
Udara lembab dan pengap yang seiring mendekap di sekelilingnya. Tatapan demi tatapan mata yang menyiratkan ancaman. Serta helaan demi helaan napas yang semakin melemah. Tidak dapat Rito bayangkan seperti apa masa karantina yang Rito alami. Baru berjalan satu hari sejak persidangan berakhir, tapi kondisi Rito sudah tidak memungkinkan untuk hidup. Setidaknya seperti itulah yang terlihat.
Dari sekian banyak kesialan dan kesengsaraan yang kian berkunjung dipanggungnya, baru kali ini dia tersadar bahwa mereka yang selama ini bermain masih merupakan sebagian kecil dari seluruh pemeran antagonis yang akan mendatanginya. Tidak banyak yang bisa dia gambarkan. Tidak banyak yang bisa dia ingat. Hanya satu perasaan yang terus melekat di jiwanya. Perasaan yang mendesak dirinya untuk tetap hidup.
'Benar, masih ada Molly dan Kelly. Aku akan baik-baik saja. Tersisa dua hari lagi dan aku akan bertemu kembali dengan mereka.'
Perenungan itu terus dia pegang dan dia putar berulang-ulang di dalam titik kewarasannya yang tersisa. Siapa yang tahu apa yang dialami anak seusia remaja seperti dia?
"Hei, yang disana!" Seseorang memanggil namanya sambil melayangkan botol kaca tepat mendarat di bahu.
"Jika tidak ingin bekerja, tidak ada jatah makan untuk hari ini!" Suara itu kembali terdengar. Suara yang sama namun terdengar berbeda.
"Tidak masalah. Aku sudah terbiasanya tidak makan beberapa hari." Tanpa sadar Rito bergumam.
"Lihat anak ini! Apa yang dia gumamkan?"
"Sepertinya kita harus membawa dia ke ruang bermain."
"Apa? Yang benar saja!"
Suara tawa keluar dari mulut mereka dan mengambang di langit-langit ruangan. Rito tahu apa yang mereka tertawakan. 'Ruang bermain' yang sangat terkenal diantara budak sementara. Tidak seperti namanya, ruang bermain bukanlah tempat untuk memainkan game. Yah, itu jika dilihat dari sudut pandang normal. Tapi berbeda dengan sudut pandang dedemit sialan ini. Ruang bermain, memang adalah ruang tempat mereka bermain.
Dedemit? Entah mereka memakai tubuh manusia atau manusia itu sendiri yang berubah menjadi mereka, memangnya siapa yang tahu? Di dunia yang tidak mengenal belas kasihan, apakah arti 'keberadaan' itu sendiri sangat dibutuhkan?
Hari demi hari pun berlalu. Ditengah tekanan yang sangat menolak tapi juga menerima kehadirannya, dia semakin kehilangan. Bukan apa yang dia miliki, tapi dia kehilangan dirinya sendiri.
"Siapa diantara kalian yang bernama Rito?" Suara melengking salah seorang penjaga berhasil mendapat perhatian dari pekerja kasar atau budak sementara.
__ADS_1
Rito sejenak menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah suara berasal. Susah payah dia mengangkat tangan kurusnya, tapi kenapa dia masih bisa bekerja?
"Ah, ternyata kamu. Memang dasar anak aneh. Beruntung sekali karena hari ini adalah hari terakhir hukumanmu. Bergembiralah!"
"Aku bebas?"
"Cepat keluar sebelum pemimpin berubah pikiran!"
"Baik!"
Tubuh kering Rito beranjak meninggalkan lorong gua yang dipenuhi stalaktit dengan langkah yang tidak berbobot. Tiga hari masa karantina di kerjaan akhirnya sudah selesai. Terus dipaksa bekerja tanpa henti dengan upah makanan dan minuman yang tidak sepadan membuat sebuah perubahan pada tubuhnya.
Saat ini, tubuh ringkihnya bisa saja tumbang saat mendapat sedikit sentuhan. Benar-benar tubuh tanpa tenaga. Sempat tersirat di benaknya tentang betapa malangnya mereka yang menjalani masa karantina lebih lama dari dia. Bahkan dari mereka ada yang harus menjalani hari-hari menyeramkan itu sampai beberapa bulan ke depan. Entah mereka memang membuat kesalahan yang sangat besar atau mereka adalah budak yang dibeli di peternakan, Rito tidak tahu itu. Tapi satu hal yang pasti, satu bulan berada di sana sama saja dengan menuju kematian.
