Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 130 Saling Memikirkan Satu Sama Lain


__ADS_3

"Julian, aku merasa tidak nyaman." Febi


meringkuk, "Hatiku tidak nyaman ...."


"Aku tahu, aku tahu itu. Patuhlah, aku sedang


menyelesaikan masalah ini." Julian sedikit tidak bisa tenang, dia menoleh


ke Pak Kenedy dan berkata, "Tanyakan pada mereka, bagaimana situasinya


sekarang? Di mana mereka?"


Pak Kenedy berkeringat dingin. Mereka baru saja pergi


mencari solar.


Namun, Pak Kenedy tidak berani mengatakannya, jadi dia


dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan berkata, "Aku akan segera


menelepon."


"Kamu tidak tahu, kamu tidak tahu apa-apa


...." Suara Febi datang dari sana, suaranya menjadi semakin pecah karena


embusan angin.


"Kalau aku tidak tahu, beri tahu aku agar aku


jelas!" jawab Julian. Kemudian, Julian mendongakkan kepala sambil


mengerutkan keningnya, "Dingin tidak? Di atas berangin."


"Tidak begitu." Sekarang, Febi sangat


ketakutan hingga dia sudah tidak memikirkan tentang suhu lagi. Dia menjilat


bibirnya yang kering dan pucat, lalu menatap gedung di depannya sambil


berlinang air mata. Tiba-tiba, dia berkata, "Sebenarnya, aku berbohong


...."


"Hah?" Kata-kata yang tiba-tiba itu membuat


Julian bingung.


"Aku dan Nando. Sebenarnya, hubungan kami tidak


seperti yang kamu pikirkan ...."


Hati Julian bergejolak dan dia segera bertanya,


"Apa maksudnya tidak seperti yang aku pikirkan?"


Bahkan jika ada staf dan pekerja yang berdiri di


sampingnya, Julian juga tidak peduli. Dia menggoda Febi, membiarkan dia terus


berbicara.


"Hubungan kami tidak ...." Sedekat yang kamu


pikirkan.


Sebelum kata "sedekat" terucap, tiba-tiba


suara di walkie-talkie menghilang.


"Jadi apa?" tanya Julian, tapi hanya


keheningan yang menjawabnya.


"Febi? Febi!" panggil Julian dengan ragu,


tapi dia tidak mendengar suara lagi.


Matanya tiba-tiba menjadi gelap, menyebabkan semua


orang di samping menahan napas.


Pak Kenedy segera melangkah maju dengan gemetar dan


berkata, "Pak Julian, sepertinya walkie-talkie yang dipegang Febi habis


baterai."


Julian sudah hampir gila.


Alisnya berkedut erat, dia melemparkan walkie-talkie


ke tangan Pak Kenedy sambil menggertakkan giginya dan bertanya, "Sudah


sampai di mana mereka? Masih butuh berapa lama?"


Sebenarnya, Julian benar-benar peduli dengan ucapan


Febi yang terputus itu. Akan tetapi, saat ini dia tidak punya waktu untuk


berpikir terlalu banyak.


Hal yang Julian pikirkan hanyalah Febi yang ketakutan


dan gelisah.


Febi tidak bisa mendengar suara Julian di


walkie-talkie, Julian tidak bisa membayangkan betapa takutnya Febi jika dia


masih tetap berada di atas.


Julian benar-benar hampir gila!


"Sudah tiba, sudah tiba! Pak Julian, mereka sudah


sampai!" seru Pak Kenedy dengan penuh semangat.


Julian menoleh ke samping, dia melihat Ryan memimpin


orang yang baru saja pergi membeli solar. Ryan menghela napas lega,


"Syukurlah! Kebetulan pemilik pom bensin terdekat ada stok solar."


Ryan membayar 10 kali lipat untuk mendapatkan solar


ini.


"Apa yang masih kamu lakukan? Cepat dan nyalakan


listrik!" perintah Julian. Pak Kenedy secara alami tidak berani


mengabaikan perintahnya sama sekali dan buru-buru pergi.


Mereka juga membutuhkan waktu untuk menyalakan


listrik. Tangan Julian mengepal erat di sakunya. Terlihat jelas dia sudah


kehilangan kesabarannya.


