Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 106 Dia Adalah Penyelamatnya


__ADS_3

Namun, detik berikutnya, terlintas kekejaman dan ketegasan di matanya,


"Bahkan kalau kamu membenciku, aku akan menjadikanmu wanitaku! Febi, mulai


hari ini dan seterusnya, kamu adalah milikku!"


Saat Nando mengatakannya, dia seakan dirasuki oleh iblis. Dia


menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, hingga membuat Febi menangis,


"Nando, berhenti ... jangan sentuh aku...."


Air mata yang terjatuh membuat mata Nando menegang, ada rasa sakit yang


luar biasa berkedip di dalam matanya.


Namun....


Ketika Nando berpikir Febi juga berada di bawah tubuh pria lain dengan


penampilan seperti ini, kecemburuan di hatinya tumbuh dengan gila.


Nando tidak boleh melepaskannya!


Tidak boleh!


Begitu Nando melepaskannya, wanita ini ... benar-benar tidak akan pernah


menjadi miliknya lagi....


"Aku tidak bisa berhenti! Aku menginginkanmu!" Suaranya yang


kasar dipenuhi dengan depresi dan rasa sakit yang dalam. Bahkan Nando sendiri


juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dulu, seberapa ingin dia


menyingkirkan wanita ini, maka sekarang seberapa kuat pula keinginannya untuk


mendapatkan dan tidak ingin melepaskannya.


Nando jelas mengetahui dirinya dan Febi sudah tidak memiliki masa depan


lagi. Melepaskan mungkin menjadi pilihan terbaik bagi mereka sekarang. Namun,


Nando tidak mampu membohongi perasaannya....


Nando mencium air mata di wajah Febi dengan obsesif dan bergumam dengan


mabuk, "Febi, aku telah diracuni olehmu. Aku mencintaimu ... bagaimana aku


bisa melepaskanmu?"


Cinta?


"Aku tidak butuh cintamu! Aku hanya membencimu! Aku benci


kamu!"


Jika cinta Nando selalu memberikan luka padanya, maka....


Febi tidak mampu menerimanya!


Namun....


Nando seakan kerasukan. Dia tidak bisa berpikir jernih, seakan ada iblis


yang hidup di dadanya dan terus-menerus berteriak dia menginginkan Febi! ingin


dia!


Sambil terengah-engah, Nando menarik ritsleting pakaiannya.


"Ah.... Jangan!" Febi benar-benar ketakutan. Dia menjerit dan


sekujur tubuhnya bergemetar.


Gelombang keputusasaan yang dingin terus naik ke tubuh Febi. Febi sudah


tidak dapat menahan air mata.


"Selamatkan aku...." Julian....


Tangisan menyedihkan disertai isakan minta tolong keluar dari mulutnya.


Febi bagaikan binatang kecil yang terluka, dia berteriak secara acak,


"Julian ... selamatkan aku ..."


Dia tidak mau memberikan pertama kalinya kepada Nando! tidak mau!


Febi yang memanggil nama Julian membuat mata Nando tiba-tiba terbelalak.


Seketika, matanya tiba-tiba memerah.


"Febi, bahkan hari ini kamu membunuhku pun, aku tidak akan


melepaskanmu! Julian juga tidak bisa menyelamatkanmu!" Nando menggertakkan


giginya dan tindakannya menarik pakaian Febi menjadi lebih kasar.


Febi mencoba mengencangkan tubuhnya, tapi di hadapan iblis yang marah,


dia sama sekali tidak bisa melawannya.


Saat berikutnya, Febi mendengar suara "srek", kain tebal telah


terobek. Febi tampak memalukan, tertekan dan pakaiannya compang-camping. Dia


sangat malu sehingga terseduh-seduh dan air matanya semakin deras.


Pada saat ini....


Dalam benaknya, hanya ada bayangan tinggi yang mondar-mandir.


Julian....


Julian....


