Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Memilih Pakaian Untuknya


__ADS_3

Usai menikmati es krim, Arion mengajak Aara menuju ke toko mainan. Dengan senang, Aara mendorong troli kecil dengan bantuan Amber sambil memilih beberapa mainan yang belum ia miliki di rumah.


Amber dan Aara sibuk memilih mainan dan mencobanya. Sementara Arion, mengikuti di belakang mereka dengan sabar.


Saat melihat Amber dan Aara, Arion menyadari sesuatu yang selama ini ia inginkan, yaitu kebahagiaan yang sederhana.


Rupanya, bukan memiliki istri cantik dan terkenal serta harta berlimpah dan ketenaran sebagai sumber kebahagiaan. Namun bahagia yang sederhana dan berkesan adalah melihat tawa di wajah putrinya serta kesejukan hatinya.


Setelah mendapatkan beberapa mainan yang ia inginkan, Arion membawa putrinya serta Amber keluar dari toko.


"Kau tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Arion.


"Tidak," jawab Amber.


"Lusa aku akan menghadiri sebuah pesta dari salah seorang rekan bisnis. Haruskah aku membeli setelan jas baru?" tanya Arion meminta pendapat.


"Jika memang perlu, kenapa tidak?"


"Baiklah. Kau mau membantuku?"


"Tentu." Amber mengangguk.


Mereka bertiga akhirnya memilih sebuah toko pakaian pria ternama yang terletak di lantai tiga mall.


"Pakaian seperti apa yang kau sukai?" tanya Amber.


"Sederhana saja. Aku suka warna yang netral dan tidak mencolok."


"Hitam, atau abu-abu?"

__ADS_1


"Aku akan menerima pendapatmu," jawab Arion.


Amber mengangguk, ia meminta seorang pramuniaga toko untuk membawa beberapa setel jas berwarna hitam dan abu-abu koleksi terbaru mereka.


Sebagai seorang pengusaha kaya dan terkenal, Arion membutuhkan pakaian yang formal serta mendukung penampilannya dengan gaya yang menakjubkan. Amber berusaha sebaik mungkin untuk membantu Arion memilih. Wanita itu meneliti semua pakaian yang disodorkan oleh pramuniaga dari warna, model, hingga kainnya.


"Kau mau coba yang ini?" tanya Amber.


"Apa aku harus mencobanya?" Arion bertanya balik. Karena selama ini ia tidak pernah berbelanja pakaian. Semua pakaian yang ia miliki adalah pilihan ibu dan mantan istrinya dulu.


"Jika tidak mencobanya, bagaimana aku bisa tahu ukuran yang cocok?"


"Ah, begitu. Baiklah." Arion mengangguk.


Amber memberi laki-laki itu satu setel jas berwarna hitam, warna hitam ini berbeda dengan hitam pada umumnya. Karena warna akan nampak kebiruan saat terkena cahaya terang.


Setelah mencoba satu setel pakaian pilihan Amber, Arion keluar dari bilik ganti.


"Ini bagus," gumam Arion.


Amber terdiam, mengamati Arion dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu mendekati Arion, melihatnya dari dekat.


"Kau suka?" tanya Amber.


"Warna yang bagus, aku menyukainya."


"Tapi ini tidak terlihat nyaman di bagian ini." Amber menunjuk bagian bawah tubuh Arion. Ia melihat bagian celana yang terlihat agak ketat.


"Ah, ya. Sedikit." Arion mengangguk.

__ADS_1


Amber berbalik, ia bertanya pada pramuniaga toko di belakangnya.


"Bisakah kami mendapatkan size yang lebih besar dengan warna dan model yang sama?"


"Tentu saja, Nona. Anda beruntung karena model dan warna ini memiliki dua size dan hanya ada dua produk di negara ini," jawab pramuniaga tersebut.


"Baik, terima kasih." Amber mengangguk senang.


Arion memperhatikan Amber, melihat bagaimana wanita itu begitu teliti dalam mengambil keputusan. Bahkan tanpa harus Arion mengungkapkan keluhannya, Amber bisa dengan mudah menebak hanya dengan melihat.


Arion kembali ke dalam bilik ganti dan berganti pakaian. Saat keluar, laki-laki itu sudah melihat Amber dan Aara berdiri di depan kasir.


"Bagaimana?" tanya Arion.


"Kita tinggal membayarnya," jawab Amber.


Arion mengangguk, ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam dari dalam dompetnya. Saat petugas kasir menyebutkan nominal yang harus mereka bayar, Amber melotot.


"Apa? Harganya tidak masuk akal!" gumam wanita itu. Ia menelan ludah.


Namun berbeda dengan Arion. Ia tidak nampak terkejut atau bahkan keberatan. Ia langsung membayar dan mengajak Amber serta Aara keluar dari toko tersebut.


"Apa kau tidak keberatan dengan harga pakaian ini? Harganya setara dengan satu buah sepeda motor," protes Amber.


"Tidak masalah, itu harga yang murah untuk sebuah karya seni. Lagi pula aku menyukainya," jawab Arion.


"Hmm." Amber menelan ludah. Wajar saja, Arion memang kaya raya, harga itu pasti tidak sebanding dengan uang yang ia miliki.


Setelah keluar dari toko tersebut, ponsel Amber berdering. Ia melihat sebuah pesan dari seseorang yang telah lama ia tunggu.

__ADS_1


"Nona Amber, bisakah aku bertemu sore ini? Tolong bawa dia datang ke kantor agensiku." Tulis Claire dalam pesan singkat.


......🖤🖤🖤......


__ADS_2