Direktur, Ayo Cerai

Direktur, Ayo Cerai
##Bab 121 Aku Selalu Ada


__ADS_3

Febi merasa sedikit canggung.


Tempat ini jelas merupakan ruang yang sangat luas.


Namun pada saat ini, rasanya terlalu sempit untuk bernapas.


Tanpa ragu-ragu, Febi dengan cepat melepas pakaiannya,


menyembunyikan pakaian dalamnya di dalam dan dengan cepat mengenakan


pakaiannya.


Saat Febi mendongak, dia melihat Julian masih


memunggunginya. Febi menghela napas dan bertanya, "Apakah kamu punya tas


di mobilmu?"


"Kamu bisa mencarinya di belakang." Julian


berbalik dan Febi juga ikut berbalik. Baru saat itulah Julian baru melirik ke


arah Febi. Maka keduanya bertemu di ruang gelap, hanya lampu mobil di luar


jendela yang terpantul di pipi satu sama lain.


"Apakah kamu merasa lebih nyaman?" tanya


Julian.


"Yah." Febi sedikit mengangguk dan


menatapnya dengan cemas, "Kamu memberiku pakaianmu, bagaimana


denganmu?"


Julian menemukan kantong kertas dan menyerahkannya


kepada Febi, "Tas ini digunakan untuk membawa anggur merah, mungkin tidak


bersih. Kamu maklumilah."


"Lagi pula pakaian itu harus dicuci lagi."


Febi melipat pakaian yang basah dan memasukkannya ke dalam kantong. Julian


mengeluarkan handuk kering dari tas olahraganya lagi. Febi mengulurkan tangan


untuk mengambilnya dan tersenyum padanya, "Perlengkapan dalam mobilmu


sangat lengkap."


"Aku menghabiskan sekitar setengah hari di dalam


mobil, jadi selalu menyiapkan semuanya." Julian melirik Febi. Rambut Febi


yang basah jatuh di pundaknya dan membasahi pakaiannya. Julian berkata,


"Keringkan rambutmu, jangan sampai masuk angin."


Febi melirik handuk kering, kemudian rambut Julian


yang menetes air, dia ingat sakit kepala Julian. Pada saat berikutnya, Febi


setengah berlutut di kursi penumpang dan meletakkan handuk langsung di atas


kepala Julian.


Julian tercengang.


Febi membungkus kepala Julian dengan handuk dan


menyekanya dengan lembut. Air hujan sangat dingin dan sangat tidak nyaman


ketika menempel di kepalanya. Namun pada saat ini, Julian sama sekali tidak


merasakannya.


Bahkan hujan di luar jendela menjadi indah.


"Kalau nanti banjir bandang, apakah kamu akan


takut?" tanya Julian tiba-tiba hingga gerakan menyeka rambut Febi


berhenti. Febi melirik ke luar jendela, lalu berkata, "Aku tidak


takut."


Jika takut....


Febi tidak akan berada di sini.


Bersama dengan Julian, seakan semua bahaya tampak


tidak penting lagi. Dengan adanya suhu dan napas Julian di sisi Febi, hatinya


merasakan ketenangan yang tak terlukiskan.


Julian tidak mengatakan apa-apa. Dia memegang tangan


Febi dengan lega. Dia bisa merasakan jari-jarinya yang menegang. Tanpa sadar


Febi ingin menarik tangannya, tapi Julian sudah memegang dengan erat.


Seolah-olah sama sekali tidak sadar, Julian juga


melihat ke luar jendela, "Aku melihat hujan semakin kecil, seharusnya


tidak akan ada masalah keluar dari sini. Ryan akan segera datang."


"Bukankah tidak ada sinyal di sini, kamu dapat


menghubungi orang di luar?" Sepertinya mereka sedang mengobrol dengan


serius, tapi … ada banyak gelembung kecil yang terus muncul dan meledak di


dalam hati Febi. Jari-jari yang dipegang Julian terasa sedikit hangat.


"Tadi aku kembali ke perkebunan dan meminjam


telepon."


Sebelum keduanya tinggal lebih lama, mereka mendengar


deru mobil dari jauh yang mendekat, diikuti oleh cahaya yang bersinar di dalam


hujan.


