
"Cepatlah mati atau menyerahlah!!!!"
Rito dengan penuh rasa keputusasaan mengayunkan pedangnya, menembus kerumunan penjaga dengan sangat buas. Banyak hal yang dia pikirkan, namun saat ini semua pikirannya berpusat pada satu hal.
'Aku harus cepat sebelum terlambat.'
Rito beberapa kali berteriak ketika mengingat dia harus kehilangan rekan dalam misi pertama. Tapi mungkin saja penjaga itu hanya membual. Meski Alesha lebih muda secara usia, namun dia adalah senior Rito dalam hal menjalankan misi.
"Aaaarrgggkhhhh!!!!"
Rito mengamuk untuk yang kesekian kalinya. Padahal baru saja Rito menyadari bahwa Ghetto adalah tempat yang lebih baik dari tempat manapun. Dia tidak ingin kehilangan siapapun yang berasal dari sana, karena sejatinya mereka semua adalah orang yang dibuang dan hanya berusaha untuk mencari keadilan.
"ALESHAAAA!!!! BALLUUUUUT!!!! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN JIKA KALIAN MATI. CAMKAN ITU!!" Rito berteriak di tengah serangannya yang membabi buta. Pedang Gladius juga sudah berkali-kali membuat jangkauan serangan Rito menjadi dua kali lebih luas dengan tebasan yang dapat membelah udara.
"Gila! Kita tidak mungkin menang darinya!"
"Dasar cecunguk sialan! Kamu membuat pekerjaan kami menjadi semakin sulit saja."
"Kenapa dia tiba-tiba mengamuk seperti itu?"
"Aaakkkkhhh!!!! Pergi dari sini! Semuanya mundur!"
Para penjaga yang menyaksikan amukan Rito mulai menciut dan memutuskan untuk mundur. Itu setidaknya memberikan waktu bagi Rito untuk bergegas menemukan rekannya yang lain.
"Kalian harus baik-baik saja! Tidak akan yang mengizinkan kalian untuk terluka!" Rito bergumam sembari memacu langkah kakinya untuk berlari lebih cepat.
"Sial! Sial! Sial!" Rito menggerutu. Baru kali ini dia mengutuki keadaan yang tidak berpihak padanya. Tidak pernah terbayang kalau misinya akan menjadi sesulit ini.
Ditambah lagi dalam misi ini adalah pertama kalinya Rito melakukan pembunuhan. Dia tidak gemetar ataupun takut. Mungkin itu faktor karena dia ingin menyelamatkan rekannya.
Dengan rasa putus asa yang berkecamuk Rito berlari menuju lorong tangga yang penuh dengan penjaga, melihat Rito berlari menuju kearah mereka para penjaga berlarian menuju ujung dari lorong tangga.
Setelah sampai diujung lorong tangga Rito langsung bergegas mencari Alesha dan Ballut, satu persatu ruangan Rito cek tidak satupun dari ruangan tersebut terdapat Alesha ataupun Ballut. Rito yang panik berlarian kesana kemari dengan hati yang dihantui rasa gelisah. Rito khawatir kalau apa yang dikatakan oleh penjaga itu menjadi kenyataan.
__ADS_1
Setelah berlarian kesana kemari mencari Alesha dan Ballut, Rito sampai di depan ruangan terakhir yang belum di periksa. Rito membuka pintu ruangan itu dan terkejut melihat Alesha dan Ballut yang pingsan di lantai ruangan. Ditambah rantai dikaki dan tangannya diujung ruangan dengan kondisi yang agak mengenaskan. Langkah demi langkah Rito menuju tempat dimana Alesha dan Ballut pingsan. Setelah melewati pintu Rito terkejut melihat dua sosok bayangan yang melompat kearahnya dengan niat membunuh yang kuat, namun serangan kejutan itu bisa ditahan oleh perisai milik Rito.
"Sial! sekarang apa lagi? Penyergapan? Dasar orang-orang kepala batu."
"Haha! Dasar bocah berotak udang! Dengan gampangnya kamu masuk kesini tanpa curiga sedikitpun."
Tampak seseorang berpakaian serba hitam dengan topeng berbicara dengan sombong.
"Cih kalian tidak ada habis-habisnya."
Rito meludah sambil menggerutu.
"Dasar bocah sombong tidak tahu diri, akan kupotong-potong kamu setelah menyiksamu bersama dengan mereka."
Assassin itu mengatakan hal yang mengerikan sambil menunjuk pada Alesha dan Ballut.
"Coba saja kalau kamu bisa." Dengan percaya diri Rito menantang kedua assassin itu.
"Baiklah bocah sombong, akan kubunuh saja kamu sekarang."
