Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
Menjadi Bagian Keluarga Ghetto.


__ADS_3

Saat ini Rito berdiri di tengah-tengah kerumunan orang di sekitarnya. Dia sudah sampai di kediaman pemimpin Ghetto beberapa menit yang lalu. Ketika dia berjalan memasuki sebuah rumah sederhana, dia langsung disambut oleh banyak orang. Berbeda dari bayangannya, mereka semua menyambut Rito dan Kelly dengan sambutan hangat.


Padahal rumor buruk selalu tersebar mengenai pemimpin Ghetto yang sekarang duduk tepat di hadapannya, tapi nyatanya dia tidak seperti yang dirumorkan. Seorang pemimpin kejam di pinggiran kota kekaisaran yang mempunyai banyak budak dan tidak kenal ampun, tidak ada kesan pemimpin yang seperti itu.


Rito sempat mematung dengan situasi yang sangat diluar perkiraannya. Dia sudah menyiapkan hati dari jauh di perjalanan, tapi persiapannya itu malah tidak dia butuhkan. Yang lebih mencengangkan, ternyata pemimpinnya adalah seorang wanita tomboi. Rito semakin dibuat bingung tidak mengerti.


"Jadi dia orang tambahan yang dikirim mendadak hari ini?" Seorang perempuan yang mengenakan pakaian bikini sedang memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Oii, Alesha! Kenapa kamu tidak keluar? Padahal kamu yang paling bersemangat tadi!" Perempuan itu berteriak sambil menghadap pada lorong gelap yang berada di belakangnya.


"Hei, bocah! Kamu pasti akan terkejut dengan gadis yang akan kamu temui setelah ini." Perempuan itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang besar.


Tidak lama waktu berselang setelah itu, seorang gadis menampakkan diri dari balik kegelapan. Rito membelalak saat melihat wajah gadis itu.


"Kita bertemu lagi, ya!" Gadis itu tersenyum canggung namun terlihat sangat manis.


"Ah, maaf karena tadi langsung pergi. Juga kamu tidak mengatakan apapun soal ini." Rito membungkukkan badan sambil memandang gadis yang berada jauh dihadapannya.


"Itu.....karena kamu tidak bertanya." Gadis itu menunduk malu. Sifatnya yang dilihat Rito saat ini berbeda dengan sifat yang dia tunjukkan terakhir kali. Sekarang gadis itu terlihat seperti gadis pemalu, berbanding terbalik dengan beberapa saat lalu yang terlihat tegar dan pemberani.


"Begitu, ya?" Rito mencoba tersenyum walau terlihat sangat kaku. Dia beralih menatap Kelly yang berada tidak jauh darinya. Balita mungil itu sedang tertidur lelap dalam dekapan seorang perempuan paruh baya. Tempat ini benar-benar jauh berbeda dari yang dia bayangkan.


"Selamat bergabung, bocah!" Suara berat seorang wanita merebak di telinganya. Dia menoleh pada asal suara dan mendapati bahwa pemilik suara itu adalah pemimpin Ghetto.


"Ah, salam pemimpin Ghetto."

__ADS_1


Rito dengan gugup membungkukkan badannya dan memberi salam kepada pemimpin Ghetto.


Rito melihat pemimpin Ghetto dengan mata yang bersinar terkagum-kagum dengan paras cantik nan anggun dari seorang pemimpin dari dunia bawah yang di rumorkan memiliki sifat yang kejam, tapi berbeda dari rumor yang beredar pemimpin Ghetto terlihat sangat baik kepada bawahannya yang terlihat memakai kalung budak. setelah Rito melihat dengan mata kepalanya sendiri Rito menganggap bahwa rumor-rumor yang beredar di luar sana hanyalah rumor yang di buat-buat.


"Angkat kepalamu bocah, karena kamu baru bergabung di sini, biarku beri tahu, di sini ada tradisi yang mengharuskan anggota baru harus menjalankan misi dariku untuk menjadi anggota resmi."


Setelah mendengar itu dari pemimpin Ghetto Rito merasa gugup Dengan apa yang akan dia hadapi di misi tersebut. Sambil melihat Kelly ada suatu pemikiran yang mengganjal di otak Rito setelah mendengar bahwa setiap anggota baru harus menjalankan misi untuk menjadi anggota resmi.


"Tenang saja bocah, anak itu tidak akan aku berikan misi sampai dia memiliki umur yang cukup untuk menjalankan misi, dan untuk misimu akan dimulai pekan depan."


Setelah mendengar itu dari pemimpin Ghetto, Rito merasa hatinya lega dengan perasaan tidak nyaman.