"Mereka seharusnya sudah tiba."


Julian duduk tegak dan melihat keluar. Benar saja,


mereka melihat beberapa mobil melintas dan diparkir di samping mobil mereka.


"Tunggu sebentar, aku akan turun dan memeriksa


situasinya dulu," pesan Julian sambil berbalik, lalu dengan tenang


melepaskan tangan Febi. Kehangatan itu terlepas, Febi menekankan tangannya


kembali ke lututnya dan sedikit mengepal.


...


Di luar jendela.


Diterangi oleh pancaran cahaya yang intens. Febi


berbaring di jendela mobil sambil menonton. Julian berdiri di tengah hujan


sambil memegang payung, dia sedang mendiskusikan sesuatu dengan tim mobil derek


yang dibawa oleh Ryan. Dengan cepat, dia melipat payungnya.


Julian membuka pintu kursi belakang dan mengulurkan


tangan ke Febi, "Ayo turun gunung dengan mobil lain."


"Oh." Febi memegang pakaiannya di satu


tangan dan tangan lain memegang Julian. Julian mengenggam tangan Febi turun


dari mobil, menutupi kepalanya dengan payung dan membawanya ke mobil komersial


hitam yang lain.


Hanya ada mereka berdua di dalam mobil.


Julian menyalakan mobil dan mengikuti mobil lain


menuruni gunung.


Di kaki gunung. Saat mendekati hotel, Febi berkata,


"Turunkan saja aku di pintu masuk hotel."


"Pintu hotel?" Julian tampak bingung dan


mengangkat alisnya sambil menatap Febi.


"Yah. Aku akan menginap di sini malam ini."


"Kenapa? Kamu tidak akan kembali ke kota?"


Pada saat ini, mobil melaju ke pintu hotel. Julian menghentikan mobil dan


berbalik untuk menatap Febi. Mata Febi terlihat sedikit gelap, dia melirik ke


luar jendela yang gelap, lalu kembali menatap Julian, "Aku tidak kembali


hari ini...."


Kembali ke kota, ke mana dia bisa pergi?


Dia hanya bisa kembali ke Kediaman Keluarga Dinata.


Akan tetapi....


Berbaring di ranjang itu sambil memikirkan pria di


depannya adalah siksaan bagi Febi.


Untuk waktu yang lama, Julian hanya diam menatap wajah


Febi yang masam, seolah sedang berpikir.


"Kalau begitu aku akan turun dulu. Ketika kamu


kembali, berhati-hatilah." Febi melepaskan sabuk pengaman. Sebelum membuka


pintu, Febi melirik Julian sejenak. jelas-jelas dia tahu seharusnya dia tidak


bernostalgia lagi, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk berkata,


"Pulanglah lebih awal, hal pertama adalah mandi dan mengganti pakaian


basahmu."


Mata Julian menjadi gelap. Mata yang rumit itu membuat


hati Febi sedikit bergetar. Febi mengerucutkan bibirnya dengan pelan, hendak


membuka pintu dan keluar.


"Febi," panggil Julian tiba-tiba.


Dalam mobil itu, suara Julian yang dalam sepertinya


tiba-tiba menusuk ke dalam hati Febi.

__ADS_1


Febi meletakkan tangannya di pegangan pintu dan tidak


menoleh ke belakang. Namun, Febi masih bisa dengan jelas merasakan tatapan


Julian.


"Kamu tidak ingin kembali ke Kediaman Keluarga


Dinata?"


Kalimat itu adalah pertanyaan, tapi nadanya sangat


yakin.


Febi memejamkan mata, mencoba yang terbaik untuk


tersenyum dan menoleh padanya, "Bagaimana mungkin? Itu rumahku ...


Bagaimana mungkin aku tidak ingin kembali?"


Rumah?


Hehe....


Di sana, itu bukan lagi rumahnya....


Julian menatap mata Febi lekat-lekat sambil mendekati


Febi inci demi inci. Mata itu seolah ingin melihat hingga ke lubuk hatinya,


melihat dengan tajam semua kerapuhan di hati Febi.


