
Di tempat lain, ada kekhawatiran yang tiada henti, kecemasan yang melanda dan takut akan kehilangan.
"Maaf bu, bisa ikut saya ke ruangan dokter? Hasil pemeriksaannya sudah keluar,"
"Baik sus," sambil berjalan keluar ruangan.
"Silahkan duduk bu,"
"Terimakasih dok, bagaimana hasilnya? Ginjal saya cocok kan?"
"Maaf bu, dari hasil pemeriksaan, ginjal ibu tidak cocok dan harus segera mendapat pendonor, kalau tidak... "
"Kalau tidak apa dok?"
"Saya khawatir jika suami ibu tidak dapat bertahan lebih lama lagi,"
Mama Zara pun keluar dari ruangan dokter dengan terburu buru. Ia berjalan menuju taman, dan dengan segera ia pun menelpon seseorang.
"Assalamualaikum, maaf mengganggu waktunya bu, ada yang harus saya bicarakan," ucap mama Zara.
"Waalaikumsalam, tidak apa-apa bu, bagaimana kondisi suami ibu?"
__ADS_1
"Kondisi suami saya semakin lemah, dan hasil pemeriksaan ginjal saya tidak cocok, apa ibu bisa membantu saya? Saya mohon bu,"
"Saya akan mencarikan pendonor yang cocok untuk suami ibu dan membiayai operasinya, tapi dengan satu syarat,"
"Apa syaratnya?"
"Saya ingin Zara menikah dengan anak saya, Daffa".
"Tapi bu, Zara kan masih kuliah, mana mungkin dia menikah dengan dosennya sendiri, apa kata teman-temannya nanti?"
"Kita kan bisa melaksanakan akad dulu dan hanya keluarga yang tau, sampai Zara lulus baru kita adakan resepsi,"
"Saya tidak tahu apakah Zara mau menikah dengan anak ibu atau tidak, tapi saya akan coba untuk membujuknya,"
Kring kring... kring kring...
"Assalamualaikum Ra, lagi sibuk ga?"
"Waalaikumsalam, ga sibuk ko ma, gmana keadaan papa?"
"Itu yang mau mama omongin, hasil pemeriksaan kemarin ginjal mama ga cocok sama papa kamu,"
__ADS_1
"Trus gimana keadaan papa ma?"
"Dokter bilang kalau papa ga segera dapat donor ginjal, umur papa kamu ga akan lama lagi,"
"Trus gimana ma? Apa yang harus kita lakuin?"
"Sebenernya ada 1 cara untuk menyelamatkan papa kamu, bu Dian dan dokter Daffa akan membantu kita tapi ada syaratnya dan mama yakin pasti kamu ga mau ngelakuin ini."
"Demi papa ma, Ara mau ko ngelakuin apa aja, memang apa syaratnya?"
"Kamu harus menikah sama dokter Daffa"
"Apa? Mama ga salah ngomong kan? Ara masih kuliah loh,"
"Tuhkan kamu ga mau, yaudah kalo gitu kita jual rumah aja,"
"Kalo mama jual rumah nanti mau tinggal dimana? Yaudah Ara mau nikah sama dokter Daffa, tapi jangan sampe ada temen Ara yang tau"
"Kamu serius kan nak? Kamu tenang aja, bu Dian cuma minta kalian akad dulu ko, resepsinya nanti kalo kamu udah wisuda, yaudah mama bilang dulu bu Dian ya biar papa kamu cepet dapet donor ginjal, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" sambil menutup handphone nya. Ia tidak tau harus senang atau sedih secara dokter Daffa adalah pujaan hati mahasiswi. Wajahnya yang tampan dan sifatnya yang cuek namun sebenarnya sangat perhatian itu membuat para mahasiswi jatuh hati. Ara pun sudah mengenal bu Dian cukup lama dan sudah menganggapnya seperti ibu sendiri.
__ADS_1
Namun ia juga sedih karena harus menikah diusia muda yakni 21 tahun, tidak seperti targetnya yakni 25 tahun dan setelah lulus kuliah ia ingin bekerja dan membahagiakan orang tuanya dulu. Sebuah pilihan yang sulit.