Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
Dua Dunia Yang Berbeda.


__ADS_3

Bulan bersinar terang, menyapa malam. Suara huru-hara pesta sayup-sayup terdengar dari balik dinding. Kucing berlarian melintasi gang, menjatuhkan tumpukan-tumpukan sampah. Suara-suara keributan di bawah sinar bulan tidak terdengar olehnya. Hanya suara keheningan malam yang merebak memasuki telinga. Dia dengan kerlingan lusuhnya, menatap kosong ke depan. Di gang gelap dan panjang, seorang lelaki remaja tertatih-tatih berjalan, penuh memar dan luka di sekujur tubuhnya.


"Apa aku tetap akan kembali ke tempat itu dengan alasan sebagai rumahku? Tidak, lebih tepatnya apa tempat itu pantas menyandang nama sebagai tempat pulang? Walaupun aku benar-benar muak dan ingin pergi, tapi aku tidak punya pilihan selain tetap kembali." Remaja itu merenung.


Sejenak tersirat di benaknya tentang sebuah pertanyaan yang mempertanyakan keberadaan kata adil di dunia yang dia jalani saat ini. Berulang kali dia berusaha untuk kabur dari semua hal yang menggerogoti kewarasannya, namun dia selalu memiliki alasan untuk tetap bertahan dan menghadapi semua itu.


Setelah beberapa waktu berjalan di tengah kesunyian malam, dia akhirnya berdiri di depan rumah lusuh dengan bau menyengat yang tidak asing. Remaja itu berjalan mendekati pintu, membukanya.


Dia berjalan semakin menyelami ruangan utama rumah itu. Mencoba mengabaikan segala yang terjadi di ruangan itu merupakan hal yang sudah biasa untuknya. Dia sudah terlatih untuk menghadapi keadaan ini.


Tanpa terusik sedikitpun dengan sekitarnya, dia berjalan lurus menuju ruangan pribadinya. Walaupun itu disebut sebagai ruangan pribadi, nyatanya semua orang masih bisa bercokol di tempat itu. Melakukan hal-hal yang sangat dibenci olehnya.


Setelah menutup pintu kamar, dia beranjak menghempaskan tubuhnya pada kasur yang terbaring di lantai. Dengan tangan terlentang, dia menatap langit-langit ruangan. Tatapan kosongnya itu, entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Dia hanya terlihat tidak bisa berada pada pusat pikirannya.


Detikan jam mengisi kekosongan, sebelum akhirnya suara derikan pintu terdengar. Sesosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Perawakannya yang tinggi dan gemuk menambah kesan rasa takut saat berhadapan dengannya. Wanita itu memelototi tubuh ringkih yang tergeletak di kasur lantai. Dia yang menyadari maksud tatapan wanita itu langsung mengubah posisi tubuhnya. Dia duduk bersila sembari balik membalas tatapan yang ditujukan padanya.


"Apa yang kamu dapat hari ini?" Suara melengking wanita itu tidak membuat dia bergidik sedikitpun. Wanita itu mengangkat jari telunjuknya, mendorong jari itu ke depan dan ke belakang seolah memberi isyarat pada remaja itu, Rito, untuk mendekatinya. Rito berdiri, mendekati Claire, si wanita paruh baya. Benar-benar nama yang terlalu indah untuk orang buruk sepertinya.


Wanita itu bergeming, menatap Rito lamat-lamat, menunggu jawaban dari pertanyaan yang dia berikan.


"Hari ini tidak ada." Rito menjawab dengan nada tegas.

__ADS_1


"Apa katamu? Tidak ada? Walaupun batang tubuhmu sudah hancur seperti ini? Bagaimana bisa tidak ada satupun barang curian yang kamu bawa!" Claire melayangkan telapak tangannya, menampar pipi Rito. Dengan tubuh yang besar seperti itu, wajar jika Rito sampai terjatuh ketika sebuah tamparan mendarat padanya.


"Karena kamu tidak mendapatkan apapun hari ini, maka tidak ada makan malam untukmu." Claire membanting pintu, meninggalkan Rito dalam kondisi buruk.


Tidak lama setelah itu, pintu kembali didorong dari luar. Wajah sesosok gadis kecil terlihat dari sela-sela pintu. Gadis kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun itu datang membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain. Dia bersimpuh di dekat Rito, mengusap wajahnya dan beberapa bagian tubuh Rito dengan kain dan air hangat yang dia bawa.


"Maaf, Molly. Lagi-lagi aku merepotkanmu, dan terima kasih." Rito berbisik pelan. Molly, gadis kecil itu bergeming, tidak mampu menjawab.


Hening. Tidak ada percakapan selama beberapa waktu setelah itu. Molly yang sudah hampir selesai menyerbeti tubuh Rito terdiam sejenak. Gadia itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya terasa berat untuk terbuka.


"Ada apa? Jika ada yang ingin kamu katakan, maka katakan saja. Kamu tidak perlu merasa sungkan seperti itu." Rito menghela napas pelan.