Febi berkedip untuk menghindari tatapan Julian. Febi


menggigit bibirnya dengan pelan dan memalingkan wajahnya, tidak berani menatap


mata Julian.


"Jangan berpikir macam-macam, aku turun


dulu." Febi takut disadari oleh Julian, takut dia akan goyah, bahkan lebih


takut dia akan bergegas ke arahnya tanpa peduli apa pun. Tanpa menunggu lama,


Febi langsung mendorong pintu dan turun dari mobil.


Febi menerjang hujan deras dan berlari ke hotel.


Di hotel, lampu sangat terang hingga di luar hotel


terlihat sangat gelap. Febi bahkan tidak berani menoleh ke belakang, dia hanya


bergegas ke lift dengan cepat, menutup pintu dan tidak mengizinkan dirinya


untuk melihat keluar.


Febi menutup matanya dengan sedih. Dia merasakan


kepalanya terasa sakit seakan akan terbelah.


Sepertinya dia demam....


...


Setelah kembali ke kamar, baru saat itulah Febi berani


mengendus lengan baju dengan tamak. Di sana, masih ada aroma Julian....


Hal ini memberi Febi ilusi bahwa Julian selalu di


sisinya.


Tidak rela.


Namun, Febi masih melepas pakaiannya, melipatnya


dengan rapi, lalu mengambil pakaian bersih dan berlari ke kamar mandi.


Setelah mandi, Dia merasa sekujur tubuhnya terasa


sangat berat. Dia berbaring di ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Dia merasa segala sesuatu di depannya berputar hingga membuatnya tidak nyaman.


Febi menutup mata dengan linglung. jelas-jelas Febi


tidak lagi terjaga, tapi pikirannya penuh dengan sosok orang itu.


Hal itu membuat dadanya sangat sakit....


Seperti bor listrik yang tajam, perlahan-lahan


mengebor ke bagian terdalam hatinya.


...


Febi tidak tahu sudah berapa lama dia berbaring di


ranjang, dia mulai bermimpi. Dalam mimpinya, sepertinya dia bermimpi Julian


meneleponnya. Julian bertanya padanya di kamar mana dia tinggal. Setelah


memikirkannya untuk waktu yang lama, dia baru mengingat nomor kamarnya dan


memberitahu Julian.


Dia berguling di ranjang dan kembali tertidur.


Setelah beberapa saat, telepon berdering lagi.


"Bantu aku membuka pintu." Suara Julian


datang dari seberang. Febi memegang ponsel dan tersenyum bahagia, "Oke,


tunggu."


Febi mengangkat selimut sambil memegang ponsel dan berjalan


Kepala Febi terasa berat, linglung dan sedikit goyah


saat berjalan.


Akhirnya, dia sampai di pintu dan membukanya.


Julian berdiri di depan pintu. Lampu di koridor hotel


membuat bayangannya menjadi sedikit lebih tinggi. Julian menatap Febi dari atas


ke bawah, bayangan tebal itu menyelimuti seluruh tubuh Febi.


Tatapan Julian menyapu pipi Febi yang merah, lalu


mendarat ke kakinya yang telanjang.


"Kenapa kamu keluar dengan kaki telanjang?"


"..." Febi tidak menjawab, dia hanya


tersenyum dan menatap Julian dengan ekspresi bingung.


Julian tidak berdaya, "Apakah kamu tidak enak


badan?"


"Ya ... sangat tidak nyaman...." Febi


tiba-tiba melangkah maju dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Julian.


Julian terkejut. Kelembutan yang memenuhi dadanya itu


membuatnya bersemangat.


Febi sepertinya berpikir itu tidak cukup, dia


melingkarkan lengannya di pinggang Julian dan mengencangkannya sedikit, lalu


membenamkan wajahnya di dada Julian sambil mendengarkan detak jantungnya.


Sesaat, sesaat ... berdetak dengan begitu nyata....


Namun semua ini, hanya bisa Febi dengar di dalam


mimpinya....


"Aku sangat tidak nyaman ..." gumam Febi


dengan suara yang sedikit serak. Febi hanya berani memeluk Julian begitu erat


dalam mimpinya....


