Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 131 Febi Cemburu


__ADS_3

"Benarkah?"


Meskipun Julian menanyakan pertanyaan ini, dia sudah


memiliki jawaban yang pasti di dalam hatinya. Karena jawaban itu pula yang


membuatnya merasa bahagia.


"Yah, benar ...."


Terlihat jelas penegasan Febi membuat Julian lebih


bersemangat.


Jadi ....


Febi masih miliknya!


Tidak ada yang pernah menyentuhnya!


Julian bukanlah orang pelit, tapi dia tidak pernah


bisa bermurah hati untuk masalah tentang Febi!


Selama beberapa hari terakhir, Julian terus memikirkan


masalah ini. Dia tidak bisa dan juga tidak mungkin berpikiran terbuka. Setelah


sekarang mendengar penjelasan Febi, hatinya akhirnya merasa lega.


"Kenapa berbohong padaku seperti itu?


Menyenangkan?"


Julian menyipitkan matanya. Dia terlihat sedikit


marah, "Apakah kamu tahu apa artinya ini bagi seorang pria?"


Febi menggigit bibirnya dan tidak mengatakan apa-apa.


Julian mendekat, aura bahaya mengalir dari pupil


matanya yang gelap. Bibirnya mendekat dan menggosok bibir Febi dengan ambigu.


Suara Julian sangat rendah hingga membuat seluruh tubuh Febi menjadi lemas,


"Kenapa kamu tidak berbicara?"


Febi terengah-engah karena Julian. Setelah Febi


mencoba menenangkan dirinya, dia baru bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa


yang terjadi antara kamu dan dia ....?"


Suara Febi terdengar kesal.


Terlihat jelas Febi merasa sangat tertekan.


Julian tidak mengerti sama sekali. Julian mengulurkan


tangannya, lalu memeluk Febi erat-erat dan menatapnya, "Aku? Aku dan


siapa?"


"... Lupakan saja." Febi tiba-tiba merasa


malu.


Pertanyaannya terlalu tidak masuk akal.


Febi menurunkan lengan Julian, lalu melangkah keluar


dari pelukannya dan berjalan ke kamar.


Ada sedikit kesuraman dalam ekspresi Febi yang membuat


Julian bingung.


Begitu dia masuk, Julian juga mengikuti. Julian menutup


pintu, lalu menarik Febi kembali, "Apa maksud perkataanmu tadi? Siapa yang


kamu maksud dengan dia?"


Febi teringat koran hari itu, teringat pelukan antara


dia dan Valentia, hingga dadanya merasa tidak nyaman.


Semua wanita sangat berpikiran sempit dalam hal


perasaan. Selain itu, Febi bukanlah orang yang murah hati.


"Bukankah kamu akan bertunangan dengan Nona


Valentia? Aku membaca koran." Febi menatap Julian, berusaha keras untuk


membuat nada suaranya sedikit lebih santai, tapi ....


Sebenarnya, Febi sama sekali tidak bisa melakukannya.


Jadi ....


Akhirnya Febi tidak berpura-pura lagi. Dia menatap


Julian dengan tatapan sedih, "Pada malam kamu difoto. Setelah kamu


meninggalkanku, kamu bersamanya. Apakah kalian telah ... berhubungan?"


Febi bertanya dengan terus terang.


Sudah sejak lama Febi ingin tahu jawabannya. Namun


pada saat ini, ketika dia akan mendengar jawabannya, hatinya bergetar.


Dia merasa sedih.


Tanpa dipikirkan pun, Febi tahu jika jawabannya benar,


maka itu akan menjadi pukulan besar bagi dirinya sendiri.


"Valentia dan aku?" Julian memandang Febi


dengan sedikit tak berdaya, tapi juga menatapnya dengan tatapan lucu,


"Menurutmu, aku orang yang sembarangan seperti itu? Aku akan bertunangan


dengan wanita mana saja? Atau berhubungan dengan wanita mana saja?"


Febi menatap Julian lekat-lekat, dengan sedikit


ketidakpastian di matanya.


Jadi ....


Maksud Julian adalah ....


