
Julian bisa merasakan tatapan Febi padanya, tapi dia
tidak menoleh ke belakang, hanya terus bertanya, "Bagaimana situasi saham
di sana?"
"Sebagian besar saham selain dari Keluarga Dinata
telah dikumpulkan. Namun, Keluarga Dinata, termasuk Nona Febi, memiliki 60%
saham, jadi ...."
Jadi, bahkan jika Julian membeli semua saham selain
Keluarga Dinata, itu hanya 40%. Hal itu tidak akan mengguncang Keluarga Dinata
sama sekali.
Ryan berkata, "Pak Julian, bahkan kalau kita
membeli 10% saham Nona Febi, kita hanya akan memiliki 50%."
"Yah, aku tahu itu." Julian tidak mengatakan
apa-apa lagi. Mendengarkan nadanya yang yakin, Ryan menebak Julian pasti sudah
memiliki rencana, jadi dia langsung menghentikan topik itu, kemudian berkata,
"Semua orang telah pergi, apakah Anda ingin melanjutkan rapat tadi?"
"Hmm, lanjutkan."
Setelah menutup telepon, Julian berbalik dan duduk di
sofa.
Febi melirik wajah Julian yang tampak sedikit lebih
serius dari sebelumnya. Dia menekan jarinya dengan ringan di antara alis
Julian, "Ada yang kamu pikirkan?"
"Hanya masalah pekerjaan." Julian
menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Jari-jari Febi yang lembut dan hangat mendarat di alis
Julian, membuatnya merasa sangat nyaman.
"Orang-orang sistem di lokasi konstruksi sedang
menungguku untuk melanjutkan rapat. Aku harus pergi ke sana sekarang."
"Yah, pergilah, pekerjaan lebih penting."
Febi mengambil mantel Julian yang dilepaskan di sofa dan meletakkannya di
pundak Julian, "Kita sudah membicarakan semua yang perlu kita bicarakan.
Jangan menunda pekerjaan. Ayo, rentangkan tanganmu. Kenakan pakaianmu dulu,
jangan sampai kedinginan lagi."
Suara Febi sangat lembut seperti bulu yang terbang.
Julian memasukkan lengannya ke dalam pakaiannya dengan
patuh. Febi menundukkan kepalanya dan mengancingkannya satu per satu dengan
saksama.
Febi menundukkan kepala hingga rambutnya jatuh ke
dahinya.
Di lihat dari atas, Julian bisa melihat mata Febi yang
penuh kelembutan. Penampilannya itu seperti istri yang baru saja menikah ....
...
Julian pergi rapat, hanya Febi yang tersisa di ruangan
itu. Febi duduk di sofa sambil memeluk dirinya sendiri. Saat Febi teringat
Julian mengatakan dia tidak akan bertunangan, kemudian melihat akta cerai yang
dilemparkan ke lantai, senyum cerah tiba-tiba muncul di wajahnya.
Depresi dan tekanan yang telah menumpuk di hati Febi
untuk waktu lama semuanya lenyap pada saat ini. Sebaliknya, semua itu
tergantikan oleh kebahagiaan.
Febi mengambil akta cerai, lalu memasukkannya ke dalam
tasnya. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Pak Kenedy.
"Kak Kenedy, apakah listrik sudah menyala? Apakah
aku perlu segera pergi untuk mengawasi pekerjaan?" Memang benar Febi
ketakutan, tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja hanya
karena ketakutan kecil yang dia alami.
"Jangan, aku tidak berani membiarkanmu menyentuh
lift apa pun lagi. Aku baru merasa tenang. Bagaimana mungkin aku berani
__ADS_1
membiarkanmu melakukan pekerjaan itu lagi?" Memikirkan wajah Pak Julian
sebelumnya, hingga saat ini Pak Kenedy masih merasa takut.
"Tidak berlebihan seperti yang kamu katakan. Aku
yang ketakutan, bukan kamu." Febi merasa lucu.
"Kamu tidak tahu betapa jeleknya wajah Pak Julian
dan betapa gugupnya dia! Tampaknya kalau terlambat sedikit saja, kamu akan
hancur. Saat dia mendengar kamu menangis di atas, dia sudah tidak bisa tenang.
Kalau aku membiarkanmu naik lift lagi, dia pasti akan menyuruhku berkemas dan
pergi."
Febi tertawa pelan.
"Kamu masih tertawa! Ternyata kamu adalah pacar
Pak Julian. Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?" Jika dia tahu Febi
adalah pacar Pak Julian, Pak Kenedy pasti tidak akan berani membiarkannya naik
ke lift.
Febi teringat Julian berkata dia ingin mengakhiri
lajangnya, dia pun tersenyum manis, "Jangan salahkan aku, aku juga baru
tahu."
"Baiklah, hari ini kamu sudah ketakutan, jadi
istirahat saja di hotel. Pak Julian telah mengirim seseorang untuk melanjutkan
pemantauan pekerjaan di ketinggian, mereka akan tiba besok. Jangan khawatir
tentang itu."
"Baiklah. Untuk area lain yang perlu direvisi,
aku akan mengeluarkan gambarnya paling lambat besok pagi."
"Oke, itu kerja keras."