Namun, bahkan jika semuanya hanya fatamorgana, Febi


masih merasa sangat puas....


"Ada apa? Aku coba periksa, apakah kamu


demam?" Mendengar suara Febi yang lembut dan hampir menangis, seluruh hati


Julian seolah meleleh. Suaranya pun menjadi lebih lembut.


Julian membelai dahi Febi, dahinya benar-benar sangat


panas.


"Demammu sangat tinggi!" Julian


mendorongnya, "Febi, berdiri tegak. Jangan menempel padaku, aku basah


kuyup."


Namun, Febi keras kepala dan menolak untuk melepaskan


Julian.


Semakin Julian mendorongnya, Febi merangkul semakin


erat. Seolah-olah jika Febi melonggarkannya, Julian akan menghilang sepenuhnya.


Julian sangat tidak berdaya.


Mau tidak mau Julian melangkah masuk dan menutup


pintu. Telapak tangan besar di pinggang Febi terlepas, mencoba untuk


menggendongnya, tapi tangan kecil Febi yang berapi-api tiba-tiba meraih


jari-jarinya.


Genggaman Febi begitu erat, dengan kegelisahan yang


tak bisa dijelaskan, begitu kuat hingga jari-jari Julian hampir patah.


Julian merasa sedikit sakit, tapi dia enggan untuk


melepaskan diri.


"... Aku sangat tidak nyaman...." Tiba-tiba


Febi menangis dan membenamkan wajahnya di dada Julian. Tubuh Julian basah


kuyup, tidak bisa merasakan air matanya. Namun, Julian merasakan kesejukan yang


di bagian dadanya.


Selain itu....


Juga terasa sakit....


"Bisakah kamu tidak muncul dalam mimpiku ...

__ADS_1


lagi? Aku tidak ingin merindukanmu lagi...."


Dalam mimpi?


Jadi, Febi pikir mereka sedang bermimpi sekarang?


Dalam mimpinya, juga ada Julian?


Untuk pemikiran seperti ini, Julian terkejut.


Julian mengambil napas dalam-dalam, lalu memeluk Febi


lebih erat. Bibir Julian berada di atas kepala Febi dan dia menciumnya dengan


penuh sayang, suaranya terdengar serak, "Dasar bodoh!"


Karena itu sangat menyakitkan, kalau begitu....


Apa yang membuatnya tidak merelakan Keluarga Dinata?


Julian ingin bertanya, tapi....


Dalam pelukannya, dia tidak lagi bersuara. Hanya


terdengar napas yang semakin keras.


Hati Julian menegang. Julian menundukkan kepalanya dan


menepuk pipinya, "Febi!"


Baru pada saat ini, dia menyadari wajah kecil Febi


menjadi sangat merah. Dia menepuk lagi, "Febi, kamu baik-baik saja?"


Suara itu adalah suara Julian....


Suara itu nyata seolah-olah sangat dekat....


Setetes air mata mengalir dari mata Febi yang


tertutup.


Febi tahu dirinya sedang bermimpi....


Julian tidak mungkin berada di sini ... dia, dia sudah


pergi....


...


Julian sudah tidak peduli dengan fakta tubuhnya basah


kuyup. Julian mengutuk dengan suara rendah, lalu menggendong Febi dan


meletakkannya di ranjang.


Julian segera menelepon resepsionis dan menjelaskan


situasinya.


"Pak, jangan khawatir, hotel kami akan segera


memanggil dokter."


"Tolong cepat, pasien sangat tidak nyaman


sekarang. Lima menit! Tidak, tiga menit! Dalam tiga menit, dokter harus datang


ke sini!"


Tanpa memberikan ruang bagi pihak lain untuk


berdiskusi, Julian menutup telepon dengan suara 'plak'.


Julian berbalik. Febi berbaring di ranjang, wajahnya


pucat dan dia terus menangis.


Melihat bantal basah karena air mata, Julian merasakan


sakit dan jengkel di hatinya.


Julian khawatir, dia ingin membawa Febi kembali ke


kota, jadi dia kembali seperti ini.


