
Pengadilan Agama?
Mengajak Febi pergi mengurus prosedur perceraian?
Febi merasa pusing, tapi dia mendengar semua kata-kata
Nando. Setelah bulu matanya bergetar beberapa kali, akhirnya Febi membuka
matanya dengan susah payah.
Febi menatap mata marah Nando, kemarahan itu seakan
membubung ke langit hingga membuat orang gemetar takut. Febi mengerutkan
bibirnya, setelah beberapa saat dia bertanya, "... Cerai?"
Suaranya terdengar lemah dan tak berdaya.
Seolah helaan napas dari jurang yang akan hilang di
saat berikutnya....
Nando merasakan sakit di dadanya. Dulu, dia berharap
mereka akan menyiksa satu sama lain seperti ini dan mengikat Febi di sisinya.
Namun, melihat penampilan Febi yang kesakitan sekarang, dia juga merasa sakit
hati yang sama seperti Febi.
"Julian tidak akan menikahimu. Dia ingin menikahi
wanita lain, kamu juga ingin bercerai denganku?" tanya Nando yang tidak
ingin menyerah.
Bulu mata Febi berkedip sejenak, lalu dia mengangguk,
"... Kita bercerai, sudah tidak ada hubungannya dengan dia."
Jadi, Febi sudah bertekad untuk bercerai.
Nando berdiri di samping ranjang dan menatapnya dari
atas ke bawah. Setelah waktu yang lama, dia akhirnya mengangguk dan berkata
kata demi kata, "Oke, aku akan memberimu 5 menit untuk mengganti pakaian.
Kita ... segera pergi!"
Nando sudah sangat tenang. Akan tetapi, ketika dia
mengucapkan kata terakhir, suaranya jelas sedikit bergetar.
Seolah-olah Nando takut akan menyesalinya. Setelah
selesai berkata, dia tidak menatap Febi lagi dan berjalan keluar dari kamar
dengan cepat.
"Bang...." Pintu ditutup, Febi bangun dan
segera turun dari ranjang. Dia berjalan ke lemari, lalu menarik pakaian bersih
dan mengganti dengan cepat.
...
Kali ini, tampaknya semuanya tidak memiliki ruang
untuk mundur.
Mobil melaju di dalam kota langsung menuju Pengadilan
Agama. Febi bersandar di jendela mobil, kekuatannya perlahan telah kembali.
Hanya saja, dia berendam di dalam bak mandi, jadi sekarang dia kembali merasa
pusing. Suhu tubuhnya kembali meningkat.
Orang saat menjadi rapuh, ternyata tubuh pun akan
menjadi sangat lemah dan rentan.
Nando memegang kemudi dengan kedua tangannya. Dia
mengepal erat kemudi hingga tulang dan persendian terlihat jelas. Beberapa
kali, dia menoleh pada wanita di sampingnya, dia bahkan berharap Febi akan
mengatakan "tunggu sebentar". Akan tetapi, sangat jelas, Febi tidak
menyesali perceraian ini.
Orang yang tidak ingin melepaskan dan tidak rela hanya
Nando....
Mobil sudah dikendarai dengan lambat. Namun, dengan
cepat, Pengadilan Agama berada tepat di depan mereka.
Febi segera turun dari mobil dan membawa semua
dokumen, "Parkir saja mobilnya di sembarang tempat, toh prosedurnya akan
sangat cepat."
Sangat jelas Febi berharap untuk mengurus prosedur
dengan cepat, menghindari terjadi hal yang tidak diinginkan!
Nando duduk di kursi pengemudi dan menatap Febi
beberapa kali. Mata Nando gelap dan penuh emosi. Namun, pandangan itu malah
membuat Febi gemetar, tanpa sadar dia mengepalkan dokumen di tangannya.
"Apakah kamu menyesal lagi?"
Nando tertawa.
Dia memarkirkan mobil secara acak ke tempat parkir dan
mendorong pintu keluar dari mobil.
