
Bab
3 Orang Gila Tidak Dikenal
"Sudah,
kalian tidak perlu mengikutiku lagi." Saat mendekati kamarnya, dia pun
berhenti. Dia berbalik dengan satu tangan di sakunya, lalu melirik kerumunan
dan berkata, "Kembalilah."
Semua
orang langsung mundur. Pemuda itu mendorong pintu berat itu lalu berjalan masuk
dengan perlahan. Dia tidak segera menyalakan lampu, dia hanya melepas arlojinya
dengan anggun, kemudian melonggarkan dasinya dan berjalan ke kamar mandi.
Setelah
beberapa saat, sosok yang tinggi itu berjalan keluar dari kamar mandi dengan
perlahan. Udara dipenuhi dengan aroma wangi setelah mandi. Dia berbaring di
tempat tidur untuk beristirahat, tapi dia malah menindih tubuh yang lembut
hingga membuatnya mengernyitkan alisnya.
Seorang
wanita. Dia adalah seorang wanita yang ramping!
Setelah
membuat penilaian yang akurat, dia mengulurkan tangan dan menyalakan lampu
tidur di atas ranjang. Mata gelapnya melirik wanita di ranjang dengan acuh tak
acuh. Kulit wanita itu putih bersih bagaikan kristal bening. Karena efek
alkohol, saat ini kulit wanita itu berwarna pink pucat yang terlihat segar dan
menarik hati. Wajah kecil seukuran telapak tangan bukanlah yang tercantik, tapi
terlihat sangat halus.
Dia
mengangkat dagu halus wanita itu ke atas dengan jari yang rampingnya, lalu
menundukkan kepala untuk menatapnya, "Siapa kamu?"
"Jangan
ganggu aku ...." Saat suara itu mengganggu tidurnya, Febi langsung menepis
tangan itu dengan tidak sabar, tetapi pemuda itu terlalu kuat hingga febi tidak
bisa melepaskannya meski sudah menepisnya dua kali. Kemudian, Febi baru membuka
matanya dan berusaha keras untuk fokus pada wajah tampan di depannya. Tidak
tahu apakah Febi telah melihatnya dengan jelas, dia tertawa bodoh dan tiba-tiba
duduk, kemudian dia merentangkan kedua tangannya dan memeluk lelaki itu.
Lelaki
bertubuh tinggi itu langsung membeku dan terlintas aura bahaya di dalam mata
gelapnya itu. Jelas-jelas Febi telah mabuk, tetapi yang tersisa di tubuhnya
adalah aroma anggur merah lembut yang bukan hanya tidak membuat orang merasa
jijik, tetapi wangi itu malah sangat harum.
__ADS_1
"Apakah
kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Pemuda itu memainkan ujung rambut Febi,
lalu menarik wajah kecil Febi ke lehernya. Dalam posisi seperti itu, suaranya
terdengar serak dan sangat seksi.
"Yah
...." Febi mengangguk sambil tersenyum puas, lalu tiba-tiba mencium bibir
pemuda itu. Bibir lembut Febi membuat pemuda itu tertegun sejenak. Kemudian,
dia dengan jelas mendengar gumaman Febi, "Kamu adalah suamiku ...."
Orang
gila!
Pemuda
itu mencoba melepaskan Febi sambil mengernyit, tapi Febi memeluknya dengan erat
bagaikan sebuah gurita yang melilitnya, tangan ramping Febi langsung
merangkulnya seakan takut pemuda itu akan melarikan diri. Febi memeluknya
dengan sangat erat.
Dia
dipeluk hingga menarik napas panjang, terlintas emosi yang tidak tertahankan
dari sorot matanya. Kemudian, mata Febi terlihat memerah sambil memelototinya
dengan sedih dan menderita.
"Kenapa
kamu melakukan ini padaku? Kenapa kamu selalu menjauhiku seperti ini? Apa
bertubi-tubi, seolah-olah Febi sedang melampiaskan kesedihan di hatinya. Dia
menangis hingga terisak-isak.
Wanita
ini!
Apa
yang ingin dia lakukan dengan memperlihatkan ekspresi seorang wanita yang tidak
mendapatkan kasih sayang?
Bab
4 Apakah Dia Nando Dinata?
Masalah
berlalu seperti itu.
...
Kepala
Febi terasa sangat sakit dan sekujur tubuhnya juga sangat pegal.
Terdengar
suara gemericik air di telinga Febi.
Febi
membuka matanya dengan perlahan, lalu melihat lampu kristal yang mewah.
__ADS_1
Dia
terlihat kebingungan ....
Kemudian,
dia menutup kembali matanya dengan lelah.
Gambar-gambar
berantakan seperti film-film yang terputus mulai terbayang di benaknya.
Tiba-tiba
Febi teringat sesuatu, wajahnya langsung menjadi pucat, lalu dia duduk dengan
ekspresi kaget.
Selimut
sutra terjatuh dan memperlihatkan piyama yang berantakan, hingga membuatnya
terkejut dan bingung.
'Kenapa
aku bisa datang ke sini? Ke ... kenapa aku bisa menggunakan piyama? Selain itu,
masih sangat berantakan ... seperti telah melakukan hubungan intim,' batin Febi.
Tidak!
Tidak! Sekarang bukan ini yang terpenting! Hal yang terpenting adalah ...
apakah lelaki di kamar mandi adalah Nando Dinata?
Pikiran
Febi sangat kacau, dia tidak berani memikirkan apa yang terjadi tadi malam.
Saat ini, pintu kamar mandi ditarik dari dalam.
"Sudah
bangun?" Seperti sapaan biasa, lelaki itu berjalan keluar dari kamar mandi
dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya.
Dibandingkan
dengan ekspresi ketakutan Febi setelah melihat wajah tampan itu. Lelaki itu
malah terlihat tenang. Dia memakai arloji dengan santai sambil memandang
pemandangan di jendela. Tatapan matanya terlihat dingin, tapi emosi dari sorot
matanya itu seperti lapisan asap tipis yang membuatnya terlihat sangat
misterius.
"Siapa
... siapa kamu?" tanya Febi tergagap-gagap, dia merasa putus asa seakan
telah terperangkap di dalam gudang es.
Lelaki
itu bukan Nando ... bukan suaminya! Jadi, tadi malam ... dia berselingkuh? Dua
tahun dia menjadi Nyonya Dinata yang baik, setelah minum ternyata dia melakukan
kesalahan ....
Lelaki
itu berbalik dengan perlahan, matanya yang gelap itu memperhatikan Febi
__ADS_1
sehingga dia bisa melihat dengan jelas rasa sakit, bersalah dan kegelisahan di
mata Febi.