
Mama Zara pun kembali menelpon bu Dian dan memberitahu jika anaknya bersedia untuk menikah dengan dokter Daffa. Bu Dian sangat senang mendengar berita itu dan ia segera memberitahu Daffa untuk mencarikan donor ginjal.
Untuk orang dengan budget tidak berseri cukup mudah mencari pendonor ginjal. Ia pun mengirim alamat rumah sakit dan nama penerima donor ginjal kepada anak buahnya.
Mama Zara sangat senang saat mendengar ada pendonor yang cocok dengan suaminya. Ia sangat berterimakasih kepada bu Dian dan dokter Daffa.
Daffa sangat senang karena akan menikah dengan orang yang selama ini ia kagumi. Tak hanya cantik, pintar, tapi Zara juga pandai memasak. Bu Dian pun sangat senang akhirnya anak semata wayangnya akan segera menikah. Ia tak sabar ingin segera menimang cucu. Namun ia tidak tahu apakah Zara memiliki perasaan yang sama dengan anaknya atau tidak.
Setelah mendapat pendonor ginjal yang cocok, dokter segera membuatkan jadwal untuk operasi papa Zara dan operasinya dilaksanakan besok.
Keesokan harinya saat operasi segera dimulai, ada perasaan cemas dari pihak keluarga. Di luar ruang operasi sudah ada kakak Zara, calon suaminya dan mama Zara. Mereka menunggu hampir 4 jam sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan dan memberitahu kondisi papa Zara. Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar.
•••
Tepat 1 minggu setelah papa Zara dioperasi, keluarga menggelar acara pernikahan untuk kakak Zara. Zara yang mengenakan kebaya berwarna toscha itu terlihat sangat cantik. Dari kejauhan ada sepasang mata yang tak henti menatap Zara, yaitu dokter Daffa. Yups, dokter Daffa dan ibunya diundang untuk menghadiri acara itu sekaligus berkenalan dengan keluarga besar Zara.
__ADS_1
***
"Cape juga ya," lirih Zara sambil duduk di sofa.
"Istirahat gih, besok kan harus pulang ke Bandung," balas Daffa.
Zara terkejut karena dokter Daffa datang secara tiba-tiba.
"Loh dok ko belum pulang?" Tanya Zara heran.
"Hari ini kan saya nginep di rumah kamu, disuruh calon mama mertua," ucap dokter Daffa dengan muka datar nya.
Keesokan harinya, Zara kembali ke Bandung bersama dokter Daffa. Keheningan pun sangat terasa di dalam mobil. Zara pun hanya bisa memandang ke arah luar sampai akhirnya tertidur.
Sesampainya di depan kostan Ara, dokter Daffa langsung membangunkannya. "Ra udah nyampe, mau turun apa ngga?" Ucap dokter Daffa. Ara pun terbangun dan mengucapkan terimakasih dengan muka datarnya setelah itu ia langsung turun dari mobil.
__ADS_1
Sesampainya di kamar ntah apa yang ia rasakan. Tiba-tiba air matanya terjatuh begitu saja.
"kenapa sih nasib gue gini banget? Harus nikah sama dosen sendiri di usia gue yang masih muda," ia terus menangis sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok... Ara...
Dengan segera Ara menghapus air matanya. "Masuk aja," ucap Ara.
"Ra lo abis nangis ya?" kata Bella sambil mengusap pundak Zara.
"Gapapa ko, gue cuma lg pms aja," timbal Ara.
"Padahal tadinya mau ngajak makan, tapi yaudah deh lo mending istirahat aja," kata Bella sambil keluar dari kamar Ara.
"Yaudah yu gue anter, lagian bete juga di kamar,"
__ADS_1
"Btw tadi lo pulang dianterin siapa? Hmmm kayaknya ada yang disembunyiin nih, bilang dong kalo udah punya pacar,"
"Apaan sih, itu sodara kali,"