"Aku memang menyesal...."
Ekspresi Febi tampak dingin dan matanya jelas kesal.
"Masuklah." Tanpa diduga, Nando melangkah ke
Pengadilan Agama. Melihat bayangan itu, Febi mengangkat alisnya dan segera
mengikuti.
...
Sebelum menandatangani perceraian, staf bertanya pada
mereka, "Hubungan kalian benar-benar hancur, bukan?"
"Ya," jawab Febi.
Nando menoleh ke samping.
Petugas bertanya lagi, "Apa kalian yakin tidak
ada cara untuk menyelesaikannya dan kalian tidak memiliki keinginan untuk
menyelesaikannya?"
"Ya." Kali ini, masih Febi yang menjawab.
Jawabannya begitu lugas dan kuat, bahkan tanpa ragu sedikit pun. Nando
merasakan sakit seakan jantungnya telah dicambuk.
"Kenapa hanya dia yang menjawab, bagaimana
denganmu? Bagaimana menurutmu?" Staf memusatkan perhatian pada Nando. Febi
juga menatapnya, Nando bisa dengan jelas merasakan kegugupan Febi.
"Cerai saja, berhenti menanyakan pertanyaan yang
tidak perlu."
Jawabannya membuat Febi tampak lega. Staf menghela
napas, "Aku pikir kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Sayang sekali
bercerai seperti ini. Baiklah, periksa terlebih dulu dan tanda tangani di
__ADS_1
sini."
"Apakah di sini?" Nando bahkan tidak
melihatnya, dia mengambil pena dan dengan cepat menulis namanya di kotak tanda
tangan.
Nando menulis sangat cepat, seolah-olah dia takut jika
gerakannya melambat, dia akan menyesalinya.
Goresan terakhir begitu kuat sehingga ujung pena
menembus kertas. Saat Nando menjatuhkan pena, jari-jarinya sedikit gemetar.
"Masih ada hal lain tidak? Kalau tidak ada, aku
akan keluar dulu," tanya Nando dengan setenang mungkin sambil melirik
staf. Namun, Nando bisa dengan jelas mendengar suaranya sendiri bergetar.
Akhirnya, tanpa menunggu staf berbicara, Nando sudah
berbalik dan berjalan keluar dari Pengadilan Agama.
Melihat bayangan itu, mata Febi sedikit menyipit. Staf
berkata, "Dia jelas masih memiliki perasaan padamu. Kenapa kamu tidak
membicarakannya dengan baik? Sampai harus bercerai?"
"Aku sudah memiliki seseorang yang kusukai,"
jawab Febi dengan tenang.
Staf tercengang sejenak, seolah-olah dia tidak
menyangka seorang wanita yang sudah menikah akan mengatakan isi hatinya dengan
terus terang. Staf tidak mengatakan apa lagi, dia meminta Febi untuk tanda
tangan dan membubuhi stempel.
"Nih, ini punya kalian."
Staf memberikan dua buku kecil. Ketika dia melihat dua
kata "surat cerai", Febi menghela napas lega.
Pada saat ini, semuanya telah diselesaikan.
Tadi malam, Febi bahkan berpikir mereka mungkin
benar-benar akan terjerat seumur hidup. Sekarang, Febi telah mendapatkan
kembali kebebasannya.
Semuanya seperti mimpi.
Dia teringat dengan Julian, teringat dengan mata gelap
yang berbinar itu.
Febi pernah berpikir setelah bercerai, orang pertama
yang dia beri tahu adalah Julian.
Namun sekarang....
Febi bercerai atau sudah menikah, tampaknya tidak ada
hubungannya dengan Julian.
...
Setelah keluar sambil membawa surat cerai, Nando
sedang merokok. Asap menyelimuti tubuhnya, jelas-jelas masih siang hari, tapi
wajah Nando terlihat lebih gelap daripada malam.
"Ini milikmu." Febi menyerahkan salah satu
surat cerai.
