Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
kebangkitan senjata imperial.


__ADS_3

Rito menelan ludah setelah melihat banyaknya penjaga yang sekarang sudah mengepungnya. Jantungnya berdetak kencang karena panik, namun Rito tidak menampakkan itu lewat ekspresi.


Dia sebisa mungkin menyembunyikan rasa takut dan paniknya saat ini agar musuh tidak mengira bahwa dia sedang ditekan.


"Siapa kamu?! Siapa yang mengirimmu ke tempat ini?!" Salah satu penjaga melontarkan pertanyaan pada Rito. Dia mengacungkan ujung pedang pada Rito dari jarak dua meter.


Rito hanya bergeming. Matanya bergerak-gerak mencari bangsawan yang tadi masih lolos dari serangannya.


"Beraninya kamu mengabaikanku!" Penjaga yang sama dengan yang melontarkan pertanyaan pada Rito beberapa saat lalu tersulut emosi dan melompat dengan mengatunkan pedangnya. Rito yang melihat itu langsung memasang kuda-kuda kokoh, memblokir serangan pedang dari si penjaga dengan mudah.


Penjaga itu terpental hingga membentur dan menjatuhkan beberapa rekannya yang berada dibelakangnya. Melihat itu, mata Rito membelalak tidak percaya. Padahal dia hanya mengalirkan sedikit mana pada pedangnya, tapi serangannya sudah menjadi sekuat itu.


"Aku penasaran seberapa hebat senjata imperial jika sudah dibangkitkan." Rito bergumam sambil tersenyum puas.


Penjaga barisan depan yang mengepungnya sedikit menciut melihat Rito tersenyum. Tersirat dibenak mereka tentang Rito yang merupakan seorang remaja psikopat, padahal dia tersenyum bukan karena itu.


"Sial, bagaimana bisa dia tersenyum ketika dikepung puluhan penjaga seperti ini?" Salah satu penjaga yang lain mulai beringsut mundur. Kakinya sedikit gemetar karena takut.


Rito sengaja memancarkan sedikit aura niat membunuh untuk menekan keberanian mereka.


"Untung aku mempelajari teknik ini juga dari guru." Rito kembali bergumam. Senyuman di wajahnya semakin melebar, membuat para penjaga semakin ketakutan juga.


"Ada keributan apa ini?" Terdengar suara serak yang berat dari dalam kerumunan. Senyum Rito memudar ketika instingnya mengatakan bahwa akan ada yang datang dari suara itu.


"Apa kalian takut pada pecundang kurus seperti bocah itu?" Suara itu kembali terdengar diiringi dengan munculnya sosok pria dengan perawakan tinggi besar. Ototnya tidak terlalu besar, namun Rito bisa merasakan energi yang memadat disekitarnya.

__ADS_1


"Hei, bocah. Mau berduel denganku?"


Suara arogan yang terdengar dari sosok seorang penjaga.


"Sial, datang satu lagi? Dan kali ini kurasa dia lebih kuat dariku. Mau sampai kapan mereka berdatangan begini?" Rito bergumam sembari memasang sedikit ekspresi panik. Namun, Rito segera mengenyahkan mimik yang tidak menyenangkan itu.


"Kamu akan aku beri kesempatan tiga kali serangan. Jika seranganmu bisa menggoresku dalam tiga kali serangan, maka akan aku berikanmu perempuan disebelah sana. Aku tahu tujuanmu kesini adalah untuk menyelamatkan gadis itu. Namun beda cerita kalau kamu tidak bisa menggoresku dalam tiga kali serangan. Aku akan serius melawanmu, bagaimana? Mau berduel denganku?" Penjaga tersebut berbicara sambil menatap remeh ke arah Rito sambil menunjuk sebuah ruangan gelap yang berada tidak jauh darinya.


Rito tidak langsung menjawab. Dia terdiam selama beberapa saat untuk menimbang pilihan terbaik dalam situasinya saat ini. Pertanyaan terpenting adalah bagaimana caranya penjaga itu mengetahui tujuan Rito berada di sini?


"Baiklah akan aku terima duelnya."


