
Silahkan duduk bu, pak!" Ucap mama Zara sambil mengambil minuman untuk mereka.
"Terimakasih bu tidak usah repot-repot," kata bu Dian.
"Gimana pak kondisinya sekarang? Udah baikan?" Tanya dokter Daffa.
"Alhamdulillah sudah baik," sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit.
"Ibu ko bisa tau kalo papa Zara lagi sakit?" Tanya Zara.
"Ibu tau dari ..." tiba-tiba Daffa memotong pembicaraan ibunya.
"Kamu kan tiap hari main ke rumah, jadi ibu khawatir pas kemarin kamu ga ada kabar, di chat juga ga dibales," timpa dokter Daffa yang berusaha mencari alasan.
"Ya maaf, disini kan Zara jarang main hp,"
__ADS_1
"Lain kali ijin dulu kalo mau pergi, kasian temen sekelas nyariin, jangan sampe absen dikosongin," sahut Daffa dengan muka juteknya.
"Loh kata Ara kan masuknya besok dok," ucap mama Ara.
"Maafin Ara ya ma, Ara kan pengen disini nemenin papa jadi Ara bolos dulu sehari lagian kan tadi udah bilang kalo hari ini mau pulang," dengan memasang muka melasnya.
"Yaudah tapi lain kali jangan gitu lagi ya, mama ga suka," ucap mama Zara.
Mereka pun mengobrol dengan akrabnya seperti sudah kenal lama, namun tiba-tiba papa Zara mengalami kejang-kejang. Semuanya menjadi panik dan suasana pun menjadi kacau, lalu dokter Daffa pun segera memencet tombol bel yang berada di dekat kasur dan tidak lama kemudian seorang dokter pun datang bersama dengan seorang perawat.
Zara seketika menjadi khawatir dan air mata pun menetes dari mata sipitnya. Daffa yang pertama kali melihat Zara menangis menjadi tidak tega, begitupun dengan mama Zara dan juga bu Dian.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani papa Zara pun keluar dan langsung diserbu oleh pertanyaan dari keluarga pasien.
"Dok gimana keadaan suami saya," ucap mama Zara panik.
__ADS_1
"Iya dok gimana keadaan papa saya?"
"Maaf bu, seperti yang sudah saya bilang kemarin, suami ibu harus segera menjalani transplantasi ginjal dan mencari pendonor yang cocok."
"Apa dok? Transplantasi ginjal?" Tangis Ara pun semakin menjadi jadi.
"Untuk biayanya kira-kira berapa ya dok?" Tanya mama Ara.
"Untuk masalah biaya ibu bisa langsung tanyakan ke bagian administrasi, permisi bu" dokter pun lalu pergi.
Bu Dian yang merasa kasian kepada Ara, dengan cepat memeluknya. Daffa pun ikut khawatir dengan keadaan Ara.
Mama Ara lalu pergi untuk menanyakan biaya operasi dan memikirkan bagaimana caranya mendapat pendonor ginjal yang cocok. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya untuk suami tercinta. Setelah sampai di administrasi, ia pun segera menanyakan mengenai biaya transplantasi ginjal, namun ia terkejut saat mengetahui bahwa biayanya sangatlah mahal dan itu belum termasuk biaya obat-obatan. Tanpa disadari, Daffa yang mengikuti mama Ara menjadi kasihan lalu ia menghampiri mama Ara dan menenangkannya.
"Tante yang sabar ya, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama," ucap Daffa sambil mengelus pundak mama Ara.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke ruang perawatan papa Zara. Saat mamanya sampai ke ruangan, Zara langsung memeluknya sambil menangis. Saat Zara dan mamanya berpelukan, Daffa dan ibunya berdiskusi dan memutuskan untuk membantu biaya operasi papa Zara dan mencarikan pendonor ginjal yang cocok tapi dengan satu syarat.