Ryan berkata, "Jangan khawatir, Nona Febi akan


segera turun. Selain itu, lift ini sangat aman."


"... Hmm, aku tahu," jawab Julian dengan


singkat.


Namun, tidak peduli seberapa jelas Julian


mengetahuinya, kekhawatiran di hatinya tidak berkurang sedikit pun.


"Oke, oke, listrik sudah menyala! listrik sudah


menyala!" Setelah teriakan keras, suara berbagai mesin di lokasi


konstruksi mulai bergemuruh.


Julian mendongak dan melihat lift juga bergoyang.


Alis Julian mengencang. Sampai perangkat itu


diturunkan dengan perlahan, ekspresinya baru sedikit membaik.


"Oke, Pak Julian. Nona Febi akan segera


turun!" Ryan juga menghela napas lega. Semua orang yang berada di samping


akhirnya bisa tenang.


Julian berjalan menuju lift.


Lift semakin dekat dengan tanah. Saat terpaut beberapa


meter, Julian bisa dengan jelas melihat tubuh kecil yang meringkuk di dalam


lift.


Hati Julian seakan dipelintir hingga terasa sakit.


Terlihat jelas Febi ketakutan.


"Febi!" panggil Julian dengan sedih.


Setelah kembali mendengar suara Julian, Febi langsung


berdiri dan berpegangan pada pagar dengan erat. Dia melihat sosok yang familier


berdiri di sana untuk menyambutnya. Saat ini, semua kepanikan di hati Febi


akhirnya lenyap.


Hanya Febi sendiri yang tahu betapa putus asanya dia


ketika dia tidak bisa mendengar suara Julian!


"Jangan takut, sudah sampai." Julian berdiri


di bawah lift dan merentangkan tangan pada Febi. Sebelum lift berhenti, Febi


sudah melompat turun.


Julian memeluknya erat-erat sambil menghela napas


lega. Tubuh Febi yang gemetaran itu membuat Julian merasa kasihan hingga


jantungnya berdetak kencang.


Kaki Febi masih tidak bertenaga. Dia merasakan


kehangatan dan rasa aman dalam pelukan Julian, air matanya pun mengalir semakin


deras.


"Sudah, sudah, sudah tidak apa-apa ...."


Julian meyakinkan Febi dengan suara serak. Dia menekan wajah Febi yang


berlinang air mata ke lehernya dengan perasaaan tertekan dan tak berdaya,


"Sayang, jangan menangis lagi. Patuhlah ... kamu sudah aman ...."


Semakin Julian menghiburnya, Febi malah menangis


semakin keras. Febi menangis hingga matanya memerah seperti mata kelinci.


Namun ....


Julian tidak hanya tidak merasa kesal, dia malah


merasakan kepuasan yang tak terlukiskan.


Febi yang bergantung padanya dan membutuhkannya telah

__ADS_1


kembali. Dia mulai bersembunyi dan menangis di pelukan Julian lagi.


...


Di ruang tunggu.


Febi duduk di sofa sambil memegang secangkir air


panas, akhirnya ekspresi Febi sudah membaik, tapi matanya masih basah dan


merah.


Febi benar-benar memalukan!


Di depan begitu banyak orang, dia memeluk Julian dan


menangis tanpa memedulikan penampilannya sedikit pun.


Namun ....


Hanya Febi yang tahu bahwa air mata itu bukan hanya


karena ketakutan. Akan tetapi, juga ....


Pada saat yang sama, Febi melampiaskan rasa sakit dan


keluhan yang terpendam di dalam hatinya.


Namun ....


Apakah Julian akan mengerti?


"Sudahlah, keluar dan selesaikan urusan kalian.


Nona Febi sudah tidak apa-apa," pesan Ryan pada semua orang di ruang


tunggu, lalu dia yang memahami situasi juga pergi.


Febi duduk di sana. Samar-samar dia bisa mendengar


orang-orang bergosip.


"Ternyata Febi adalah pacar Pak Julian."


"Aku masih bilang aku ingin mengejarnya!"


