Ekhidna

Ekhidna
Si Putih Yang Gesit


__ADS_3

Dalam satu ruangan terlihat sang ratu dan putra mahkota terlihat sangat marah akibat mendengar berita dari mata-matanya. Ia tak menyangka jika pangeran lainnya telah mempersiapkan pemberontakan, namun rencana mereka gagal.


"Li Yui, lebih baik sekarang kamu ke kota Roam dan habisi semua yang ada disana. Kita tidak boleh meremehkan kedua pangeran itu" ucap sang ratu.


"Yang mulia tidak perlu khawatir, aku akan menghancurkan kota tersebut sampai tak ada yang tersisa" balas pangeran Li Yui.


Ratu mengira jika kota Roam adalah milik pangeran Li Jiancheng namun dihancurkan oleh Li Yuan dan Li Jiancheng tak sadarkan diri akibat syok dan Li Yuan telah menyimpan senjata rahasia Li Jiancheng. Seperti itulah mata-mata sang ratu sampaikan kepadanya.


Sementara dikediaman pangeran Li Yuan, ia tengah duduk sambil berbicara masalah militer dengan penasihat kerajaan.


"Terimakasih karena penasihat selalu mendukungku, kedepannya aku sangat bergantung padamu. Lagi pula penasihat memilih orang yang tepat!" ucap Li Yuan dengan bangganya.


"Yang mulia tenang saja, apapun yang terjadi aku pasti akan selalu mendukung yang mulia"


Tiba-tiba seseorang memanah dan membuat keduanya terkejut.


"Yang mulia liat, ada surat di ujung anak panah itu"


Pangeran Li Yuan segera megambilnya dan membuka surat tersebut, wajah pangeran Li Yuan berubah menjadi pucat.


"Oh tidak! Penasihat, ada sesuatu yang terjadi di kota Roam!" ucap pangeran Li Yuan dengan panik.


Penasihat mengambil surat tersebut dan juga membacanya.


"Yang mengirim surat ini juga tidak ada yang tertera, sekarang kita lebih baik kesana dan memeriksanya secara langsung"


***


"Hahahaha, akhirnya hari ini adalah kemenangan kita. Ini semua karena ratu. Mata-mata ratu juga sangat setia dan pintar, berkatnya kita tahu rahasia tentang kota Roam ini! Hahahahah!"


"Lalu yang mulia, bagaimana dengan mayat ini? Apakah kita membuangnya atau membakarnya saja?"

__ADS_1


"Tinggalkan mayat-mayat itu untuknya sebagai bukti bahwa kita adalah pemenangnya. Ayo pergi!" ucap putra mahkota dan pergi sambil menunggangi kuda hitamnya.


Sesampainya pangeran Li Yuan di kota Roam, ia pun berteriak karena melihat markasnya telah hancur.


"Pangeran, ini semua adalah perbuatan putra mahkota. Ada yang melihatnya datang kemari dan menghancurkan kota Roam. Bahkan ia mengambil semua persenjataan kita pangeran" ucap salah satu pengawalnya.


"Kurang ajar!" teriak pangeran Li Yuan sambil menendang pengawalnya sendiri.


"Tenanglah pangeran" ucap penasihat kerajaan.


"Aaaa, ibu ratu! Aku adalah anakmu juga, tapi kau memperlakukan kami berdua sangat berbeda?!" ucap pangeran Li Yuan dengan mata yang memerah.


"Ini belum berakhir, tunggu pembalasanku Li Yui" ucap pangeran Li Yuan dan mengeluarkan darah dari mulutnya dan pingsan.


"Pangeran, cepat bantu aku membawa pangeran ke kediamannya" cetus penasihat kerajaan.


***


Pagi yang indah, kicauan burung yang sangat merdu, pangeran Li Jiancheng terlihat duduk di taman sambil tertawa heboh dan membuatnya sakit perut.


"Ini sangat seru! Aku melihat kedua pangeran itu saling menatap dengan penuh amarah! Terlebih untuk Li Yuan dia sangat kasihan karena ia tak mendapat dukungan dari ibunya sendiri dan yang mulia ratu hanya memihak pada Li Yui"


"Pantas saja yang mulia heboh di pagi ini, ternyata tadi pagi ada pertunjukan seru"


"Ini semua berkat ide cemerlang Xia long lue, berkat idenya itu aku mengambil keuntungan yang besar. Aku akan datang mencarinya sambil menceritakan ini semua padanya" fikir pangeran Li Jiancheng.