Jika kali ini, dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Maka, tidak ada


kemungkinan lagi antara Febi dan Julian....


Hati Febi terasa sakit bagaikan ikan yang terpisah dari air. Dia membuka


bibirnya dan tiba-tiba menggigit bahu Nando. Kekuatannya sangat berat, seolah


ingin melampiaskan segala keluh kesah di hati dan tubuhnya.


Nando mengerang kesakitan, tapi dia tidak melepaskannya. Dia hanya


menatap mata Febi dengan erat, "Febi, gigit aku kalau kamu membenciku.


Tapi bahkan kamu menggigitku sampai mati pun, aku tidak akan


melepaskanmu!"


Febi menggigit dan tidak bisa melepaskannya, air mata mengalir dengan


deras...


Telapak tangan besar Nando menjulur ke belakang Febi, mencoba untuk


melepaskan pakaian dalamnya. Febi menangis dan sekujur tubuhnya bergemetar.


Seakan ada luka yang muncul di kulit yang sedingin es.


Tepat ketika dia tenggelam di dalam keputusasaan dan kepanikan....


Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan.


Detik berikutnya, Nando diangkat dan dilempar ke belakang.


Melalui mata yang berlinang air mata, tubuh yang tinggi dan besar itu


terlihat olehnya.


"Julian ..." panggil Febi tanpa sadar dan segera melompat dari


sofa.


Julian menarik Febi ke dalam pelukannya dengan satu tangan, memberinya


dukungan yang paling dapat diandalkan.


Sampai sekarang, Julian masih bisa merasakan seluruh tubuh Febi yang


bergemetar. Julian bahkan tidak berani membayangkan apa konsekuensinya kalau


dia terlambat satu langkah!


Julian menatap Nando dengan dingin, tubuhnya memancarkan permusuhan dan


ketegasan yang menyeramkan.


Julian melepas pakaiannya dan mengenakan di tubuh Febi. Setiap jarinya


yang kaku menunjukkan kemarahannya saat ini.


Air mata Febi tiba-tiba mengalir ke leher Julian.


Berada di dalam pelukan Julian, kepanikan, ketakutan dan keputusasaan


Febi berangsur-angsur memudar, digantikan oleh ketenangan yang tak


terlukiskan....


Selama ada Julian, seolah-olah seberapa kacau pun situasi yang Febi alami,


Julian akan dengan mudah menyelesaikannya. Kesedihan Febi semua hilang karena


Julian.


"Patuhlah, pergi dan duduk di samping, aku tidak ingin


menyakitimu." Mata yang memelototi Nando sangat tajam, tetapi ketika

__ADS_1


Julian berbicara dengan Febi, nadanya sangat lembut. Seolah khawatir akan


membuat Febi ketakutan.


Pikiran Febi kacau, jadi dia hanya bisa mengikuti instruksi Julian, dia


dengan patuh berjalan ke sofa di sampingnya dan duduk.


...


Sial!


Mereka terlihat sangat dekat!


Di depan Julian, Febi berperilaku sangat patuh seperti kelinci kecil


yang jinak. Febi tidak terlihat seperti saat berhadapan dengan Nando yang


seakan ada duri di sekujur tubuhnya.


Adegan ini berhasil memprovokasi Nando.


Tinjunya mengepal dan matanya merah, "Julian, aku sudah lama ingin memberimu


pelajaran!"


"Aku juga!" Julian tidak berbicara omong kosong, dia bahkan


tidak peduli dengan cedera di punggungnya. Dia melayangkan tinjunya yang


sekeras besi ke arah Nando.


Pukulan itu kejam, akurat dan cepat. Nando tidak mengelak, dia menerima


pukulan itu dengan kuat hingga darah langsung mengalir dari lubang hidungnya.


Darah merah gelap, mengalir di wajah tampan yang marah itu hingga


terlihat menakutkan. Nando bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menyekanya,


dia juga melayangkan tinjunya.


