
Lelaki
itu berbalik dengan perlahan, matanya yang gelap itu memperhatikan Febi
sehingga dia bisa melihat dengan jelas rasa sakit, bersalah dan kegelisahan di
mata Febi. Sebelum Lelaki itu berbicara, Febi telah kehilangan keberaniannya
dan mengisyaratkan untuknya 'berhenti' dengan tangannya yang gemetar.
"Jangan!
Kamu tidak perlu memberitahuku siapa kamu, aku tidak ingin tahu!" Febi
mengangkat selimut dan melompat turun. Kemudian, dia baru menyadari pakaian
yang dikenakannya terlalu tipis, seketika wajahnya memucat, lalu meraih selimut
dan membungkus tubuhnya dengan erat, "Kamu hanya cukup memberitahuku, kami
... aku dan kamu ...."
Febi
bersemangat hingga memperagakan dengan jemarinya seakan perkataan itu sulit
untuk diucapkan, tapi dia harus berkata, "Apakah di antara kita ada
terjadi sesuatu?"
Lelaki
itu mencibir dan mulai mengenakan kemejanya dengan santai, seolah-olah dia sama
sekali tidak ingin menjawab pertanyaannya. Kancing mawar emas terlihat
menyilaukan di bawah sinar matahari pagi.
Dia
sudah hampir gila.
"Sikap
macam apa kamu? Jawab aku, apakah tadi malam kita ada bercinta?" Febi
berjalan ke hadapannya dengan panik.
__ADS_1
"Menurutmu?"
tanya lelaki itu dengan nada dingin sambil melototi wajah kecil yang memerah
karena marah itu dengan dingin.
"Menurutku?
Kalau aku tahu, apa aku masih perlu bertanya padamu? Dasar bajingan! Apa kamu
telah melakukan yang tidak-tidak padaku?" ucap Febi yang tiba-tiba tidak
bisa menahan amarahnya, dia meremas tinjunya untuk memukul lelaki itu.
Sebelum
tinju itu melayang, pria itu dengan cepat menggenggam tangan Febi dan
menahannya. Tatapan dingin lelaki itu seakan menusuk ke dalam kulitnya dengan
kejam, "Nona, izinkan aku mengingatkanmu, kamu sendiri yang masuk ke
kamarku dengan pakaian seperti ini, jadi apa pun yang terjadi pada kita tadi
malam, kamu sendiri yang harus bertanggung jawab atas. Aku tidak berkewajiban
"Kamu
...." Febi kesal hingga kehabisan kata-kata.
Lelaki
itu melirik Febi, lalu melihat mata Febi yang memerah. Dia melepaskan Febi,
tetapi wajah tampannya itu sama sekali tidak terlihat bersahabat.
Pada
saat ini, bel kamar tiba-tiba berbunyi. Dia masih melepaskan handuknya dengan
tenang, lalu mengenakan celana panjang. Saat berbalik, dia Febi masih berdiri
di sana dengan wajah pucat pasi, dia memerintah dengan suara rendah, "Buka
pintunya."
"Kenapa
__ADS_1
aku yang membuka pintu?" Febi merasa lelaki itu sangat aneh. Belum lagi
kamar ini sama sekali bukanlah kamarnya. Situasi dia yang berantakan sekarang
juga tidak mungkin dilihat oleh yang lain.
"Apakah
kamu berharap aku keluar dengan penampilan seperti ini?" Lelaki itu sama
sekali tidak menatap Febi, dia memasang ikat pinggang Hermes dengan rapi, lalu
mengangkat kerah kemejanya dan memasang dasi sutra di lehernya.
Febi
menatap lelaki tidak dikenal itu dengan bingung. Wajahnya terlihat sangat
tampan di bawah cahaya pagi yang terpancar dari jendela. Setiap gerakan
tangannya terlihat sangat elegan. Ekspresi acuh tak acuh lelaki itu seakan
tidak memedulikan apa pun.
Intuisi
Febi memberitahunya dia bukanlah pria yang sederhana. Meskipun Febi tidak tahu
orang seperti apa dia, orang yang bisa tinggal di kamar suite VIP seperti ini
pasti orang kaya dan terhormat.
"Apa
kamu sudah puas melihat?" Dia tiba-tiba memalingkan wajahnya ke samping,
wajah tampannya tertuju pada Febi.
Febi
tercengang, lalu membuang muka dengan cepat. Awalnya karena terlalu terkejut,
Febi sama sekali tidak melihat wajahnya dengan saksama. Sekarang mereka saling
berhadapan, bahkan jika hanya sekilas, ketampanannya itu benar-benar dapat
digambarkan sebagai "pemandangan yang menakjubkan".
__ADS_1