"Kita juga bisa tidur di pinggir jalan dan mencari pekerjaan. Walau aku tahu itu tidak akan mudah, tapi setidaknya kemungkinan itu masih lebih baik daripada harus tinggal di tempat seperti ini." Molly menengadah, menatap dalam wajah Rito yang dipenuhi luka. Ingin sekali dia mengatakan kalau dirinya mengkhawatirkan sesosok yang saat ini berada di hadapannya. Ingin sekali dia mendekap sosok Rito dalam pelukannya dan membiarkan dia melampiaskan segalanya walau hanya untuk sejenak saja. Namun, dia tidak berani melakukan itu. Dia tidak berani menyentuh "sesuatu yang berharga" dan menodainya hanya karena keegoisan dirinya semata.


Rito mengusap lembut rambut Molly, menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum.


"Tenanglah! Selama kakak ada disini, kakak berjanji kalian tidak akan mengalami seperti apa yang kakak alami saat ini." Rito menatap Molly teduh.


Dari kejauhan, terlihat seorang balita cantik yang tertatih-tatih berjalan. Tangan mungilnya meraba-raba udara kosong. Bola mata yang berwarna putih sepenuhnya membuat dia menjadi tunanetra dari lahir. Hanya hitam dan gelap yang dapat dilihat olehnya.


"Kelly!" Molly beranjak berdiri, berlari menghampiri balita itu. Rito mematung di tempatnya, menatap kedua adik kecilnya dari kejauhan. Molly menggendong balita itu, menciumnya dengan penuh kasih sayang. Dengan keadaan lingkungan yang seperti sekarang ini, Molly berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menggantikan Rito menjadi kakak pengasuh yang baik bagi Kelly.

__ADS_1


Masa balita adalah masa yang rentan terhadap rangsangan. Oleh karena itu, Molly harus merawatnya secara fisik dan mental. Rito sudah menyadari hal ini dari jauh-jauh hari. Bisa saja Molly merasa dirinya memiliki tanggung jawab yang besar, bahkan lebih besar dari yang Rito perkirakan. Mengingat dirinya membiarkan anak berusia sepuluh tahun harus menanggung beban yang seperti itu benar-benar membuatnya merasa kesal. Dia tidak boleh melupakan rasa kesal yang dia rasakan saat ini. Perasaan ini merupakan bukti kalau dia masih mempunyai alasan untuk terus bertahan.


"Molly, bawa Kelly kemari!" Rito melambaikan tangan. Molly berlari kecil sambil menggendong manusia mungil dalam dekapannya. Rito mengembuskan napas berat, menatap Kelly penuh prihatin.


"Aku harap, aku bisa menanggung penderitaanmu, Kelly." Rito tersenyum sendu. Walaupun dia tahu Kelly tidak dapat melihat senyum di raut wajah Rito saat ini. Entah kekurangan ini harus mendapatkan kesan apa pada Rito. Disatu sisi Rito merasa bersyukur. Kekurangan yang Kelly miliki membuatnya tidak dapat melihat kejinya dunia yang harus dia jalani. Namun di sisi lain, Rito merasa Kelly tidak bisa menjadi 'dirinya' yang seutuhnya. Entah seperti apa yang ingin Rito ungkapkan, dia juga tidak terlalu peduli akan hal itu.


****


Rito meringkuk, terpojok di ujung pelariannya. Hari ini berjalan seoerti biasa. Kegiatan yang terus terulang hampir tak terhitung jumlahnya. Mencuri, dipukuli, lalu kembali ke tempat itu entah dengan atau tanpa membawa hasil. Seperti roda yang terus berputar. Rito berharap akan ada hari dimana roda itu aus dan tidak dapat berputar lagi. Kesempatan itu akan Rito gunakan sebelum roda diganti dan kembali berputar seoerti semula. Sebenarnya, apa yang Rito lakukan hanyalah sia-sia belaka. Tempat pelacuran itu menghasilkan lebih banyak uang ketimbang yang Rito lakukan. Ini terlihat seperti Rito sedang dipermainkan.


Kembali pada waktu saat ini. Rito menjadi pusat perhatian di tengah kerumunan orang. Kenyataan bahwa penampilannya menandakan dia berasal dari tempat kumuh saja sudah melanggar aturan. Penghuni dunia bawah tidak diizinkan untuk melewati perbatasan ke dunia atas. Ditambah lagi, Rito tertangkap basah sedang mencuri.


"Lihat penampilannya. Memang pantas untuk orang bawah!"


"Bagaimana caranya melewati gerbang? Bukankah gerbang tidak bisa dibuka secara paksa?"


"Lihat tatapannya! Aku rasa aku menginginkannya untuk dijadikan budak!"


Suara bisikan yang terdengar jelas satu persatu merebak ke telinganya. Membuat dia merasa takut sekaligus marah. Tapi, belum sempat dia mengekspresikan perasaannya, penjaga istana sudah datang untuk menjemputnya.


Pemilik toko kali ini menuntut perbuatan Rito, membawanya ke hadapan para petinggi kerajaan. Claire dipanggil sebagai walinya dan proses pengadilan berakhir dengan karantina bawah tanah selama 3 hari. Tersirat rasa marah yang terpendam dari raut wajah Claire saat menatap Rito. Tatapannya seolah memperingatkan Rito akan sesuatu yang tidak dia ketahui. Sesuatu yang mengancamnya dari balik bayangan.

__ADS_1


__ADS_2