Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
misi pertama.


__ADS_3

Rito memulai latihan yang menguras tenaga dengan Damond di hari pertama menginjakkan kaki di Ghetto. Rito berulang kali melakukan latihan yang sama dan berulang kali juga pingsan dibuatnya.


Bukannya merasa semakin hari menjadi semakin kuat, Rito malah merasakan sakit disekujur tubuhnya. Di hari kelima masa pelatihan, Rito tidak lagi melakukan latihan fisik. Damond menyuruhnya untuk fokus pada pelatihan mana untuk satu hari.


"Ingatlah bagaimana pelatihan sirkulasi mana yang pernah kamu pelajari. Fokuskan pikiran dan rasakan mana yang mengalir di dalam tubuh. Percuma memiliki tubuh sekuat baja jika kamu tidak bisa menguasai sirkulasi mana." Damond berteriak dengan suara seraknya. Rito tidak merespon itu karena sedang memusatkan pikiran untuk merasakan sirkulasi mana di dalam tubuhnya.


"Bagus!" Damond tersenyum puas ketika melihat aura yang samar-samar mencuat dari tubuh Rito.


Rito bisa merasakannya. Perasaan yang sangat menyegarkan seolah seluruh tubuhnya sedang di rekonstruksi. Rasa sakit dan lelah yang selama ini membebaninya juga perlahan menghilang.


"Sudah cukup!" Damond menepuk keras punggung Rito, membuat konsentrasinya buyar seketika. Namun Rito lebih dikejutkan oleh kondisi tubuhnya saat ini yang terasa sangat ringan.


"Bagaimana? Menguasai sirkulasi mana itu memang perlu, bukan?" Damong mendengus pelan melihat Rito yang sedari tadi melompat-lompat kecil.


"Ya! Ini luar biasa!"


"Kalau begitu, latihanmu akan menjadi dua kali lipat." Damond nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang menguning.


"Ah, sial!" Wajah riang Rito seketika berubah masam dan lusuh.


"Jangan memasang wajah lesu seperti itu! Aku juga akan mengajarkan padamu cara mengalirkan mana pada senjata."


"Benarkah? Baiklah, mohon bantuannya!"


✧༺❖༻✧


Tujuh hari berlalu begitu saja sejak Rito tiba di tempat ini. Sekarang adalah hari dimana dia akan menerima misi pertamanya untuk menguji seberapa pantas dia berada di Ghetto.


Lexy, seorang wanita tomboi yang merupakan pemimpin Ghetto datang ke ruang pertemuan sambil membawa sekantung besar koin emas.


"Rito, misi pertamamu tidak terlalu sulit. Beberapa hari yang lalu kita mendapat permintaan dari orang dunia bawah untuk menyelamatkan anaknya yang berada di kediaman salah satu bangsawan. Tugasmu hanyalah menyelamatkan gadis itu. Tapi jika kamu melihat sesuatu dan merasa ingin melakukan apapun itu, lakukanlah." Lexy menghirup rokoknya dengan tenang, lalu menyembuhkan asap itu tepat di depan wajah Rito.


"Melihat sesuatu?" Rito bertanya ditengah batuknya yang menjadi karena asap rokok.


"Kamu akan tahu maksudmu ketika kamu sudah sampai disana."

__ADS_1


"Tunggu, aku hanya sendirian?"


"Tentu saja tidak! Ballut dan Alesha akan membantumu."


Setelah Lexy mengatakan itu, dia pergi meninggalkan Rito di ruang pertemuan dengan sekantong koin emas yang dibawa olehnya.


Tidak lama ketika bayangan Lexy menghilang di balik pintu, Alesha datang dari sisi kanannya bersama dengan seorang pria kurus yang berdandan selayaknya wanita.


"Menor sekali." Rito bergumam pelan sambil bergidik geli. Pria yang bersama Alesha saat ini memakai warna lipstik yang merah maron dengan merah pipi bundar di kedua sisi. Ditambah lagi eyeshadow berwarna ungu terang menambah kesan aneh di wajah putihnya.


"Rito perkenalkan orang yang disebelah ku ini namanya Ballut dia orang yang akan bersama kita dalam misi ini, dan Ballut perkenalkan orang ini namanya Rito."


Alesha berlari ke arah Rito dan langsung memperkenalkan orang yang ada disebelahnya.


Setelah memperkenalkan orang yang berdiri disampingnya Alesha langsung memberitahukan perincian misinya dan memberikan gambaran dari wujud gadis itu. Alesha menegaskan bahwa misinya itu akan sangat berbahaya karena banyak penjaga yang menjaga selama satu hari penuh ditempat bangsawan itu dan harus diselesaikan sebelum matahari terbit.


»»——⍟——««


"Lihat, disanalah tempat bangsawan biadab itu tinggal." Alesha berkata dengan ekspresi wajah yang marah.


"Selanjutnya kita harus bagaimana? Disana banyak penjaga yang menjaga kediaman itu." Tanya Rito sembari menunjuk kearah para penjaga dengan ekspresi kebingungan.


Mereka masuk secara bergantian. Mulai dari Alesha yang akan menjadi pemandu jalan, lalu Rito, kemudian Ballut menjadi yang terakhir sekaligus menutup gerbang.


