Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Keputusan Terakhir


__ADS_3

Arion menarik napas dalam-dalam sebelum berjalan mendekati ibunya. Ia sudah tahu jika ini akan terjadi, jadi sebelum itu, Arion sudah mempersiapkan diri dengan segala konsekuensi yang akan ia dapatkan.


PLAK!!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Arion. Laki-laki itu tetap tenang, ia memejam sesaat sebelum menatap jelas wajah murka ibunya.


"Apa kau sudah gila? Hah?" tanya Dayana.


"Ma, bisakah kita membicarakan semuanya dengan kepala dingin?" Arion balik bertanya. Ia tetap tenang. Bagaimanapun, Dayana adalah ibunya.


"Kepala dingin katamu? Bagaimana bisa Mama membicarakan ini dengan kepala dingin jika kamu bertindak seenaknya!" seru Dayana berapi-api.


"Bukankah sebelumnya aku sudah memberitahu Mama jika aku ingin menjalin hubungan serius dengan Amber?"


"Arion! Kenapa harus wanita itu, Arion! Kenapa harus wanita tidak tahu sopan santun itu!" bentak Dayana. Sementara Caroline, berdiri kesal di samping mamanya sambil menatap Arion penuh kebencian.


"Mama! Dia wanita baik-baik. Amber tidak seperti yang Mama pikirkan! Jangan sekali-kali berkata buruk tentangnya!"


Dayana bernapas cepat, dadanya naik turun menahan amarah yang bergejolak di hatinya.

__ADS_1


"Apa tidak ada wanita lain yang lebih baik? Apa yang dia lakukan sampai membuatmu menjadi gila seperti ini?"


"Dia memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan wanita lain untukku!" jawab Arion tegas.


"Apa itu? keperawanannya? Bukankah kau bisa mendapatkan hal itu dengan mudah dari wanita mana saja?" bantah Dayana semakin kesal.


"Tidak, dia memberikan ketulusan hatinya. Dia memberikannya untukku dan Aara. Jadi aku mohon, Mama. Berhenti sampai di sini, berhenti membuang-buang tenaga dan waktu untuk mencampuri urusanku. Aku sudah dewasa, aku tahu mana yang baik untukku," terang Arion membujuk ibunya.


"Kau sungguh akan memilih wanita tidak jelas asal usulnya itu dari pada Mamamu sendiri?" tanya Dayana sambil menyipitkan matanya. Ia yakin Arion akan goyah jika terus menggertaknya.


"Kenapa harus memilih? Mama adalah mamaku, dan dia adalah calon istriku. Kalian sama berharganya bagiku."


"Mama." Nada suara Arion melemah.


"Jika kau tetap bersikeras dengan menikahi wanita itu, maka mulai hari ini Mama bukan lagi Mamamu," tegas Dayana.


"Mama!" seru Caroline di samping ibunya.


"Itukah keputusan Mama? Mengedepankan ego ketimbang kebahagiaanku? Kenapa, Ma? Apa karena Amber tidak berasal dari keluarga kaya dan terpandang seperti menantu impian Mama? Apa karena itu? Bukankah yang terpenting saat ini adalah kebahagiaanku dan Aara, cucu Mama?"

__ADS_1


"Arion! Mau diletakkan di mana muka Mama mendapatkan menantu sepertinya? Dia hanya akan merusak reputasimu!"


"Dia adalah pilihan terbaikku! Tidak peduli seberapa keras Mama menentangnya, aku akan memilihnya."


Dayana menghela napas panjang. Bagaimana bisa kini Arion menjadi anak pembangkang dan durhaka seperti ini? Padahal dulu Arion selalu menuruti perkataannya dan tidak sekalipun mengabaikan nasehatnya. Namun semenjak kehadiran Amber, Dayana bisa merasakan perubahan sikap dan sifat anak sulungnya.


"Baik, baik. Kau memilihnya? Maka mulai saat ini kau bukan lagi anak Mama!" seru Dayana.


"Apakah hanya Mama yang boleh mempertahankan ego? Aku pun akan melakukannya. Silahkan Mama berbuat sesuka hati, karena aku akan tetap pada pendirianku!"


Dayana berbalik dan berjalan cepat memasuki mobil. Sementara Caroline, berdiri kesal di depan kakaknya.


"Tega sekali kau berkata seperti itu pada Mama, Kak!" seru Caroline.


Arion bungkam, ia hanya menatap adiknya dengan wajah datar.


Caroline membuang napas kasar, ia bergegas menyusul sang ibu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Arion. Dua wanita itu di penuhi dengan amarah dan kebencian pada Amber, wanita yang membuat Arion berubah sepenuhnya.


...🖤🖤🖤...

__ADS_1


__ADS_2