Setelah menutup telepon dengan Pak Kenedy, Febi
mengenakan pakaian kasual, lalu dia duduk di sofa sambil memegang laptop dan menggambar
ulang gambar. Sesekali dia berdiskusi dengan Tasya.
Memikirkan apa yang dikatakan Pak Kenedy tentang
bagaimana Julian gugup dan khawatir tentangnya, Febi merasa menyesal. Terlihat
...
Julian sibuk di lokasi konstruksi sampai jam 9 malam
baru kembali ke hotel.
"Pak Julian, sudah jam 9 lewat, bagaimana kalau
Anda pergi ke restoran untuk makan dulu?" saran Ryan sambil membuka pintu
mobil untuknya.
"Kamu pergi saja, ada hal lain yang harus aku
lakukan." Julian memikirkan seorang wanita bodoh di ruangan itu, jadi dia
langsung menolak sambil berjalan ke lift di lobi hotel dan naik ke atas.
Tentu saja Febi harus menemaninya makan.
Julian langsung pergi ke kamar Febi, lalu dia
mengambil kartu kamar lain dan membuka pintu.
Lampu di ruangan itu menyala terang, seluruh ruangan
terdengar sangat sunyi. Hanya suara napas yang datar dan dangkal yang bisa
terdengar.
Julian mengikuti asal suara dan melihat Febi memeluk
laptop sambil meringkuk di sofa dan tertidur. Di sampingnya ada sebuah lampu
kecil.
Lampu itu sedikit redup, tapi cahaya itu membuat wajah
tidur Febi terlihat lebih lembut.
Di ruangan Febi berada, bahkan suhunya terasa sangat
nyaman.
Kelelahan sepanjang hari dan masuk angin Julian seakan
menghilang dalam sekejap karena kehadiran Febi. Bahkan Febi tidak melakukan
apa-apa sekali pun, hanya napas yang dangkal saja sudah membuat Julian merasa
sangat nyaman dan puas.
Nando rugi karena telah membiarkan Febi pergi.
__ADS_1
Julian mendekat perlahan, lalu menarik laptop dari
tangannya. Bulu matanya bergetar sejenak, tapi Febi tidak bangun. Febi
meletakkan tangannya di bawah pipinya dengan lembut.
Julian langsung menggendong Febi dari sofa dan
membiarkan Febi duduk berhadapan di pangkuannya. Febi bersandar di dadanya dan
membuka matanya dengan malas.
Keduanya saling memandang dan tersenyum satu sama
lain.
Julian mencium Febi dengan penuh gairah dan Febi juga
menanggapi ciuman itu.
Semuanya masih berlangsung ....
Setelah lama berlalu ....
Udara masih penuh nafsu yang menggoda dan ambigu.
Febi berbaring dengan lembut di bahu Julian.
"Lelah?" Julian membelai rambut Febi yang
terurai.
Setelah bermesraan, kulit Febi yang seputih salju
menjadi sedikit memerah, seperti bunga persik yang mekar di musim semi.
"... Yah." Febi meletakkan dagunya di bahu
Julian, lalu mengangguk dan berkata, "Sedikit dingin ...."
Julian memeluknya erat-erat, lalu dia meraih bajunya
dan mengenakannya pada Febi.
Febi menyelipkan tangannya ke dalam lengan baju.
Julian membantunya mengancing satu per satu. Febi yang mengenakan kemeja Julian
yang lebar itu terlihat lebih mungil.
"Jam berapa sekarang?" tanya Febi dengan
linglung.
" Sudah lewat jam sembilan. Mungkin sudah jam
sepuluh."
"Sudah larut malam? Apa kamu sudah makan
malam?" tanya Febi dengan malas.
"Aku hanya memakanmu." Julian mengeluarkan
rambut Febi yang terselip di bajunya.
"..." Febi memukulinya dengan marah, tapi dia juga merasa tertekan, "Sudah selarut ini kamu masih belum makan, apakah kamu tidak takut sakit mag?"
"Awalnya aku ingin memintamu untuk makan
bersamaku, tapi ...." Julian sedikit menyipitkan matanya, "Sepertinya
kamu tidak memiliki tenaga untuk menemaniku ke bawah lagi."
"Panggil layanan kamar." Febi duduk tegak,
"Aku akan mandi, kamu pesanlah makanan, jangan kelaparan lagi."
Julian melingkarkan tangannya di pinggangnya dan
menatapnya dengan tajam, "Pacarmu kelaparan. Bukankah sebagai pacar, kamu harus
bertanggung jawab?"
Jantung Febi berdetak sedikit lebih cepat.
Jadi ....
Sekarang, apakah keduanya sudah menjadi pasangan?
"Aku yang tidak pengertian." Febi
menyetujuinya.
Pipi Febi memerah dan jantungnya berdebar kencang. Dia
terlihat seperti gadis yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya, hingga
hubungan mereka menjadi begitu tegang dan menyenangkan.
Febi tersenyum dan berbisik dengan suara lembut,
"Lain kali, begitu waktunya makan malam, aku akan segera
meneleponmu."
Julian mengangkat alisnya dengan mata berbinar-binar.
Julian menundukkan kepalanya dan mencium bibir Febi dengan
penuh cinta, dia juga tidak lupa untuk memperingatkan, "Kelak saat bersama
__ADS_1
sekelompok pria, jangan katakan kamu tidak punya pacar!"