Plup!


Suara yang terdengar seperti gelembung pecah terdengar agak keras. Itu adalah suara yang keluar ketika gerbang teleportasi ditutup.


"Siapa disana!?" Salah seorang penjaga yang mendengar suara itu memfokuskan pandangan. Dia menyadari ada penyusup yang sedang berusaha untuk menerobos.


Namun belum sempat penjaga itu memastikan wajah penyusup, tiba-tiba sebuah senjata berbentuk sabit melayang dan seketika kepala penjaga tersebut menggelinding dilantai.


"Kita harus cepat! Penjaga yang lain pasti akan kesini setelah mendengar suara teriakan penjaga itu."


Dengan tergesa-gesa mereka bertiga berlalu untuk mencari tempat persembunyian

__ADS_1


Setelah beberapa saat para penjaga dengan full set armor berdatangan lalu disusul oleh kapten penjaga dengan penampilan bagaikan seekor gorila yang datang dengan aura mencekam.


"Apa-apaan ini?! Keparat keji mana yang melakukan pembunuban ini? cepat cari pelakunya!"


Ucap kapten penjaga dengan ekspresi wajah yang sangat marah.


Dengan memanfaatkan kegaduhan tersebut, Rito, Alesha, dan Ballut bergegas mencari perempuan yang di culik dengan hati-hati supaya tidak ketahuan oleh para penjaga dan para pelayan.


Setelah beberapa waktu berlalu untuk pencarian, mereka tidak menemukan apapun. Mereka berputar-putar di kediaman bangsawan, namun hasilnya nihil.


"Sial, kalau begini terus kita tidak akan bisa menemukan perempuan itu! Baiklah, kalau sudah begini kita berpencar saja supaya cepat menemukan target dari misi kita." Rito memberikan saran pada kedua rekannya sambil menatap mereka dengan tegas. Alesha dan Ballut mengangguk menandakan mereka setuju dengan Saran Rito.


Merekapun berpencar keberbagai arah. Mereka tidak tahu kalau salah satu dari mereka akan menghadapi bahaya ketika mereka berpisah.


"Baiklah aku akan keruang bawah tanah." Gumam Rito tanpa tahu apa yang akan dilihatnya ketika dia sampai disana.


Setelah Rito sampai ditangga menuju ruang bawah tanah, Rito mencium bau amis yang sangat menyengat. Betapa terkejutnya dia dengan apa yang dia saksikan sekarang. Dia melihat seorang bangsawan yang memiliki tubuh kurus kering bagaikan pemakai narkoba yang didampingi dua penjaga berbadan besar sedang menyiksa beberapa orang. Kemungkinan besar mereka adalah budak yang dibeli di perternakan.


"Apa-apaan ini?! " Rito tertegun melihat itu. Dia memasang ekspresi wajah yang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saking kagetnya, suara Rito terdengar sampai di telinga mereka.


"Hah, siapa kau?" Bangsawan itu bertanya dengan nada arogan sambil menatap benci ke arah Rito. Untuk sejenak Rito meresa takut, namun dia menepis perasaan yang menurutnya tidak penting dalam situasi sekarang.


"Apa yang kamu lakukan pada mereka?" Rito bertanya dengan mata yang memerah.


Wajar jika Rito merasa marah saat ini. Dia sedang menyaksikan sesuatu yang sangat tidak manusiawi tepat di depan matanya.


Seorang manusia diikat disebuah roda kayu besar bagaikan kincir air lalu diputar dan disundut dengan besi panas. Apa yang Rito lihat saat ini sangat kejam sampai-sampai dia tidak pernah berpikir bahwa ada penyiksaan yang keji seperti itu.


"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk kesini?! Sial! Apakah apakah para penjaga bodoh itu bahkan tidak bisa menjalankan tugas yang sangat mudah dengan benar?" Bangsawan itu mendesis pelan diujung kalimat.


"Dasar iblis!" Gumam Rito sembari berusaha menahan amarah nya.


Tepat setelah Rito bergumam, bangsawan itu memerintahkan kedua penjaganya yang memiliki tubuh yang besar untuk membunuh Rito. Melihat kedua kesatria itu maju dan menghunuskan pedangnya kearahnya, Rito spontan menarik bedang dari sarung pedangnya.


Salah satu kesatria maju tanda dimulainya bentrokan pedang antara Rito dan salah satu kesatria. Dengan teknik pedang dan teknik sirkulasi mana yang sudah expert, kesatria itu dengan mudah menjatuhkan pedang Rito yang bisaa dibilang masih pemula dalam teknik berpedang dan hanya memanfaatkan teknik sirkulasi mana yang dia sudah kuasai.

__ADS_1


Rito berdecak pelan mengetahui serangannya dengan mudah diblokir, namun dia mulai memasang kuda-kuda. Suara bentrokan diantara dua pedang kembali terdengar. Saking kerasnya suara itu membuat para penjaga yang berada tidak jauh dari tempat itu langsung berdatangan keruang bawah tanah.


"Sial! Aku bisa mati sebelum Alesha dan Ballut tiba."


__ADS_2