Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
Teknik baru.


__ADS_3

"Baiklah, serangan ini akan menentukan hasil akhir dari duel kita!" Andrean mengangkat pedangnya sembari mendorong tubuh dengan kekuatan penuh, melesat membelah udara dengan tangan yang siap melayangkan pedang pada tubuh lawannya.


"Apa itu serangan pamungkasmu?" Rito mendengus, tangannya mengelus pelan janggut putih panjang yang tumbuh hingga dada.


Rito mengeluarkan perisai mana, menahan serangan dari Andrean dengan mudah. Bentrokan dari serangan itu mampu membuat udara di sekitar mereka bergemuruh. Tubuh Andrean tetap mempertahankan posisi menyerangnya, berusaha semakin menekan energinya untuk menghancurkan perisai mana sekuat tenaga.


"Dasar pak tua sialan!" Andrean sedikit terdorong ke belakang ketika Rito memancarkan mana yang lumayan besar. Dia semakin susah untuk mempertahankan serangannya sehingga tubuhnya terpental, berguling membentur tanah berulang kali.


Andrean meringis kesakitan. Tubuhnya sudah mencapai batas lebih cepat karena mengonsumsi pil itu. Andrean merasakan organnya seperti terbakar, terutama jantungnya yang berdetak dengan tempo yang semakin cepat.


Rito menarik salah satu sudut bibirnya, mengarahkan senyum miring pada Andrean yang sudah terlihat tidak bisa melanjutkan duel.


"Kurasa ini saatnya untuk menggunakan teknik itu." Rito bergumam pelan.


Karena obsesinya yang ingin menjadi kuat, disela-sela latihannya dengan Damond, Rito menciptakan teknik pedang baru yang bernama sword link.


Sword link adalah sebuah teknik gabungan antara ghost step yang mengkhususkan penggunanya melangkah dengan cepat kearah titik buta lawan, dan teknik sword point yang bisa dengan mudah menemukan titik paling lemah dari tubuh lawan secara terus-menerus. Hasil dari gabungan kedua teknik itu dapat menyebabkan instan kill.


"Sword link." Rito melesat dengan cepat diatas Andrean.


"Dasar bodoh, dengan kamu di udara seperti itu kamu tidak akan bisa bergerak bebas!" Andrean tersenyum, melancarkan serangan kearah Rito.


"Huh, kamu pikir teknik yang dengan sulit kubuat akan dengan mudah kamu patahkan?!"


Tepat sebelum ujung pedang Andrean mengenai tubuh Rito, dalam sekejap Rito sudah berada di belakang Andrean.


"Apa?! Tidak mungkin! Bagaimana itu bisa terjadi?!"


Andrean yang diselimuti oleh rasa panik dengan spontan menyerang Rito, namun lagi dan lagi serangannya gagal mengenai batang tubuh orang tua itu.


"Sial! Aku yakin teknikmu itu pasti mempunyai batas penggunaan."

__ADS_1


"Batas penggunaan, ya? Aku tidak perlu menjawab itu, kita buktikan saja siapa yang bisa bertahan lebih lama." Rito kembali memasang kuda-kuda, bersiap melancarkan serangan.


"Sword link."


Sekali lagi Rito menggunakan teknik yang sama. Tidak lama setelah dia menyebutkan nama tekniknya, sebuah titik jalur pedang muncul dalam pengelihatan Rito.


"Huh, kamu pikir gerakan yang sama akan mempan lagi untukku?" Andrean berbicara dengan sombongnya tanpa tahu apa yang akan terjadi dengannya.


Sword link adalah teknik yang dapat membuat penggunanya melihat titik jalur pedang untuk membuat pergerakan yang paling efektif untuk membunuh lawannya walaupun lawannya dalam keadaan bergerak dengan cepat sekalipun.


Namun teknik ini mempunyai kekurangan yang sangat fatal. Jika teknik ini digunakan terlalu sering, maka itu akan membebani mata penggunanya karena menaruh mana terlalu banyak berpusat pada mata untuk melihat titik arah pedang, dan juga akan melukai jantung karena memaksa jantung untuk memompa darah dengan cepat yang membuat tubuh merasa menjadi lebih kuat.


Rito melesat tanpa suara melewati Andrean. Pria itu tidak bisa mengikuti pergerakan Rito. Lalu dalam hitungan sepersekian detik kemudian sebuah lengan terjatuh di dekat tubuh Andrean.


Mata pria itu melotot melihat bentuk lengan yang tergeletak sama persis dengan lengan miliknya. Dia terkejut dengan wajah tidak percaya. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari salah satu lengannya.


"Huh!? ARGHH!! LENGAN KU!" Andrean berteriak dengan histeris melihat lengannya yang tergeletak begitu saja.


"Sial! Aku masih belum terbiasa menggunakan teknik ini. Mataku terasa sangat sakit. Ditambah lagi serangan yang aku lancarkan juga meleset." Rito memegangi matanya yang mengalir darah segar. Rito tahu bahwa teknik itu akan sangat membebani organ tubuhnya karena tidak mampu menahan mana yang begitu besar.


