
Semakin hari Zara semakin dekat dengan bu Dian. Namun Zara tidak tahu bahwa bu Dian adalah ibu dari dr. Daffa. Bu Dian sengaja menyembunyikan semuanya dari Zara. Dokter Daffa pun tidak tahu bahwa masakan yang selalu ia puji enak adalah masakan Zara dan ibunya. Bu Dian sering sekali mengajak Zara untuk main ke rumahnya dan memasak bersama. Maklum, selama ini Bu Dian hanya tinggal bersama anaknya, seorang pembantu, dan seorang satpam. Suaminya sudah meninggal sejak dr. Daffa lulus SMA.
Selain itu, Bu Dian sering mengajak Zara untuk pergi ke mall, sekedar untuk nongkrong di cafe atau memilih baju dan makeup. Selama ini Bu Dian ingin sekali memiliki anak perempuan, namun setelah melahirkan dr. Daffa Bu Dian tidak bisa lagi memiliki keturunan karena sebuah penyakit yang mengharuskan ia menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim.
Tak terasa Zara pun sekarang sudah memasuki semester 7. Zara yang semakin glow up membuat para pria di kampusnya menjadi salah fokus. Tak terkecuali dr. Daffa. Ia yang sudah lulus menjadi dr. Spesialis anestesi dan semakin sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit pun rela bolak balik ke kampus hanya untuk melihat Zara.
Di tempat lain, kakak Zara pun sudah lulus menjadi seorang dokter gigi. Bahkan beberapa minggu lagi ia akan menikah dengan seorang polisi. Sedangkan ibunya yang bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Bogor, sudah jarang sekali menemui Zara karna harus merawat papa Zara yang sedang sakit. Papa Zara mempunyai masalah pada ginjalnya sehingga harus dirawat di rumah sakit.
Kabar itu sampai ke telinga Zara dan ia segera pulang untuk menjenguk papanya.
"Pah, gmana kabar papa sekarang? Kenapa ga ngasih tau Zara sih kalo papa masuk rumah sakit," kata Zara dengan sedikit kesal.
__ADS_1
"Zara ko disini? Kamu kan sebentar lagi praktek, belum lagi harus persiapan buat nyusun skripsi, lebih baik kamu pulang ke Bandung ya, lagian papa sekarang udah baikan ko," ucap papa Zara yang tidak ingin membuat anaknya khawatir.
"Iya Zara, kamu ko pulang ga bilang-bilang mama sih," sambung mama Zara.
"Ngga pah... ma... Zara mau disini nemenin papa, lagian kan prakteknya mulai minggu depan jadi Zara berangkat ke Bandung nanti aja, biar ada yang gantiin mama nungguin papa," kata Zara.
Tok tok tok assalamualaikum...
Waalaikumsalam...
Tiba-tiba kakak Zara datang bersama dengan calon suaminya.
__ADS_1
"Pah gimana kabarnya?" Tanya kakak Zara sambil mencium punggung tangan papa secara bergantian dengan calon suaminya.
"Alhamdulillah papa sudah baikan. Gimana persiapannya pernikahan kalian, lancar kan?" Tanya papa Zara dengan semangat.
"Alhamdulillah pah lancar, tadi kita abis pilih WO (wedding organizer) sma cathering ." Kata kakak Zara.
"Syukur kalo semuanya dilancarkan, semoga Allah mempermudah urusan kalian ya, papa ga sabar pengen punya cucu, iya kan mah?," ucap papa Zara.
"Ih papa ga sabaran banget sih, mereka kan baru mau nikah, tapi kalo kalian sudah nikah nanti, jangan nunda buat punya momongan ya," jawab mama Zara dengan candaan.
Kakak Zara dan calon suaminya hanya bisa tersenyum mendengar permintaan dari orang tuanya.
__ADS_1
Mereka pun asik mengobrol, tertawa sejenak untuk menghilangkan stres. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 20.00. Di ruangan itu hanya tersisa Zara, mama, dan papanya. Zara pun memutuskan untuk menginap di rumah sakit.