"Siapa yang mengatakan hal ini?"


Febi menggelengkan kepalanya.


Julian menjadi lebih tidak berdaya, "Koran?"


"... Hmm."


Ekspresinya yang terpuruk dan sedih terlihat jelas


oleh Julian. Dia seharusnya tidak merasa senang setelah Febi salah paham


padanya begitu lama, tapi ....


Melihat penampilan Febi yang cemburu, suasana hati


Julian membaik sedikit demi sedikit.


Hanya saja ....


Wanita bodoh ini bisa menahan cemburu begitu lama?


"Karena kamu sangat peduli, kenapa kamu tidak


datang bertanya langsung tentang situasinya? Tapi malah menyimpan hal-hal ini


di hatimu begitu lama?"


"Aku bertanya padamu sekarang, apakah kamu ingin


menjelaskan padaku?"


Julian menatapnya, "Pertama, Valentia dan aku


tidak mungkin bertunangan."


Kata-kata Julian sangat singkat. Namun, itu sangat


kuat. Tidak perlu ditekankan pun, Febi sudah memercayainya.


Kabut di hati Febi sedikit mereda.

__ADS_1


"Kedua, aku tidak mungkin tidur dengannya. Kamu


ingat ini dengan jelas. Alasan kenapa aku tinggal bersamanya malam itu adalah


karena nenek sedang tidak sehat, jadi dia meneleponku untuk pergi ke


sana."


Febi tersenyum cerah. Perasaan ini seperti hati yang


terbang tertiup angin.


Namun, mata Julian menjadi serius dan tegas, "Aku


tidak akan menyentuhnya. Sebelumnya tidak pernah, kelak aku juga tidak akan


melakukannya. Sementara kamu ... tidak diizinkan untuk membiarkan lelaki lain


menyentuhmu, mengerti?"


Senyum Febi semakin melebar. Dia benar-benar menyukai


sifat Julian yang sangat mendominasi.


"Hmm?" Melihat Febi tidak menjawab, Julian


mengkonfirmasi lagi.


Febi tiba-tiba melingkarkan lengannya di leher Julian.


Dia menahan senyumnya dan menatap Julian dengan serius, "Kalau kamu tidak


bertunangan dengan Valentia, apakah itu berarti kamu masih lajang


sekarang?"


Artinya ....


Febi tidak akan menjadi selingkuhan, jadi dia


bersamanya tanpa perlu memikirkan apa pun?


Julian menatap mata Febi, dia tidak dapat menebak apa


maksud pertanyaan Febi. Julian melingkarkan lengannya di pinggang Febi dan


memeluknya erat-erat, "Aku lajang, tapi sekarang aku ingin memiliki


pacar."


Setelah jeda, Julian mengulangi dengan tegas,


"Aku benar-benar ingin."


Petunjuk dalam kata-kata Julian benar-benar terlihat


jelas.


Jantung Febi berdetak kencang dan terasa hangat,


"Aku berjanji, kelak tidak akan ada lelaki yang menyentuhku lagi."


Julian mengangkat alisnya. Dia menyukai janji yang


dibuat Febi, tapi dia tidak lupa untuk memperjuangkan haknya sendiri,


"Selain aku."


Febi tersenyum, "Ada hal lain yang ingin


kukatakan padamu."


Hati bergetar.


"Oke, katakanlah," jawab Julian sambil


memainkan ujung rambut Febi dengan santai.


Julian merasa suasana hatinya sangat baik hari ini.


Perasaan salah paham yang terpecahkan seperti belenggu berat yang selama ini


menekan di hatinya telah dilepas hingga dia merasa senang dan rileks.


"Kalau begitu biarkan aku pergi dulu, aku ingin


menunjukkan sesuatu padamu."


Julian mengendurkan pinggang Febi. Febi berbalik dan


duduk di sofa. Dia mengambil tasnya dan mengeluarkan buku catatan kecil dari


"Lihatlah."


Julian mengangkat alisnya dan mengambil buku itu


dengan curiga.


Febi berdiri tepat di depan Julian dengan jantung yang


berdebar kencang. Dia menunggu reaksi Julian.