Li Jiancheng pun beranjak dan pergi untuk menemui Xia long lue. Langkahnya pun terhenti saat melihat Xia long lue tengah berlatih memanah.


"Aaaaaa, ini anak panahnya kenapa meleset terus sih! Bisakah busur ini bersahabat sedikit denganku, dari tadi membuatku sangat jengkel karena meleset terus" cerocos Xia long lue dengan kesal.


Pangeran Li Jiancheng pun menghampiri Xia long lue.

__ADS_1


"Busur barumu itu berat, kamu jangan menggunakannya seperti saat kamu memakai panah biasa lainnya, dan juga bidikannya hanya menggunakan dengan dua mata. Perhatikan panah sambil membuka lebar-lebar kedua matamu dan kamu bisa membidik target dan aku yakin kau akan membidiknya dengan tepat" ucap pangeran Li Jiancheng sambil mengajari Xia long lue.


"Kau mau apa?" ucap Xia long lue.


"Jangan bergerak dan perhatikan dengan baik-baik"


Pangeran Li Jiancheng memegang tangan Xia long lue sambil membiidk target yang ingin dipanahnya. Saat melepaskan anak panah, targetnya pun terbaik dan membuat Xia long lue bersemangat karena membidik dengan benar.


"Bagussss! Akhirnya tidak meleset"


"Istriku, apakah kamu benar-benar memiliki kudah putih yang sangat gesit? Aku menyukai kuda dan bisakah istriku ini menunjukkan kuda kesayangannya itu?" tanya pangeran Li Jiancheng.


"Pangeran tahu dari mana lagi? Pasti pangeran membuntuti ku kan dan melihat kesayangan ku itu" ucap Xia long lue sambil memutar matanya searah jarum jam.


"Aku hanya penasaran dengan apa yang kau lakukan beberapa hari ini. Jadi, bisakah istriku ini menunjukkan si putih?"


"Karena pangeran telah mengajariku memanah, tentu sja aku akan mempertemukan pangeran dengan si putih kesayangan ku. Ikuti aku pangeran" ucap Xia long lue sambil berjalan.


Pangeran Li Jiancheng pun mengikuti Xia long lue hingga akhirnya mereka berdua sampai di sebuah bukit.


"Pangeran, ini adalah si putih kesayangan ku. Dia ini sangat gesit dan hanya dia kuda putih satu-satunya yang tak terkalahkan!"


"Istriku, ijinkan aku untuk menunggangi kesayangan mu ini, aku ingin mencobanya karena aku penasaran seberapa cepat kecepatan si putih ini. Apakah memang benar seperti yang kamu katakan itu?"


"Aku menginginkan pangeran untuk menungganginya, cobalah pangeran dan pangeran Li Jiancheng harus tahu kalau si putih ini mudah marah dan sangat susah untuk di atur, kuharap pangeran harus hati-hati saat menungganginya"


Pangeran Li Jiancheng pun menunggangi si putih, dan benar adanya si putih mengamuk dan ingin pangeran Li Jiancheng turun dari punggungnya.


"Hahaha, aku saja mengambil waktu tiga tahun untuk menunggangi si putih, aku sudah memperingati pangeran jadi hari ini aku akan melihat pangeran jatuh dari kuda"fikir Xia long lue sambil menahan tawanya.


Menghitung beberapa derik pun akhirnya pangeran Li Jiancheng terjatuh, dan parahnya lagi topeng yang ada pada sebelah wajahnya terlepas dan pangeran Li Jiancheng tak sadarkan diri.

__ADS_1


Xia long lue terlihat panik melihat pangeran Li Jiancheng tak bergerak, hingga akhirnya Xia long lue berlari untuk melihat keadaan pangeran Li Jiancheng.


"Aku sudah memberitahu pangeran untuk hati-hati dan si putih susah untuk dijinakkan dalam waktu yang singkat, sekarang pangeran jatuhkan" celoteh Xia long lue yang masih berlari ke arah pangeran Li Jiancheng.


__ADS_2