Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 49 Terima Kasih Suamiku Sudah Merestui


__ADS_3

Febi tertegun sejenak, tangannya menggenggam pegangan tangga dan


tiba-tiba dia mengencangkan jari-jarinya.


"Kenapa? Takut?" Saat Nando melihatnya berhenti, dia tertawa


dengan puas, "Kalau kamu tidak ingin bercerai, sekarang kamu berlutut dan


memohon padaku. Aku mungkin masih bisa memaafkanmu."


Berlutut dan memohon padanya? Febi tersenyum, dia menghela napas karena


dirinya yang dulu benar-benar sudah gila bisa jatuh cinta pada pria ini. Dia


juga sudah gila bisa membiarkan dia terus-menerus menyakiti hatinya selama dua


tahun.


Febi berbalik, lalu menurunkan pandangannya untuk menatap Nando dengan


tenang dan acuh tak acuh.


"Oke, kita bercerai sesuai dengan keinginanku." Kemudian, Febi


tersenyum lembut dan bahkan nada suaranya menjadi sangat melembut, "Terima


kasih suamiku karena bersedia merestui hubungan kami."


Wajah Nando menjadi pucat pasi karena marah, pikirannya menjadi kosong.


Wanita yang bersumpah tidak akan pernah bercerai sebelumnya, setelah


berhubungan dengan Julian, dia berubah pikiran dengan cepat?


Sialan!


Apakah wanita bisa dengan cepat mengubah hatinya?


"Febi, berhenti!" Setelah Nando tersadar dari lamunannya, Febi

__ADS_1


sudah naik ke lantai atas. Nando berlari untuk mengejarnya, lalu mengulurkan


tangan dan meraih lengannya.


Hati Febi sudah hancur berkeping-keping, dia menoleh untuk menatap Nando


dengan sinis, "Kenapa? Apakah kamu menyesalinya? Kamu menyadari aku lebih


lucu dibandingkan dengan cinta pertamamu, jadi tidak ingin bercerai


denganku?"


Serangkaian pertanyaannya langsung memotong penyesalan Nando, hingga


membuatnya tercengang.


Betul ....


Tepat ketika Febi berkata ingin bercerai, Nando malah tidak ingin


bercerai dengannya. Dia tidak ingin melepaskan Febi dengan begitu saja.


dibandingkan dengan Vonny? Febi, mimpi saja kamu! Di mataku, kamu bahkan tidak


pantas dibandingkan dengannya!"


Bulu mata Febi berkedip pelan, dia menahan air mata agar tidak mengalir


keluar dari matanya.


Febi mendengar Nando melanjutkan kata-katanya, "Aku tetap akan


bercerai denganmu! Aku tidak mau dengan wanita bekas orang lain!"


Wanita bekas ....


Kata-kata tajam itu membuat tubuh Febi yang ramping bergemetar hebat.


Dia hampir tidak bisa berdiri tegak.

__ADS_1


"Sembarangan! Kalian mau bercerai, apa sudah menanyakan pendapatku,


apa aku setuju?" Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari aula yang


terdengar menakutkan.


Dua orang yang bertengkar itu melihat ke arah asal suara dan mereka


melihat Samuel berdiri di lantai bawah dengan wajah tegas, dia menatap mereka


dengan dingin dan memerintahkan, "Turun!"


Di kedua sisi Samuel berdiri Bella dan Usha. Terlihat jelas, Bella juga


mendengarkan kata-kata terakhir Nando, "Nando, apa maksudmu wanita bekas


pria lain? Dia berselingkuh?"


Usha juga membelalakkan matanya, "Febi, tadi malam kamu tidak


pulang, ternyata kamu berhubungan dengan pria lain?"


Febi tidak mengatakan sepatah kata pun, dia menarik napas dalam-dalam


dan menahan emosinya. Kemudian, dia menghindari Nando dan berjalan ke bawah


dengan acuh tak acuh.


Febi merasa sangat lelah, semacam kelelahan yang keluar dari lubuk


hatinya ....


Dia tidak memiliki tenaga untuk membela diri lagi ....


Bella kesal dengan sikapnya, jadi dia memarahi, "Febi, kamu wanita


yang tidak tahu malu, kamu ...."


"Tutup mulutmu!" Samuel mendengus dingin, membuat Bella

__ADS_1


tiba-tiba menarik kembali kata-kata kutukan berikutnya.


__ADS_2