Walaupun tubuh Rito enggan untuk bergerak, tapi kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan adik-adiknya memberi dia kekuatan untuk mengambil langkah. Saat itu dia belum sadar kalau ternyata dia sudah telat melangkah.
Di gerbang perbatasan yang memisahkan antara dunia atas dan dunia bawah, hujan turun deras seketika membasuh kota. Butiran air hujan yang besar terasa seperti peluru saat jatuh di kulit tipisnya.
"Kamu datang untuk membawa kabar? Atau hanya ingin menyapaku saja? Aku tidak suka padamu, karena saat kamu datang biasanya akan ada kesedihan." Rito bergumam di tengah gemuruh hujan yang semakin menjadi.
Gerbang terbuka otomatis, memperlihatkan hamparan rumah-rumahku kumuh. Benar-benar terlihat seperti dua dunia yang berbeda. Rito melangkah memasuki gerbang. Udara yang berat langsung menyambutnya.
Kenapa sampai ada perbedaan sejauh ini? Rito berkumam dalam hati.
Kaki Rito melangkah perlahan hingga tidak mampu berjalan lagi dan terjatuh pingsan setelah pintu gerbang benar-benar tertutup. Di rumahnya terdengar begitu lemah. Debu-debu di jalanan sedikit bergeser dari tempat asalnya karena terhempas napas Rito. Pandangan itu mulai kabur. Perlahan matanya menutup.
Tepat sebelum kelopak matanya benar-benar menyelimuti pupil, samar-samar Rito melihat seorang perempuan berlari ke arahnya dari titik itu Rito tidak mengingat apapun setelah itu.
__ADS_1
****
Lampu menyala redup, sesekali mengerjap membuat ruangan gelap untuk sepersekian detik. Sebuah ruangan kecil dengan barang-barang yang berserakan, seorang remaja tergeletak tak berdaya di lantai yang hanya beralaskan kardus. Matanya mengejap-ngerjap, mencoba untuk mengolahnya.
"Di mana aku?"
Rito mencoba beranjak duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan. Tempat ini terasa asing baginya.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" Seorang gadis yang kira-kira berusia sepantaran dengannya berdiri diambang pintu.
Jelmaan gadis itu begitu sempurna sampai membuat Rito tertegun selama beberapa waktu. Gadis itu membawa secangkir kecil teh hangat di tangannya, menaruh teh itu di lantai dekat dengan tempat Rito berada. Sembari meletakkan teh hangat, gadis itu bersimpuh seraya menatap Rito lekat-lekat. Rito yang merasa risih dengan itu langsung memalingkan wajahnya.
"Aku Menemukanmu tergeletak di jalan perbatasan. Dilihat dari kondisimu, kamu pasti baru keluar dari karantina kerajaan. Memangnya apa yang kamu lakukan sampai di karantina?" Tanpa memperkenalkan diri dan tanpa basa-basi, gadis itu langsung blak-blakan berbicara dengan Rito. Namun, Rito terdiam dengan pertanyaan itu.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab. Tapi setidaknya kamu harus bersyukur. "
"Bersyukur? Apa yang patut disyukuri dengan hukuman kejam seperti itu?" Rito mendengus. Terlihat jelas bahwa dia sangat merasa tidak nyaman.
"Bersyukurlah karena kamu masih hidup. Banyak yang mati kelaparan di tempat itu. Bahkan ada beberapa yang mati karena terus mendapat tekanan dan siksaan yang kejam. Ada juga yang sampai bunuh diri karena sudah tidak tahan, atau mungkin kamu berharap lebih baik mati?" Gadis itu menatap lurus, sedikit menunjukkan senyum di wajahnya.
"Omong kosong macam apa itu? Saat seseorang diberikan kehidupan, kenapa juga mengharapkan kematian?" Rito terdiam sejenak.
"Hidup adalah sesuatu yang sangat berharga karena setiap orang hanya mempunyai satu kali kesempatan untuk menjalani kehidupan. Walaupun kehidupan seperti membenci kehadiran seseorang dan selalu memberikan rasa pahit yang tidak bisa ditelan, aku yakin setiap orang punya alasan masing-masing untuk bertahan hidup. Entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk orang-orang yang ingin dia lindungi." Rito menatap teduh Kedua telapak tangannya.
"Jadi, kamu termasuk yang mana?" Sejenak, gadis itu menatap Rito seperti merasa sedikit tertarik.
"Entahlah..."
__ADS_1