"Oke, sekarang kita sudah tidak punya kesempatan


lagi."


...


Sekarang, semua orang tampaknya sudah yakin dengan


hubungan Febi dan Julian.


Saat Febi sedang memikirkannya, beban berat tiba-tiba


mendarat di pundaknya. Sesuatu yang hangat yang memiliki aroma khas Julian


seketika menyelimuti tubuh Febi. Saat Febi mendongakkan kepalanya, dia


tiba-tiba bertemu dengan tatapan Julian yang dalam. Terlihat emosi yang dalam


bergejolak di dalam mata Julian.


Jantung Febi berdetak dengan kencang.


Memikirkan suara lembut Julian di walkie-talkie


barusan, Febi sangat merindukannya ....


Febi sangat serakah.


Serakah hingga berharap kelembutan itu akan terus


berlanjut selamanya ....


"Aku tidak membutuhkannya, sebaiknya kamu pakai


sendiri." Febi ingin mengembalikan pakaian Julian.


"Pakailah, kamu masih masuk angin." Julian


mengulurkan tangannya untuk menekan gerakan Febi, tidak memberikan Febi ruang


untuk membantah kata-katanya.


Telapak tangan besar diletakkan di punggung tangan


Febi.


Dia merasakan dingin yang menusuk hati.


Julian mengerutkan kening. Telapak tangan yang besar


itu tidak melepaskan Febi, tapi malah mengencang dan meletakkan tangan Febi di


dalam telapak tangannya.


Merasakan kasih sayang dan kehangatan Julian,


jari-jari Febi sedikit gemetar, seolah-olah ada arus listrik yang melewatinya


hingga tangannya mati rasa.


Setelah beberapa saat, dia berkata dengan lembut,


"Kamu juga masuk angin. Kamu akan membeku kalau hanya mengenakan selapis


pakaian."


"Aku laki-laki, tidak rentan sepertimu."


Julian duduk di sebelahnya. Jarak keduanya begitu dekat sehingga air mata Febi


hampir jatuh lagi.


"Ketakutan?" tanya Julian tiba-tiba dengan


Setelah tertegun, Febi mengangguk dengan tenang dan


berdeham pelan.


Julian menghela napas, lalu mengulurkan tangannya dan


menarik Febi ke dalam pelukannya. Febi membeku sejenak. Saat berikutnya, lengan


Febi melingkari leher Julian dengan tak terkendali.


Jelas bahwa tubuh Julian sedikit menegang. Kemudian,


lengan Julian yang panjang menggendong Febi langsung ke pangkuannya.


Sebelum Febi bisa kembali ke akal sehatnya, ciuman


Julian sudah mendarat di bibirnya.


Bibir Julian yang terasa sedikit sejuk itu mencium


bibir Febi dengan penuh semangat.


Febi mendengus. Febi sudah tidak bisa berpikir jernih,


jadi dia hanya bisa mengikuti kata hatinya. Febi mengangkat kepalanya, bibir


merahnya sedikit terbuka dan merespon ciuman Julian dengan antusias tanpa


memikirkan apa pun.


Air mata panas kegembiraan membasahi bulu matanya.


Hal inilah yang Febi pikirkan ketika dia meringkuk


sendirian di dalam lift kecil ....


Febi merindukan pelukan Julian, merindukan ciumannya


... merindukan segala sesuatu tentangnya ....


"Kelak, jangan memanjat terlalu tinggi!"


Setelah berciuman, Julian memperingatkan Febi dengan nada rendah. Bukan hanya


Febi yang ketakutan, tapi Julian juga ....


"Aku adalah pengawas, jadi aku mau tidak mau


harus naik ke atas ..." jelas Febi.


"Kelak, aku akan meminta lelaki dari timmu yang


datang. ini bukanlah pekerjaan yang harus kamu lakukan! Mengerti?"


"... Hmm, oke." Febi mengangguk dengan


patuh, bulu matanya bergetar sejenak dan air matanya terjatuh.


Febi menatap Julian dengan mata sedih. Dia memiliki


begitu banyak hal untuk sampaikan pada Julian. Namun, ada sesuatu yang


menyumbat dadanya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Sekarang, dia hanya ingin memeluk Julian seperti ini.


