Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 132 Romantis


__ADS_3

Julian bisa merasakan tatapan Febi padanya, tapi dia


tidak menoleh ke belakang, hanya terus bertanya, "Bagaimana situasi saham


di sana?"


"Sebagian besar saham selain dari Keluarga Dinata


telah dikumpulkan. Namun, Keluarga Dinata, termasuk Nona Febi, memiliki 60%


saham, jadi ...."


Jadi, bahkan jika Julian membeli semua saham selain


Keluarga Dinata, itu hanya 40%. Hal itu tidak akan mengguncang Keluarga Dinata


sama sekali.


Ryan berkata, "Pak Julian, bahkan kalau kita


membeli 10% saham Nona Febi, kita hanya akan memiliki 50%."


"Yah, aku tahu itu." Julian tidak mengatakan


apa-apa lagi. Mendengarkan nadanya yang yakin, Ryan menebak Julian pasti sudah


memiliki rencana, jadi dia langsung menghentikan topik itu, kemudian berkata,


"Semua orang telah pergi, apakah Anda ingin melanjutkan rapat tadi?"


"Hmm, lanjutkan."


Setelah menutup telepon, Julian berbalik dan duduk di


sofa.


Febi melirik wajah Julian yang tampak sedikit lebih


serius dari sebelumnya. Dia menekan jarinya dengan ringan di antara alis


Julian, "Ada yang kamu pikirkan?"


"Hanya masalah pekerjaan." Julian


menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Jari-jari Febi yang lembut dan hangat mendarat di alis


Julian, membuatnya merasa sangat nyaman.


"Orang-orang sistem di lokasi konstruksi sedang


menungguku untuk melanjutkan rapat. Aku harus pergi ke sana sekarang."


"Yah, pergilah, pekerjaan lebih penting."


Febi mengambil mantel Julian yang dilepaskan di sofa dan meletakkannya di


pundak Julian, "Kita sudah membicarakan semua yang perlu kita bicarakan.


Jangan menunda pekerjaan. Ayo, rentangkan tanganmu. Kenakan pakaianmu dulu,


jangan sampai kedinginan lagi."


Suara Febi sangat lembut seperti bulu yang terbang.


Julian memasukkan lengannya ke dalam pakaiannya dengan


patuh. Febi menundukkan kepalanya dan mengancingkannya satu per satu dengan


saksama.


Febi menundukkan kepala hingga rambutnya jatuh ke


dahinya.


Di lihat dari atas, Julian bisa melihat mata Febi yang


penuh kelembutan. Penampilannya itu seperti istri yang baru saja menikah ....


...


Julian pergi rapat, hanya Febi yang tersisa di ruangan


itu. Febi duduk di sofa sambil memeluk dirinya sendiri. Saat Febi teringat


Julian mengatakan dia tidak akan bertunangan, kemudian melihat akta cerai yang


dilemparkan ke lantai, senyum cerah tiba-tiba muncul di wajahnya.


Depresi dan tekanan yang telah menumpuk di hati Febi


untuk waktu lama semuanya lenyap pada saat ini. Sebaliknya, semua itu


tergantikan oleh kebahagiaan.


Febi mengambil akta cerai, lalu memasukkannya ke dalam


tasnya. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Pak Kenedy.


"Kak Kenedy, apakah listrik sudah menyala? Apakah


aku perlu segera pergi untuk mengawasi pekerjaan?" Memang benar Febi


ketakutan, tapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja hanya


karena ketakutan kecil yang dia alami.


"Jangan, aku tidak berani membiarkanmu menyentuh


lift apa pun lagi. Aku baru merasa tenang. Bagaimana mungkin aku berani

__ADS_1


membiarkanmu melakukan pekerjaan itu lagi?" Memikirkan wajah Pak Julian


sebelumnya, hingga saat ini Pak Kenedy masih merasa takut.


"Tidak berlebihan seperti yang kamu katakan. Aku


yang ketakutan, bukan kamu." Febi merasa lucu.


"Kamu tidak tahu betapa jeleknya wajah Pak Julian


dan betapa gugupnya dia! Tampaknya kalau terlambat sedikit saja, kamu akan


hancur. Saat dia mendengar kamu menangis di atas, dia sudah tidak bisa tenang.


Kalau aku membiarkanmu naik lift lagi, dia pasti akan menyuruhku berkemas dan


pergi."


Febi tertawa pelan.


"Kamu masih tertawa! Ternyata kamu adalah pacar


Pak Julian. Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?" Jika dia tahu Febi


adalah pacar Pak Julian, Pak Kenedy pasti tidak akan berani membiarkannya naik


ke lift.


Febi teringat Julian berkata dia ingin mengakhiri


lajangnya, dia pun tersenyum manis, "Jangan salahkan aku, aku juga baru


tahu."


"Baiklah, hari ini kamu sudah ketakutan, jadi


istirahat saja di hotel. Pak Julian telah mengirim seseorang untuk melanjutkan


pemantauan pekerjaan di ketinggian, mereka akan tiba besok. Jangan khawatir


tentang itu."


"Baiklah. Untuk area lain yang perlu direvisi,


aku akan mengeluarkan gambarnya paling lambat besok pagi."


"Oke, itu kerja keras."