Julian merasa senang dia bukan bajingan seperti Nando


yang benar-benar meninggalkannya di sini. Jika tidak, konsekuensinya tidak akan


bisa dibayangkan.


"Berhenti menangis, segera. Dokter akan segera


datang," bujuk Julian dengan lembut sambil mengulurkan tangan untuk


menyeka air mata dari sudut matanya. Julian masih merasa khawatir, dia


menyiapkan handuk untuk mengompres dahi Febi. Tangan Febi yang berada di dalam


selimut bergerak sedikit dan Julian dengan cepat mengulurkan tangan untuk


memegangnya.


"Aku di sini! Selalu di sini!" kata Julian


dengan panik, berusaha untuk meyakinkan Febi.


Sudut bibir Febi sedikit terangkat dan air matanya


benar-benar berhenti.


Hati Julian yang tegang sedikit mereda. Julian


menghela napas lega.


Julian mengangkat kepala untuk melihat jam, dia sudah


sedikit tidak sabar.


Mengapa dokter belum datang? Benar-benar tidak


efisien!


Julian membungkuk, meraih telepon dengan satu tangan


dan ingin menelepon reseptionis lagi.


Mereka yang berada di jalur yang sama seharusnya bisa


memberikan memahami situasi. Namun pada saat ini, Julian benar-benar tidak bisa


tenang.


Julian baru menekan satu digit nomor, bel pintu


berdering. Dia segera menutup telepon dan hendak bangkit.


Namun, ketika Julian menggerakkan tangannya, Febi


tanpa sadar memegangnya dengan kuat. Febi berbaring di sana, bulu matanya yang


tebal bergetar gelisah seperti sepasang sayap kupu-kupu yang rapuh.


Hati Julian bergetar, dia menundukkan kepalanya dan


mengisap bibir Febi dengan keras.


Apa yang harus dia lakukan?


Perasaan dicintai dan diandalkan olehnya itu sangat


baik ... sangat baik....


Membuat Julian tidak ingin pergi.


Namun....


Bel pintu di luar pintu terus berdering.


"Aku membuka pintu sebentar. Aku akan segera


kembali." Tidak tahu apakah Febi bisa mendengarnya, tapi tangannya tetap


tidak melonggar.


Julian tersenyum getir.


Jika pada saat ini Febi sadar, apakah dia berani


memegang Julian begitu kuat dan gigih?


"Jangan khawatir, aku tidak akan pergi. Sekarang


aku harus membukakan pintu untuk doktermu...." Suara Julian menjadi lebih


lembut.


Seolah-olah Febi percaya dengan kata-kata Julian,


jari-jarinya sedikit mengendur. Saat ini, Julian baru berjalan ke pintu dan


dengan cepat membuka pintu.


"Apakah ada pasien di sini?" Ada seorang


dokter berdiri di luar pintu.


"Ya, cepat masuk. Kondisinya tidak baik, dia


demam parah." Julian meminta dokter masuk.


Dokter meliriknya dan berkata, "Kenapa kamu masih


mengenakan pakaian basah? Cepat dan gantilah, kalau tidak, kamu akan jatuh


sakit."


Tadi, semua perhatian Julian hanya terpaku pada Febi.


Setelah diingatkan oleh dokter, dia baru mengingat situasinya sendiri.


"Terima kasih, periksa dia terlebih dulu


saja."


Julian membawa dokter ke sisi ranjang. Dokter


memeriksa suhu Febi terlebih dulu, lalu memeriksa denyut nadinya lagi dan


berkata, "Mau mengukur suhunya terlebih dahulu, harus meletakkan


termometer di bawah ketiaknya. Mungkin harus memintamu untuk membantunya


duduk."


Julian memandang tubuhnya sendiri, "Segera,


tolong tunggu sebentar."


Julian pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya


yang basah, mengambil jubah mandi dan memakainya dengan sembarangan, lalu


berjalan keluar dengan cepat. Dia duduk tepat di kepala ranjang, mengulurkan


tangannya dan dengan mudah menggendong Febi, membiarkan Febi bersandar di


dadanya.

__ADS_1


...


__ADS_2