Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Menemui Claire


__ADS_3

Amber menarik napas dalam-dalam, memasukkan kembali kartu ATM yang ia genggam ke dalam dompet. Wanita itu menyebrang jalan, membuka pintu kaca rumah balet dan masuk ke dalam ruangan yang ia sebut sebagai kantor.


Di kursi tempat ia duduk, Amber berpikir. Berbagai prasangka muncul di benaknya, terkait tujuan Arion mengirimkan uang sebanyak itu.


Setelah hampir satu jam melamun dan berdiam diri, Amber memutuskan untuk melupakan sejenak semua tentang Arion. Jika terus memikirkan laki-laki itu, Amber hanya akan semakin gelisah dan tidak nyaman.


Wanita itu keluar dari kantor kecilnya dan berjalan memasuki sebuah ruangan yang lama tidak ia kunjungi. Sebuah ruangan kosong dengan satu tiang besi yang menempel kuat dari lantai hingga langit ruangan.


Amber melepas pakaiannya, menggantinya dengan pakaian yang lebih terbuka dan nyaman agar ia bisa bergerak bebas menikmati setiap alunan lagu yang ia putar melalui ponselnya.


Sebelum memulainya, Amber melakukan pemanasan ringan. Wanita itu memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada tubuh yang akan memulai permainannya.


Tubuh ramping, berat badan yang ideal serta kelenturan otot dan ketenangan hati, adalah kunci dalam melakukan pole dance. Wanita yang menari pole dance biasa di sebut sebagai penari tiang. Meski tarian itu terkesan erotis dan sensual, namun Amber menyukainya. Ia menari pole dance untuk menyalurkan hobinya, bukan sebagai pekerjaan utama.


Dua tahun lalu, Amber sempat mendapatkan tawaran pekerjaan dengan gaji yang sangat besar di sebuah club malam yang terkenal. Pekerjaan itu berhubungan dengan kesukaannya, yaitu pole dance. Namun Amber menolak, ia menari karena hobi, dan menjadi penari di club malam tentu membawa resiko yang besar.


Setelah usai melakukan pemanasan, Amber mulai menaiki tiang besi di depannya. Dengan memejamkan mata, Amber menyatukan tubuhnya dengan tiang besi yang telah menjadi partnernya. Di iringi lantunan musik yang mengalun lembut, wanita itu melupakan segala keluh kesah hidupnya.


Selama menari, Amber berusaha tetap fokus. Namun bayangan wajah Arion seakan enggan hilang dari kepalanya.

__ADS_1


Wanita itu melengkungkan tubuhnya pada tiang, lalu tiba-tiba merasakan sebuah tangan menyentuh pinggangnya. Amber membuka mata, menyadari jika tidak ada siapa-siapa di dekatnya.


"Hah!" Amber menghela napas kasar.


Ingatan tentang kejadian beberapa waktu lalu bersama Arion membuyarkan konsentrasinya. Ciuman bibir itu, gairah panas hingga tubuhnya yang basah oleh belaiannya, Amber masih mengingatnya dengan jelas.


Amber turun dari tiang, menjatuhkan diri di atas matras dan berbaring dengan tenang. Wanita itu memejamkan mata, merasakan keinginan yang sama. Jelas terasa denyutan aneh terjadi di syaraf-syaraf sensitif tubuhnya setiap membayangkan Arion. Wanita itu mulai sulit mengontrol dirinya.


...****************...


Setelah makan siang, Amber meninggalkan rumah balet. Wanita itu sudah menghubungi sebuah nomor yang dikirimkan oleh Arion semalam, namun setiap pesan dan panggilan yang ia lakukan terus diabaikan.


Amber sudah mencari tahu beberapa hal tentang Claire, dan ia mendapatkan info tentang agensi yang menaungi artis serta model terkenal tersebut.


"Apa anda sudah membuat janji?" tanya satpam tersebut.


"Tidak, tapi ada hal penting yang harus kami bicarakan. Ini terkait putrinya," jawab Amber.


Namun satpam tidak percaya. Satpam itu hanya berpikir jika Amber adalah seorang fans yang ingin bertemu idolanya dan hanya mencari-cari alasan.

__ADS_1


Seberapa keras Amber berusaha menjelaskan, wanita itu tidak di perbolehkan masuk oleh petugas keamanan.


Demi Aara, Amber rela menunggu di pinggir trotoar. Ia tidak tahu ke mana harus mencari Claire, namun kantor agensi ini pasti bisa mempertemukan mereka.


Selama satu jam, dua jam, hingga hampir empat jam lamanya Amber menunggu, ia melihat sebuah mobil mewah berwarna merah menyala memasuki gerbang kantor.


Saat jendela kaca sedikit terbuka, Amber mengenali sosok wanita cantik berkaca mata hitam yang ada di kursi belakang.


Amber berlari cepat, memanggil nama Claire dan berusaha menerjang penjagaan ketat petugas keamanan.


"Nona Claire! Nona Claire!" teriak Amber.


Wanita cantik bergaun merah ketat dengan rambut panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai indah sepinggang itu turun dari mobil dan menoleh Amber singkat. Namun Claire merasa jika Amber adalah orang tidak penting lalu berjalan mengabaikannya.


"Ini tentang Aara. Saya pengasuh Aara!" teriak Amber. Kedua tangan wanita itu di pegang kuat oleh dua petugas keamanan, namun ia terus berteriak memanggil nama Claire.


"Saya pengasuh Aara!"


"Tolong dengarkan saya!"

__ADS_1


Amber terus berteriak, hingga Claire menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh pada Amber.


...🖤🖤🖤...


__ADS_2