Nando melirik sejenak, lalu memadamkan api puntung
rokok di tempat sampah di sampingnya dan berkata, "Simpan saja."
memasukkan surat cerai ke dalam tasnya, kemudian berkata, "Apakah kamu
akan kembali? Kalau kamu tidak kembali, aku akan naik taksi dan berkemas."
"... Tidak akan kembali." Nando tidak ingin
melihat Febi berkemas, apalagi melihatnya meninggalkan rumah dengan matanya
sendiri. Kali ini ... hubungan mereka benar-benar sudah kandas....
"Baiklah kalau begitu, aku akan naik taksi
sendiri." Dibandingkan dengan pikiran Nando yang berkeliaran sepanjang
waktu, Febi terlihat tenang dan santai. Febi bahkan dengan cepat telah membuat
rencana untuk dirinya sendiri.
Untuk saat ini, dia pindah ke rumah Tasya selama dua
hari.
Nando masuk ke mobil sendirian, setelah menyalakan
mobil, Febi tiba-tiba memikirkan sesuatu dan melambai padanya, memberi isyarat
padanya untuk menurunkan jendela mobil.
Nando membuka jendela mobil, lalu Febi mendekat.
"Ada satu hal lagi, aku lupa bertanya
padamu."
"Katakan."
"Tentang data Julian yang kamu miliki...."
Nando menyeringai. Dia seharusnya tahu apa yang akan
Febi bicarakan, tapi dia masih memiliki harapan lain.
"Febi, kamu ditipu olehku dan Nyonya Besar,"
jawab Nando terus terang.
Febi mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"
"Data itu palsu. Seperti yang kamu katakan, data
Hotel Hydra disembunyikan dengan baik, terutama data tidak bersih. Oleh karena
itu, data yang aku dapatkan adalah palsu."
Palsu?
Jadi....
Data itu hanya dibuat-buat karena Nando tidak ingin
menceraikannya?
Julian sama sekali tidak dalam bahaya?
Febi marah dan kesal karena dibohongi oleh Julian.
Namun, setelah mengetahui fakta ini, dia menghela napas lega. Setidaknya,
Julian aman.
Nando melanjutkan, "Tentu saja, ide-ide ini semua
dibuat oleh Nyonya Besar. Hotel Hydra mungkin kehilangan data pada masa itu,
tapi bukan data ini. Adapun insiden polisi yang muncul di hotel, mungkin untuk
menyelidiki data itu."
"..." Jadi, Febi salah paham.
"Febi, jangan salahkan aku karena tidak
mengingatkanmu. Mungkin menjadi anggota Keluarga Ricardo tidak semudah yang
__ADS_1
kamu pikirkan," pesan Nando dengan sungguh-sungguh, "Setidaknya, kamu
tidak akan bisa mendapatkan restu Nyonya Besar."
Febi tersenyum tipis, "Aku tidak pernah berpikir
untuk menjadi Keluarga Ricardo."
Meninggalkan Keluarga Dinata sudah sangat sulit. Dia
tidak memiliki keberanian dan tidak ada alasan untuk melangkah ke dunia yang
lebih rumit. Apalagi....
Dia tidak bisa tidak masuk ke dalam dunia itu.
Sekarang, Julian sudah bertunangan dengan Valentia,
bukan?
...
Pada siang hari, Febi memindahkan semua barangnya ke
apartemen Tasya dan keduanya pergi bekerja bersama.
Setelah turun dari taksi dan berjalan ke hotel, Tasya
melihat Febi dalam suasana hati yang buruk, jadi dia menggoyang lengan Febi,
"Bukankah hari ini kamu sudah bercerai? Jangan tidak bahagia seperti
ini."
"... Aku baik-baik saja." Febi menggelengkan
kepalanya sambil memaksa untuk senyum.
Tasya meliriknya dengan penasaran dan bertanya dengan
suara pelan, "Jujurlah, apakah kamu pernah melihat koran itu?"
