Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Hari berganti dengan cepat, waktu demi waktu telah berlalu dan Amber mulai merasakan betapa besar cinta yang telah Arion berikan untuknya.


Meskipun masih ada sisa-sisa rasa trauma terhadap pernikahannya yang sebelumnya, namun Arion membuktikan diri bahwa tidak semua laki-laki itu sama.


"Jadi, kemana tujuan bulan madu kita nanti, Sayang?" tanya Arion. Ia menarik pinggang Amber dan membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Mereka saling berhadapan dan Amber mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.


"Aku senang ke mana saja asalkan bersamamu dan Aara," jawab Amber.


"Kau suka pantai, atau gunung?"


"Keduanya."


"Kau suka salju, atau bunga-bunga?"


"Aku lebih menyukaimu," jawab Amber sambil tersenyum genit. Arion menarik tengkuk leher wanita itu lalu mengecup bibirnya.


"Berhentilah membuatku semakin tidak tahan!" keluh Arion. Amber hanya tertawa kecil dengan mimik wajah kesal calon suaminya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Amber segera turun dan membukanya.


"Nona, ada tamu," ucap salah seorang pelayan yang datang.


"Hei, panggil saja namaku. Jangan memanggilku 'nona'," ucap Amber. Ia merasa kurang nyaman dengan panggilan tersebut. Karena selama ini, ia dan semua pelayan di rumah ini sudah seperti teman baik.

__ADS_1


"Sayang," panggil Arion dengan suara sedikit keras dari dalam ruang kerja.


"Ya."


"Baiklah, aku pergi," pamit pelayan tersebut dengan senyum lebar.


"Jangan protes pada pelayan. Kau akan segera menjadi nyonya rumah ini, Sayang. Mereka seharusnya memanggilmu 'nyonya'. Nyonya Maverick!" jelas Arion.


"Sejak awal, aku dan mereka berteman baik. Panggilan itu hanya akan membuat kami menjadi canggung," keluh Amber.


"Hmm, baiklah. Aku suka segala hal tentangmu termasuk sifat rendah hatimu," goda Arion.


Mereka akhirnya keluar dari ruangan dan segera menuju ruang tamu untuk menemui seseorang.


Rupanya, tamu yang datang adalah seorang designer terkenal yang diminta Arion untuk membuat gaun pernikahan. Dua minggu yang lalu Amber telah menjalani fitting, dan kini designer itu datang membawa lima gaun yang telah jadi.


"Aku memintanya membuat lima gaun dengan model berbeda agar kau bisa memilih yang kau sukai, Sayang. Bukankah lima lebih baik daripada dua?"


"Hmm." Amber menarik napas dalam-dalam. Wajar saja, Arion punya banyak uang dan laki-laki itu bahkan bingung cara untuk menghabiskannya. Mungkin ini adalah salah satu bentuk kebingungannya.


"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan. Semua gaun ini sangat cantik," puji Amber pada seorang laki-laki berusia empat puluhan yang berprofesi sebagai designer terkenal itu.


"Pasti terlihat lebih cantik jika anda yang memakainya, Nyonya."


"Tentu saja, calon istriku selalu cantik dengan tampilan apapun," sela Arion. Amber hanya tersenyum dan menggelengkan kepala pelan.

__ADS_1


Semua persiapan pernikahan mereka sudah hampir selesai. Segala pernak pernik serta kebutuhan pesta sudah terurus dengan baik, bagitu pula kartu undangan. Arion telah menyebar undangan pesta sejak satu minggu yang lalu, dan pesta akan di gelar dua hari lagi selama dua puluh empat jam nonstop di dua tempat.


"Sudah waktunya Aara pulang. Aku akan menjemputnya," ujar Amber setelah melihat jarum jam.


"Kita akan pergi bersama," ucap Arion. Laki-laki itu merasa seperti ada magnet yang menempel di tubuh Amber hingga membuatnya sulit berpisah dari wanita itu.


"Sayang," gumam Amber saat mereka dalam perjalanan.


"Ya?"


"Bagaimana jika kita mampir ke rumah Mamamu? Bukankah setidaknya kita tetap memberitahunya?" tanya Amber. Ia tahu Dayana tidak akan merestui mereka, namun rasanya tidak pantas jika Arion benar-benar memutuskan hubungan dari ibunya.


"Mama pasti sudah tahu," jawab Arion.


"Lalu?"


"Aku tahu kau mengkhawatirkan hubungan kami. Tapi Mama bukan orang yang mudah diluluhkan hatinya. Biarkan saja."


"Aku merasa bersalah karena membuatmu harus memilihku dan mengabaikan keluargamu. Bagaimanapun, kau lahir dari rahimnya. Dia telah berjuang melahirkan dan membesarkanmu, lalu kini aku seakan-akan merebutmu darinya."


"Jangan seperti itu, aku lebih tahu bagaimana sifat mamaku, Sayang. Sekarang kita hanya perlu fokus pada pernikahan kita, lalu kita akan memikirkan cara untuk membujuk Mama dan Caroline."


"Baiklah." Amber tersenyum dan mengangguk setuju.


Amber sadar siapa dirinya dan apa alasan Dayana tidak merestui mereka. Amber ingin tetap membujuk Dayana agar hati Arion lebih tentram, namun bukan berarti Amber akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh calon mertuanya.

__ADS_1


...🖤🖤🖤...


__ADS_2