Rito yang melihat itu langsung memasang kuda-kuda untuk melawan kedua assassin. Mereka berdua, para assassin itu, berlari mengarah kearah Rito dan langsung melompat untuk membunuh Rito, tapi serangan dari kedua assassin itu bisa ditahan oleh perisai milik Rito. Lalu dia memberikan tebasan kepada kedua assassin itu sehingga menimbulkan luka yang cukup fatal.
"Dasar bocah sialan! beraninya kamu memberikan luka kepada kami! Akan kuladeni dengan serius kali ini." Dengan geram kedua assassin itu menyerang Rito secara terus-menerus dengan membabi buta.
"Sial, kalau begini terus aku bisa kalah karena kehabisan mana. Aku sudah menggunakan perisai mana terus-menerus dari tadi, aku harus cepat-cepat mencari cara untuk mengalahkan mereka berdua." Rito bergumam sambil terus menganalisa keadaan.
Sesekali Rito menoleh ke arah Aleha dan Ballut berada. Bagaimanapun caranya, paling tidak dia harus bisa keluar dari tempat ini bersama dengan mereka.
"Persetan soal misi. Aku akan menyelamatkan mereka dan keluar dari sini." Rito mencengkeram pegangan pada pedangnya dengan lebih erat. Dia tahu bahwa tidak mudah baginya untuk menang, bahkan hampir seperti mustahil. Namun tidak ada pilihan lain.
"Maju kalian!!" Rito melesat dengan pedangnya, mengayunkan Gladius, membuat serangannya tiga kali lebih kuat tanpa mana.
"Apa....?!"
__ADS_1
Para assassin itu terkejut melihat serangan Rito yang menjadi semakin kuat.
"Bukankah seharusnya dia sudah kehabisan mana? Walaupun masih ada, tidak mungkin dia bisa melancarkan serangan seperti itu."
Melihat para assassin dalam kebingungan, Rito mengambil kesempatan itu untuk melancarkan serangan. Alhasil satu assassin tumbang seketika karena tidak bisa melihat kecepatan pergerakan Rito.
"Hah? Adik?"
Assassin itu terkejut tidak tahu harus berkata apa setelah melihat kepala adiknya sudah tergeletak tidak berdaya di lantai dengan tubuh dan kepala yang terpisah tepat disamping kakinya.
"Dasar bocah sialan! Beraninya kamu membunuh adikku!"
Terlihat Assassin itu mengeluarkan hawa membunuh yang lebih pekat dari sebelumnya sambil berlinang air mata. Urat-urat di keningnya mencuat dari balik kulit.
"Hawa membunuh yang sangat kuat."
Rito tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang seolah-olah membeku setelah merasakan hawa membunuh itu.
Assassin itu dalam sekejap menghilang dalam kegelapan, membuat Rito sedikit merasa resah karena tidak tahu arah serangan yang akan dilancarkan.
Sebuah belati melesat tepat dileher Rito, namun dia bisa menghindarinya. Hanya saja assassin tidak memberinya jeda dan berulang kali mengarahkan mata belati pada Rito. Rito hampir putus asa karena tidak bisa mengikuti arah gerakan dengan tepat. Untungnya itu hanya memberikan sedikit goresan pada wajah Rito.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Bagaimana kamu bisa menghindarinya padahal aku sudah menghilangkan seluruh hawa keberadaanku." Assassin itu terkejut melihat Rito yang bisa menghindari semua serangan terbaik miliknya.
Sambil menghela nafas yang terengah-engah, Rito kebingungan bagaimana dia bisa selamat dari semua rentetan serangan yang bisa saja membunuhnya. Rito sadar sebelum belati hampir memenggal kepalanya Rito spontan menghindar karena merasakan hawa membunuh yang akan memenggal kepalanya.
"Meski kamu bilang sudah menghilangkan hawa keberadaanmu, tapi hawa membunuhmu tetap bisa aku rasakan. Apakah kamu memang sangat membenciku karena telah membunuh adikmu? Kalau kamu sudah tahu rasa sakitnya, maka......JANGAN MERENGGUT YANG BERHARGA MILIK ORANG LAIN!!!!!" Rito berteriak kencang, mencoba melancarkan serangan yang sama dengan sebelumnya.
"Memang apa yang kamu ketahui tentang kami, huh?! Dunia ini yang memaksaku seperti sekarang, dasar bocah brengsek!!!" Assassin itu juga ikut berteriak. Dia sudah pernah melihat Rito melancarkan serangannya dan kali ini tipe serangan yang sama tidak akan berhasil dua kali.
"Tidakkah kalian bertarung dengan sangat dramatis?"
Suara asing dari sosok tidak dikenal berhasil menghentikan serangan mereka. Semua atensi seketika beralih padanya.
__ADS_1
"Hai, Hai, para bedebah sialan."