Dokter Itu Suamiku

Dokter Itu Suamiku
Hadiah


__ADS_3

Ara membuka pintu gerbang dengan sangat pelan agar tidak ada orang rumah yang tau.


"Assalamualaikum Ra," sapa Dion sambil melambaikan tangan.


"Waalaikumsalam,"


Penampilan Dion udah beda kayak dulu. Dulu dia item, gendut, ko sekarang jadi cakep gini ya. Batin Ara heran.


"Aku kira kamu ga bakal keluar, kenapa chatnya ga dibales? Masih benci sama aku?,"


Sebenernya gw ga tau kenapa bisa benci sama orang sebaik Dion. Apa karena dia mengungkapkan perasaannya terlalu cepat? Gw juga merasa bersalah karna sikap gw yang kekanak-kanakan Dion jadi pindah sekolah.


"Ngapain kesini?" Jawab Ara singkat.


"Aku cuma mau ngasih oleh-oleh buat kamu. Seminggu yang lalu aku baru pulang dari Jerman. Trus pas aku liat ini jadi keinget kamu," kata Dion sambil memberikan bingkisan kepada Ara.


Ara mengambil bingkisan itu dengan ragu.

__ADS_1


Dion ternyata masih sama kayak dulu. Sama-sama baik. Dulu gw ga terima dia karena dia ga pinter-pinter banget jadi gw pikir dia bakal madesu(masa depan suram). Tapi perkiraan gw salah. Dia sekarang udah jadi businessman sukses. Dia punya butik terkenal yang dikelola berdua sama kakaknya. Mungkin omsetnya bisa nyampe jutaan perhari karna dia pake jasa artis dan selebgram buat endors brandnya.


"Semoga kamu suka sama hadiahnya"


"Makasih ya,"


"Iya sama-sama, kalo gitu aku pamit dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


Dion lalu melajukan mobil yaris orange nya meninggalkan rumah Ara. Ara memandangi mobil itu sampai bayangannya tidak terlihat lagi. Saat memasuki rumah ia dikejutkan dengan suara mamanya yang melihat Ara diluar sana.


"Temen mah, Ara kekamar dulu ya,"


"Awas ya jangan macem-macem bentar lagi kamu jadi istri orang."


"Kan masih lama mah, kuliah aja belom lulus,"

__ADS_1


"Kamu nikah 2 minggu lagi loh. Undangan, kebaya, hantaran semuanya udah siap. Termasuk tempat tinggal kamu sama Daffa di Bandung juga udah ada."


"Hah? Kenapa mama baru bilang sekarang sih? Jangan-jangan fitting tadi pagi buat nikahan lagi. Mah nikah tuh bukan main-main, lagian kan Ara mau nikah sama dia gara-gara keluarga kita punya utang,"


Dulu gw ga pikir panjang buat ngeiyain tawaran mama, karna gw ga mau kehilangan papa. Tapi kenapa sekarang berat banget ya rasanya. Tapi gw juga ga mau ngecewain orang tua, apalagi semua persiapan udah beres.


"Ko kamu jadi berubah pikiran gini sih, kan kamu sendiri yang setuju buat nikah sama Daffa. Atau gara-gara cowok tadi kamu berubah pikiran?"


"Kenapa jadi bawa-bawa Dion sih mah, dia kan cuma temen."


"Trus itu apa ditangan kamu? Hadiah dari dia kan?"


"Kenapa sih ribut-ribut? Ini udah malem loh!" papa Zara terbangun dari tidurnya karna suara ribut mereka.


"Gapapa kok pah, yuk kita tidur, Ara juga udah mau tidur kayaknya,"


Mereka pun kembali ke kamar masing-masing dan memilih untuk tidak bertengkar di hadapan papanya. Ara memasuki kamar dan dengan segera menguncinya agar tidak ada yang masuk. Ia dengan cepat membuka bingkisan yang diberi Dion. Mukanya terlihat sumringah saat membuka bingkisan tersebut.

__ADS_1



Sebuah musicbox kristal dengan sepasang angsa yang saling berhadapan. Angsa memang dikenal sebagai hewan yang melambangkan cinta dan kesetiaan. Sama halnya seperti Dion yang dengan setia menunggu Ara sejak mereka duduk di bangku SMP.


__ADS_2