
Sesampainya di mess mereka duduk di balkon dan bercerita tentang pengalamannya selama di rumah sakit. Tiba-tiba hp Ara berbunyi pertanda ada chat masuk. Ara kaget saat melihat nama dokter Daffa.
"Saya di depan cepat kesini, ada yang ingin saya bicarakan", sebuah pesan singkat namun membuat Ara degdegan.
Duh gimana nih kalo sampe temen-temen liat kan ga lucu.
"Dok tau kan kita lagi di balkon, nanti kalo temen saya liat gimana kan gawat!"
"Buktinya temen kamu ga liat saya sekarang kan? Lagian saya bawa mobil yang belum pernah saya pake ke kampus, kamu tenang aja!".
Ara pun meminta izin pada teman temannya untuk melihat sekeliling mess.
"Ra kita temenin ya," ucap Dea dan Della.
"Eh ga usah kalian disini aja, gw pergi bentar ko,"
Ara pergi dengan perasaan kacau, ia takut jika teman temannya curiga. Dokter Daffa pun memanggil Ara dari dalam mobil.
"Cepet masuk," ajak dokter Daffa.
Ara pun segera masuk ke dalam mobil.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Gimana prakteknya tadi?"
"Lancar ko, emangnya kenapa?"
"Cuma nanya," jawab dokter Daffa dengan singkat.
"Jadi dokter nyuruh saya kesini cuma buat nanya itu? Yaudah kalo gitu saya keluar," saat Ara hendak keluar dari mobil, dokter Daffa dengan cepat mencegahnya. Ia tidak sengaja memegang tangan Ara.
"Maaf," ucap Daffa sambil melepas tangan Ara.
Suasana di dalam mobil pun menjadi canggung.
"Saya minta kamu kesini karna saya mau ngajak kamu dinner. Kamu belum makan kan?" Belum sempat Ara menjawab pertanyaan itu dokter Daffa sudah melajukan mobilnya.
"Dok saya kan belum ganti baju, saya juga ga bawa tas," ucap Ara.
"Ya saya ga bawa dompet lah!" ucap Ara dengan nada bicara ngegas.
"Kan ada saya".
"Ya tapi kan saya belum ganti baju"
"Nanti kita beli".
__ADS_1
Disini gue bingung harus seneng atau sedih.
Mobil yang mereka kendarai pun sampai di salah satu mall. Dokter Daffa bergegas turun dari mobil diikuti Ara dibelakangnya. Daffa berjalan memasuki salah satu salon d mall tersebut. Ara pun terheran heran. Saat memasuki salon tersebut Ara langsung disambut baik oleh pelayan.
"Kita langsung makeover ya mbak!" Ucap pelayan tersebut.
"Loh dok bukannya kita mau ..."
Belum sempat Ara berbicara, dokter Daffa malah memotong pembicaraannya.
"Udah ikutin aja"
Ni orang maunya apa sih? Belum jadi suami aja dah kayak gini. Bisanya cuma maksa.
Dengan perasaan kesal Ara pun mengikuti apa yang pelayan itu katakan. Setelah kurang lebih 30 menit melakukan makeover Ara berjalan keluar dari salon dengan gaun toscha dan riasan simple namun elegant. Daffa yang tengah duduk sambil memainkan handphone pun melirik ke arah suara datangnya sepatu. Ia diam seribu bahasa saat melihat Ara yang begitu cantik.
"Dok ... (sambil melambaikan tangan di depan mata Daffa namun tidak ada respon sama sekali) , dok ko bengong sih, hellowwww?"
"Hah... kamu dah beres, yuk pergi"
Duh ni orang mau ngajak gue kemana sih, awas aja kalo sampe gue diculik trus dijual.
Mereka berjalan menuju hotel yang berada tepat di belakang mall. Ternyata Daffa sudah menyiapkan candle light dinner romantis di resto yang berada di rooftop hotel tersebut. Suasana malam dengan lilin yang bertabur kelopak mawar merah menambah kesan romantis untuk mereka.
__ADS_1
Gue ga salah liat kan? Bisa romantis juga ternyata. Tapi kenapa jantung gue tiba-tiba marathon sih? Jangan sampe gue baper.
Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu list. Ara memilih salmon steak with lemon butter sauce sedangkan Daffa memilih beef steak with mushroom sauce. Setelah memilih makanan keheningan pun kembali melanda.