Setelah menutup telepon dengan Pak Kenedy, Febi


mengenakan pakaian kasual, lalu dia duduk di sofa sambil memegang laptop dan menggambar


ulang gambar. Sesekali dia berdiskusi dengan Tasya.


Memikirkan apa yang dikatakan Pak Kenedy tentang


bagaimana Julian gugup dan khawatir tentangnya, Febi merasa menyesal. Terlihat


...


Julian sibuk di lokasi konstruksi sampai jam 9 malam


baru kembali ke hotel.


"Pak Julian, sudah jam 9 lewat, bagaimana kalau


Anda pergi ke restoran untuk makan dulu?" saran Ryan sambil membuka pintu


mobil untuknya.


"Kamu pergi saja, ada hal lain yang harus aku


lakukan." Julian memikirkan seorang wanita bodoh di ruangan itu, jadi dia


langsung menolak sambil berjalan ke lift di lobi hotel dan naik ke atas.


Tentu saja Febi harus menemaninya makan.


Julian langsung pergi ke kamar Febi, lalu dia


mengambil kartu kamar lain dan membuka pintu.


Lampu di ruangan itu menyala terang, seluruh ruangan


terdengar sangat sunyi. Hanya suara napas yang datar dan dangkal yang bisa


terdengar.


Julian mengikuti asal suara dan melihat Febi memeluk


laptop sambil meringkuk di sofa dan tertidur. Di sampingnya ada sebuah lampu


kecil.


Lampu itu sedikit redup, tapi cahaya itu membuat wajah


tidur Febi terlihat lebih lembut.


Di ruangan Febi berada, bahkan suhunya terasa sangat


nyaman.


Kelelahan sepanjang hari dan masuk angin Julian seakan


menghilang dalam sekejap karena kehadiran Febi. Bahkan Febi tidak melakukan


apa-apa sekali pun, hanya napas yang dangkal saja sudah membuat Julian merasa


sangat nyaman dan puas.


Nando rugi karena telah membiarkan Febi pergi.

__ADS_1


Julian mendekat perlahan, lalu menarik laptop dari


tangannya. Bulu matanya bergetar sejenak, tapi Febi tidak bangun. Febi


meletakkan tangannya di bawah pipinya dengan lembut.


Julian langsung menggendong Febi dari sofa dan


membiarkan Febi duduk berhadapan di pangkuannya. Febi bersandar di dadanya dan


membuka matanya dengan malas.


Keduanya saling memandang dan tersenyum satu sama


lain.


Julian mencium Febi dengan penuh gairah dan Febi juga


menanggapi ciuman itu.


Semuanya masih berlangsung ....


Setelah lama berlalu ....


Udara masih penuh nafsu yang menggoda dan ambigu.


Febi berbaring dengan lembut di bahu Julian.


"Lelah?" Julian membelai rambut Febi yang


terurai.


Setelah bermesraan, kulit Febi yang seputih salju


menjadi sedikit memerah, seperti bunga persik yang mekar di musim semi.


"... Yah." Febi meletakkan dagunya di bahu


Julian, lalu mengangguk dan berkata, "Sedikit dingin ...."


Julian memeluknya erat-erat, lalu dia meraih bajunya


dan mengenakannya pada Febi.


Febi menyelipkan tangannya ke dalam lengan baju.


Julian membantunya mengancing satu per satu. Febi yang mengenakan kemeja Julian


yang lebar itu terlihat lebih mungil.


"Jam berapa sekarang?" tanya Febi dengan


linglung.


" Sudah lewat jam sembilan. Mungkin sudah jam


sepuluh."


"Sudah larut malam? Apa kamu sudah makan


malam?" tanya Febi dengan malas.


"Aku hanya memakanmu." Julian mengeluarkan


rambut Febi yang terselip di bajunya.


"..." Febi memukulinya dengan marah, tapi dia juga merasa tertekan, "Sudah selarut ini kamu masih belum makan, apakah kamu tidak takut sakit mag?"


"Awalnya aku ingin memintamu untuk makan


bersamaku, tapi ...." Julian sedikit menyipitkan matanya, "Sepertinya


kamu tidak memiliki tenaga untuk menemaniku ke bawah lagi."


"Panggil layanan kamar." Febi duduk tegak,


"Aku akan mandi, kamu pesanlah makanan, jangan kelaparan lagi."


Julian melingkarkan tangannya di pinggangnya dan


menatapnya dengan tajam, "Pacarmu kelaparan. Bukankah sebagai pacar, kamu harus


bertanggung jawab?"


Jantung Febi berdetak sedikit lebih cepat.


Jadi ....


Sekarang, apakah keduanya sudah menjadi pasangan?


"Aku yang tidak pengertian." Febi


menyetujuinya.


Pipi Febi memerah dan jantungnya berdebar kencang. Dia


terlihat seperti gadis yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya, hingga


hubungan mereka menjadi begitu tegang dan menyenangkan.


Febi tersenyum dan berbisik dengan suara lembut,


"Lain kali, begitu waktunya makan malam, aku akan segera


meneleponmu."


Julian mengangkat alisnya dengan mata berbinar-binar.


Julian menundukkan kepalanya dan mencium bibir Febi dengan


penuh cinta, dia juga tidak lupa untuk memperingatkan, "Kelak saat bersama

__ADS_1


sekelompok pria, jangan katakan kamu tidak punya pacar!"


__ADS_2