Julian melayangkan tendangan dengan indah, Nando menghindar dan dia


menyerang Julian bagaikan seekor binatang buas.


Kedua pria itu mulai bergulat.


Tidak ada yang mau kalah!


Dengan cepat....


Hidung Nando membiru dan wajahnya bengkak, mimisannya juga semakin


banyak.


Julian tidak lebih baik darinya, luka di tubuhnya terbuka dan darah


merembes dari bajunya hingga terlihat menakutkan.


Febi kembali sadar. Saat dia melihat darah di lantai, dia terkejut dan


segera bangkit.


Nando mengepalkan tinju ke arah Julian lagi. Febi bergegas mendekat dan


dia berdiri di depan Julian tanpa ragu-ragu.


Tinju tidak bisa ditarik kembali lagi dan akan mendarat di wajahnya.


Pada saat itu, wajah Julian dan Nando menjadi serius.


Detik berikutnya, tubuhnya sudah ditarik oleh Julian dan mundur dua


langkah.


Tatapan matanya sangat jelas menyalahkan diri sendiri.


"Wanita bodoh, apa yang kamu lakukan?" Nando juga ketakutan.


Untungnya, dia menghindar dengan cepat. Dia melayangkan tinju itu dengan keras.


Jika mengenai wajah Febi, bahkan mungkin menghancurkan pangkal hidungnya.


"Jangan melukai dirimu sendiri, berdiri di samping!" Julian


juga berbicara pada saat bersamaan. Dia juga tak lupa merapikan mantel di tubuh


Febi.


Dua pria dengan tingkat dominasi yang berbeda.


Akan tetapi....


Febi menolak untuk menjauh.


"Nando, Pergi! Menghilang dari sini, seumur hidup jangan muncul


lagi di sini!" ucap Febi sambil menggertakkan giginya.


suaranya masih bergetar.


Tatapan mata yang tegas itu, membuat Nando sedih.


Setelah berkelahi dengan Julian barusan, dia sudah lebih sadar dari


pengaruh alkohol. Saat ini, segala macam emosi rumit melonjak di hatinya.


Ada keengganan, penyesalan dan kemarahan....


Nando menatapnya dengan mata yang rumit, seolah mencoba menjelaskan,


"Febi, aku...."


"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa, aku tidak ingin mendengar apa


pun lagi darimu!" sela Febi. Mengingat betapa terhina dan malunya dia


barusan, Febi tidak bisa menahan air matanya dan suaranya menjadi serak,


"Jangan muncul di hadapanku lagi, seumur hidup ... aku tidak akan pernah


memaafkanmu lagi!"


Nando terkejut.


Febi terus menggertakkan giginya, "Tidak akan pernah!"


...


Alhasil....


Pintu dibanting hingga tertutup.


Pintu yang tebal mengisolasi Nando dari Febi dan Julian di dua dunia


yang berbeda.


Nando bersandar di pintu, seperti ayam jago yang kalah.


Dia merasa sedih dan tertekan....


Saat Nando memikirkan dua orang di balik pintu, kecemburuan dan rasa


sakit bercampur di dadanya. Perasaan itu terus-menerus menyiksanya....


Bahkan dia tidak merasakan sakit pada luka di wajah dan tubuhnya.


Wanita itu, jelas-jelas Nando masih memiliki akta nikah dengannya.


Jelas-jelas Febi tidur di sisinya selama dua tahun. Kenapa mereka berdua bisa


sampai dalam titik seperti ini?


Rasa sakit di dada Nando membuatnya sulit bernapas. Dia bersandar di


pintu dan membenamkan wajahnya di telapak tangannya dengan putus asa.


...


Begitu Nando keluar, seluruh ruangan menjadi sunyi.


Febi masih dalam keadaan memalukan. Rambutnya acak-acakan dan ujung


rambutnya yang basah oleh air mata menempel di wajahnya.


