
Ruangan yang remang menemani percakapan hangat. Rito merasa ingin tinggal di tempat ini, walau tidak ada kasur dan sangat sempit, tapi setidaknya tempat ini jauh lebih baik.
Namun, sayangnya Rito tidak bisa melakukan itu. Dia harus segera kembali atau sesuatu yang terasa mengancamnya akan benar-benar terjadi.
"Apa kamu sudah mau pulang? Beristirahatlah walau hanya untuk semalam." Alesha, gadis yang menyelamatkannya, menatap bimbang ke arah Rito.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku harus segera kembali." Rito beranjak berdiri dari posisi duduknya, memberi salam dengan membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasih.
"Tunggu, apa kamu tahu jalan pulangnya?" Alesha sedikit berteriak, mencoba menghentikan langkah Rito yang baru beberapa meter dari ambang pintu.
"Selama tempat ini masih berada di dunia bawah, aku bisa mencari jalan untuk pulang." Rito kembali melangkahkan kakinya. Dia tidak menoleh sedikitpun saat berbicara. Jika dia melakukan itu, maka dia takut dirinya akan merasa nyaman dan melupakan segalanya. Tempat pulang yang seperti impian bagi Rito, kini tepat berada di belakangnya.
Rito mengedarkan pandangannya pada bangunan-bangunan kumuh tidak terawat. Seketika itu pula dia sadar kalau sekarang dia sedang berada di tempat paling pinggir dari dunia bawah. Sebuah tempat dimana tidak ada campur tangan kekaisaran karena memiliki pemimpinnya sendiri. Tempat ini dinamakan Ghetto.
Bagi penghuni dunia atas dan dunia bawah yang berada langsung dibawah kekaisaran, memasuki Ghetto adalah tindakan sepele dengan hukuman yang berat. Tidak peduli karena alasan apapun memasuki tempat itu, setidaknya akan mendapatkan hukuman pengambilan satu anggota tubuh.
"Apa aku akan baik-baik saja?" Rito bergumam pelan, melangkahkan kakinya menuju tempat yang tidak ingin dia tuju. Rito tahu bahwa tidak lama lagi akan ada yang melaporkan mengenai keberadaannya di Ghetto saat ini. Tapi Rito tidak terlalu peduli. Sekarang dia hanya ingin bertemu dengan dua malaikat kecilnya.
__ADS_1
Banyak hal yang Rito gumamkan selama perjalanan. Walaupun dia tidak pernah mengutuk nasibnya, tapi tidak ada salahnya untuk mengeluh saat tidak ada orang yang mendengarkan.
"Semoga kalian baik-baik saja." Rito menengadah, membayangkan wajah Molly dan Kelly yang akan menyambutnya. Padahal langit sedang cerah bergembira, tetapi hatinya malah dipenuhi oleh rasa gundah. Ada perasaan tidak mengenakkan yang terus menghantui ketenangannya. Namun, dia menepis semua prasangka buruk dan berpikir kalau tidak terjadi apapun yang terjadi dan akan tetap baik-baik saja.
Beberapa jam berjalan di bawah terik matahari, Rito akhirnya sampai di tempat yang selama ini dia tinggali. Senyum sumringah sudah terukir di wajahnya bahkan sebelum dia memasuki rumah. Tanpa dia tahu kalau tragedi sedang menunggunya di balik pintu.
Sekitar lima pria dewasa dengan pakaian penjaga kerajaan sudah berada di ruang tamu saat Rito membuka pintu. Dua diantara mereka memegang tubuh Molly dan Kelly yang tidak sadarkan diri.
"Lihat, pemeran utamanya sudah datang." Claire berjalan menghampirinya dengan sebuah senyuman yang selama ini belum pernah dia lihat.
"Apa yang terjadi? Kenapa ada penjaga istana di sini? Apa mereka membuat kesalahan?" Suara Rito terdengar bergetar. Saat ini pikirannya sedang kacau. Antara marah dan bingung yang bercampur menjadi satu. Claire tertawa sejenak sebelum menjawab pertanyaan Rito.
