Duda Luar Biasa

Duda Luar Biasa
Sebuah Rencana


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, Arion mulai meraih hati Amber sedikit demi sedikit. Dengan bantuan Aara, Arion bisa mendekati Amber dengan cara yang lebih baik. Seperti mengajak Amber pergi ke taman hiburan, menonton film anak ke bioskop, hingga merencanakan makan malam bersama.


Meskipun Amber secara sadar telah memahami perasaannya terhadap Arion, namun ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Terlebih, Arion tidak hanya Arion. Ia memiliki ibu dan adik yang sangat merepotkan bagi Amber.


Menikah bukan hanya hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan, melainkan hubungan dengan keluarganya juga. Melihat sikap dan sifat Dayana serta Caroline, hal itu membuat nilai minus untuk kehidupan Arion yang mudah terpengaruh oleh ibu serta adiknya.


"Apa kau bilang? Melamar Amber? Pengasuh tidak tahu sopan santun itu?" tanya Dayana panik saat mendengar penegasan putranya bahwa ia memiliki perasaan serius pada Amber.


"Kakak! Yang benar saja!" seru Caroline.


"Aku datang bukan untuk meminta izin dari kalian, aku hanya ingin memberitahu. Suka atau tidak, setuju atau tidak, ini pilihanku, Ma!" tegas Arion.


"Arion, jangan gila!" hardik Dayana tidak terima. Bagaimana bisa ia membiarkan anak emasnya yang kaya raya serta seorang bos besar, menikahi seorang pengasuh yang tidak jelas asal usul keluarganya.


"Ini hidupku, Ma. Kali ini, aku mohon agar Mama tidak ikut campur!" ucap Arion. Ia melangkah meninggalkan Dayana dan Caroline yang berdiri kebingungan di ruang tamu.


Pagi ini Arion menyempatkan diri untuk mengunjungi kediaman orang tuanya demi menyampaikan niat baiknya untuk melamar Amber.

__ADS_1


Lampu hijau telah Arion dapatkan dari wanita yang selama ini ia cintai. Dan Arion tidak ingin mengulur waktu serta menyia-nyiakan kesempatan untuk segera meresmikan hubungan mereka. Tidak peduli pertentangan dari ibu serta adiknya, Arion tetap pada pendiriannya.


Arion telah menyiapkan sebuah kejutan istimewa untuk Amber, Aara bahkan turut andil dalam persiapan kejutan tersebut.


"Apa ini?" tanya Amber. Ia menerima sebuah tas dengan gaun dan sepatu berwarna senada dari tangan gadis kecil yang telah bersamanya selama setahun terakhir.


"Aku dan Aara ingin mengajakmu pergi makan malam ke sebuah tempat istimewa. Maukah kau memakainya?" tanya Arion sambil menggandeng Aara di sampingnya.


"Aara sendiri yang pilih gaun itu loh, Mama," sela Aara.


"Sayang, kenapa repot-repot?"


Seperti inilah kebiasaan Arion. Aara akan selalu menjadi tameng serta senjata untuk membujuk serta meluluhkan hati Amber. Karena jika berhubungan dengan Aara, Amber tidak akan mampu memberikan penolakan.


Dengan sedikit paksaan, Amber pun setuju untuk menerima gaun serta sepatu yang telah Arion beli untuknya.


"Terima kasih," ucap Amber sambil tersenyum tulus pada Arion. Mereka duduk berdua di taman samping rumah sambil mengawasi Aara yang sedang bermain lempar tangkap dengan salah seorang pelayan.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau tidak menolak pemberian kami."


Amber tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan.


"Bagaimana bisa aku menolak, kau selalu menjadikan Aara sebagai alasan," ucapnya.


"Apa aku ketahuan sedang memanfaatkan anakku demi merayumu?"


"Itu adalah cara yang sudah kau lakukan berulang kali dan berkali-kali. Aku yakin itu," gumam Amber sambil mengulum senyum.


Beberapa waktu terakhir, ia melihat perubahan sikap Arion yang sangat berbeda dari awal mereka kenal. Arion yang sejak awal sudah terlihat menginginkan dirinya dan menggebu-gebu, kini lebih memahami perasaannya dan mengutamakan ketulusan lebih dari hasratnya.


"Apa kau menyayangi Aara?" tanya Arion.


"Bukankah kau tahu jawabannya?" Amber balik bertanya. Arion tersenyum dan mengangguk pelan.


"Bagaimana jika kau sungguh-sungguh menjadi mamanya?" tawar laki-laki itu.

__ADS_1


...🖤🖤🖤...


__ADS_2