Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 5 Ada Tidak?


__ADS_3

Lelaki


itu berbalik dengan perlahan, matanya yang gelap itu memperhatikan Febi


sehingga dia bisa melihat dengan jelas rasa sakit, bersalah dan kegelisahan di


mata Febi. Sebelum Lelaki itu berbicara, Febi telah kehilangan keberaniannya


dan mengisyaratkan untuknya 'berhenti' dengan tangannya yang gemetar.


"Jangan!


Kamu tidak perlu memberitahuku siapa kamu, aku tidak ingin tahu!" Febi


mengangkat selimut dan melompat turun. Kemudian, dia baru menyadari pakaian


yang dikenakannya terlalu tipis, seketika wajahnya memucat, lalu meraih selimut


dan membungkus tubuhnya dengan erat, "Kamu hanya cukup memberitahuku, kami


... aku dan kamu ...."


Febi


bersemangat hingga memperagakan dengan jemarinya seakan perkataan itu sulit


untuk diucapkan, tapi dia harus berkata, "Apakah di antara kita ada


terjadi sesuatu?"


Lelaki


itu mencibir dan mulai mengenakan kemejanya dengan santai, seolah-olah dia sama


sekali tidak ingin menjawab pertanyaannya. Kancing mawar emas terlihat


menyilaukan di bawah sinar matahari pagi.


Dia


sudah hampir gila.


"Sikap


macam apa kamu? Jawab aku, apakah tadi malam kita ada bercinta?" Febi


berjalan ke hadapannya dengan panik.

__ADS_1


"Menurutmu?"


tanya lelaki itu dengan nada dingin sambil melototi wajah kecil yang memerah


karena marah itu dengan dingin.


"Menurutku?


Kalau aku tahu, apa aku masih perlu bertanya padamu? Dasar bajingan! Apa kamu


telah melakukan yang tidak-tidak padaku?" ucap Febi yang tiba-tiba tidak


bisa menahan amarahnya, dia meremas tinjunya untuk memukul lelaki itu.


Sebelum


tinju itu melayang, pria itu dengan cepat menggenggam tangan Febi dan


menahannya. Tatapan dingin lelaki itu seakan menusuk ke dalam kulitnya dengan


kejam, "Nona, izinkan aku mengingatkanmu, kamu sendiri yang masuk ke


kamarku dengan pakaian seperti ini, jadi apa pun yang terjadi pada kita tadi


malam, kamu sendiri yang harus bertanggung jawab atas. Aku tidak berkewajiban


"Kamu


...." Febi kesal hingga kehabisan kata-kata.


Lelaki


itu melirik Febi, lalu melihat mata Febi yang memerah. Dia melepaskan Febi,


tetapi wajah tampannya itu sama sekali tidak terlihat bersahabat.


Pada


saat ini, bel kamar tiba-tiba berbunyi. Dia masih melepaskan handuknya dengan


tenang, lalu mengenakan celana panjang. Saat berbalik, dia Febi masih berdiri


di sana dengan wajah pucat pasi, dia memerintah dengan suara rendah, "Buka


pintunya."


"Kenapa

__ADS_1


aku yang membuka pintu?" Febi merasa lelaki itu sangat aneh. Belum lagi


kamar ini sama sekali bukanlah kamarnya. Situasi dia yang berantakan sekarang


juga tidak mungkin dilihat oleh yang lain.


"Apakah


kamu berharap aku keluar dengan penampilan seperti ini?" Lelaki itu sama


sekali tidak menatap Febi, dia memasang ikat pinggang Hermes dengan rapi, lalu


mengangkat kerah kemejanya dan memasang dasi sutra di lehernya.


Febi


menatap lelaki tidak dikenal itu dengan bingung. Wajahnya terlihat sangat


tampan di bawah cahaya pagi yang terpancar dari jendela. Setiap gerakan


tangannya terlihat sangat elegan. Ekspresi acuh tak acuh lelaki itu seakan


tidak memedulikan apa pun.


Intuisi


Febi memberitahunya dia bukanlah pria yang sederhana. Meskipun Febi tidak tahu


orang seperti apa dia, orang yang bisa tinggal di kamar suite VIP seperti ini


pasti orang kaya dan terhormat.


"Apa


kamu sudah puas melihat?" Dia tiba-tiba memalingkan wajahnya ke samping,


wajah tampannya tertuju pada Febi.


Febi


tercengang, lalu membuang muka dengan cepat. Awalnya karena terlalu terkejut,


Febi sama sekali tidak melihat wajahnya dengan saksama. Sekarang mereka saling


berhadapan, bahkan jika hanya sekilas, ketampanannya itu benar-benar dapat


digambarkan sebagai "pemandangan yang menakjubkan".

__ADS_1


__ADS_2