
Setelah itu Rito diberi rincian dari misi tersebut. Rito kembali kekamarnya untuk bersiap menjalan misi yang akan dia jalankan malam ini.
'Walaupun kali ini aku menjalankan misi seorang diri, tapi dengan kekuatanku yang sekarang aku sangat percaya diri untuk menyelesaikan misi ini.'
Dengan bantuan teleportasi milik Ballut, Rito bisa dengan cepat sampai di daerah Gotham.
"Menurut informasi, sekelompok orang itu berkumpul disebuah bar dekat sini dan mereka mempunyai tato harimau di lengan kirinya."
Rito mengeluarkan sebotol ramuan sihir untuk mengubah struktur wajahnya agar terlihat seperti seorang yang sudah berusia kisaran lima puluh tahun.
Sesampainya Rito didepan bar tanpa ragu dia membuka pintu dan seketika itu pula orang-orang yang berada di dalam bar tersebut menatap tajam ke arah Rito.
Rito yang sekarang terlihat seperti seorang paruh baya membuat seluruh penghuni bar langsung melanjutkan acara meminum wine mereka seakan tidak peduli dengan keberadaan Rito.
"Hei, wine apel satu." Rito beranjak duduk dan memesan minum kepada bartender.
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar." Bartender itu menjawab dengan senyum kecil diwajahnya sembari mengelap gelas ditangannya.
Rito memerhatikan sekitarnya, menatap para pelanggan bar dengan seksama. Mata Rito membelalak ketika mendapati tato harimau yang bertengger di lengan kiri mereka.
"Aku mendengar belakangan ini kelompok White Tiger membuat keributan di sekitar sini, apa itu benar?" Rito mencoba untuk bertanya, berharap bartender itu dengan senang hati memberinya informasi. Rito juga sengaja menanyakan itu untuk menarik perhatian orang disekelilingnya.
Bartender itu berkeringat dingin ketika mendengar pertanyaan Rito dan semua pasang mata disekitar Rito menatap tajam ke arahnya.
"Memangnya kenapa bapak bertanya hal itu?" Bartender itu menjawab dengan suara yang bergetar dan keringat yang mengucur membasahi wajahnya.
"Bukan apa-apa, aku hanya merasa ingin memusnahkan para bajingan itu!" Rito dengan lantang mengatakan hal itu sambil memukul meja. Dia memasang raut wajah yang tidak bersahabat seolah dia memiliki dendam terhadap White Tiger.
Mendengar perkataan itu, orang-orang disekitar Rito semakin menatap tajam padanya, merasa terusik.
"H-hahaha. Sepertinya anda sedang mabuk, Pak." Bartender yang panik setelah mendengar ucapan Rito dan berusaha untuk menghentikannya.
"Hey, pak tua sialan! Sebaiknya kamu menjaga mulut busukmu itu!" Seseorang dengan tato harimau di lengan kirinya menodongkan pisaunya tepat mengarah pada leher Rito.
__ADS_1
"Memang apa salahnya? Aku hanya berbicara sesuai fakta saja." Rito berbicara dengan santai.
"Apa kalian mendengar apa yang dikatakan pak tua ini?"
Seisi ruangan tertawa lepas setelah mendengar apa yang diucapkan Rito.
"Sepertinya kamu harus diberi pelajaran, dasar tua bangka!" Seorang pria dengan tubuh kekar mendengus, membuat seluruh batang tubuh yang berada di sana beranjak berdiri dari kursinya, menatap Rito dengan wajah merah padam karena marah.
"Tuan, sebaiknya kamu segera melarikan diri dari sini." Rito mengeluarkan pedangnya, bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh.
"Memangnya apa yang bisa ditunjukkan oleh orang tua?" Pria itu terkekeh keras, dibalas oleh tawa yang lain.
"Lebih baik kamu lari sebelum para bawahanku berhasil menebas lehermu!"
