Dokter Itu Suamiku

Dokter Itu Suamiku
Penawaran


__ADS_3

"Bu, ada yang ingin saya bicarakan, bisa?" Tanya bu Dian pada mama Ara.


"Tentu saja". Mama Ara pun melepaskan pelukan dari anaknya dan menghapus air mata di pelupuk matanya.


"Kita bicarakan ini di luar," ucap bu Dian sambil mengajak mama Ara keluar ruangan dan berjalan agak jauh meninggalkan ruangan.


Ara sedikit bingung dengan tingkah bu Dian. Tapi ia tidak menaruh curiga sedikitpun karna ia telah mengenal bu Dian cukup lama.


***


"Maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk mencampuri urusan keluarga ibu, tapi saya bisa bantu untuk membiayai operasi sekaligus mencarikan pendonor ginjal untuk suami ibu."


"Terimakasih bu, tapi saya tidak ingin merepotkan siapapun, untuk pendonor, saya yang akan menjadi pendonornya dan masalah biaya, saya kan bisa pinjam," Jawab mama Ara.


"Baiklah kalau begitu, tapi jika ibu memerlukan bantuan jangan sungkan ya bu, saya sudah menganggap Ara sebagai anak sendiri dan saya tidak tega melihat dia sedih seperti itu."


Setelah berbincang-bincang, mama Ara dan bu Dian pun segera kembali ke ruangan. Namun di tengah perjalanan mereka melihat seorang suster masuk ke ruangan tersebut. Mama Ara pun menjadi khawatir, lalu ia berlari menuju ruangan disusul dengan bu Dian yg ikut berlari ke ruangan.


***

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Ceklek (Suara pintu terbuka)


Seorang perawat datang dan menanyakan suatu hal.


"Maaf mbak, apakah pendonornya sudah ada? Jika sudah kita akan memeriksa dulu apakah ginjalnya cocok dengan pak Gilang atau tidak,"


Ceklek (Suara pintu kembali terbuka)


Mama Ara dan Bu Dian pun langsung masuk ke ruangan.


Pernyataannya tersebut sontak membuat kaget Daffa dan Ara. Tanpa sepatah kata pun, ia kembali meneteskan air mata.


"Sayang, kamu yang tenang ya, mama baik-baik aja ko, inikan demi papa kamu," sambil mengusap kepala Ara. Ara pun mengangguk pertanda setuju. Setelah itu mama Ara langsung mengikuti suster yang mengajaknya pergi ke tempat dimana ia akan diperiksa.


Sesampainya di ruang pemeriksaan, terlebih dahulu ia ditensi untuk melihat tekanan darahnya. Setelah itu ia melakukan tes darah dan serangkaian tes lainnya. Setelah melalui beberapa rangkaian tes, mama Ara pun diminta untuk menunggu dan mengambil hasil tes besok.


***

__ADS_1


"Ra, ini udah sore loh, kapan ke Bandung? Besok kan harus kuliah," tanya mama Ara.


"Yaudah 5 menit lagi ya ma,"


"Gimana kalo Ara pulang bareng sama ibu? Kebetulan ibu juga mau pulang"


Akhirnya Ara pulang bersama bu Dian dan dokter Daffa. Karena jarak Bogor-Bandung memerlukan waktu yang cukup lama, Ara pun sampai tertidur di mobil. Bahkan, saat mobil dokter Daffa sudah sampai di depan kost Ara, Ara pun masih tertidur.


"Ibu yakin mau bangunin Ara? Kayaknya dia kecapean banget deh," ucap Daffa kepada ibunya.


"Ibu juga ga tega Daf, apalagi kan besok dia harus bangun pagi, gimana kalo kita bawa ke rumah aja?"


"Yaudah bu bawa ke rumah dulu aja,"


Sesampainya di depan rumah, mereka pun langsung turun, karena Ara masih tertidur lelap akhirnya Daffa menggendong Ara menuju kamar, namun saat beberapa langkah lagi menuju kamar, tiba-tiba Ara terbangun.


Arrrghhhhh....


Ara berteriak dengan kerasnya sambil memukul pundak Daffa. Daffa pun terkejut karena teriakan Ara dan langsung menurunkannya.

__ADS_1


__ADS_2