"Baiklah, akan aku anggap kamu sudah paham. Lalu untuk masalah hukum disini biar Alesha yang menjelaskan sembari memandumu ke ruanganmu. Adik kecilmu memiliki ruangannya sendiri, jadi kalian tidak akan bersama." Pemimpin Ghetto menatap lurus ke arah Rito, membuatnya tertegun untuk sejenak.


Setelah sampai diruangan milik Rito, Alesha pergi dengan hati yang gembira sembari loncat-loncat dengan wajah yang terlihat bahagia. Suasana seperti inilah yang selalu Rito harapkan. Siapa sangka dia akan menemukannya di tempat yang tidak terduga?


Setelah melihat Alesha sudah cukup jauh dari pandangannya, Rito beranjak memasuki ruangan untuk segera melihat seperti apa kamar baru miliknya. Rito terkejut karena fasilitas disini lebih memadai daripada dirumah tempat dulu dia tinggal bersama adik-adiknya. Bahkan ruangannya saat ini sangat jauh lebih baik.


Rito memiliki ruangan yang lengkap dengan kamar mandinya sendiri dan disini ada furniture yang menurutnya cukup lengkap untuk seorang budak.


Setelah selesai melihat-lihat ruangannya Rito melempar tubuhnya kekasur yang berada disudut ruangan, dengan pikiran yang kacau Rito memikirkan bagaimana keadaan adiknya, Molly, yang dikirim ketempat yang berbeda. Rito dengan putus asa memikirkan bagaimana cara nya menyelamatkan adiknya yang malang.


"Benar!... aku harus menjadi kuat untuk bisa membunuh orang-orang biadab itu dan aku akan menyelamatkan adikku!"


Setelah mengatakan kalimat itu Rito tertidur tanpa tahu siapa orang yang harus di bunuh dikemudian hari untuk bisa menyelamatkan adiknya. Seperti musuh dibalik bayangan.

__ADS_1


✧༺❖༻✧


Rito terbangun setelah mendengar ketukan pintu yang sangat kencang, Rito beranjak turun dari kasurnya dan membuka pintu untuk mengecek siapa yang ada dibalik pintu tersebut. Dan ternyata seseorang yang berada dibalik pintu adalah Alesha, gadis pertama yang ditemuinya kemarin. Setelah berbincang-bincang sebentar Alesha memberitahu bahwa Rito harus berlatih untuk misinya di pekan depan. Alesha mengajak Rito kelapangan pelatihan untuk bertemu mentornya disana.


"Paman..!"


Alesha memanggil seorang pria yang berpenampilan berotot, kepala botak plontos dengan kumis panjang yang melingkar, dan sebuah pedang dipinggang bagian kanan.


'Apakah dia kidal?' ucap Rito dalam hati.


"Ohh... Alesha! Jarang-jarang kamu ke sini, ada perlu apa? Dan siapa pria di sampingmu itu?" Dengan tatapan matanya yang tajam dan suaranya yang berat, pria botak itu menatap Rito tanpa ekspresi. Setelah itu Alesha memberitahu pamannya itu bahwa Rito adalah anggota baru dan ketua Ghetto memerintahkan Alesha untuk membawa Rito kepaman nya untuk dilatih dengan tujuan agar misi Rito berjalan dengan lancar.


"Hmm... Begitu rupanya. Baiklah, namaku Damond. Salam kenal."


"Aku Rito. Mohon bantuannya, Tuan Damond." Rito sedikit membungkuk sebagai tanda penghormatnnya.


"Aku tidak akan banyak basa-basi. Besok dan seterusnya selama masa pelatihan militer, kamu harus datang tepat pukul 8 pagi. Latihan akan berlanjut sampai pukul 5 sore tanpa istirahat." Damond menyilangkan lengan di depan dada.


"Untuk pelatihannya kamu harus berlari selama satu jam, lalu dilanjut dengan pus up seratus kali, pull up seratus kali, dan yang terakhir seribu kali mengayunkan pedang. Untuk waktu yang tersisa akan digunakan sebagai pelatihan mana. Dan satu lagi, setiap pelatihan akan ada beban yang ditempatkan dibagian tubuh tertentu." Damond memberika penjelasan sesederhana mungkin supaya mudah dicerna oleh Rito.


Mendengar seperti apa latihan yang akan dia jalani sampai tujuh hari kedepan membuat wajahnya pucat pasi. Rito beberapa kali menghela napas berat disertai keringat dingin.


"Mudah bukan? Dan pelatihannya di mulai dari hari ini." Damond tersenyum sambil mengatakan hal yang tidak masuk akal.


"Mudah, ya? Aku tidak berpikir demikian."

__ADS_1


__ADS_2