Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Pada Akhirnya~


__ADS_3

Dengan banyak pertimbangan, Amber memberi solusi terbaik pada Dayana, keluarga ini dan pada kehidupan rumah tangganya sendiri.


"Anda tahu jika Arion sangat menyayangi dan menghormati anda. Bahkan, dia membiarkan Caroline menjadikannya mesin pencetak uang sementara gadis itu sudah dewasa dan bisa berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri."


"Saya yakin, meskipun anda sangat mencintai uang, anda juga pasti punya rasa cinta yang lebih besar pada anak laki-laki yang telah anda lahirkan."


Amber terus bicara, sementara Dayana bersikap acuh dengan bibir terus menggerutu. Wanita tua itu terus memaki dalam hati. Kesal sekaligus geram dengan semua kalimat yang ia dengar dari wanita yang telah resmi menjadi menantunya.


"Cukup basa-basinya, apa maksudmu terus memojokkan saya? Saya ini ibu dari Arion, suamimu!" seru Dayana.


"Maka dari itu, Nyonya Dayana yang terhormat. Saya adalah menantu anda, maka hargailah saya selayaknya, maka saya juga akan melakukan hal yang sama," terang Amber tenang.


"Saya ingin membuat kesepakatan. Karena watak dan sifat anda sulit diubah, maka saya akan mengambil jalan pintas," lanjut Amber. Dayana mengernyit heran, tidak paham dengan apa yang Amber katakan.


"Saya akan membantu anda dan Caroline berdamai dengan Arion. dengan begitu anda masih bisa menerima uang bulanan seperti biasanya. Dengan satu syarat, jangan pernah ikut campur dalam urusan apapun atau keputusan apapun di rumah tangga kami."


"Kami saling mencintai. Saya berjanji akan menjadi istri, ibu, sekaligus menantu yang baik. Jadi biarkan kami bahagia, hanya itu yang saya minta," ujar Amber dengan nada lemah lembut.


Ini adalah sebuah ancaman, peringatan, sekaligus permohonan pada Dayana. Amber sudah menekankan bahwa ia tidak akan pernah tunduk begitu saja pada kehendak Dayana. Namun Amber berusaha untuk membuat hubungan keluarga ini membaik dengan berbagai cara.


Amber mendekati Dayana, meraih tangan wanita tua itu dan menggenggamnya dengan kedua tangan.


Amber menundukkan kepala, wajahnya yang tegang, kini perlahan melayu.


"Bolehkah saya memanggil anda Mama?" tanya Amber. Dayana melengos, lalu menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Amber.


"Saya anggap anda setuju." Amber tersenyum.


"Arion hanya akan pergi selama tiga hari. Saya akan memastikan bahwa kami akan berkunjung ke rumah Mama saat dia pulang. Mama tidak punya pilihan lain selain menerima syarat yang saya berikan jika tetap ingin Arion berada di samping Mama," jelas Amber. Sekali lagi, ini adalah ancaman sekaligus satu-satunya cara agar Dayana berhenti mengusik rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Baik." Dayana berucap dengan angkuh.


Amber tersenyum, memeluk wanita itu sekilas meski Dayana terlihat enggan.


Bagaimanapun, mereka harus berdamai agar semuanya baik-baik saja. Amber tidak akan mencegah Arion untuk memberikan uang pada keluarganya, karena memang sudah menjadi keharusan Arion untuk menghidupi ibunya yang seorang janda. Namun, Amber tetap berusaha untuk mengontrol semuanya agar tidak berlebihan.


...****************...


Tiga hari telah berlalu, Amber menghabiskan waktunya bersama Aara selagi Arion bekerja di luar kota. Rasa rindu ingin segera bertemu memenuhi hatinya, Amber sangat tidak sabar, ia ingin segera memberikan kejutan yang sudah ia persiapkan dengan matang.


Jika cuaca sedang baik dan tidak ada halangan, pesawat yang Arion tumpangi akan mendarat pukul sepuluh malam. Namun, laki-laki itu tiba-tiba sampai di depan pintu rumah delapan malam, lebih cepat dari yang diperkirakan.


"Daddy!" Aara berteriak senang melihat ayahnya menyeret koper memasuki rumah.


Arion berlutut, menyambut pelukan hangat dari gadis kecil yang sangat ia rindukan.


"Di mana Mama?" tanya Arion.


Seketika, wajah bahagia Arion berubah pucat. Ia terkejut karena selama ini Amber mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Arion segera menggendong Aara menaiki anak tangga sementara ia membiarkan kopernya tergeletak di ruang tamu.


Saat tiba di kamar, Arion melihat Amber sedang duduk di atas tempat tidur dengan buku di tangannya.


"Sayang," sapa Arion. Ia bergegas menurunkan Aara dari gendongannya dan memeluk Amber.


"Kau sudah pulang? Bukankah ...."


"Ada apa? Aara bilang kau sedang kurang sehat? Kenapa tidak memberitahuku? Aku terkejut, jangan membuatku takut." Arion sangat tidak sabar, ia melontarkan banyak pertanyaan pada Amber.


"Hei, hei. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Sayang," jawab Amber sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagian mana yang sedang sakit? Apa sudah diperiksa oleh dokter? Sudah minum obat?" tanya Arion bertubi-tubi.


"Bagian ini," jawab Amber sambil menunjuk dadanya.


"Dada? Sakit?"


"Bukan dada, tapi hatiku," jawab Amber. Arion mengernyit heran.


"Hatiku sakit karena merindukanmu," lanjut wanita itu dengan senyum mengembang.


Arion tersenyum, ia salah tingkah. Laki-laki itu bernapas lega setelah kekhawatirannya sirna. Sementara Aara, ia senang mengamati keharmonisan antara ayah dan ibunya. Karena selama ini, ia tidak pernah melihat hal-hal seperti ini pada Arion dan Claire.


"Sayang, aku punya hadiah," ucap Amber. Ia membuka laci di samping tempat tidur dan memberikan sebuah kotak berwarna merah muda pada Arion.


"Hadiah?" Arion menatap Amber penasaran.


"Aara juga mau hadiah," sahut Aara.


"Kalau begitu, ini hadiah untuk kalian berdua," jawab Amber. "Bukalah."


Arion yang sangat penasaran dengan kotak kecil ringan di tangannya, segera membukanya dengan cepat.


"Sayang, kau ...." Arion membulatkan matanya lebar setelah melihat isi hadiahnya. Ia menatap Amber dan segera memeluk wanita itu dengan erat saat Amber menganggukkan kepala.


"Apa ini, Mama?" tanya Aara tidak mengerti. Ia melihat alat tes kehamilan di dalam kotak hadiah yang Amber berikan.


"Sayang, Mama hamil. Aara akan segera jadi kakak, Aara akan punya adik," jawab Arion.


"Aara mau punya adik. Yeay! Aara punya adik!" teriak Aara senang. Arion memeluk Amber dan Aara bersamaan.

__ADS_1


Kebahagiaan mereka kini semakin lengkap. Semua kesabaran telah berbuah dan berlipat ganda. Kini mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun, karena dunia telah berpihak pada cinta yang telah lama mereka perjuangkan bersama.


...-THE END-...


__ADS_2