Mata Julian berhenti sejenak pada dua kata "Surat


Cerai". Julian mendongakkan kepalanya, seolah bertanya apakah Febi serius.


Febi tersenyum dan mengangguk untuk mengiyakan.


Mata Julian menjadi gelap, keterkejutan dan


kegembiraan menyatu di bagian bawah matanya.


Julian memegang kartu itu dengan erat. Kemudian, dia


maju selangkah dan menarik Febi langsung ke pelukannya dengan satu tangan.


Sebelum Febi kembali ke akal sehatnya, ciuman Julian sudah mendarat di


bibirnya. Ciuman itu sangat tergesa-gesa dan kuat, seolah-olah Julian ingin


menghisap wanita yang kembali lajang itu ke dalam tubuhnya.


Kali ini, Julian mencium dengan begitu kuat sehingga


bibir Febi terasa sedikit sakit. Namun, dia merasa sangat bahagia ... sangat


bahagia ....


Febi tidak melakukan perlawanan sama sekali, melainkan


dia mencengkram leher Julian, berjinjit dan menanggapi ciumannya dengan


antusias.


Tindakan Febi membuat Julian semakin tergesa-gesa.


Surat cerai di tangannya terlempar ke lantai. Julian membungkuk, dia menekan


Febi duduk ke sofa.


Febi bersandar di sofa dan duduk. Pipinya memerah oleh


ciumannya. Karena Julian merasa bahagia, Febi juga senang. Senyum di mata Febi


membuat Julian luluh.


Tubuhnya yang tinggi dan lurus menyelimutinya menekan


di atas Febi. Matanya terlihat gelap dan ada perasaan kuat yang tidak dapat


menghilang, "Kapan kamu bercerai?"


Suara Julian pelan dan lembut.


Seperti bulu yang perlahan menggeletik hati Febi,


membuat hati dan tubuhnya menjadi lemas.


"Dua hari sebelumnya." Suara Febi juga sangat


lembut.


"Kamu sengaja tidak memberitahuku?"


Febi tidak akan tahu penyiksaan macam apa yang Julian


rasakan dari identitasnya sebagai "Nyonya Muda Dinata".


Meskipun dia tidak peduli, dia berharap Febi tidak ada


kekhawatiran.


"Yah ..." Febi mengangguk dengan senyum


nakal di matanya. Febi meniru penampilan Julian dengan menjentikkan jarinya di


dahi Julian, "Kamu yang membuatku marah dulu."

__ADS_1


Julian meraih tangan Febi yang nakal dan menggigit


bibirnya, tapi Julian tidak mengerahkan kekuatan apa pun, karena takut gigitan


itu akan menyakiti Febi.


"Siapa yang membuat siapa yang marah duluan? Hah?


Siapa yang bersikeras untuk kembali ke Kediaman Keluarga Dinata?" Julian


teringat dengan masa lalu, teringat dengan keraguan Febi hingga memilih untuk


mundur, Julian masih sedikit tertekan karena hal ini.


"Aku tidak sengaja." Meskipun Julian


mengeluhkan masalah lama, Febi masih merasa sangat bahagia.


Tangan Febi berada di telapak tangan Julian dan terasa


hangat. Jari-jari Febi yang ramping menggaruk telapak tangannya sejenak dan


berkata dengan sedikit sedih, "Aku terlalu bodoh dan tertipu, itu sebabnya


aku tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu padamu."


"Apa yang telah terjadi?"


Julian tidak bisa mengerti kata-katanya. Tertipu?


Febi mengangguk, "Hari itu, ketika aku dan Nando


pergi ke Pengadilan Agama, dia menyesalinya. Lalu ... setelah dia mengatakan


sesuatu, aku hanya bisa mengikutinya kembali ke Kediaman Keluarga Dinata."


"Apa?"


"Dia menunjukkan sesuatu kepadaku, itu adalah


data tidak bersih hotelmu."


Julian mengerutkan kening, kemudian dia tiba-tiba


mengerti, "Dia mengancammu dengan hal semacam ini?"