"Baiklah kali ini aku akan lebih serius." Rito melompat mundur dan langsung memasang kuda-kudanya. Andrean spontan memasang kuda-kuda bertahan untuk menahan serangan Rito.


"Sword link!" Rito sekali lagi melesat melewati tubuh Andrean dan kedua orang tersebut beserta orang-orang yang melihat itu terdiam sejenak.


Dukk!


Sebuah kepala terjatuh ketanah, menggelinding tidak jauh dari tubuh pemilik kepala itu. Lalu seketika orang-orang yang melihatnya berlari mendekati tubuh dengan kepala yang terpisah di dalam arena sembari menangis histeris melihat kepala dari seorang pemimpin dan sahabat seperjuangan yang selama ini bertahan hidup bersama dari dunia keji ini.


Beberapa detik kemudian mereka mengalihkan pandangan pada Rito. Tersirat sebuah kebencian dalam tatapan mereka, namun di sisi lain Rito juga dapat melihat ketakutan yang terpampang dalam fokus orang-orang itu.


Rito yang melihat itu sedikit tersentuh. Melihat sosok pemimpin yang memiliki keinginan untuk membalaskan dendam yang begitu besar sampai rela mengorbankan nyawanya merupakan kejadian yang jarang dilihat.

__ADS_1


"Meski begitu, dia adalah orang yang bodoh. Seharusnya dia menyerah tanpa perlu mengorbankan nyawa. Bagaimana bisa orang seperti dirinya menjadi pemimpin? Dari awal mereka melakukan kejahatan seharusnya sudah siap untuk berakhir dengan kematian." Rito mendengus pelan. Namun tidak lama setelah itu, Rito tersentak pelan. Dia seperti tidak asing dengan perasaan yang seperti ini.


"Ah, sangat mengesalkan." Rito mengacak-acak rambutnya.


Sesaat yang lalu dia berpikir bahwa mungkin saja keadaan ini bisa dijadikan sebagai perumpamaan. Cara dia memandang anggota White Tiger di depannya mungkin akan sama dengan cara pandang kekaisaran tentang Night Shadow dan Ghetto.


Bagi kekaisaran, apa yang mereka lakukan adalah benar. Seperti mengincar dan membunuh anggota Night Shadow dengan alasan demi keamanan dan ketentraman.


Sebaliknya, mereka tidak tahu kejadian dibalik layar dan hanya membenarkan diri demi membenarkan tindakan mereka. Disisi lain, White Tiger mungkin memiliki alasan tersendiri untuk melakukan sesuatu.


"Tidak, tidak! Apapun alasannya, mencuri seorang gadis untuk bermain dan dilelang bukanlah hal yang bisa dibenarkan." Rito terdiam sejenak.


"Lalu apa bedanya dengan kami. Mungkin kekaisaran juga memikirkan hal yang sama. Bagaimanapun alasannya, membunuh bangsawan bukanlah hal yang bisa dibenarkan." Rito bergumam. Rahangnya mengeras ketika memikirkan banyak hal yang sangat membingungkan.


"Tuan, kamu tadi mengatakan tentang menculik gadis untuk bermain dan dilelang, bukan?" Salah satu anggota White Tiger yang tersisa membuka suara, membuat fokus Rito beralih padanya.


"Tentang menculik gadis memang benar, tapi kami tidak pernah bermain dengan mereka!"


"Lalu tentang pelelangannya?"


"Pelelangan adalah alasan kami melakukan ini. Tapi ini bukan kehendak kami sendiri!"


"Apa maksumu dengan itu?" Rito mengernyitkan keningnya, menatap heran pada lawan bicaranya saat ini.


"Kami diancam sehingga terpaksa melakukan hal keji!" Pria itu meninggikan suara. Sangat terlihat jelas rasa marah di air mukanya.


Rito terdiam mendengar itu. Dia ingin mendengarkan lebih banyak, namun tubuhnya tidak mendukung untuk itu. Rito mulai merasa kesadarannya perlahan memudar.


"Aku ingin mendengar rinciannya lebih lanjut, tapi tidak untuk saat ini. Kalian kembalilah dan salah satu harus datang ke tempat ini besok tengah hari."


Setelah mengatakan itu Rito membalik badan, sesegera mungkin menjauhi mereka dan berlari menuju gang kecil yang tidak jauh dari sana. Rito sangat tahu bahwa sangat berbahaya menunjukkan sisi lemah di hadapan lawan.

__ADS_1


"Uhuk-uhuk! Sial, hanya menggunakan teknik itu beberapa kali saja sudah memberikan dampak seperti ini." Rito mendesah, melihat telapak tangannya. Di sana sudah ada segumpal darah yang keluar ketika dia terbatuk.


"Sial, ini sangat melelahka-" tepat sebelum Rito menyelesaikan perkataanya Rito sudah tergeletak pingsan dengan darah yang mengalir dari mulutnya.


__ADS_2