Dia menatap Julian dengan air mata di matanya, lalu mengangkat tangannya


untuk mengeringkan air matanya dan berkata, "Tunggu aku, aku akan segera


menemanimu ke rumah sakit."


Febi baru berbalik, Julian telah mengulurkan tangan dan meraih


pergelangan tangannya. Febi berbalik untuk menatapnya, dia melihat kelembutan


dan belas kasihan yang tidak disembunyikan di mata Julian. Untuk sesaat,


tatapan itu seakan menyentuh titik paling rentan di dalam hatinya.


Keluhan terus-menerus mengalir.


Mata Julian menyipit, dia mengulurkan tangan dan memeluk Febi dengan


erat.


Julian memeluknya dengan erat, seolah-olah dia ingin menyembunyikan Febi


di dalam tubuhnya untuk melindunginya dari bahaya.


"Maaf, aku masih terlambat ..." gumam Julian untuk meminta


maaf sambil mencium rambutnya.


Febi melingkarkan lengannya di leher Julian dan memeluknya erat-erat,

__ADS_1


seolah-olah dia telah menemukan penyelamat hidupnya. Tiba-tiba Febi membenamkan


kepalanya di leher Julian dan menangis.


"Kalau kamu terlambat sedikit lagi ... aku benar-benar tidak punya


apa-apa untuk diberikan kepadamu lagi...." isak Febi.


Satu-satunya hal yang bisa Febi berikan pada Julian adalah pertama kali


yang sudah tidak termasuk pertama kali lagi.


Untungnya....


Untungnya masih ada....


Kata-kata Febi mengejutkan Julian, perasaan yang tak terlukiskan


melintas di hati Julian.


Julian mengulurkan tangannya, lalu mengangkat wajah Febi yang menangis.


Matanya yang gelap menatap Febi dengan tak daya, "Kamu benar-benar


membuatku tidak berani menunggu lebih lama lagi...."


Hanya Julian yang tahu betapa dia menginginkan Febi.


Sekarang, suasana hatinya sebenarnya sama dengan Nando.


Julian juga sangat ingin memonopolinya. Selain Julian, tidak ada orang


yang boleh mengingini Febi lagi.


Akan tetapi....


Julian jelas tidak akan menggunakan tindakan seperti Nando! Juga bukan


sekarang.


...


Luka Julian menjadi lebih parah.


Di dalam bangsal.


Julian melepas bajunya yang bernoda darah, lalu dia berbaring di ranjang


rumah sakit.


Ketika dokter masuk dan melihatnya, dia menggelengkan kepalanya,


"Ckck."


"Kamu benar-benar berpikir kamu adalah King Kong, kamu terluka


begitu parah, masih berani berkelahi!" keluh Dokter sambil mengambil obat.


Lalu, dokter melirik Febi yang berdiri di samping, "Kamu juga. Sebagai


pacar, kamu tidak memedulikannya, malah membiarkan dia berbuat seenaknya! Sudah


tidak menginginkan tangannya lagi, ya?"


Pacar?


Karena tiga kata ini, Febi tanpa sadar menatap Julian. Sebelum Febi


menjawab Julian sudah mengulurkan tangan dan meraih tangannya.


Seolah-olah Julian menyetujui kata-kata dokter.


Kehangatan melonjak dari telapak tangannya, membuat tubuh Febi yang


dingin terasa jauh lebih nyaman.


Dia bertanya kepada dokter dengan cemas, "Apakah lukanya serius?


Apakah dia harus tinggal di rumah sakit malam ini?"


"Perlu menjahit lagi, menurutmu serius tidak?" sela Dokter


dengan marah. Febi benar-benar khawatir dengan cedera di punggung Julian, jadi


dia tidak punya waktu untuk membalas dokter.


Febi menundukkan kepalanya dan memberi tahu Julian, "Kalau begitu


malam ini kamu tinggal di rumah sakit, kamu tidak boleh pergi ke mana


pun."