Febi tidak menjawab. Akan tetapi, langkah kakinya
tiba-tiba berhenti, lalu matanya tertuju pada satu tempat dan dia tidak
bergerak untuk waktu yang lama. Tasya mengikuti garis pandangnya dan tertegun
sejenak.
Dia melihat tidak jauh, Nyonya Besar berjalan di hotel
bergandengan tangan dengan seseorang.
Sebelah kiri secara alami adalah Julian yang mereka
kenal. Sementara di sisi lain ... adalah Valentia yang bertemu satu kali dengan
mereka.
Tasya diam-diam melirik wajah Febi, lalu dia menunjuk
ke arah lain, "Ayo pergi ke sisi lain."
"Ya." Febi mengangguk. Kemudian, dia
berbalik ke sisi lain dan tidak menonton adegan itu lagi.
Namun....
Gambar tadi terus-menerus berputar di dalam benaknya
dan terus-menerus menyakiti hatinya.
Mereka benar-benar cocok....
Namun, semakin indah gambar itu, semakin sakit pula
hati Febi....
Tepat setelah dia mengambil langkah, ponsel tiba-tiba
berdering. Suara pendek itu jelas merupakan pesan teks.
Febi mengeluarkan ponsel dan melihatnya. Ketika Febi
melihat nama yang mengirim pesan, dia berbalik tanpa sadar. Dia melihat Julian
mengutak-atik ponselnya dan tidak memandangnya.
Jadi....
Apakah Julian melihat Febi?
"Pak Julian yang mengirimnya?" Begitu Tasya
melihat tatapan Febi, dia langsung mengerti.
Febi membuka dan melihat beberapa kata sederhana.
"Kenapa tidak menungguku?"
"Apa maksudnya? Kapan kamu tidak
menunggunya?" Tasya tidak mengerti isi pesan itu.
Febi tidak menjawab, dia hanya mengetik sambil
berjalan.
"Tadi malam hanya kecelakaan, aku sudah
lupa."
Jari Febi mendarat di tombol kirim. Setelah ragu
beberapa saat, akhirnya dia mengirim pesan itu. Hati Febi terasa sakit, tapi
dia tidak berani menoleh untuk melihat ekspresi Julian.
Apakah Julian masih peduli?
Dia dan Valentia sudah bersama, kenapa dia masih
mengingat apa yang terjadi tadi malam?
Selain itu, setelah Julian meninggalkan hotel tadi
malam, dia segera pergi ke tempat Valentia. Apakah sangat mudah bagi seorang
pria untuk menangani hubungan antara dua wanita?
Apa bedanya Julian yang seperti itu dengan Nando?
Memikirkan hal ini, ujung hidung Febi terasa sedikit
perih. Lalu, dia mendengar Tasya berkata, "Aku benar-benar tidak mengerti.
Kamu sudah bercerai, kenapa kamu tidak memberitahunya? Sebaliknya, kamu malah
mengucapkan kata yang memutuskan hubungan dengannya."
"Bukankah kamu sudah membaca koran hari ini? Dia
punya jalan sendiri dan aku juga punya jalanku sendiri. Mulai sekarang ... kami
tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi...." Febi menghela napas sambil
menatap langit biru di atas kepalanya.
Langit itu sangat luas.
Kesedihan dan kepahitan perlahan meluas di hati Febi,
lalu dengan cepat menutupi seluruh langit.
Di sisi lain....
Setelah melihat pesan itu, wajah Julian menjadi masam.
Kemudian, tanpa sadar dia melirik ke bayangan yang berangsur-angsur pergi.
Kecelakaan?
Febi bahkan mendefinisikan kejadian tadi malam seperti
ini! Jadi, apa maksud dari ketergantungan dan keengganan Febi?
Sekarang, Febi ingin menjauh dari Julian, bukankah
sudah terlambat?
Julian sudah memiliki ide di benaknya, dia meletakkan
__ADS_1
ponsel dan menarik kembali pandangannya.