Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Kabar Baik dan Buruk


__ADS_3

Beberapa saat, Amber terdiam. Namun ia segera mengambil ponsel dan melihat kalender yang sudah ia tandai di dalam sebuah aplikasi.


"Benar! aku melewatkan jadwal menstruasiku!" seru Amber dengan wajah berbunga-bunga. "Tapi aku harus mengeceknya terlebih dahulu," lanjutnya.


"Mengeceknya?" Diana mengernyitkan dahi.


"Hmm." Amber mengangguk, ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah alat tes kehamilan yang sudah ia siapkan. Karena ia dan Arion sengaja untuk tidak menunda kehamilan dan merencanakan semuanya agar lebih cepat, Amber sudah siap sedia dengan berbagai hal.


Dengan cepat, Amber menuju kamar mandi. Diana yang masih menunggu, benar-benar tidak sabar dan penasaran.


"Bagaimana? Sudah?" tanya Diana. Ia menanti Amber di dekat pintu kamar mandi.


Amber membawa cangkir berisi air seni dengan sebuah alat tes kehamilan yang belum menunjukkan tanda-tanda.


"Kenapa garisnya hanya satu?" gumam Amber kecewa. Ia deg-degan.


"Bersabarlah, tunggu." Diana menatap tak berkedip pada garis kedua yang hampir terlihat.

__ADS_1


"Hmm." Amber gelisah.


"Ini dia, ini dia. Garis kedua. Kau hamil!" seru Diana.


"Ini positif!" Amber melongo. Ini adalah hadiah terbaik dalam hidupnya.


"Ah, benar, kan! Benar, kan, aku bilang!" Diana bertepuk tangan gembira. "Selamat, Mama Amber, kau akan segera menjadi ibu dari dua anak!" lanjutnya.


Amber tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memeluk Diana sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka bersama.


"Aku akan menelepon dokter untuk datang. Segera kabari Tuan Maverick agar dia kembali pulang," ujar Diana.


"Ah, cieeee ...." Diana menggoda Amber. "Silahkan naik ke atas tempat tidur, Nyonya. Jangan pergi ke mana-mana karena saya yang akan menjemput Nona Aara hari ini. Beristirahatlah," ujar Diana.


"Tapi ...."


"Tidak, tidak. Beristirahatlah. Aku akan segera pergi menjemput Aara ke sekolahnya," ujar Diana sebelum Amber protes. Menjaga Amber adalah prioritas utamanya. Ia adalah salah satu orang kepercayaan Arion yang bertanggungjawab atas keselamatan Amber selama Arion tidak ada. Karena Arion tahu, Diana adalah pelayan yang sudah dianggap saudara sendiri oleh Amber.

__ADS_1


Amber menghela napas panjang. Ia membiarkan Diana keluar dari kamarnya sementara ia memutuskan untuk beristirahat dan bertukar pesan romantis dengan sang suami.


Saat Amber sedang asik tersenyum dengan candaan yang dikirim Arion melalui pesan, wanita itu terkejut mendengar suara gaduh dari lantai bawah.


Merasa ada yang tidak beres, Amber buru-buru keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga dengan cepat saat mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali.


"Nyonya Dayana," gumam Amber. Sudah cukup lama ia tidak melihat ibu mertuanya bahkan sejak hari pernikahannya. Namun kini tiba-tiba wanita tua itu muncul dan membuat keributan.


"Aku akan memecatmu!" teriak Dayana dengan lantang di hadapan Diana.


"Anda tidak berhak memecat pelayan di rumah ini!" sahut Amber. Ia mendekati Diana dan merangkul pundak wanita itu. Diana nampak ketakutan dengan sikap Dayana.


"Tenanglah, apa yang terjadi?" tanya Amber.


"Nyonya Dayana bertanya tentang Tuan, tapi sudah kukatakan jika Tuan baru saja pergi ke luar kota namun Nyonya Dayana tidak percaya," jelas Diana.


"Kau pasti menyembunyikan Arion. Ke mana dia? Apa dia sudah lupa pada ibunya?" tanya Dayana dengan ketus.

__ADS_1


"Bukankah Diana sudah menjawabnya? Putramu sedang bekerja ke luar kota, dia baru saja pergi. Dia bukan barang yang bisa aku sembunyikan. Bukankah anda sendiri yang memutuskan hubungan antara ibu dan anak?" tanya Amber dengan tenang.


...🖤🖤🖤...


__ADS_2