
Keesokan harinya, semua mahasiswa sudah berkumpul di kampus untuk mendengarkan bimbingan sebelum praktek, meskipun praktek diadakan 2 minggu lagi namun bimbingan diadakan lebih awal agar para mahasiswa lebih siap.
"Duh Zara kemana sih, masa jam segini belom dateng, 5 menit lagi kan dosen PA masuk," kata Dea dengan muka cemas.
"Coba gua telpon deh," kata Della.
Tutttt tutttt tutttt telpon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi
5 menit kemudian dosen pembimbing pun datang untuk mengabsen mereka. Saat nama Zara disebut semua mahasiswa saling mencari satu sama lain.
"Tumben ya Zara ga masuk tanpa kabar," ucap salah seorang mahasiswa.
***
Di sofa rumah sakit, Zara yang baru bangun, menggeliat dan melamun untuk beberapa waktu, ia pun teringat sesuatu dan terkejut lalu dengan segera mengaktifkan ponselnya.
"Yaampun, skarang kan waktunya bimbingan, tuh kan 6 panggilan tak terjawab," gumam Zara dalam hatinya.
Ceklek (Tiba-tiba pintu kamar pun terbuka)
__ADS_1
"Kamu udah bangun nak," ucap mama Zara.
"Udah ma, mama abis dari mana? Ko ga bangunin aku?" Tanya Zara.
"Mama abis cari sarapan buat kamu, nih mama bawain bubur ayam," jawab mama.
"Wahhh, makasih ya ma, oh iya ma, nanti sore Ara mau pulang ke Bandung ya, katanya besok udah mulai bimbingan," ucap Zara kepada orang tuanya.
"Tuhkan apa mama bilang, baru aja kemaren nyampe eh skarang udah mau pulang lagi, mama kan kasian sama kamu nak, pasti cape dijalan, belum lagi kalo macet," gumam mama Zara.
"Gapapa ko ma, Zara kan kangen sma mama papa," ucap Zara.
"Ok ma," sambil mengangkat jempolnya pertanda setuju.
***
Setelah bimbingan selesai, sebagian mahasiswa tidak langsung pulang, tapi mereka lebih memilih nongkrong di kantin. Di waktu yang bersamaan, dr. Daffa yang sedang melaksanakan shalat dhuha di musholla pinggir kantin, melihat Dea dan Della yang tidak lain adalah teman Zara. Tapi ia tidak melihat Zara disana. Lalu dr. Daffa pun memanggil Dea, dan dengan segera Dea menghampirinya.
"Ada apa ya dok panggil saya?" Tanya Dea heran.
__ADS_1
"Mahasiswa datang semua kan pas bimbingan tadi?" Tanya dr. Daffa.
"Ngga dok, Zara ga datang, kita juga ga tau tanpa kabar sampe sekarang," jawab Dea dengan muka memelasnya.
"Cuma Zara aja kan? Ok makasih."
Setelah itu dr. Daffa langsung pergi ke arah parkiran meninggalkan Dea. Ia segera pulang ke rumah dan membereskan barang-barangnya.
"Bu, aku mau pergi dulu ya ke rumah temen, ibu tumben ga ada yang nemenin? Biasanya kan ngajak tetangga masak bareng?" Tanya dr. Daffa kepada ibunya.
"Yaudah hati-hati ya. Iyanih ibu juga aneh, dari semalem ibu chat tapi ga dibales, ga biasanya dia kayak gini, ibu jadi khawatir deh Daf, jangan-jangan dia tadi ga masuk kuliah lagi," jawab bu Dian yang merasa khawatir kepada Zara karena Zara sudah dianggap seperti anak sendiri.
"Apa bu? Kuliah? Kuliah dimana?" Tanya Daffa bertubi tubi.
"Dia kuliah di Universitas X, tempat kamu kerja,"
"Jurusan? Ko bisa sih ibu main sama anak muda? Kirain tetangga ibu yang suka masak itu ibu-ibu juga."
"Panjang deh ceritanya, dia ngambil jurusan anestesi namanya Zara, di..." jawab bu Dian, namun tiba-tiba Daffa memotong pembicaraan karna terkejut.
__ADS_1
"Apa? Zara? Dia hari ini ga masuk kuliah bu, tanpa kabar lagi, dan skarang kayaknya aku mau ke Bogor karna tadi dapat kabar kalo dia lagi di rumah sakit," ucap Daffa.