti itu dengan Nando?


Memikirkan hal ini, ujung hidung Febi terasa sedikit


perih. Lalu, dia mendengar Tasya berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti.


Kamu sudah bercerai, kenapa kamu tidak memberitahunya? Sebaliknya, kamu malah


mengucapkan kata yang memutuskan hubungan dengannya."


"Bukankah kamu sudah membaca koran hari ini? Dia


punya jalan sendiri dan aku juga punya jalanku sendiri. Mulai sekarang ... kami


tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi...." Febi menghela napas sambil


menatap langit biru di atas kepalanya.


Langit itu sangat luas.


Kesedihan dan kepahitan perlahan meluas di hati Febi,


lalu dengan cepat menutupi seluruh langit.


Di sisi lain....


Setelah melihat pesan itu, wajah Julian menjadi masam.


Kemudian, tanpa sadar dia melirik ke bayangan yang berangsur-angsur pergi.


Kecelakaan?


Febi bahkan mendefinisikan kejadian tadi malam seperti


ini! Jadi, apa maksud dari ketergantungan dan keengganan Febi?


Sekarang, Febi ingin menjauh dari Julian, bukankah


sudah terlambat?


Julian sudah memiliki ide di benaknya, dia meletakkan

__ADS_1


ponsel dan menarik kembali pandangannya.


__ADS_2