Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Tentang Rasa Sayang


__ADS_3

Hal yang tak terduga keluar dari mulut gadis kecil itu. Arion dan Amber tidak menduga, keduanya terdiam sambil menatap Aara penuh rasa penasaran.


"Benar, kan, Mama?" Aara melempar pertanyaan pada Amber. Wanita itu tersadar dari lamunannya dan membulatkan mata lebar.


"Hah? Apanya, Sayang?" Amber balik bertanya.


"Laki-laki dewasa dan ...."


"Ah, itu. Tidak, Sayang. Tidak semudah itu," ucap Amber memotong perkataan Aara yang belum usai. Amber enggan mendengar kalimat itu dua kali.


Arion hanya diam, mengamati interaksi antara putrinya dengan wanita yang telah merebut hatinya.


Amber mengangkat Aara ke atas pangkuannya. Wanita itu berusaha menjelaskan dengan sederhana bahwa saling menyayangi lalu menikah itu bukan suatu keharusan. Ada batasan dalam setiap hubungan yang tidak bisa di jelaskan dengan hanya sebuah kata-kata.


"Nanti, kalau Aara sudah besar, Aara pasti tahu. Sekarang, yang terpenting Mama Amber sayang Aara, Daddy juga sayang Aara, Mommy sayang Aara. Semua sayang Aara," ujar Amber.


"Hmm." Aara mengangguk tanda setuju. "Apa Mama Amber juga sayang Daddy?" tanyanya berlanjut.


Mendengar hal itu, Amber menarik napas dalam-dalam, lalu menelan ludahnya sendiri.


"Ya Tuhan." Wanita itu mengeluh, ingin sekali menarik gemas bibir gadis kecil di pangkuannya agar berhenti melontarkan pertanyaan yang sangat sensitif ini.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Mama Amber sayang Daddy," jawab Amber. Bibirnya berusaha keras di tarik agar nampak tersenyum.


Amber melirik pada sosok laki-laki di dekatnya. Laki-laki yang diam-diam mengulum senyum sambil berpura-pura memainkan ponselnya.


Dalam diam, Arion merasa bahagia. Entah itu kejujuran atau hanya sebuah kalimat tidak berarti, namun Arion merasa senang.


Sementara Aara, anak itu pun sangat bahagia. Ia mengetahui jika Arion menyayangi Amber, dan Amber pun sebaliknya.


"Aara senang?" tanya Amber.


"Hmm." Aara mengangguk. "Jadi, Aara tidak perlu takut kehilangan Mama Amber," lanjutnya.


Seketika, wajah bahagia Arion berubah sedih sekaligus khawatir. Mengapa Aara bisa berpikir demikian? Setakut itukah Aara kehilangan Amber hingga sudah memikirkan hal seperti ini?


Aara melompat dari pangkuan Amber dan melompat kegirangan. Gadis kecil itu bertepuk tangan riang, lalu memeluk Amber.


Arion merasa teriris sakit. Amber telah mengisi sebagian besar hati Aara dengan kasih sayang dan cintanya. Namun nyatanya mereka hanya sebatas pengasuh dan anak yang diasuh. Bagaimana jika hal yang ditakutkan oleh Aara terjadi? Arion bahkan tidak ingin membayangkannya.


"Aara mau donat!" seru Aara.


"Ah, ya. Daddy hampir lupa, Sayang. Kau bisa ambil di dapur, donatnya baru saja sampai. Tanyakan pada Bibi," ujar Arion. Obrolan mereka membuatnya lupa memberitahu bahwa donat yang ia pesan telah diantar oleh kurir makanan.

__ADS_1


"Biar Mama yang ambil," sela Amber.


"Tidak perlu. Nona Amber. Aara bisa," tegur Arion. Ia tidak ingin Aara terlalu diratukan. Ia harus belajar mandiri sedikit demi sedikit.


Aara tidak merasa keberatan. Dengan sedikit berlari, ia meninggalkan Arion dan Amber berduaan.


Sepeninggal Aara, Amber dan Arion saling diam. Amber menikmati segelas jus miliknya, sementara Arion berpura-pura sibuk menatap layar ponselnya.


Tiba-tiba, keduanya bersikap seolah ingin bicara secara bersamaan, hingga mereka menjadi salah tingkah.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Arion.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Amber. Keduanya bertanya bersamaan bagaikan paduan suara.


"Kau dulu," ucap Arion.


"Tidak, kau saja," tolak Amber.


"Baiklah." Arion mengangguk. "Aku hanya ingin mengatakan jika aku tidak pernah mengajarkan Aara mengatakan hal-hal seperti itu. Tolong jangan salah paham," jelasnya.


Amber menggigit bibir.

__ADS_1


"Aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Aku tidak pernah mengajarkan Aara untuk bertanya tentang hal semacam itu," jelas Amber.


...🖤🖤🖤...


__ADS_2