
Di dalam bingkisan tersebut juga terdapat sepucuk surat yang berisi curahan hati Dion yang membuat Ara meneteskan air mata.
Ara pun tertidur sambil memeluk musicbox setelah membaca surat tersebut. Keesokan harinya matanya terlihat sangat bengkak karna ia menangis semalaman. Ia menyesal telah menyia-nyiakan Dion.
Apakah sekarang sudah terlambat untuk memulai ulang semuanya?
Ia bersiap siap karena harus kembali ke Bandung. Semua keluarganya ikut mengantar ke Bandung.
"Tumben banget pada ikut semua"
"Lah emangnya kenapa? Emang salah mau silaturahmi sama besan?"
"Idihhh nikah aja belom ngapain manggil besan"
"Bentar lagi kan jadi besan, oh iya emangnya kamu ga mau liat rumah baru?"
"Ga, Ara mendingan tinggal d kostan dari pada tinggal sama dosen sendiri, tar jadi skandal lagi di kampus."
"Jangan benci banget sama orang, tar jadi bucin baru tau rasa," ucap kakak Ara.
NAJIS ...
"Kalopun di dunia ini cuma ada Ara sama dia, mendingan Ara ga usah nikah."
__ADS_1
Sesampainya di Bandung mereka langsung berkunjung ke rumah bu Dian. Tuan rumah yang sudah menunggu menyambut mereka dengan senang hati.
"Alhamdulillah ya bu akhirnya kita bisa silaturahmi juga," ucap mama Ara sambil bersalaman dengan bu Dian.
"Iya bu alhamdulillah, mari masuk bu..."
Mereka sangat antusias membicarakan persiapan pernikahan anaknya.
"Bu makanannya sudah siap," ucap bi neneng yang merupakan asisten rumah tangga keluarga bu Dian. Bi neneng sudah bekerja di rumah itu sejak Daffa bayi.
"Kita makan dulu ya, pasti pada lapar kan abis perjalanan jauh, setelah itu kita liat rumah calon pengantin baru," ucap bu Dian yang dilanjutkan dengan candaan dari keluarga besar. Ara yang mendengar itu semua malah semakin kesal namun ia tetap tersenyum di depan mereka.
Berbeda dengan Ara, Daffa terlihat sangat bahagia meskipun ia masih malu-malu jika bertemu dengan keluarga Ara.
Ini rumah apa istana sih? Bisik Ara dalam hatinya.
"Wah kalo rumahnya sebesar ini, ga mungkin yang tinggal cuma berdua, isinya juga harus rame Ra," ucap papa Ara.
"Maksud papa?" Tanya Ara bingung.
"Maksudnya kalo kamu mau punya anak lebih dari 2 gapapa ko biar rame rumahnya,"
Hahahaha... semua anggota keluarga menertawakan Ara. Ekspresi Ara memang terlihat sangat kaget saat papanya selesai berbicara.
__ADS_1
"Yaudah yuk kita masuk," ajak Daffa pada mereka.
"Rumahnya memang masih banyak yang kosong, karena Daffa mau Ara yang pilih furniturenya."
"Ko saya sih dok, ini kan rumah dokter, ya dokter aja yang pilih,"
"Sebentar lagi kan jadi rumah kamu juga, jadi saya mau kamu juga ikut pilih,"
Daffa mengajak mereka berkeliling rumah sambil menunjukan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Ia juga tak lupa menunjukan kamarnya bersama Ara nanti. Kamar yang cukup luas dengan kamar mandi dalam dan kasur berukuran 200 x 200, tak lupa walk in closet dengan desain yang elegan turut memenuhi ruangan itu. Di halaman belakang terdapat gazebo yang menghadap kolam renang.
Setelah berkeliling cukup lama dan bersantai di gazebo, mereka semua pulang. Ara langsung diantar ke kost karena besok sudah mulai praktek lagi. Rumah sakit tempatnya praktek kali ini tidak terlalu jauh. Jadi ia bisa pp dan tak perlu pindah kostan.
Ia sangat pusing dengan nasibnya sekarang. Harus menyelesaikan praktek yang cukup menguras tenaganya, menyelesaikan skripsi yang membuat otaknya hampir meledak, dan memikirkan pernikahannya 2 minggu lagi.
Keesokan harinya saat ia bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Panas badannya pun mencapai 37.9°C . Ia meminta izin kepada dosen pembimbing karena sakit. Hal tersebut diketahui dokter Daffa yang langsung menengoknya. Saking khawatirnya, dokter Daffa sampai menelpon bu Dian dan memintanya untuk menjaga Ara.
"Dok saya kan udah gede, saya bisa urus diri saya sendiri."
"Kamu kan lagi sakit, tar kalo ada apa-apa gimana? Sekali-sekali nurut sama calon suami apa susah sih?"
Ara terdiam saat Daffa memanggil dirinya dengan calon suami.
Hai readers, maaf banget ya up nya lama...
Minta doanya semoga author diberikan kelancaran karena sedang praktek beneran huhuhu😭
__ADS_1