
Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan yang Amber rasakan saat ini. Memiliki seorang suami tampan dengan sejuta pesona, bahkan bisa di bilang jika Arion adalah laki-laki yang sempurna dalam banyak hal. Selain itu, Amber pun memiliki seorang anak yang bahkan sudah seperti anaknya sendiri.
Semenjak menjadi Nyonya Maverick, hidup Amber selalu penuh dengan kejutan. Arion memperlakukan wanita itu bak seorang ratu. Amber mendapatkan segalanya yang ia inginkan dengan mudah. Meski begitu, Amber tidak pernah meminta hal-hal yang mewah atau berlebihan, ia selalu tahu diri dan sadar dari mana ia berasal.
"Sayang, kau yakin tidak ingin ikut bersamaku?" tawar Arion. Ini adalah kesekian kalinya laki-laki itu menawari Amber agar ikut bersamanya.
"Tidak, Sayang. Maafkan aku," jawab Amber dengan seutas senyum tergambar di wajahnya.
Karena suatu pekerjaan penting, Arion harus pergi ke luar kota selama beberapa hari. Ia berniat mengajak Amber untuk pergi bersamanya, namun Amber menolak karena Aara akan segera menjalani ujian masuk sekolah dasar. Amber ingin fokus untuk mengurus Aara.
Arion membingkai wajah Amber dan mencium bibirnya.
"Aku pasti akan merindukanmu," ucapnya.
"Kau hanya akan pergi selama tiga atau empat hari, kan? Cepatlah pulang. Aku juga pasti akan rindu." Amber memeluk Arion.
Selam tiga bulan menikah, ini adalah pertama kalinya Arion akan pergi cukup jauh. Biasanya, mereka tidak pernah berpisah lebih dari dua puluh empat jam. Namun karena suatu hal penting dan mendesak, maka mereka terpaksa mengalah pada keadaan.
__ADS_1
Arion menyeret koper berukuran sedang berisi pakaian ganti dan segala keperluan yang telah Amber siapkan. Amber senantiasa berada di samping laki-laki itu dan mengantarnya hingga ke halaman depan.
"Jaga diri baik-baik saat aku pergi. Aku mencintaimu," ucap Arion sambil mencium kening sang istri.
"Aku pun mencintaimu." Amber mengantar Arion dengan sebuah pelukan.
Arion segera memasuki mobil. Amber melambaikan tangan saat mobil berjalan meninggalkan rumah besar itu. Saat hendak memasuki rumah, tiba-tiba wanita itu merasa pusing, pandangannya menjadi kabur.
"Ada apa?" Buru-buru, seorang wanita muda membantu Amber berdiri kokoh saat menyadari ada yang salah dengan majikannya.
"Entahlah, aku sedikit pusing," jawab Amber sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
"Apa aku perlu menelepon dokter?" tawar pelayan itu.
"Tidak perlu, Diana. Aku baik-baik saja."
"Tunggu di sini." Pelayan bernama Diana itu keluar dari kamar Amber. Hanya dalam beberapa menit, ia sudah kembali dengan segelas susu hangat serta beberapa potong kue.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Diana. Kau memang yang terbaik!" puji Amber senang.
"Apa kau hamil, Nyonya Amber?" tanya Diana sambil meringis.
"Hei, mana mungkin!" seru Amber sambil memukul pundak Diana.
"Mana mungkin apanya! Kalian sudah menikah selama tiga bulan, dan akhir-akhir ini kau terlihat tidak nafsu makan, namun anehnya kau semakin cantik dengan wajah bersinar-sinar," celoteh Diana.
Karena sudah saling kenal dan dekat sejak Amber berada di rumah ini sebagai pengasuh Aara, mereka menjadi dekat dan bersahabat baik. Diana selalu menjaga sikap di depan Arion dan orang-orang sekitar, namun saat mereka hanya berdua, Amber melarang Diana bersikap terlalu formal padanya.
"Apa menurutmu aku hamil?" Amber membulatkan matanya sambil menatap Diana.
Keduanya berpikir seolah kehamilan adalah sesuatu yang bisa dikira-kira.
"Apa kau sudah menstruasi bulan ini? Kau pasti melewatkannya!" tebak Diana.
Amber terdiam sesaat, ia mulai menggali ingatan tentang jadwal datang bulan yang seharusnya sudah tiba.
__ADS_1
...🖤🖤🖤...