"Benarkah? Sayangnya aku tidak berpikir seperti itu." Rito tersenyum miring. Sorot matanya menampakkan keyakinan yang luar biasa.
"Berengsek! Serang tua bangka itu!" Pria itu berteriak sambil menunjuk pada Rito, seketika itu pula penghuni bar mengayunkan senjata mereka ke arahnya.
"Apa! Tidak mungkin!" Satu ruangan terkejut melihat empat kawannya terpenggal dengan mudah.
"H-haha, mungkin mereka tadi hanya lengah." Seorang pria yang berkeringat dingin menyangkal fakta didepan matanya.
"Dasar kalian otak otot." Rito mengejek kelompok white Tiger yang berpikiran sempit.
"Apa! Dasar tua Bangka brengsek!" Kelompok white Tiger menyerang Rito tanpa ragu.
Dengan begitu Rito bertarung melawan sekelompok orang berbadan besar sendirian hingga menyisakan dua orang memohon dan bersujud untuk mengampuni nyawanya.
"K-kami mohon ampuni nyawa kami." Dua orang itu bersujud memohon ampunan dengan nada suara yang bergetar ketakutan.
"Aku hanya membutuhkan satu orang sebagai pemanduku." Rito menatap tajam kedua orang itu.
"Hey, Kalian berdua saling bunuh sekarang juga aku hanya membutuhkan satu orang saja." Rito berbicara sambil menunjuk kedua orang itu.
__ADS_1
Kedua orang itu saling menatap dan langsung saling membunuh, Rito melihat mereka saling membunuh dengan senyum yang lebar bagai psikopat.
"Huf-huf-huf, aku sudah membunuhnya jadi aku yang jadi pemandumu." Pria itu berbicara kepada Rito dengan napas yang terengah-engah.
"Bagus, sekarang pandu aku kemarkasmu." Rito berbicara dengan nada yang sedikit mengancam.
'hahaha, dasar bodoh bila sudah sampai disana kamu akan mati dasar pak tua.'
"Hey, keluar lah sudah aman sekarang sekarang dan untuk kopesasi kerusakan ambilah uang dari mayat-mayat yang tergeletak disini." Rito berbicara dengan bartender yang sedang bersembunyi dibalik pintu.
"I-iya akan kuambil nanti." Bartender itu berbicara dengan wajah ketakutan setelah melihat tubuh Rito yang penuh bercak darah.
Rito berjalan kemarkas kelompok white Tiger dipandu oleh pria dari kelompok white Tiger sambil melihat-lihat sekelilingnya dengan seksama.
"Hmm, jadi ini markas dari kelompok white Tiger." Rito berbicara sambil mengusap-usap jenggotnya sembari mengamati sekelilingnya.
Selagi Rito mengamati sekelilingnya pria yang memandunya berlari masuk kemarkas white Tiger.
'Apa-apaan mengapa dia berlari seperti itu.' Rito bergumam dalam hati sambil berjalan memasuki markas white Tiger.
"Huh, siapa kamu, mengapa seseorang pria tua yang berpenampilan seperti bangsawan ada disini." Seorang pria yang tampaknya pemimpin dari kelompok white Tiger bertanya dengan lantang.
"Kalian bisa memanggilku Charon Grazell The serenity of the night." Rito memperkenalkan dirinya dengan identitas baru.
"Hah? Sang ketenangan malam, siapa itu aku tidak pernah mendengarnya." Pemimpin white Tiger bertanya dengan satu alisnya mengangkat.
"Bos! Dia orang yang membantai kawan-kawan kita di bar." Pria pemandu berbicara lantang sambil menunjuk Rito.
"Apa!" Pemimpin white Tiger dan orang-orang yang berada diruangan itu terkejut setelah mendengar perkataan dari pria pemandu.
"Bagaimana mungkin! pria tua yang terlihat kalem dan rapuh bisa melakukan hal seperti itu!" Pemimpin white Tiger berteriak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Awalnya juga kami berpikiran begitu, namun fakta menyangkalnya."
__ADS_1