Bukan tanpa alasan Rito menerima duel yang sudah pasti kesempatan menangnya hampir mustahil. Alasan Rito menerima duel ini karena Rito ingin membangkitkan pedangnya melalui pengalaman hidup dan mati yang nyata.


"Kalau begitu ayo kita mulai." Ucap penjaga dengan ekspresi yang santai.


Serangan pertama gagal. Rito mencoba mencoba menyerangnya lagi tapi kali ini bukan ketitik vital lawan, melainkan menyerang ketitik buta lawan. Tetapi lagi-lagi serangan Rito bisa ditangkis dengan mudahnya.


Pada kesempatan ketiga, Rito mencoba sekuat tenaga untuk memaksa tubuhnya sampai ke ambang batasnya, namun kerena perbedaan kekuatan lagi-lagi serangan Rito tidak dapat menggores kulit dari penjaga itu.


"Baiklah, karena sudah tiga kali serangan dan kamu tidak bisa menggoresku, maka aku akan membunuhmu." Penjaga itu berkata dengan mata bengisnya dan senyuman di wajahnya.


Rito merasa putus asa karena dari tiga serangan yang dia lancarkan tidak satupun dari serangannya dapat menggores tubuh penjaga tersebut.


Rito tenggelam dalam pikirannya, dia khawatir kalau dia akan mati dalam misi ini siapa yang akan menjaga dan melindungi adiknya dikala dalam kesulitan?

__ADS_1


Ketika keputusasaan menghantui pikirannya, Gladius, pedang yang saat ini digenggam Rito bersinar, membuat satu ruangan menyala terang. Ketika orang-orang membuka mata, muncul dua buah perisai mana yang mengelilingi Rito.


"Hah?! Apa-apaan perisai kecil tidak berguna itu? Hei bocah, kamu pikir itu akan berguna dalam menghentikan seranganku?"


Dengan arogannya penjaga itu meremehkan Rito tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya.


Disaat orang-orang bingung dengan apa yang terjadi sebelumnya, Rito lebih bingung karena tubuhnya yang sudah babak-belur seketika menjadi lebih baik dari sebelumnya. Rito lebih dibingungkan lagi dengan perisai yang melayang-layang di sekitarnya, dia merasa bisa mengendalikan perisai yang melayang itu dengan bebas. Hal ini menguntungkan Rito yang dalam keadaan terkepung, terlintas pikiran licik dibenak Rito.


'Bukankah kalau begini aku bisa menang dengan kesempatan yang lebih tinggi?' Rito tersenyum tipis ketika memikirkannya


"Baiklah ayo kita mulai ronde kedua." Ucap Rito dengan wajah sombong yang membuat penjaga itu merasa kesal.


"Cih Sudah ingin menjadi mayat masih saja sombong. Akan kukabulkan keinginanmu untuk mati."


Dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal, penjaga itu langsung menyerang Rito dengan serius.


Melihat penjaga itu menyerang dengan wajah yang mengeras, Rito langsung mengarahkan perisainya kearah pedang untuk menghadang serangan penjaga itu. Ketika serangannya sudah terhadang, Rito langsung mengayunkan pedangnya untuk memberikan serangan yang melukai penjaga itu.


Pedang Rito menusuk tepat di perut, membuat lelaki dengan tubuh besar itu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


"Dasar bocah sialan." Penjaga itu menggeram kesal dengan suaranya yang sudah terdengar serak.


"Ada apa, Pak Penjaga? Bukankah kamu bilang akan membunuhku?" Rito menatap penjaga itu dengan wajah sinis. Meski terlihat begitu senang diluar, Rito masih berpikir dimana Alesha dan Ballut berada. Tidak mungkin mereka tidak mendengar keributan yang sedang terjadi.


"Huh! Berlagak dengan congkak! Apa kamu sedang mencari dua rekanmu? Berdoa saja supaya mereka belum mati." Penjaga itu mengakhiri kalimat dengan tawa yang menggema.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Rito langsung mencabut pedangnya yang menembus perut. Dia kembali menancapkan pedang itu pada dada kiri penjaga, tepat mengenai jantung penjaga itu.


"Saat kamu sudah mengalahkan semua penjaga, mungkin kamu hanya akan menemukan bangkai mereka."


__ADS_2