Memeluk Julian seperti ini, bahkan Febi tidak


mengatakan apa-apa atau tidak melakukan apa-apa sekali pun, hatinya sudah


sangat puas ....


Bagaimana ini?


Dia benar-benar enggan untuk melepaskan Julian ....


Julian merasakan tatapan Febi. Dia juga menatap Febi


dengan mata berbinar-binar, "Apakah kamu ingin memberitahuku


sesuatu?"


"... Ya." Febi mengangguk, suaranya


terdengar serak.


Namun, saat ini, Febi terus berpikir keras, tidak tahu


harus memulai dari mana.


Julian juga tidak terburu-buru. Dia puas dengan


perasaan yang memeluknya seperti ini sekarang, dia bahkan lebih puas dengan


ketergantungan Febi padanya.


Tadi malam, mereka tidur saling berpelukan. Meskipun


Julian berulang kali menginginkan Febi, dia merasa kepuasan itu tidak sebaik


saat ini. Karena pada saat itu, mereka masih belum berbaikan.


"Haruskah aku mengantarmu kembali ke hotel


dulu?" tanya Julian. Dalam situasi seperti ini, jangankan Febi, bahkan


Julian pun tidak bisa bekerja sama sekali.


"Oke." Febi masih bersikap patuh.


Setelah menatap Julian, dia memutuskan untuk bangun


dan melepaskan diri dari pelukannya. Pelukan yang menjadi kosong membuat Julian

__ADS_1


sedikit mengencangkan tangan Febi.


Febi menoleh karena terkejut. Dia menyadari gairah di


dalam mata Julian, seketika dia tersentak dan hampir tidak bisa menahan diri


untuk melemparkan dirinya kembali ke pelukan Julian.


Sebelum mereka bertemu satu sama lain, mereka tidak


pernah berpikir bahwa suatu hari, mereka akan begitu merindukan seseorang ....


Setiap pelukan menjadi sangat berharga bagi mereka.


...


Setelah kembali ke hotel.


Febi berjalan menuju kamarnya, sementara Julian


mengikuti dalam diam di sampingnya.


Febi mengambil kartu kamar, membuka pintu dan


melangkah masuk ke kamar.


Febi bisa merasakan langkah kaki Julian yang berhenti


di depan pintu.


"Kamu ... mau kembali ke lokasi konstruksi?"


tanya Febi sambil berbalik. Dia tidak tahu nada suaranya yang diperlambat sudah


dengan jelas menyatakan kerinduan dan keengganannya.


"Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dikatakan


kepadaku?" Bagaimana mungkin Julian ingin pergi? Dia hanya ingin Febi yang


memintanya tetap tinggal!


Hanya dengan melihat Febi saja sudah membuat Julian


merasa seakan ada ribuan semut yang menggerogotinya, hatinya merasa sedikit


gatal dan sedikit sakit.


Namun, perasaan ini justru membuat Julian senang.


"Yah ... tidak terburu-buru. Kalau kamu sibuk,


aku bisa menunggumu selesai bekerja ...."


"Tidak terburu-buru?"


Julian mengangkat alis.


Febi menggigit bibirnya dengan ringan, "Yah,


pekerjaanmu lebih penting. Aku sudah menunda pekerjaan hari ini."


Julian menatap Febi dengan satu tangan di sakunya.


Akhirnya, dia mengangguk, "Oke, kalau begitu aku akan kembali ke lokasi


konstruksi."


"..." Jelas-jelas Febi merasakan hatinya


perlahan tertekan.


Dia merasa sedikit enggan dan tidak rela.


Namun, Febi masih tersenyum tipis, "Baiklah,


kalau begitu ... selamat tinggal."


"Selamat tinggal," jawab Julian dengan


singkat, dia benar-benar tidak masuk ke dalam kamar.


Febi meraih pegangan pintu, tapi dia berhenti sejenak.


Akhirnya, Febi menatap Julian dalam-dalam, kemudian menutup pintu.


Saat Febi menutup pintu, mata Julian menjadi gelap.


