
Setelah memberikan ancaman cukup menakutkan pada Amber, Arion bergerak mundur dan membiarkan wanita yang bekerja sebagai pengasuh putrinya itu pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Amber menuruni anak tangga dengan perasaan cemas. Ia khawatir kalau-kalau Claire kembali mengingkari janjinya.
Wanita itu keluar dari rumah, mendapati Aara dengan wajah ceria sudah berdiri di samping bodi mobil bersama seorang sopir.
Kini Amber semakin cemas, ia merogoh ponsel di tasnya dan menghubungi Claire.
Satu kali panggilan tak terjawab, Amber gelisah.
"Mama, ayo!" seru Aara berteriak. Gadis kecil itu nampak benar-benar tidak sabar untuk segera pergi.
"Mama! Ayo cepat!" Aara berteriak lagi karena Amber tak kunjung mendekatinya.
"Baik, Sayang. Baik. Ayo!" ucap Amber. Ia mendekati Aara dan mengajak gadis kecil itu masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Amber ketakutan. Entah sudah berapa pesan dan berapa panggilan yang ia tujukan pada Claire, namun satupun tidak ada sahutan.
"Bagaimana jika dia benar? Bagaimana jika Nona Claire lagi-lagi mengingkari janji?" batin Amber ketakutan.
Amber menatap Aara, anak itu terus menyanyikan lagu anak kesukaannya sambil menatap ke arah luar jendela. Terlihat dengan jelas rasa bahagia yang sedang gadis kecil itu rasakan. Amber akan sangat merasa bersalah jika sampai sore ini mereka gagal menemui Claire.
__ADS_1
"Mama, Aara mau beli bunga," ucap Aara.
"Bunga? Untuk apa?" tanya Amber.
"Untuk Mommy. Mommy suka bunga warna putih."
"Ah, begitu." Amber mengangguk. Ia kemudian mencolek bahu sopir yang sedang fokus mengemudi untuk memintanya mencari toko bunga.
Setiap menit setiap detik, Amber menatap layar ponselnya. Ia ingin Claire memberikan sedikit harapan, agar ia tidak larut dalam rasa takut dan kecemasan.
Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di depan sebuah toko bunga. Aara menggoyangkan tangan Amber yang sedang melamun, anak itu mengajak Amber turun untuk membeli bunga.
"Aara mau bunga apa, Sayang?" tanya Amber.
Amber hanya mengangguk, ia memilih beberapa tangkai mawar putih serta lily putih yang masih segar. Amber meminta pemilik toko untuk merangkainya dengan cantik.
Hanya berselang lima menit, mereka telah mendapatkan bunga sesuai keinginan Aara, namun Amber tak kunjung mendapatkan balasan pesan dari Claire. Hal itu membuat Amber semakin ketar ketir, terlebih letak kantor agensi Claire sudah sangat dekat.
"Apa Aara mau mampir membeli es krim?" tawar Amber. Ia berencana mengulur waktu sampai Claire membalas pesannya.
"Tidak mau, Aara mau bertemu Mommy," tolak Aara.
__ADS_1
Amber menghela napas panjang. Ia segera meminta sopir untuk melajukan mobil yang mereka tumpangi.
Setelah sampai di depan gerbang kantor, petugas keamanan langsung membuka gerbang saat mengetahui bahwa Amber adalah penumpang mobil tersebut.
Setelah turun, Amber menggandeng Aara menuju ke kafe yang terletak di dalam kantor.
"Mommy mana?" tanya Aara sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kafe. Ia mengamati beberapa orang yang duduk menikmati makanan serta minuman mereka sambil mencari keberadaan Claire.
"Sebentar, ya, Sayang. Mungkin Mommy masih dalam perjalanan," jawab Amber. Padahal, belum satupun balasan pesan ia terima dari Claire.
Agar membuat Aara tetap tenang dan sabar menunggu, Amber memesan makanan ringan serta dua porsi es krim untuk Aara.
Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga hampir satu jam berlalu. Aara telah menghabiskan es krim serta camilannya, namun Claire masih tak terlihat batang hidungnya.
"Ah, bagaimana ini?" Amber hampir putus asa.
"Apa Mommy masih lama?" tanya Aara. Wajahnya sudah tampak lelah dan bosan.
"Apa Aara mau es krim lagi? Atau mau camilan lagi?" tawar Amber. Aara hanya menggeleng.
"Maafkan Mama Amber, Sayang. Mungkin sebaiknya kita datang lain kali, atau sebaiknya kita mendengarkan saran Daddy," gumam Amber.
__ADS_1
Wajah Aara berubah sedih saat Amber mengajaknya bangkit dari kursi. Namun dari arah lain, terdengar suara sepatu hight heels membentur lantai dengan nyaring. Suara seorang wanita berteriak memanggil Aara.
...🖤🖤🖤...