
Sepulang dari mall, Arion mengajak Amber dan Aara mampir ke sebuah restoran bintang lima. Mereka menikmati makan siang bersama.
Meskipun Amber bersikukuh menolak ajakan Arion, laki-laki itu tetap memaksanya.
Bagi Amber, rasanya sangat aneh jika ia yang hanya seorang pengasuh, bisa makan di restoran bintang lima bersama majikannya serta duduk bersama mereka. Siapapun yang melihat, pasti tidak akan mengira jika Amber hanya seorang pengasuh untuk putri Arion.
"Sore nanti, bolehkah aku mengajak Aara pergi?" tanya Amber pada Arion di sela makan mereka.
"Ke mana?"
"Aku akan mengantarnya bertemu dengan Nona Claire. Apa kau akan mengizinkannya?"
Sejenak, Arion terdiam. Ia melanjutkan makan sambil berpikir.
"Apa kau yakin dia akan menemui kalian? Aku bosan mendengar alasan wanita itu karena terus mengingkari janjinya," ujar Arion.
"Aku pastikan dia bisa menemui Aara. Jangan khawatir." Amber meyakinkan.
"Jangan memberikan harapan terlalu besar pada Aara. Kau tahu dia sudah terlalu sering kecewa terhadap mamanya sendiri."
"Aku tahu." Amber mengangguk paham. Ia jelas mengerti apa yang Arion rasakan.
__ADS_1
...****************...
Sore harinya, Amber dan Aara sudah bersiap. Mereka mencari keberadaan Arion untuk meminta izin, namun laki-laki itu tak kunjung di temukan.
"Ke mana Tuan?" tanya Amber pada salah seorang pelayan.
"Tuan ada di ruang kerjanya."
Amber menggandeng Aara ke ruang kerja Arion, ia mengetuk pintu sekali lalu masuk saat pintu terbuka.
"Kami akan pergi," pamit Amber.
"Sekarang?" Arion mengernyitkan dahi.
Arion mendekati Amber, lalu duduk berjongkok di depan Aara.
"Apa Aara yakin akan pergi?" tanya Arion pada putrinya.
"Aara mau bertemu Mommy," jawab Aara.
"Baiklah, jangan nakal, ya!" Arion tersenyum sambil mencolek hidung putrinya. Ia lalu memeluk Aara. Perasaan cemas menyeruak dalam benaknya, berpikir jika pada akhirnya Claire akan kembali menorehkan kekecewaan di hati putrinya.
__ADS_1
"Hmm." Aara mengangguk.
"Bolehkan Daddy bicara terlebih dahulu dengan Mama Amber? Aara tunggu di mobil, ya," pinta Arion.
Aara menurut, gadis kecil itu tersenyum dan mencium pipi Arion. Ia berlari keluar dari ruang kerja Arion dan meninggalkan ayahnya bersama Amber.
"Ada apa? Aku harus segera pergi," ujar Amber protes.
"Jika Claire kembali mengingkari janjinya, pada siapa aku harus meminta pertanggungjawaban?" tanya Arion. Ia tidak peduli pada protes yang dilayangkan Amber. "Tidak satu dua kali dia tiba-tiba menghilang saat Aara sudah menunggunya."
"Percayalah padaku," ucap Amber. Ia sendiri tidak bisa menjanjikan Claire bisa menemui Aara, namun ia juga tidak bisa membiarkan anak dan ibu itu saling merindukan.
Arion melangkah maju, membuat Amber berangsur mundur perlahan. Laki-laki itu semakin mendekat, menghimpit tubuh Amber di antara pintu.
"Aku selalu marah setiap kali melihat putriku kecewa. Jika kali ini Claire kembali mengecewakan Aara, maka aku juga akan marah padamu karena mempercayainya," ucap Arion.
Amber menelan ludah, ia tidak bisa mencerna perkataan Arion. Terlebih, tubuh mereka kini menempel tak berjarak, dan Amber bisa merasakan panas napas Arion di dekat telinganya.
"Hmm." Amber hanya mengangguk.
Arion mengangkat dagu Amber dengan sebelah tangannya. Laki-laki itu menatap mata Amber dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku menyukaimu, Amber. Aku menyukai segala tentangmu. Tapi jika kau turut andil dalam menyakiti hati putriku dan membuatnya kecewa, maka aku bisa saja membencimu saat itu juga."
...🖤🖤🖤...