"Padahal baru beberapa jam dan informasinya sudah sampai di telinga kerajaan?" Rito mengepalkan jari tangannya. Kalau saja dia datang lebih cepat, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Tapi kenapa Kelly dan Molly? Mereka dijadikan sandera karena takut aku akan kabur? Lepaskan mereka! Aku tidak akan kabur dari hukuman." Rito menatap tajam pada dua penjaga yang membawa tubuh adiknya. Dia bukan pengecut yang lari dari konsekuensi, Rito tidak akan pernah melakukan itu.
"Sepertinya kamu salah paham. Kamu tidak bisa menerima hukuman karena masih di bawah umur, sebagai gantinya mereka meminta uang denda padaku. Tentu saja aku tidak mau! Untuk apa mengeluarkan harta berhargaku hanya untuk bocah tidak berguna seperti kalian? Jadi aku menawarkan mereka untuk menjual adik kecilmu." Claire tersenyum dengan tampang tanpa rasa bersalah. Wanita itu terus memprovokasi seolah merasa puas melihat ekspresi Rito selama ini.
__ADS_1
Memang benar kalau wanita itu sangat menikmati wajah kusut Rito yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Selama ini dia hanya melihat wajahnya yang datar tanpa emosi, dan sekarang wanita itu menemukan sesuatu yang baru.
"Tenang saja, Molly hanya akan bekerja di kota malam. Mereka bilang ada pelanggan yang menginginkan anak berusia dua belas tahun. Walaupun Molly lebih muda dua tahun, aku yakin pelanggan itu tetap akan puas."
"Bagaimana bisa anak berusia sepuluh tahun bekerja di kota malam? Kalau aku masih di bawah umur untuk menerima hukuman, jadi kenapa Molly malah bekerja di tempat orang dewasa? Bukannya dia masih di bawah umur untuk itu?" Suara deru napas Rito terdengar terengah-engah. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi, membuat garis bersih di wajah kotor Rito.
Claire semakin bersemangat saat melihat anak sombong di hadapannya menunjukkan air mata dan merasa tidak berdaya. Wanita itu mendekatkan ujung bibirnya pada daun telinga Rito.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi aku akan memberitahumu sesuatu. Pelanggan yang aku maksud bukanlah pelanggan biasa. Menurutmu darimana kerajaan bisa mendapatkan uang yang banyak? Sebagian besar dihasilkan di kota malam dan itu berkat pelanggan yang sekarang menginginkan Molly. Jadi, menyerahlah. Mereka tetap akan membawa Molly karena lebih menguntungkan daripada membuat anak sepertimu cacat." Claire memberikan kecupan di ujung daun telinga.
Mendengar kalimat itu Rito menjadi gelap mata. Dia ingin menyingkirkan mereka. Menyingkirkan semuanya yang rusak. Padahal selama ini dia sengaja menahan penderitaan yang dia alami demi adik-adiknya. Tidak mengapa jika hanya dia yang menderita, tapi saat ini dua adik kecilnya akan menanggung hal yang sama dengannya.
Baru beberapa hari lalu dia berjanji tidak akan membiarkan mereka mengalami seperti yang dia alami, tapi sekarang apakah janji itu tidak bisa terpenuhi? Setidaknya dia harus bisa menyelematkan salah satu dari mereka. Walaupun itu terasa tidak adil, tapi Rito bisa menyelamatkan sisanya saat dia sudah menjadi lebih kuat. Cukup kuat untuk melawan satu Kekaisaran.
"Jika hanya Molly yang bekerja, kenapa Kelly juga ikut dibawa? Tidak mungkin seorang balita juga akan menjadi pekerja malam, kan?"
"Tentu saja tidak! Ada orang lain yang menginginkannya. Kamu tahu pemimpin Ghetto? Dia yang menginginkan seorang anak untuk diasuh. Aku rasa pemimpin disana sudah gila. Bagaimana bisa dia menginginkan anak balita untuk dirawat? Mungkin hanya untuk pelampiasan amarahnya saja. Kamu juga tahu seperti apa rumor buruk tentangnya." Claire tertawa puas. Perempuan itu tahu kalau sekarang Rito pasti sedang menahan rasa kesal terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu, kirim aku bersama Kelly. Tidak masalah, kan?"