
Pesta pernikahan yang digelar mewah dan meriah itu berjalan dengan lancar. Demi suasana bahagia yang harus tetap di jaga, Arion bahkan memerintahkan beberapa penjaga khusus yang sudah di perintah untuk memberikan keamanan pada Amber jika sampai Dayana atau Caroline datang mengacau.
Beruntung. dua wanita itu bahkan tidak menampakkan batang hidungnya di pesta megah Arion dan Amber.
Amber merasa bagaikan menjadi ratu sehari semalam. Wanita itu sangat bahagia melepas masa jandanya dan kini telah resmi menyandang status sebagai Nyonya Maverick. Namun bagaimanapun, ia masih merasa sedih karena pernikahan ini adalah pernikahan tanpa restu dari keluarga suaminya.
"Nikmati hari bahagia kalian, aku akan membawa Aara bersamaku selama tiga hari. Jadi kalian bisa menikmati waktu berdua dengan tenang," ujar Claire.
"Apa kau benar-benar tidak keberatan, Kak? Aku khawatir ini membuat jadwal pekerjaanmu terganggu," ucap Amber. Ini memang ide Claire sendiri, namun Amber merasa tidak enak jika merepotkan wanita itu.
"Tentu saja aku tidak keberatan, ini malah membuatku sangat senang. Aku sudah memesan tiket pesawat dan akan mengajaknya berlibur ke luar negeri."
"Baiklah, terima kasih, Kak." Amber tersenyum dan memeluk Claire.
Karena hari semakin larut meski pesta belum usai, Claire segera membawa Aara untuk pulang ke rumahnya karena gadis kecil itu sudah terlihat lelah.
Jika biasanya Arion menolak saat Claire membawa Aara lebih dari dua puluh empat jam, namun kali ini berbeda. Berkat bantuan Amber yang terus membujuk Arion agar membiarkan Aara bersama dengan ibu kandungnya selama beberapa hari, akhirnya Arion memberi izin.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengizinkan Aara bersama ibunya. Aara pasti senang akhirnya bisa menginap bersama," ujar Amber.
"Tentu aku mengizinkannya, bukankah hal itu juga lebih menguntungkan bagi kita?" tanya Arion.
"Hei, aku tidak keberatan meski kita menghabiskan suasana pengantin baru kita bersama Aara." Amber mencubit pinggang Arion.
"Benarkah? Tapi aku khawatir jika Aara lebih mencuri perhatianmu daripada aku. Untuk beberapa hari kedepan, aku ingin kau hanya fokus padaku, itu saja!"
"Jadi, kau iri pada putrimu?" Amber membulatkan matanya lebar.
"Banyak yang melihat! Jangan lakukan lagi!" seru Amber. Ia malu, karena para teman-teman Arion berada dekat dengan mereka dan sebagian terus memperhatikan mereka.
"Biarkan saja, mereka pasti memakluminya," ujar Arion cuek.
Semua orang pasti paham, bagaimana bisa laki-laki seperti Arion mampu menahan pesona memukau Amber. Terlebih, Arion sudah cukup lama menyandang status sebagai duda, pastinya ia sudah tidak sabar menerkam istrinya di malam pertama.
"Kau harus bersabar, Sayang. Aku malu," keluh Amber. Ia merasa tidak nyaman jika bermesraan di depan banyak orang.
__ADS_1
"Aku sudah bersabar selama satu tahun. Sekarang tidak lagi," tegas Arion. "Bagaimana jika kita langsung pada intinya? Aku punya kejutan untukmu," lanjutnya.
"Kejutan?" Amber mengernyitkan dahi.
"Hmm. Mari tinggalkan pesta dan ikut denganku," ajak Arion. Ia menggandeng jemari Amber dan menarik wanita itu menjauhi orang-orang.
"Tapi ...." Amber berusaha menolak, karena saat ini orang-orang masih sibuk menikmati pesta yang mereka adakan. Bagaimana bisa tuan rumahnya pergi begitu saja?
Arion menarik Amber masuk ke dalam lift, lalu mengeluarkan secarik kain dari saku jasnya.
"Kenapa?" tanya Amber saat Arion menutup matanya dengan kain.
"Ini kejutan!"
"Hmm, kau membuatku penasaran." Amber tersenyum senang. Ia tidak menyangka jika Arion terus memberikan banyak hal mengejutkan untuknya.
...🖤🖤🖤...
__ADS_1