"..." Febi terus mengangguk.


Julian menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya,


"Kamu tidak bodoh, kenapa kamu tidak berpikir dia tidak akan bisa


mendapatkan data ini?"


"Aku melihat polisi datang, jadi aku merasa


sedikit bingung. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


Mendengarkan penjelasannya, Julian hanya merasakan


arus hangat yang menjalar ke hatinya.


Jadi, selama ini mereka saling menyiksa hanya karena


mereka tidak menanyakan apa yang terjadi pada satu sama lain ....


"Dasar bodoh! Kelemahanku tidak begitu mudah


diketahui. Kelak, tanyakan padaku tentang hal semacam ini dulu, mengerti?"


"Aku mengerti. Lain kali, aku tidak akan mudah


tertipu lagi." Seolah-olah Febi telah benar-benar mengambil keputusan, dia


menambahkan, "Aku berjanji."


Julian mengangguk puas dan menatapnya. Saat ini, Febi


terlihat sangat imut dan sangat menawan.


Saat ini ....


Julian tidak hanya ingin menciumnya, tapi dia juga


menginginkannya ....


Sangat-sangat menginginkannya ....


Melihat melalui nafsu yang membara di mata Julian,


Febi merasa tenggorokannya menjadi kering. Mengetahui apa yang dia pikirkan,


hatinya menjadi gelisah, tapi dia tidak mundur.


Julian mengangkat wajah Febi, lalu dia membungkuk


untuk menciumnya.


Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia


mengerutkan kening, menatap Febi dengan kesal. Febi tertawa dan mendorongnya,


"Pergi dan jawab teleponnya. Mungkin ada masalah di lokasi


konstruksi."


Terlihat sedikit perasaan berbahagia atas penderitaan


Julian di dalam senyum Febi. Julian menggigit wajah Febi dengan sedikit tak


berdaya, "Beri kamu kesempatan untuk beristirahat. Saat malam, tunggu aku


di kamar. Hmm?"


Pipinya dan pangkal telinganya terasa panas.


Kata-kata ini adalah undangan. Bulu mata Febi


bergetar, lalu dia mengangguk dan menjawab dengan lembut, "... Oke."


Penampilan Febi yang lembut dan pemalu membuat Julian


hampir tak bisa mengendalikan dirinya. Febi pasti tidak pernah tahu betapa


menariknya dia saat ini.


Namun, nada dering itu terus mengganggunya, sehingga


dia mau tak mau mengeluarkan ponselnya.


Benar saja, itu adalah panggilan dari Ryan.


Julian mengerutkan kening.


Ryan adalah orang yang cerdas, jika tidak ada masalah


yang sangat penting, saat-saat seperti ini dia tidak mungkin untuk menelepon.


Julian menempatkan ponsel ke telinganya. Dia masih


mempertahankan postur awalnya sambil memeluk Febi.


"Ada masalah penting?"


"Ya." Ryan berkata di sana, suaranya sengaja


diturunkan dan dia tampak sangat berhati-hati, "Ini tentang dewan direksi


Perusahaan Dinata."


Julian menundukkan kepalanya menatap mata Febi. Dia


membelai pipinya, kemudian melepaskannya dengan wajah datar. Julian berdiri


tegak dan berkata, "Yah, katakan."


"Kegagalan investasi Nando baru-baru ini telah


dibocorkan pada pertemuan sesuai dengan instruksi Anda, jadi dewan direksi


menolaknya."


"Ya." Julian masih menjawab dengan singkat.


Febi bersandar di sofa sambil menatap punggung Julian.


Dia tidak bisa mendengar apa yang Julian bicarakan, tapi dia bisa melihat


pentingnya masalah ini dari ekspresinya. Febi tidak memikirkannya sama sekali,


dia hanya duduk di sana sambil menatap Julian dengan linglung.


Pria ini ....


Sangat hebat dan berkedudukan tinggi.


Dia bahkan akan muncul dalam hidup Febi dan terikat

__ADS_1


satu sama lain dengan erat ....


Menakjubkan sekali!


__ADS_2