Febi menggigit bibir bawahnya sambil bersandar di


pintu. Hanya dalam sepuluh detik, dia sudah mulai menyesali keputusannya.


Jika Febi berkata ingin berbicara banyak dengan


Julian, apakah dia benar-benar bersedia untuk tinggal sementara dan


mendengarkan kata-kata Febi?


Febi benar-benar ingin memberitahu Julian bahwa


hubungan antara dia dan Nando tidak seperti yang Julian pikirkan. Mereka juga


tidak pernah berhubungan. Selain itu, mereka sudah bercerai! Febi sudah


terbebas!


Dia juga ingin bertanya pada Julian ....


Apa yang terjadi antara Julian dan Valentia? Apakah


mereka ... sudah melakukan hal yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka


lakukan?


...


Febi berbalik, lalu mencondongkan tubuhnya untuk


mengintip.


Namun ....


Pada saat ini, bagaimana mungkin masih ada jejak


Julian?


Julian benar-benar pergi dengan tegas.


Sepertinya, hanya Febi yang merasa enggan dan rindu


padanya ....


Tiba-tiba Febi merasa takut akan kehilangan. Perasaan


ini begitu buruk hingga dadanya menjadi sesak.


Dia membuka pintu dengan frustasi dan bersandar di


pintu dengan lelah. Setelah melihat seluruh koridor yang kosong, Febi menghela


napas. Kemudian, dia berbalik dan berencana untuk kembali.


"Mencariku?"


Tiba-tiba, sebuah suara yang familier terdengar di


belakangnya.


Febi berhenti.


Kemudian, dia menoleh dengan takjub.


Julian berdiri dari sudut ruangan di samping. Dia


bersandar ke dinding dengan tubuhnya yang tinggi dan menatap Febi sambil


tersenyum tipis.


Febi merasa sangat bahagia. Sudut bibirnya


tersungging, bahkan matanya pun berbinar-binar.


"Kamu tidak pergi?"


"Aku menunggu kamu memintaku tetap tinggal,"


kata Julian dengan tenang.


Mata Febi yang jernih ditutupi dengan lapisan kabut.


"Kalau ... kalau aku memintamu tinggal sekarang, apakah sudah


terlambat?"


Mata Julian berkedip sejenak, lalu dia berjalan keluar


dari sudut. Sinar matahari yang masuk dari jendela balkon menyebar di tubuhnya,


membuatnya tampak berkilau dengan cahaya keemasan.


Mata Julian yang berbinar itu tampak seperti kobaran


api, "Sekarang, kamu tidak perlu memintaku untuk tinggal ...."


Suara Julian seperti anggur yang memiliki aroma


memabukkan, yang dalam sekejap membuat orang terperangkap.


Julian berjalan lebih dekat, dia tiba-tiba menekan


Febi ke pintu. Dia menatap Febi dengan mata gelap dan meletakkan tangannya di


samping Febi, "Aku ingin mendengarmu menyelesaikan kata-katamu. Katakan


padaku, apa maksud hubungan kalian tidak seperti yang aku pikirkan? Kebohongan


macam apa yang kamu katakan?"


Bahkan jika Febi tidak terburu-buru, Julian juga


terburu-buru.


Julian begitu dekat dengan Febi sehingga setiap inci


napasnya seolah berada di ujung hatinya. Febi merasa hatinya tergelitik dan


mati rasa.


Jari-jari Febi meringkuk dan bulu matanya sedikit


bergetar. Dia menatap Julian, "Aku dan dia ... tidak terjadi


apa-apa."


Julian mengangkat alisnya.


Bibir Julian tersungging, tapi ....


Dia masih mengonfirmasi dan bertanya, "Apa


maksud tidak terjadi apa-apa?"


"Kami, tidak pernah berhubungan ...."


Cahaya keemasan yang menyilaukan melintas di mata


Julian, sudah ada tanda senyum di bagian bawah matanya.


"Betulkah?"


Meskipun Julian menanyakan pertanyaan ini, dia sudah


memiliki jawaban yang pasti di dalam hatinya. Karena jawaban itu pula yang

__ADS_1


membuatnya merasa bahagia.


__ADS_2