
"Huh! Ballut?" Rito tercengang melihat Ballut yang bersusah payah berdiri menopang tubuhnya di sudut ruangan. Sangat jelas tergambarkan rasa lelah dan kesakitan di raut wajah Ballut saat ini. Rito bergegas menghampiri Ballut dan membantunya untuk menopang tubuh.
"Kamu tidak apa-apa?" Rito bertanya dengan nada yang sedikit gemetar. Ballut yang mendengar itu tekekeh pelan.
"Bagaimana yang kamu lihat? Apakah keadaanku terlihat seperti sedang tidak apa-apa?"
"Ah, maaf. Aku hanya spontan menanyakan itu." Rito menghela napas pelan. Melihat kondisi Ballut dan Alesha sekilas saja semua orang akan langsung tahu bahwa mereka membutuhkan perawatan segera.
"Bagaimana dengan Alesha? Kenapa dia masih belum terjaga?" Rito mengalihkan pandangannya pada Alesha yang masih tergeletak di lantai ruangan.
"Lupakan itu, bagaimana dengan misinya?" Ballut terbatuk, mengeluarkan beberapa tetes darah dari mulutnya.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kamu menanyakan misi disaat kondisimu seperti ini?" Rito menautkan alis, menatap heran pada Ballut.
"Apa kamu gila? Justru aku yang harus bertanya padamu! Bagaimana bisa keselamatan kami lebih penting daripada keberhasilan misi?" Ballut mulai meninggikan suara. Sesekali dia terbatuk karena memaksakan diri untuk berbicara.
"Bukankah memang seharusnya seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak, bodoh! Apa tidak ada seorangpun yang memberitahumu bahwa peraturan Ghetto yang pertama dan terpenting adalah misi? Tidak peduli jika harus mengorbankan beberapa bagian tubuh bahkan nyawa, tapi misi harus memiliki jaminan keberhasilan yang mencapai seratus persen."
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa ada peraturan yang tidak masuk akal seperti itu? Sebenarnya apa yang sedang kalian perjuangkan?" Rito menghela napas berat. Dia tidak pernah berpikir bahwa akan ada peratuan yang gila seperti itu.
"Apa yang kami perjuangkan katamu? Tidakkah kamu merasakan seperti halnya yang kami rasakan?" Ballut menatap lusu lantai ruangan yang dipenuhi oleh bercak darahnya sendiri.
"Aku sama sekali tidak mengerti." Rito menggelengkan kepalanya, beringsut mundur menjauhi Ballut.
"Keadilan. Bukankah kamu juga merasa bahwa tidak pernah ada keadilan yang singgah dalam kehidupanmu? Kami juga merasa seperti itu. Karena itulah kami membuat keadilan untuk diri kami sendiri."
Setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Ballut, Rito menjadi terdiam tanpa bisa membantahnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Rito selalu merasa bahwa kata 'keadilan' tidak pernah ada dalam hidupnya sejauh ini.
"Ballut, tunggu sebentar!" Rito memanggil Ballut, membuat langkah pria di depannya terhenti.
"Aku tahu dimana target kita berada, biar aku saja yang ke sana. Kalian pergilah keluar terlebih dahulu."
"Tidak, kita harus bersama-sama kesana." Ballut membantah perkataan Rito dengan tegas. Dia tidak bisa membiarkan seorang pemula yang masih amatiran menyelesaikan sisa misi sendirian.
__ADS_1
"Ballut, lebih baik kalian pergi keluar terlebih dahulu, dengan kondisi kalian yang seperti ini akan sangat berbahaya dan ada kemungkinan masih ada penjaga disana. Lagi pula apa yang bisa kalian lakukan dengan kondisi yang seerti itu?"
Rito membalas perkataan Ballut dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir.
Ballut diam membisu mendengar ucapan Rito. Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaannya dan Alesha saat ini tidak mendukung mereka untuk melanjutkan. Jika dia memaksa, maka kemungkinan besar dia hanya akan menjadi beban mengingat Rito yang lebih mengkhawatirkan dia dan Alesha dibandingkan dengan kesuksesan misi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu disini saja sembari menjaga Alesha. Bawalah gadis itu secepat mungkin. Aku tidak yakin Alesha bisa bertahan lama dengan keadaannya sekarang." Terlihat Ballut berkata dengan senyum kecil diwajahnya. Ballut merasa sangat senang mengetahui bahwa masih ada orang yang mengkhawatirkan rekannya disaat orang itu sadar sedang berada di sarang bahaya.
Setelah Rito mendengar jawaban yang memuaskan dari Ballut, dia langsung berlari menuju ruang bawah tanah sebelumnya dengan hati yang senang karena misinya dapat terselesaikan walaupun misi pertamanya ini hampir membuat Rito kehilangan nyawanya. Meski begitu Rito masih dapat bersyukur karena mendapatkan pengalaman yang nyata dalam menjalankan misi. Ditambah lagi Gladius berhasil dibangkitkan.
Rito tidak melihat satupun penjaga disana ketia dia menapakkan kaki di ruang bawah tanah. Tampaknya semua penjaga sudah pergi selagi Rito bertarung dengan dua assassin dan Joseph.
Rito berjalan menelusuri ruang bawah tanah untuk mencari target misinya sembari membebaskan orang-orang yang terkurung disana. Tidak sedikit dari mereka yang berteriak kegirangan, bahkan beberapa diantaranya sampai bersujud dan mencium kaki Rito sebagai tanda ucapan terima kasih.
Setelah semua budak sudah terbebas, Rito langsung berjalan menuju tempat targetnya berada. Mengangkat tubuh yang tidak bertenaga itu di punggungnya.
"Terima kasih." Terdengar suara bisikan pelan dari balik daun telinga Rito.
__ADS_1
"Istirahatlah, kamu tenang saja aku pasti akan membawamu pulang."