"Oke," jawab Julian dengan patuh, tetapi tidak lupa


memesankan, "Kamu juga tinggal di sini."


Bahkan Julian tidak bertanya sekali pun, Febi juga tidak akan pergi.


Pertama, dia mengkhawatirkan Julian. Kedua, setelah mimpi buruk yang diberikan


Nando, Febi tidak ingin sendirian.


"Oke." Febi setuju.


Dokter melirik ke arah mereka berdua dan berkata, "Benar-benar.


Sudah terluka seperti ini, masih bisa berpacaran di sini. Sudah, aku akan bantu


dia menjahit lukanya dulu, kamu tunggu di bangsal."


Pada pandangan pertama, dokter wanita paruh baya ini bukanlah orang yang


baik hati. Febi tidak ingin terlalu memedulikannya, jadi dia dengan cepat dan


hati-hati memapah Julian dari ranjang.


Saat tubuh Julian bergerak, lukanya pun tertarik dan terasa sedikit


sakit. Julian mendengus, Febi dengan cepat berhenti dan lebih berhati-hati,


"Pelan, pelan! Apakah sakit?"


Di hadapannya, Julian melihat dengan jelas wajah kecil yang khawatir


itu.


Dia melihatnya hingga membuatnya merasa tenang.


Julian tertawa, lalu berdiri tegak dan menghiburnya, "Aku


laki-laki, aku tidak terlalu rentan. Jangan khawatir."


"Aku akan menunggumu di luar ruang operasi." Bagaimana mungkin


Julian tidak khawatir? Dia terluka dua kali karena dia.


"Oke, Jangan bertele-tele lagi. Ini hanya operasi kecil, kamu tidak


perlu gugup. Jangan khawatir, aku tidak akan melukai dia." Dibandingkan


dengan kegugupannya, dokter itu malah terlihat tenang. Ini membuat Febi merasa sedikit


malu, jadi dia melirik Julian dengan malu dan tidak mengikutinya.


...


Setelah waktu yang lama, Julian selesai menjahit lukanya. Tubuhnya


terbungkus kain kasa dan dia kembali ke bangsal.


Febi mencari dokter dan meminta alkohol untuk mengobati luka di


wajahnya.


Julian bertelanjang dada, duduk menyamping di sofa.


Febi mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam alkohol untuk mengobati


luka di wajah Julian. Alkohol dingin menyentuh luka dan rasa sakit yang


membakar menyebabkan Julian mengernyit.


Febi mencondongkan kepalanya dan membungkuk, lalu dia mengerucutkan


bibirnya seperti anak kecil. Febi meniup lukanya dengan napas yang hangat dan


bergumam, "Tidak sakit lagi, tidak sakit lagi, sebentar lagi tidak akan


sakit lagi...."


Garis-garis wajahnya begitu lembut. Bahkan tatapan matanya juga lembut


bagaikan kain kasa yang tipis.


Julian merasa hatinya bergetar hebat, dia menatap dalam-dalam ke wajah


kecil itu. Tiba-tiba dia membungkuk dan mencium bibir Febi.


Febi sedang mengerucutkan bibirnya. Dia membantu Julian menghilangkan


rasa sakit dengan sungguh-sungguh dan ciuman Julian ini membuatnya tertegun.


Julian berkata dengan serius, "Seperti ini lebih efektif."


Ada kehangatan di bibirnya. Febi menggigit bibir bawahnya dengan ringan,


"Sudah seperti ini, kamu masih punya minat untuk menggodaku...."


"Aku serius. Kalau kamu menciumku lagi, mungkin rasa sakit di


punggungku akan berkurang." Suara Julian terdengar seksi dalam malam yang


gelap ini, seperti godaan dan memimpin Febi.


Febi tahu dia sedang membohonginya, tapi dia rela jatuh ke dalam

__ADS_1


perangkap kecil yang dibuat oleh Julian.


__ADS_2